NovelToon NovelToon
NEVER TRULY GONE

NEVER TRULY GONE

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Mengubah Takdir
Popularitas:133
Nilai: 5
Nama Author: Selene Mora

Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?

​Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.


!!!⚠️!!!

#BL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

Di Kantin Fakultas Ekonomi, jam makan siang.

​Semua bermula saat Vin, Rose, dan Elena lagi berdebat soal siapa yang punya daya tarik paling kuat di kampus. Luca, dengan kepercayaan diri setinggi langit, bilang kalau nggak ada satu orang pun di kampus ini yang bisa nolak pesonanya.

​"Halah, sombong lo, Ca!" sahut Vin sambil nyeruput es jeruknya. "Lo emang Visual Nomor 1, tapi ada satu 'benteng' yang nggak bakal mempan sama kedipan mata lo."

​"Siapa? Kak Jack? Dia mah baik," tantang Luca.

​"Bukan," Rose menunjuk ke arah pojok kantin yang sepi dan dingin. "Brant Wiley. Kalau lo bisa bikin dia notice lo, manggil nama lo secara sukarela, dan—ini yang paling berat—bikin dia mau akrab sama lo tanpa rasa risih dalam waktu sebulan, gue akuin lo emang 'Dewa Visual'. Tapi kalau gagal, lo harus jadi asisten pribadi gue, Vin, sama Elena selama satu semester penuh. Gimana?"

​Luca melihat ke arah Brant yang lagi baca buku dengan muka temboknya. "Tantangan diterima! Kecil itu mah!"

Besoknya luca memulai hari-hari dengan berbagai trik yang terlintas di pikirannya. Dia akan membuktikan bahwa tak ada satupun yang bisa menghindar dari pesonanya. Di mulai dari:

Insiden Penghapus: Luca sengaja menjatuhkan penghapusnya ke dekat kaki Brant saat di koridor. "Eh, Kak Brant... itu penghapsuku jatuh, bisa tolong ambilin?"

​Respon Brant: Brant hanya melirik penghapus itu, lalu menginjaknya tanpa sengaja dan terus berjalan tanpa kata.

​Sok Tanya Jalan: Luca pura-pura tersesat di gedung fakultas Brant. "Kak, ruang 302 di mana ya? Aku bingung banget nih..."

​Respon Brant: Brant menunjuk papan petunjuk arah dengan dagunya, lalu kembali memasang earphone.

​Kopi "Sial": Luca mencoba memberikan kopi ke meja Brant. "Kak, ini kopi buat Kakak supaya nggak ngantuk belajarnya!"

​Respon Brant: "Gue nggak minum kopi manis. Bawa balik," sahut Brant dingin tanpa melihat muka Luca.

​"Sumpah, itu orang hatinya dari batu kali ya? Gue udah senyum sampai pegal nggak dilirik sama sekali!" keluh Luca ke Vin dan Elena di taman kampus.

​"Ya lagian lo capernya norak banget, Ca!" tawa Elena sambil memoles kuku. "Brant itu butuh sesuatu yang beda, bukan sekadar gaya manja."

Dan yang paling konyol bermula dari keinginan Luca buat ikut klub pecinta alam. Syaratnya cuma satu: harus dapet tanda tangan ketua koordinasi, dan ketuanya adalah Brant Wiley.

​"Gue bakal dapet tanda tangan itu, liat aja!" seru Luca ke Vin dan Rose.

​Sore itu, Luca nongkrong di balkon lantai 2 yang menghadap langsung ke lapangan basket. Dia mau nunggu Brant selesai latihan biar nggak bisa kabur. Sambil nunggu, dia buka buku pelajaran, sok-sokan rajin. Tapi ya namanya Luca, angin sore itu sepoi-sepoi banget... dan akhirnya, kepalanya terkulai di atas meja.

​Dua jam kemudian...

​Luca bangun dengan nyawa yang belum kumpul. Dia ngucek mata. "Hah? Udah gelap?"

​Matahari sudah hampir tenggelam, langit warnanya sudah oranye tua. Pas dia nengok ke bawah, lapangan basket sudah kosong melompong. Bersih. Nggak ada orang.

​"ANJIR! GUE DITINGGAL?!" teriak Luca di kelas yang kosong. Dia langsung lari turun tangga sambil ngomel-ngomel sendiri.

​Besok paginya di koridor kampus, Brant lagi jalan tenang bareng Clay dan Jack. Tiba-tiba, sesosok cowok berambut cokelat yang berantakan lari nyamperin dia dan langsung berdiri di depannya sambil berkacak pinggang.

​"KAK BRANT JAHAT BANGET SIH!" teriak Luca dengan muka merah padam, bibirnya maju banget.

​Brant berhenti, ngerutin dahi. "Lo... siapa?"

​"Ih! Masa nggak tau! Gue Luca! Kakak kok pulang nggak bilang-bilang sih kemarin sore?! Gue nungguin Kakak sampe ketiduran di lantai dua tau nggak! Dingin! Laper! Terus pas bangun Kakak udah ilang!" Luca marah-marah sambil hentak-hentakin kakinya ke lantai.

​Clay langsung keselek ludah sendiri, sementara Jack cuma melongo.

​Brant natap Luca dengan tatapan 'ini orang stres atau gimana'. "Pertama, gue nggak tau lo nungguin gue. Kedua, emang lo siapa gue sampe gue harus lapor kalau mau pulang?"

​Luca diem bentar. Dia baru sadar kalau dia... bukan siapa-siapa. "Ya... ya tetep aja! Harusnya Kakak punya insting dong kalau ada maba ganteng lagi nungguin! Pokoknya gue marah! Tanda tangan ini nggak usah sekarang! Bye!"

​Luca langsung balik badan dan pergi gitu aja sambil ngedumel, ninggalin Brant yang masih matung bingung.

​"Brant," panggil Clay sambil nepuk bahu temannya. "Kayaknya lo baru aja dapet penggemar yang otaknya ketinggalan di rahim ibunya."

​Setelah kejadian labrakan konyol itu, Brant bener-bener nganggep Luca itu cuma bocah pengganggu. Sampai tiba hari di mana motor Brant mogok di pinggir jalan yang panas banget.

Si pemilik mobil mewah yang hari itu entah kenapa lagi pengen gaya bawa motor gede, harus menanggung malu. Motor gahar harga ratusan juta itu mati total karena hal paling konyol sedunia: Brant lupa isi bensin.

​Dia berdiri di pinggir jalan, mukanya datar tapi aslinya pengen nendang ban motornya sendiri.

Luca, yang baru saja belanja cemilan banyak banget karena lagi stres, duduk di trotoar tak jauh dari sana sambil menikmati es krim stroberi. Dia memperhatikan Brant dari jauh.

​"Tunggu, itu Kak Brant? Hahaha, mampus lo kualat sama gue!"

Tiba-tiba, dari arah trotoar, suara cempreng yang sangat dia kenali terdengar. "Waduh, Kak Brant? Motornya kenapa? Ngambek ya?"

​"Bukan urusan lo. Pergi sana," sahut Brant dingin tanpa nengok.

​Luca nggak pergi. Dia malah jongkok di samping motor sambil jilat es krim stroberinya. "Bensin ya? Tuh, tangkinya kering keronta kayak dompet mahasiswa akhir bulan."

​"Gue bilang pergi, ya pergi," usir Brant lagi.

​Luca berdiri, dia naruh plastik cemilannya di trotoar. "Yaudah, galak amat. Tunggu sini, jangan nangis!" Luca lari-lari kecil menjauh.

​Brant mendengus. "Palingan dia mau panggil temen-temennya buat ngetawain gue," batinnya.

​10 menit kemudian, Luca balik sambil ngos-ngosan. Keringat meluncur di pelipisnya, bikin rambut cokelatnya lepek. Dia bawa jeriken plastik kecil berisi bensin eceran dan sebotol air dingin.

​"Nih, minum dulu Kak. Panas banget hari ini," Luca nyodorin air putih, lalu mulai sibuk tuangin bensin ke motor Brant pake corong kertas bekas.

​Brant bengong. Dia nggak nyangka Luca beneran jalan kaki sejauh itu demi bensin. "Lo... ngapain? Gue bisa panggil supir gue."

​Luca nyengir sambil ngelap keringat pake punggung tangannya. "Lama Kak. Keburu Kakak lumutan di sini. Oh iya, ini bukan buat caper ya. Gue tulus bantu sebagai sesama manusia yang sering ceroboh. Gue tau rasanya dilarang bawa kendaraan, jadi gue nggak mau Kakak susah."

​Brant diem. Dia ngelihat Luca yang tulus banget, nggak ada nada genit kayak biasanya. Saat itulah, dinding es di hati Brant retak sedikit.

​"Makasih," gumam Brant pelan. Sangat pelan.

Sejak saat itu, setiap kali liat Luca di kampus, Brant nggak lagi buang muka. Dia bakal berhenti sebentar, nunggu Luca nyamperin, dan dengerin ocehan randomnya. Sampai akhirnya, rasa risih itu berubah jadi rasa butuh.

Sekarang hubungan mereka sudah jalan satu tahun. Brant sudah jadi pacar yang sangat protektif. Namun, hari ini untuk yang ke sekian kali, Brant beneran ngerasa urat sarafnya mau putus.

​Jack baru saja selesai latihan basket dan nyamperin Brant di pinggir lapangan. "Brant, lo udah liat pacar lo? Sumpah, gue nggak tau harus ketawa apa kasian sama lo."

​"Kenapa lagi itu bocah?" tanya Brant, matanya udah nyari-nyari sosok Luca.

​"Dia... dia gantiin Elena di tim Cheerleaders buat pembukaan turnamen besok karena Elena lagi cidera kaki," sahut Rey sambil ketawa ngakak. "Gila,! Kostumnya nggak nahan!"

​Brant langsung jalan ke arah aula olahraga. Di sana, dia melihat pemandangan yang bikin dia pengen nutup mata semua orang di ruangan itu.

​Luca lagi latihan cheerleader pake baju seragam tim yang warnanya kuning-ungu ngejreng, lengkap dengan pom-pom di tangannya. Dia lagi latihan lompat-lompat bareng Rose.

​"SATU! DUA! TIGA! SEMANGAT!" teriak Luca dengan penuh energi, tapi gerakannya beneran kaku dan random banget. Pas bagian mau muter, Luca malah keserimpet kakinya sendiri dan hampir ngebanting Rose.

​"LUCA!" suara berat Brant menggema di aula.

​Luca nengok, mukanya langsung ceria. "Brant! Liat! Aku bagus kan jadi flyer?"

​Brant nyamperin Luca, langsung ngelepas jaketnya dan dipasangin ke pundak Luca buat nutupin baju cheerleader-nya yang sedikit terbuka di bagian pinggang. "Lepas. Sekarang."

​"Ih kenapa? Kan kasian Elena kalau nggak ada yang gantiin!" protes Luca sambil goyang-goyangin pom-pomnya ke muka Brant.

​Vin dateng sambil mijit pelipisnya. "Brant, tolong bawa balik nih anak. Gue udah capek marahin dia. Masa dia mau ditaruh di paling atas formasi piramida? Lo bayangin, dia yang ceroboh gitu ditaruh di puncak? Yang ada temen-temen gue patah tulang semua ketimpa dia!"

​Clay muncul dari belakang sambil bawa yoyo (seperti biasa). "Gue sih setuju aja Luca jadi cheerleader. Nanti pas dia lompat, gue bagian nangkep... tapi pake jaring ikan."

​"Gak lucu, Clay," desis Brant. Dia narik tangan Luca. "Ayo pulang. Lo nggak bakal jadi cheerleader. Besok gue yang bayar orang lain buat gantiin Elena."

​"Nggak mau! Aku udah latihan 3 jam tau!" Luca tetep keras kepala. Dia malah sengaja lari ke tengah lapangan dan mulai goyang-goyang random lagi. "Liat nih, Brant! Gimme a B! Gimme an R! Gimme an A! BRANT GANTENG!"

​Semua orang di aula—Jack, Rey, Vin, Rose, sampai anak basket lainnya—langsung meledak ketawa.

​Brant mukanya udah merah padam, antara malu dan gemas. "Bangsat... Luca, sini nggak lo!"

​"Sini dong kalau bisa tangkep!" Luca malah lari-lari keliling lapangan sambil teriak, "SEMANGAT KAK BRANT!"

​Rey nepuk bahu Brant. "Sabar ya, Bos. Punya pacar visual nomor 1 emang berat, apalagi yang otaknya lagi loading kayak gitu."

​Brant nggak bales. Dia langsung lari ngejar Luca, sekali tangkap, dia langsung manggul Luca di bahunya kayak karung beras.

​"Turunin! Brant, malu tau!" teriak Luca sambil mukul-mukul punggung Brant.

​"Malu? Bagus kalau lo masih punya urat malu," sahut Brant ketus tapi tetep megangin kaki Luca biar nggak jatuh. "Kita pulang. Dan lo, nggak ada boba buat seminggu."

​"HUWAAAA! VIN, TOLONGIN GUE! BRANT JAHAT!" teriak Luca ke arah temen-temennya yang cuma bisa dadah-dadah sambil ketawa.

Vin cuma bisa geleng-geleng. "Gue heran, dulu kita tantang dia buat caper doang, kok sekarang malah dapet paket lengkap sama pawang-pawangnya sekali."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!