"Saat Setya membuang Arumi demi wanita muda yang lebih cantik, ia lupa bahwa rezekinya tertitip pada doa sang istri sah. Kini, setelah jatuh miskin dan dipecat, Setya terpaksa kembali bersimpuh hanya untuk mengemis pekerjaan di gudang milik Arumi—wanita yang kini menjadi bosnya sendiri."
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amplop Gaji dan Tangan yang Mengemis
Hari yang dinantikan sekaligus ditakuti oleh Setya akhirnya tiba—hari gajian di Gudang Berkah Arumi. Sejak pagi, suasana di area administrasi ruko sudah ramai. Para supir truk, staf gudang, dan buruh angkut mengantre dengan wajah sumringah di depan meja Kak Nia untuk menerima amplop cokelat mereka.
Setya berdiri di barisan paling belakang, mengenakan seragam biru kusamnya yang longgar. Tangannya yang kapalan menggenggam erat gagang sapu lidi, mencoba menyembunyikan rasa malu yang membakar wajahnya. Dulu, dialah yang membagikan bonus jutaan kepada para bawahannya di pelabuhan. Kini, ia harus mengantre demi beberapa lembar uang receh di gudang mantan istrinya sendiri.
"Staf Kebersihan, Setya Utama!" panggil Kak Nia dengan suara lantang, sengaja tidak menggunakan panggilan "Mas" atau embel-embel keluarga.
Beberapa buruh angkut menoleh dan berbisik sambil menahan tawa saat Setya melangkah maju. Setya mendekati meja Nia dengan kepala tertunduk. Di samping Nia, Arumi duduk dengan anggun, sedang memeriksa laporan keuangan di laptopnya. Penampilan Arumi hari itu begitu memukau dengan tunik sutra berwarna pastel yang membuatnya tampak sepuluh tahun lebih muda.
Nia meletakkan sebuah amplop cokelat yang terasa sangat tipis di atas meja. Setya dengan gemetar meraihnya, tapi sebelum ia sempat menarik amplop itu, jemari lentik Arumi yang berkuku rapi menahannya.
Setya mendongak, menatap mata mantan istrinya dengan pandangan bertanya-tanya.
"Jangan senang dulu, Setya," ujar Arumi tenang, suaranya terdengar merdu sekaligus dingin. "Sebelum kamu buka, biar Nia jelaskan rincian gajimu bulan ini. Agar kamu tidak berpikir aku memeras tenaga stafku."
Kak Nia berdehem, kenudian membaca catatan di buku besar. "Gaji pokok staf kebersihan adalah tiga juta rupiah. Tapi, karena pelanggaran disiplin membahayakan nyawa Arjuna dengan air sabun, gajimu dipotong lima ratus ribu. Ditambah potongan absen tiga hari karena hukuman skors, berkurang tiga ratus ribu. Dan yang terakhir, potongan cicilan untuk talangan biaya ICU Ibu Aminah sebesar satu juta lima ratus ribu rupiah. Sisa gajimu yang berhak kamu bawa pulang adalah tujuh ratus ribu rupiah."
"Tujuh ratus ribu?" Setya terperangah, matanya membelalak menatap amplop tipis itu. "Rum... tujuh ratus ribu untuk kerja rodi sebulan penuh? Untuk makan sehari-hari saja tidak cukup, Rum! Belum lagi kalau aku harus beli obat untuk Ibu..."
"Obat Ibu sudah dipenuhi oleh asuransi yang aku bayar, Setya. Kamu tidak perlu berlagak menjadi anak berbakti setelah hampir membuatnya kehilangan nyawa," potong Arumi tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
Arumi melepaskan tekanannya pada amplop tersebut. "Tujuh ratus ribu adalah harga yang logis untuk seorang pekerja yang ceroboh dan membawa sial seperti kamu. Jika kamu tidak terima, silakan taruh sapu lidimu sekarang, keluar dari gerbang ini, dan cari perusahaan lain yang mau menampung mantan narapidana sosial sepertimu. Bagaimana?"
Setya menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Keluar dari sini berarti kelaparan. Keluar dari sini berarti dia tidak akan punya akses sedikit pun untuk melihat anak-anaknya atau ibunya. Dengan tangan gemetar, ia menarik amplop tipis itu dan memasukkannya ke dalam saku celana kerjanya.
"Terima kasih... Bu Arumi," ucap Setya dengan suara tercekat, terpaksa menggunakan panggilan formal yang membuat hatinya terasa robek.
Siang harinya, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik memasuki area parkir gudang. Setya yang sedang menyapu dedaunan kering di bawah pohon kersen langsung bersiaga. Pintu belakang mobil terbuka, dan seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang sangat elegan, perhiasan mutiara di leher, dan sanggul rapi turun dari mobil.
Setya mengenali wanita itu dari foto yang pernah ia lihat di meja kerja Dhanu tempo hari. Beliau adalah Nyonya besar Ratih, ibu kandung Dhanu.
Arumi dan Kak Nia yang melihat kedatangan tamu terhormat itu segera turun dari lantai dua untuk menyambut. Sebelum mereka sampai ke halaman, Setya melihat sebuah kesempatan emas. Jiwa pecundangnya yang didera cemburu buta melihat kedekatan Dhanu dan Arumi mendadak bergejolak. Ia ingin merusak nama baik Arumi di mata calon mertuanya.
Dengan lagak berpura-pura menyapu ke arah mobil, Setya mendekati Nyonya Ratih yang sedang merapikan selendangnya.
"Permisi, Nyonya besar..." sapa Setya dengan membungkuk sopan, mencoba membuat suaranya terdengar meyakinkan.
Nyonya Ratih menoleh, menatap Setya dengan alis berkerut melihat seragam kebersihan yang kotor. "Ya? Ada apa ya?"
Setya menengok ke kanan dan ke kiri, berlagak seperti orang yang sedang membisikkan rahasia penting. "Nyonya... maaf jika saya lancang. Saya hanya merasa kasihan pada Pak Dhanu. Beliau pria yang sangat baik dan terhormat, tapi saya takut beliau sedang dimanfaatkan di sini."
"Dimanfaatkan? Maksud kamu apa?" nada suara Nyonya Ratih langsung berubah menyelidik.
"Pemilik gudang ini, Arumi... dia wanita yang sangat licik, Nyonya," hasut Setya dengan mata yang dibuat-buat prihatin.
"Dia sengaja mendekati Pak Dhanu demi menguras hartanya untuk membiayai ketiga anaknya yang nakal. Dia juga menggunakan nama ibunya yang sakit-sakitan untuk memeras simpati Pak Dhanu. Saya ini bekerja di sini sudah lama, Nyonya. Saya tahu betul bagaimana tabiat asli Arumi yang gila harta."
Nyonya Ratih diam sejenak, menatap Setya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang sulit diartikan. "Oh, jadi kamu tahu banyak tentang Arumi?"
"Tentu saja, Nyonya! Saya hanya tidak ingin Pak Dhanu yang mapan mendapatkan janda beranak tiga yang penuh dengan masalah hutang dan..."
"Nyonya Ratih! Selamat datang," suara lembut Arumi tiba-tiba memotong kalimat Setya. Arumi dan Kak Nia sudah berdiri tidak jauh dari mereka. Wajah Kak Nia tampak tegang melihat Setya sedang bicara dengan ibu Dhanu, tapi Arumi tetap terlihat tenang dan tersenyum menyambut tamu agungnya.
Setya langsung terdiam dan mundur satu langkah, memegang sapu lidinya dengan gugup.
Nyonya Ratih berbalik menatap Arumi, kemudian kembali menoleh pada Setya. Sambil tersenyum sinis, Nyonya Ratih berkata dengan suara yang cukup keras agar didengar oleh semua orang, "Arumi, staf kebersihanmu ini lucu sekali. Dia baru saja menasihatiku agar Dhanu tidak mendekatimu karena kamu janda anak tiga yang gila harta."
Setya seketika pucat pasi. Jantungnya rasanya mau copot. Ia tidak menyangka Nyonya Ratih akan langsung membongkar ucapannya di depan Arumi.
Arumi tidak terlihat terkejut sama sekali. Ia hanya menatap Setya dengan tatapan kasihan yang teramat sangat. "Ah, maafkan kelancangan staf saya ini, Nyonya Ratih. Beliau memang sering mengalami gangguan kecemasan sejak... kehilangan segalanya."
Nyonya Ratih mendengus remeh, menatap Setya dengan pandangan menghina yang sangat berkelas. "Asal kamu tahu ya, Tukang Sapu. Saya ini seorang pengusaha. Saya tahu mana wanita yang bekerja keras dengan keringat sendiri seperti Arumi, dan mana pria pecundang yang hanya bisa bergosip di balik sapu lidi karena iri melihat kesuksesan orang lain. Dhanu itu anak saya, dan saya tahu betul dia tidak sebodoh yang kamu pikirkan sampai bisa dimanfaatkan."
Nyonya Ratih kemudian beralih menggandeng lengan Arumi dengan akrab. "Ayo masuk, Arumi. Udara di luar agak kotor karena banyak debu... dan banyak sampah yang belum dibersihkan dengan benar."
"Silakan masuk, Nyonya," jawab Arumi sopan. Sebelum melangkah masuk ke dalam ruko, Arumi menoleh ke arah Setya yang berdiri mematung seperti patung selamat datang yang malang.
"Setya," panggil Arumi dingin. "Karena kamu punya waktu luang untuk bergosip dengan tamu terhormatku, artinya tugas utamamu kurang padat. Potong gaji lagi lima puluh ribu untuk hari ini karena kelancanganmu. Dan bersihkan seluruh kolong mobil Nyonya Ratih sampai tidak ada sebutir debu pun. Jika tergores sedikit saja, sisa gajimu yang tujuh ratus ribu itu akan habis untuk biaya kompensasi."
Rombongan wanita terhormat itu masuk ke dalam kantor, meninggalkan Setya sendirian di halaman parkir yang panas. Setya meremas gagang sapunya, air matanya menetes karena rasa malu yang luar biasa. Niat hati ingin menjatuhkan Arumi, ia justru berakhir menjadi lelucon di depan calon mertua mantan istrinya sendiri, dengan dompet yang semakin menipis.
Hukum logika kembali menampar Setya: Seorang pecundang yang mencoba bermain di kelas atas, hanya akan berakhir menjadi keset kaki yang diinjak-injak tanpa ampun.