NovelToon NovelToon
Kisah Arkan Dan Nara

Kisah Arkan Dan Nara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Rani Febrianti

Sinopsis:

Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.

Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3: Bayang-bayang Masa Lalu

Hari-hari berlalu dengan pola yang sama, berulang-ulang seperti jarum jam yang bergerak kaku. Nara mulai terbiasa dengan ritme hidup barunya yang sunyi. Di rumah besar itu, ia menghabiskan waktunya membaca buku, membantu Bu Inah menyiapkan makanan, atau sekadar duduk diam di beranda belakang menatap taman yang luas dan terawat rapi. Arkan jarang sekali ada di rumah. Pagi-pagi sekali ia sudah berangkat ke kantor, dan baru pulang saat malam sudah larut, kadang bahkan saat Nara sudah terlelap. Saat bertemu pun, percakapan mereka hanya seperlunya saja—singkat, dingin, dan penuh batasan.

Malam itu, hujan kembali turun membasahi Jakarta, persis seperti malam pertama mereka bertemu. Suara petir sesekali terdengar menggelegar, membuat suasana di dalam rumah semakin sepi dan mencekam. Nara sedang duduk di ruang tengah, memegang secangkir teh hangat, berusaha menghangatkan diri dari udara dingin yang merembes masuk lewat celah jendela. Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Biasanya, di jam begini Arkan sudah ada di kamarnya atau belum pulang sama sekali. Namun malam ini, suara deru mesin mobil mewah terdengar memasuki halaman rumah, disusul bunyi pintu yang dibanting agak keras.

Nara menegakkan punggungnya. Ia tidak berniat menemuinya, sesuai perjanjian bahwa ia tidak boleh mengganggu. Tapi kali ini, langkah Arkan terdengar sempoyongan. Pintu kaca ruang tengah terbuka, dan sosok pria itu muncul di ambang pintu.

Arkan berdiri di sana, jasnya sudah dilepas dan digantungkan sembarangan di bahu, kemejanya sedikit kusut, dan aroma alkohol bercampur wangi parfum mahal tercium jelas memenuhi ruangan. Matanya yang biasanya tajam dan dingin kini tampak sayu, pandangannya kabur, dan wajahnya yang selalu terjaga dan kaku kini tampak lelah luar biasa—bukan karena pekerjaan, tapi karena beban batin yang berat.

Ia menatap Nara yang duduk terkejut di sofa. Senyum miring yang asing tersungging di bibirnya, senyum yang bukan sarkasme, melainkan senyum kepahitan.

"Kau belum tidur?" suaranya terdengar berat dan serak, jauh berbeda dari nada tegas yang biasa ia gunakan. Arkan berjalan mendekat, lalu jatuh duduk di sofa yang berseberangan dengan Nara, menghempaskan tubuhnya dengan kasar seolah tak lagi punya tenaga.

"Saya... saya hanya sedang membaca, Mas," jawab Nara pelan, menurunkan cangkir tehnya. Ia ragu harus pergi atau tetap diam di tempat. Di satu sisi, ia takut; tapi di sisi lain, ada rasa penasaran yang menggelitik. Bagaimana sosok dingin ini bisa terlihat begitu rapuh?

Arkan tidak langsung menjawab. Ia menatap sekeliling ruangan luas itu dengan pandangan kosong, lalu kembali menatap Nara dengan tatapan yang menembus jauh, seolah sedang melihat orang lain melalui wajah gadis itu.

"Kau tahu, Nara... semua orang di luar sana berpikir aku punya segalanya. Uang, kekuasaan, jabatan, nama besar. Mereka menganggap aku pria paling beruntung di dunia," ucapnya pelan, hampir berbisik, namun cukup jelas terdengar di ruangan yang hening itu. Ia bersandar ke sandaran sofa, menatap langit-langit yang tinggi. "Tapi tidak ada satu pun yang tahu... bahwa semua ini adalah penjara yang kubuat sendiri. Penjara yang mengurungku di dalam kemewahan, tapi merampas semua kebahagiaanku."

Nara diam saja, mendengarkan saksama. Ia sadar Arkan sedang dalam pengaruh alkohol, mungkin inilah satu-satunya saat di mana tembok pertahanan pria itu runtuh dan ia berani bicara apa adanya.

"Mereka menjodohkanku denganmu karena menganggap ini penyatuan dua kekuatan. Bisnis, warisan, nama keluarga... semua itu omong kosong," Arkan menoleh tajam ke arah Nara, matanya berkilat karena emosi yang tertahan. "Mereka lupa, bahwa hati ini sudah mati sejak lama. Bahwa aku sudah berjanji pada satu orang, bahwa tidak akan ada wanita lain selain dia. Bahwa aku menikahimu hanya karena aku sudah tidak punya alasan lagi untuk menolak. Karena... bagiku, menikah dengan siapa pun sama saja. Semuanya bukan dia."

Jantung Nara terasa diremas kuat. Dia. Wanita yang disebut-sebut Arkan tempo hari, wanita yang menjadi satu-satunya pemilik hatinya. Rasa penasaran itu berubah menjadi rasa sakit yang diam-diam merayap di dada. Meski ia tahu sejak awal bahwa tidak akan ada tempat untuknya di sana, mendengarnya diucapkan langsung dengan nada sedih dan rindu yang begitu dalam tetap saja terasa menyakitkan.

"Siapa wanita itu, Mas?" tanya Nara pelan, tanpa sadar mulutnya bergerak bertanya. Ia tahu itu bodoh, ia tahu itu menyiksa diri sendiri, tapi ia ingin tahu siapa sosok yang mampu mengikat hati pria sekeras Arkan.

Arkan terdiam sejenak. Pandangannya kembali menerawang ke luar jendela, ke arah kegelapan di balik hujan deras. Senyum lembut, sangat lembut dan jarang terlihat, terbit di wajahnya. Wajah yang begitu kontras dengan sifat aslinya.

"Namanya Kirana," jawabnya lirih. "Kami bertemu lima tahun lalu. Saat itu aku belum menjadi sekeras ini. Aku masih Arkan yang ceria, yang punya mimpi sederhana, yang percaya bahwa cinta bisa menaklukkan segalanya. Dia gadis biasa, sama sepertimu. Tidak kaya, tidak punya nama besar, tapi dia satu-satunya orang yang bisa membuatku merasa hidup."

Suara Arkan bergetar saat melanjutkan ceritanya. Tangannya mengepal kuat di atas lututnya, urat-urat di lengannya terlihat menonjol menahan emosi yang ingin meledak keluar.

"Kami saling mencintai, berencana menikah, membangun hidup dari nol. Kami tidak butuh harta, kami cuma butuh satu sama lain. Tapi ayahku... beliau menolak keras. Beliau menganggap Kirana tidak pantas masuk ke dalam keluarga Dirgantara. Beliau bilang, hubungan itu hanya akan merusak nama baik dan reputasi bisnis yang dibangun bertahun-tahun. Ayahku mengancam akan menghancurkan hidup keluarga Kirana jika kami tetap bersatu. Dan di saat yang sama, perusahaan keluarga sedang terancam bangkrut karena kesalahan pengelolaan."

Arkan menarik napas panjang, menghembuskannya dengan berat seolah membuang beban bertahun-tahun lamanya dari dadanya.

"Aku harus memilih, Nara... aku harus memilih antara cinta wanita yang kucintai atau menyelamatkan masa depan semua orang yang kucintai juga. Aku harus memilih antara kebahagiaanku sendiri atau nyawa dan nasib orang banyak. Dan bodohnya... aku memilih tanggung jawab. Aku meninggalkan Kirana, menyuruhnya pergi jauh ke luar negeri agar ayahku tidak menyakiti dia lagi. Aku mengambil alih perusahaan, bekerja mati-matian, menjadi dingin dan kejam seperti yang ayahku inginkan. Aku menjadi pria yang mereka semua kagumi dan takuti ini. Tapi bayarannya mahal sekali, Nara... aku kehilangan separuh jiwaku bersamanya."

Air mata, satu butir air mata jatuh membasahi pipi tegas Arkan. Pria yang selalu tampak tak terkalahkan itu menangis, bukan karena sakit atau lelah, tapi karena rindu yang tak berkesudahan dan penyesalan yang tak terobati.

Nara merasa dadanya sesak. Kemarahannya pada Arkan perlahan luntur, berganti dengan rasa iba yang mendalam. Ia pikir Arkan bersikap dingin padanya karena ia sombong atau merendahkan, tapi ternyata... Arkan bersikap dingin pada semua orang, pada dunia, karena hatinya sudah tertutup rapat sejak lama karena luka yang dalam. Arkan juga korban, sama sepertinya. Mereka berdua adalah dua orang yang dipaksa mengorbankan keinginan hati demi keinginan orang lain.

"Jadi... kau lihat sekarang, kan, Nara?" Arkan menatapnya kembali, matanya merah padam menahan tangis. "Alasan aku bersikap kasar padamu, alasan aku menempatkanmu di posisi ini... bukan karena kau buruk, atau aku membencimu. Tapi karena kau adalah pengingat nyata dari kenyataan pahit ini. Kau bukti bahwa aku tidak bisa memiliki apa yang aku cintai. Kau bukti bahwa aku harus hidup dengan aturan orang lain sampai kapan pun. Dan aku takut... aku takut jika aku bersikap baik padamu, jika aku membiarkanmu masuk... aku akan lupa padanya. Aku akan lupa pada janji setia yang kupegang sampai mati ini. Dan aku tidak mau itu terjadi, Nara. Aku tidak mau mengkhianati kenangan kami."

Arkan bangkit berdiri dengan susah payah, ia terhuyung sedikit, lalu berjalan menjauh menuju tangga. Sebelum menghilang ke lantai atas, ia berhenti sejenak dan berbicara tanpa menoleh ke belakang, suaranya terdengar begitu rapuh dan lelah.

"Maafkan sikapku selama ini. Jangan ambil hati semua kata-kata jahatku. Itu bukan untukmu, Nara... itu semua hanya perisai untuk melindungi sisa hati yang sudah hancur ini. Kau gadis baik, terlalu baik untuk terjebak di sini bersamaku. Maafkan aku karena menyeretmu ke dalam kekacauan hidupku."

Langkah kakinya perlahan menghilang, disusul bunyi pintu kamar yang tertutup rapat.

Nara masih duduk diam di ruang tengah yang kini kembali hening. Hatinya berdebar kencang, campur aduk antara sedih, terkejut, dan rasa simpati yang tumbuh. Ternyata, di balik wajah CEO yang dingin dan angkuh itu, tersimpan kisah cinta yang tragis dan penyesalan yang mendalam. Nara mulai mengerti posisinya sekarang. Ia bukan musuh bagi Arkan, ia hanya orang asing yang kebetulan terjebak di dalam penjara yang sama.

Malam itu, pandangan Nara tentang pernikahan ini berubah total. Ia sadar tugasnya di sini bukan hanya sekadar menunggu waktu habis selama dua tahun. Ada sesuatu yang lebih besar. Di hadapannya bukan lagi sekadar pria yang kejam, melainkan seorang pria yang terluka parah dan takut untuk jatuh cinta lagi.

Nara memandangi cangkir tehnya yang sudah dingin. Senyum tipis terukir di bibirnya, bukan senyum sedih, tapi senyum ikhlas yang penuh pengertian.

"Baiklah, Mas Arkan," batinnya berbisik pelan, menatap pintu tertutup di lantai atas. "Kalau begitu, aku tidak akan memintamu mencintaiku. Aku tidak akan berusaha mengganti tempat wanita itu. Aku tidak akan pernah mengganggu kenangan indah yang kau miliki bersamanya. Tapi izinkan aku... setidaknya selama dua tahun ini, aku akan ada di sini sebagai teman. Aku akan menjadi tempat ternyaman bagimu untuk pulang, pendengar setia saat kau lelah, tanpa menuntut apa pun. Biarkan aku menyembuhkan luka itu sedikit demi sedikit, bahkan jika pada akhirnya, aku sendiri yang akan terluka karenanya."

Hujan di luar semakin deras, namun suasana di dalam rumah itu kini terasa sedikit lebih hangat dari sebelumnya. Dinding pemisah di antara mereka mulai retak sedikit demi sedikit, bukan karena cinta yang datang mendadak, tapi karena pengertian yang perlahan tumbuh di antara dua jiwa yang sama-sama terluka. Dan tanpa mereka sadari, benih-benih perasaan lain mulai bersembunyi di balik rasa sakit dan kenangan masa lalu yang masih kuat itu.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!