Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Keesokan harinya libur sekolah. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari penuh kekacauan, Narisa akhirnya bisa keluar bersama Cakra. Siang itu matahari bersinar tanpa ampun, jadi mereka memilih berlindung di kafe langganan remaja, tempat dingin, ramai, dan penuh suara tawa.
Semua tampak biasa. Hampir sama seperti enam bulan hubungan mereka berjalan. Santai, ringan, tanpa beban.
Kecuali isi kepala Narisa.
Pikirannya masih tersangkut di kejadian kemarin. Tepatnya saat dia dan Kara men jual cincin tunangan itu.
Mereka datang dengan ekspektasi tinggi. Minimal puluhan juta. Atau setidaknya cukup untuk kabur dan hidup layak selama beberapa minggu.
Kenyataannya?
Satu juta lima ratus ribu per cincin. Sekarang, uang itu bahkan tinggal lima ratus ribu. Sisanya sudah lenyap entah ke mana, sebagian besar untuk hal-hal yang bahkan Narisa sendiri malas ingat.
Dia sempat berkomentar waktu itu,
"Si Bramantyo itu kaya, tapi kok bisa -bisanya ngasih barang kw. "
Dan Kara, dengan santainya menjawab,
"Mungkin dari awal dia udah tau niat kita."
Narisa tidak melanjutkan. Bicara serius dengan Kara sering berakhir seperti melempar batu ke air, bunyi, lalu hilang.
" Sang, kok kamu diem aja? Tumben," tegur Cakra lembut.
Narisa langsung berganti mode. Wajahnya cerah seketika, seperti lampu yang baru ditekan tombolnya.
"Aku lagi mikir," katanya manja, "Kok bisa ya pacar aku seganteng ini."
Cakra terkekeh, "Gombal banget."
"Serius. Mata aku sampe silau gini."
"Aku bukan lampu."
"Tapi kamu pusat tata surya aku."
Cakra menggeleng pelan, menahan senyum. "Kebalik banget. Harusnya aku yang gombalin kamu."
Narisa hanya cengengesan, tapi ekspresi itu tidak bertahan lama.
"Kamu waktu itu bolos lagi kan?" tanya Cakra tiba-tiba.
Narisa diam.
"Pak Kasim bilang kamu lompat pagar."
Narisa mendengus pelan. "Ya namanya juga bosen, beb,"
"Aku juga tau kamu pura-pura pingsan waktu dijemur."
Narisa langsung menoleh. "Lah, kamu tau dari mana?"
Cakra melirik singkat. "Aku udah hafal pola kamu."
"Itu strategi bertahan hidup," balas Narisa cepat.
"Emang kamu mau aku gosong?"
"Ya enggak. Tapi kamu juga gak ngerjain hukuman Bu Rahayu kan?"
Narisa menghela napas panjang. "Capek tau. Sepuluh lembar HVS. Bisa gila aku."
"Makanya jangan bolos, sayang," Cakra mencubit hidungnya ringan.
Narisa menatap datar. "Kamu ngajak aku jalan cuma buat audit dosa ya?"
"Ya enggak juga."
Narisa merengut, lalu memeluk lengan Cakra.
"Beb, besok nikah yuk," katanya tiba-tiba.
Cakra yang sedang minum hampir tersedak. "kok lompatnya jauh banget?"
Narisa mendongak. "Kamu gak mau?"
"Bukan gitu, kaget aja."
" Jadi mau?"
"Mau," jawab Cakra akhirnya. "Tapi nanti. Nunggu aku mapan dulu."
Narisa terdiam.
Bayangan tentang pernikahannya dengan Kara melintas cepat di kepalanya. Aneh, tidak masuk akal, dan lebih aneh lagi karena semuanya terasa nyata meski hanya di atas kertas.
"Lulus kuliah deh ya," katanya pelan.
Cakra menatapnya sedikit heran, "Kamu masih kecil kenapa udah bahas nikah sih?"
"Soalnya aku gak mau kamu nganggep kita cuma cinta monyet."
Cakra tersenyum tipis. "Kamu monyet gak?"
"Ya enggak lah."
"Yaudah. Berarti enggak," jawabnya santai. "Kita mungkin masih muda, tapi perasaan bukan mainan,"
Narisa langsung nyengir lebar dan kembali menyandarkan kepala ke lengan Cakra.
"Kamu kalau serius gitu bikin aku deg-degan tau,"
Cakra mengecup puncak kepalanya. "Deg-degannya cukup sama aku aja."
Narisa mengangguk pelan. Untuk beberapa saat, semua terasa ringan. Cincin, rencana aneh, bahkan Kara, semuanya seperti menguap. Sampai ponselnya berbunyi.
Grok. Grok, Grok.
Narisa. langsung mengambilnya dan mendecak begitu melihat nama di layar.
" Siapa?" tanya Cakra.
"Mama. Bentar ya." Dia mengangkat panggilan.
"Hal-"
"Risa, kamu pulangnya masih lama?" suara Nuri langsung menembak.
"Ya iya lah. Baru juga dua jam, ma."
"Jangan lama-lama. Udah kayak cabe-cabean aja. Pulang beliin mama pizza ya. Mama ngidam,"
Narisa memejamkan mata. "Ngasih duit kagak, mintanya pizza."
"Suruh Cakra belin dong. Kamu tuh gimana sih. Yaudah, mama mau nonton."
Tut.
Panggilan langsung diputus. Narisa menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu mendengus panjang.
"Kenapa?" tanya Cakra.
Narisa menoleh dengan wajah datar. "Sebelum pulang kita ke pizza dulu ya, beb."
"Kamu pengen? Sekarang aja kalau gitu."
Narisa menyender malas.
"Bukan aku. Tapi mama. Kayaknya aku bakal punya adek deh,"
"Hah?"
~
Berbeda dengan Narisa yang sibuk menghitung sisa uangnya, Kara justru pulang dengan gaya berlawanan.
Dia mentraktir makanan cukup banyak untuk kedua orang tuanya.
"Kamu kok tiba-tiba royal begini, Ra?" tanya Irwan sambil mengunyah sushi.
"Aku kan emang gitu kalau lagi ada uang, pa," jawab Kara santai.
Irwan langsung menyipitkan mata. Curiga.
"Dapet dari mana? Biasanya mentok belin martabak."
"Paling jual cincin," sambar Eka enteng.
Sushi di mulut Irwan nyaris menyembur.
"Cincin apa, dek?"
"Cincin tunangan lah. Emang dia punya cincin lain lagi?"
Kara menelan ludah. Sedetik. Dua detik. Lalu pura-pura santai dengan menyandarkan punggung.
"Daripada gak dipake, ya aku manfaatin."
Irwan langsung menepuk dahi. "Astaga.. itu cincin dari bos papa loh, Ra."
" Cuma cincin kw, pa."
"Tau dari mana kw?"
Kara mengangkat bahu. "Dijual cuma dapet satu setengah juta."
Sunyi.
Irwan dan Eka saling pandang. Yang satu shock. Yang satu mulai mikir,.
"Gak mungkin orang kaya ngasih barang murahan gitu," kata Eka pelan, nadanya berubah. "Lo ditipu kali."
"Enggak, Ma. Kita datengin tiga toko. Paling gede ya segitu."
Irwan makin bingung. Kepalanya mulai penuh skenario buruk. Tapi yang dia pikirkan bukan harga cincin.
Kalau Bramantyo ketemu lagi dan cincin itu tidak ada di jari anaknya, dia harus bilang apa?
Sementara itu, arah pikiran Eka jauh lebih praktis.
"Lo harusnya setor sejuta ke gw," katanya sambil mengulurkan tangan. "Mana?"
Kara menghela napas. "Sisa dua ratus, Ma."
Eka langsung mendelik. "Kok bisa?"
"Aku beli sepatu sama jaket. Terus... ya, makanan ini."
"Sepatu sama jaket berapa sih?" Eka makin curiga. "Udah, sini sisanya."
"Dek, udah lah," Irwan mencoba menengahi. "Biarin aja buat pegangan Ara."
"Lumayan buat bayar kasbon ke Dewi."
"Kasbon kamu banyak amat."
"Ya makanya kasih duit lebih, bang," balas Eka tanpa dosa sambil melipat tangan. "Gw juga gak enak sama ibu-ibu yang ngutangin sayur."
Irwan menghela napas panjang. "Kenapa jadi separah itu? Perasaan gajiku gak kecil-kecil banget, dek."
"Makanya jangan apa-apa pake perasaan."
Kara cuma duduk di sana, mengunyah sushi sambil menyaksikan debat yang sudah seperti tontonan rutin.
Masalah di rumahnya tidak pernah benar-benar berubah. Yang berubah paling cuma uban ayahnya yang diam-diam muncul satu-satu.
.