NovelToon NovelToon
Twin Gus: A Love Story

Twin Gus: A Love Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Hantu / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang Aryan mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
***
"Gus itu terlalu galak!"
"Bukan saya yang galak, tapi kamu yang bebal dan sulit di atur!"

Kisah cinta dua Gus Kembar.
Zaskia diguna-guna oleh seorang laki-laki yang menggilainya, sihir itu akan musnah jika Zaskia menikah dan berhubungan dengan suaminya. Aryan yang menikahi Zaskia meski ia tau bahwa Zaskia tidak mencintai dirinya melainkan sahabatnya-Kafa. Lantaran Kafa mundur bak pengecut.

Sedangkan Kisah Gus Arshaf, yang sudah menyerah dengan sikap nakal santriwatinya, bernama Zayna. Juga tentang Zayna yang sudah kebal dengan kegalakan dan semua hukuman dari Gus-nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hamil?

Tak terasa dua bulan telah berlalu.

Rumah tangga Aryan dan Zaskia yang masih seumur jagung itu kini terasa jauh lebih hangat sejak mereka pindah ke apartemen. Hari-hari yang awalnya dipenuhi rasa canggung perlahan berubah menjadi kenyamanan yang menenangkan.

Bahkan sudah hampir sebulan terakhir Zaskia jarang, nyaris tidak pernah, bertemu dengan Kafa lagi. Perasaannya pada laki-laki itu kini perlahan memudar. Sosok yang sekarang memenuhi hati dan pikirannya hanyalah Aryan.

Malam ini, Zaskia tampak gelisah.

Ia terus memikirkan dirinya yang belum datang bulan sejak dua bulan terakhir.

Perempuan itu menoleh ke samping. Aryan terlihat tertidur lelap dengan posisi wajah menghadap ke arahnya. Zaskia menghela napas panjang sebelum akhirnya ikut memiringkan tubuh menghadap sang suami.

"Kak... Kak..." panggilnya pelan sambil menekan-nekan pipi Aryan menggunakan ibu jarinya.

"Kenapa, sayang?" sahut Aryan dengan suara berat khas orang baru bangun tidur. Matanya bahkan belum terbuka.

"Kia mau ngomong."

"Hm..." Aryan mengangguk kecil.

"Kak, bangun dulu."

Kelopak mata Aryan akhirnya terbuka perlahan. Ia mengerjap beberapa kali sebelum pandangannya fokus pada wajah istrinya. Setelah itu, laki-laki itu menghembuskan napas pelan sambil menimpa kepala Zaskia dengan tangannya.

"Mau ngomong apa?"

"Beli test pack yuk."

Aryan langsung terdiam. Pupil matanya membesar.

"Test pack yang buat cek kehamilan itu?"

Zaskia mengangguk pelan. "Kia udah telat dua bulan, Kak."

Aryan sontak tersadar sepenuhnya. "Kamu serius?"

"Iya, Kak Aryan. Masa kakak gak sadar dua bulan ini Kia sholat full terus."

Aryan langsung menepuk keningnya sendiri.

Pantas saja akhir-akhir ini ia merasa ada yang aneh. Namun karena benar-benar tidak terlalu memahami siklus perempuan, Aryan tidak pernah berpikir sejauh itu.

Sebelum menjawab, ia lebih dulu menoleh ke arah jam dinding.

Sudah pukul sembilan lewat tiga puluh malam.

"Udah jam segini... memangnya apotek masih buka?"

Zaskia ikut melirik jam. "Kia juga gak tau."

"Besok aja gimana? Sekalian pulang dari kampus."

Zaskia diam sejenak sebelum akhirnya mengangguk kecil. "Yaudah deh."

"Gapapa kan?"

"Iya."

Aryan tersenyum lembut. Ia lalu menarik tubuh Zaskia lebih dekat hingga wajah mereka saling berhadapan.

Tangannya bergerak mengusap pipi istrinya pelan.

Tatapan Aryan begitu teduh menelisik ke dalam mata Zaskia.

"Kalau Kia hamil gimana?"

"Kita bakal jadi orang tua."

"Tapi Kia belum siap hamil, Kak."

Aryan tersenyum tipis. "Apa yang bikin kamu belum siap?"

"Takut jadi omongan di kampus."

"Bilang sama kakak kalau ada yang ngomongin kamu."

"Kak..." Zaskia mengerucutkan bibirnya pelan.

Aryan mengusap pipi perempuan itu lagi dengan penuh hati-hati.

"Nggak ada yang perlu kamu takutin, Kia. Ada kakak di sini." Suara laki-laki itu terdengar lembut dan menenangkan. "Kakak gak akan ninggalin kamu lewatin fase itu sendirian."

Jemari Aryan perlahan turun menyentuh perut rata Zaskia. "Kakak janji bakal jadi penjaga terdepan buat kamu sama anak kita nanti."

Entah mengapa ucapan itu justru membuat hati Zaskia semakin sensitif.

Bulir bening tiba-tiba jatuh begitu saja dari sudut matanya.

Zaskia langsung menutup wajah sambil tertawa malu. "Apa sih, Kak..."

"Sini, sayang." Aryan segera menarik tubuh istrinya masuk ke dalam pelukannya.

Zaskia pun menggeser tubuh mendekat lalu menenggelamkan wajahnya di dada Aryan yang harum parfum.

"Anak itu rezeki," bisik Aryan pelan sambil mengusap punggung istrinya. "Kehadirannya gak boleh dianggap beban."

Zaskia diam mendengarkan.

"Anak itu anugerah. Jadi kalau Allah benar-benar kasih kepercayaan itu sama kita, berarti Allah percaya kita mampu menjaganya."

Zaskia kembali mengangguk kecil di dadanya.

"Dan kamu tahu gak..." lanjut Aryan lirih, "banyak pasangan suami istri yang bertahun-tahun nunggu dikasih kesempatan itu."

Hening sejenak memenuhi kamar mereka.

Aryan lalu mengecup pucuk kepala Zaskia dengan sayang sambil menepuk-nepuk lembut bahu perempuan itu. "Jadi jangan takut duluan ya, hm?"

***

Menjelang pagi, seperti hari-hari biasanya, Aryan lebih dulu mengantar Zaskia ke kampus sebelum memikirkan urusannya sendiri.

"Hari ini kakak gak ngajar. Nanti pulang bareng ya, terus kita mampir ke apotek."

"Iya."

Zaskia kemudian meraih tangan Aryan lalu mengecup punggung tangannya takzim. Setelah itu ia pamit masuk ke gedung fakultasnya. Sambil berjalan meninggalkan pelataran, beberapa kali ia menoleh ke belakang dan melambaikan tangan pada Aryan yang masih berdiri memperhatikannya.

Baru setelah punggung Zaskia menghilang di balik pintu masuk, Aryan menyalakan mesin motor dan pergi meninggalkan gedung Fakultas Ilmu Komunikasi.

Tiba di kelas, Zaskia langsung disambut cibiran tiga mahasiswi yang entah sejak kapan begitu tidak menyukainya.

"Awet ya pacaran sama kakak tingkat ganteng."

"Gimana gak awet, orang dikasih jatah terus."

"Mending gak usah pakai kerudung aja gak sih? Malu-maluin banget."

Zaskia mengembuskan napas panjang. Ia sudah terlalu sering mendengar ucapan seperti itu hingga memilih tak menanggapi lagi. Biarlah orang berkata apa, yang penting Allah tau semua tuduhan itu tidak benar.

Ia berjalan menuju kursinya tanpa menoleh sedikit pun.

"Pagi, Kia," sapa Rena.

"Pagi, Ren."

Zaskia duduk di samping temannya. Sementara tiga gadis tadi tampak mendecih kesal karena tak mendapat respons apa pun darinya.

"Nggak usah dimasukin ke hati ya."

"Iya, aman kok."

Namun beberapa detik kemudian, Zaskia mendadak mengernyit. Wangi parfum yang dikenakan Rena terasa begitu menusuk hidungnya pagi ini.

Perutnya tiba-tiba bergolak.

"Hoek—" Zaskia buru-buru menutup mulutnya.

"Lo kenapa, Kia?" Rena panik.

Zaskia menggeleng cepat. Ia segera bangkit dari kursinya lalu berlari kecil keluar kelas menuju toilet.

Sepanjang koridor yang dilewati, rasa mual itu justru semakin kuat.

"Hoek!"

Tangannya menutup rapat mulut saat cairan di dalam perutnya hampir naik ke tenggorokan.

Begitu tiba di toilet, Zaskia langsung menghampiri wastafel dan muntah.

Namun yang keluar bukan makanan, melainkan cairan kekuningan dengan rasa pahit yang membuat matanya berair.

Ia bernapas lewat mulut sambil menyalakan keran, lalu membilas bibir dan membersihkan wastafel di depannya.

"Kok aneh ya..." gumamnya pelan sambil menatap wajah pucatnya di cermin. "Padahal biasanya cium parfum Rena gak begini."

Setelah merasa sedikit lebih baik, Zaskia kembali berjalan menuju kelas. Tetapi baru sampai di ambang pintu, rasa mual itu datang lagi.

Ia terpaksa kembali berlari ke toilet.

Begitu terus sampai lima kali.

Hal itu tentu saja menarik perhatian seisi kelas, termasuk tiga mahasiswi yang tadi mengejeknya.

"Jangan-jangan lo hamil ya?" tuduh salah satunya sinis.

Zaskia memilih diam. Kepalanya sudah terasa berat dan tubuhnya mulai lemas.

"Sialan, nyuekin gue lagi!" Gadis itu mendekat lalu mencekal tangan Zaskia kasar agar menghadap padanya.

Kesabaran Zaskia akhirnya habis.

"Lo apaan sih?" bentaknya. "Kenapa sentimen banget sama gue? Salah gue apa sama lo bertiga?"

Ketiga gadis itu tampak terkejut karena selama ini Zaskia selalu memilih diam.

"Lepasin tangan gue!" Zaskia menyentakkan tangannya kuat-kuat hingga cengkeraman itu terlepas.

Dadanya naik turun menahan emosi. Setelah itu ia berbalik hendak masuk ke kelas lagi.

Namun baru dua langkah—Bruk!

Tubuh Zaskia tiba-tiba limbung lalu jatuh pingsan di depan pintu kelas.

"Kia!"

Suasana langsung ricuh. Beberapa mahasiswa panik menghampirinya.

"Jangan-jangan kesurupan lagi."

"Kayaknya iya deh."

"Lo apaan sih! Bantuin dulu, kasihan tau!"

"Bawa ke unit kesehatan cepet!"

Seorang mahasiswa laki-laki akhirnya membopong tubuh Zaskia menuju unit kesehatan kampus. Rena ikut berlari di sampingnya bersama beberapa mahasiswa lain, termasuk tiga mahasiswi yang tadi sempat mengerumuninya.

***

Pandangan Zaskia tampak remang-remang tatkala kesadarannya baru saja pulih. menatap lama langit-langit di ruangan itu. Ia akhirnya sadar jika dirinya kini sudah tidak lagi berada di dalam kelas.

"Kia." Suara seorang perempuan membuat Zaskia mengalihkan perhatiannya ke samping. Ternyata ada Rena yang menunggunya di sana.

“Lo gapapa?"

Zaskia mengangguk dibarengi senyuman kecil dari bibir pucatnya.

“Lo udah tau sesuatu belum?”

Zaskia mengernyit. “Maksudnya?"

"Lo hamil ya?”

Pandangan Zaskia membelalak seiring kecepatan jantung yang terpacu kuat. “Ha-Hamil?"

"Jadi lo gak tau?"

"Lo tau dari mana?”

Rena menghela napas, seraya mengusap lengan Zaskia yang masih tampak syok, walau ia juga terkejut dan ingin penjelasan dari temannya itu. Namun Rena tetap menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh lantaran takut membuat Zaskia jadi tertekan.

“Tadi ada Bu Sari. Lo tau kan beliau siapa? Beliau dokter kandungan yang kebetulan tugas di unit. Tadi beliau nanya lo kenapa, terus gue jawab kalau lo habis mual dan udah bolak-balik ke kamar mandi. Bu Sari kayak langsung natice gitu dan tiba-tiba nekan perut lo. Lo gak terasa?"

Zaskia menggeleng pelan.

"Nah habis nekan perut lo, terus Bu Sari bilang kalau lo hamil dan udah jalan dua bulan, Kia."

Zaskia mendelik dan langsung duduk.

"Pelan-pelan, Kia." Rena bangkit berdiri sambil menatap khawatir pada Zaskia.

"Pas Bu Sari ngomong gitu, siapa aja yang ada di sini?"

"Gue doang, tapi di luar unit ada cewek-cewek rese itu. Gue gak tau mereka denger atau gak, tapi kayaknya sih enggak, karena mereka langsung balik sama anak-anak yang tadi bawa lo ke sini pas Bu Sari suruh mereka keluar."

Zaskia menghela nafas lega. Setidaknya jika tiga gadis yang sering mengatainya itu tidak tahu, ia tidak perlu mendengar suara sumbar mereka yang kerap kali membuat dada pengap.

"Ya udah, gak usah lo pikirin dulu. Tapi... Lo emang beneran udah melakukan itu ya sama Kak Aryan?" Tanyanya ragu.

"Eh, tapi sorry kalau lo gak mau jawab, gapapa kok." Ucap Rena kemudian ketika rasa sungkan tiba-tiba mengalir begitu saja.

Zaskia menghela nafas panjang. Ia menatap Rena dengan pandangan gamang. Mungkin tidak apa-apa jika ia jujur pada teman dekatnya itu. Toh Rena berbeda dengan orang-orang yang ia kenal di prodinya.

"Sebenernya gue sama Kak Aryan udah nikah, Ren."

Tatapan Rena seketika melebar. "Hah? Lo, Lo serius, Kia? Kapan nikahnya?"

"Udah dua bulan lebih."

"Kok bisa, Kia?" Rena kembali duduk memandang lekat pada

Zaskia yang memerah wajahnya.

"Panjang ceritanya, Ren. Ntar lain waktu gue ceritain ya."

"Astaghfirullah, Kia. Gue hampir aja suudzon sama lo. Gue pikir lo beneran kayak yang mereka omongin. Ya ampun, maafin gue ya."

Zaskia tersenyum getir. "Santai aja, Ren. Wajar kok kalau lo salah paham."

"Terus kenapa nggak dipublish?"

"Karena menurut gue itu privasi. Ren,"

"Iya sih, tapi kalau anak-anak pada tau lo bakal jadi bahan omongan seisi Prodi. Kia."

Zaskia diam. Ia bingung sekarang. Belum selesai dengan keterkejutan akibat kehamilan yang ia ketahui secara mendadak, ia sudah harus kembali harus memikirkan tanggapan orang-orang nanti seandainya kabar kehamilannya tersebar.

"Sekarang Bu Sari di mana?"

"Udah pergi."

"Gue boleh minta tolong nggak?"

"Apa?"

"Ambilin HP gue mau nggak? gue mau telepon Kak Aryan?"

"Ya udah tunggu sebentar ya."

Zaskia mengangguk. "Makasih banget ya, Ren."

"Santai." Rena bergegas beranjak dari sana.

sepeninggal Rena, Zaskia terhenyak menyandarkan bahunya ke kepala brangkar ia mengusap wajah dengan kepala yang mulai berisik. Zaskia butuh Aryan sekarang.

Di tempat lain di dalam kelas.

Beberapa menit kemudian Rena sudah tiba di kelas. Ia segera mengambil tas Zaskia dan setelah itu bergegas membawanya keluar.

Namun ketika hendak keluar, tiga orang gadis menghalangi langkahnya di ambang pintu.

"Kia kenapa?" Gadis bernama Becca itu langsung menodong Rena dengan tanya.

"Masuk angin biasa. Awas gue buru-buru!"

"Jangan bohong. Kia hamil kan?"

"Awas ngapa sih!" Sentak Rena yang langkahnya terus dihalangi. "Jawab kita dulu! Lo gak punya kuping?"

"Tadi kan gue udah jawab, anjir."

"Kia hamil kan!"

"Enggak! Sekarang minggir!" Rena dengan kasar langsung menerobos tiga gadis itu di depannya. "Rusuh banget!" Sungut Rena di tengah langkahnya meninggalkan mereka. "Si Rena rese banget. Kia pasti hamil. Gue yakin."

"Terus apa rencana lo?"

"Lihat aja nanti. Cabut yuk."

Ketiganya pun pergi. Pagi ini dosen tidak masuk dan mereka diberikan tugas makalah.

Berjalan menyusuri koridor menemui beberapa anak tangga melewati halaman. Tak lama Rena sudah kembali ke gedung unit kesehatan kampus.

"Kia,"

Perhatian Zaskia teralihkan ke samping di pintu. Ia melihat Rena berjalan tergesa menghampirnya sambil membawa tas.

"Nih" Rena menyodorkan tas ketika dirinya sudah berada di samping brankar.

"Kok bawa tas? Dosen gak masuk?"

"Enggak, tapi kita dikasih tugas makalah. Persentase minggu depan."

Zaskia mengangguk paham. Ia menerima tasnya sambil mengucapkan terima kasih.

"Eh, gue balik duluan ya. Kia, gue mau ke perpustakaan. Ada buku yang mau gue cari di sana."

"Oke, sekali lagi makasih banyak ya, Ren".

"Sip!" Rena tersenyum lebar sambil melambaikan tangan di tengah langkahnya yang perlahan beranjak.

Setelah Rena pergi, Zaskia bergegas mengambil ponsel.

Pada kontak bertuliskan "hubby" Yang pada ujung katanya diberi tanda emotikon love warna merah. Zaskia mulai mengirim pesan.

"Kak, ke UKK ya. Kia disini."

Status pesan tidak terbaca, dan bahkan hanya centang satu. Zaskia lantas gelisah. Haruskah ia menelepon? Tapi ia takut mengganggu.

Zaskia tidak punya pilihan. Aryan harus segera tau berita ini.

Di tempat lain, Aryan yang tampak fokus mendengar salah satu temannya yang sedang persentasi, terkejut ketika ponselnya tiba-tiba berdering memecah suasana di dalam kelas. Ia lekas memgambil ponsel dan menekan tombol volume untuk membuatnya senyap.

"Pak, izin ke toilet ya." Aryan mengangkat tangan

"Ya, silahkan"

Ia membawa ponselnya segera keluar dari sana, berjalan di koridor menuju toilet. Arian baru mengangkat panggilan tersebut. "Halo, sayang."

"Kak, bisa ke UKK enggak?"

"Kamu kenapa? sakit?"

"Zaskia hamil." Suara Zaskia terdengar bergetar. Sepertinya perempuan itu sedang menahan tangis.

Kelopak mata Aryan seketika membeliak bersamaan dengan denyut jantung yang bertalu-talu.

"Kakak ke sana sekarang!"

Aryan langsung memutuskan panggilan secara sepihak dan segera putar arah tidak jadi menuju toilet. Laki-laki itu tampak tergesa ketika menuruni anak tangga.

Keluar dari gedung fakultasnya, Aryan tepuk jidat, ia lupa mengambil kunci motor namun ia juga tidak mungkin kembali. Sepertinya ia tidak punya cara lain selain berlari melewati beberapa gedung fakultas menuju fakultas istrinya. Menghembuskan nafas panjang sejenak guna menyiapkan diri, setelah itu Aryan lekas membawa laju kakinya berjalan dengan mata hari yang mulai terik.

Sementara itu di UKK atau unit kesehatan kampus, Zaskia tampak terisak dengan air mata yang akhirnya luruh. Entah mengapa perasaannya mendadak jadi sensitif tatkala mendengar suara Aryan.

Air matanya langsung menyembul begitu saja.

"Kia!" Zaskia yang sedang mengusap mata dengan posisi wajah tertunduk, lekas terangkat begitu Aryan menyentuh indera pendengarannya.

"Kak...." Bibir Zaskia bergetar, wajahnya memerah lantaran kesedihan yang terukir di sana.

Aryan cepat membawa langkahnya memasuki UKK, dan ketika sudah berada di dekat Zaskia, ia langsung memeluk perempuan itu.

"Kak, gimana?" Tanya Zaskia dengan suara serak lantaran tangis yang akhirnya mengudara.

"Tenang dulu ya,"

Zaskia mengangguk.

"Sekarang coba ngomong pelan-pelan. Kamu tau dari mana kalau kamu hamil? Dan terus kenapa kamu bisa ada di sini?"

“Dari Bu Sari. Beliau yang periksa Kia tadi,” ucap Zaskia lirih. “Kia pingsan, Kak... makanya dibawa ke sini.”

“Bu Sari?” Aryan tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk paham. “Oh, Bu Sari yang dokter kandungan itu?”

“Iya.” Zaskia menggigit bibir bawahnya gugup. “Beliau pasti udah mikir yang enggak-enggak soal Kia.”

Aryan menggeleng pelan. “Gapapa, sayang. Nanti kakak yang jelasin ke beliau.”

“Terus sekarang gimana?”

Aryan menghembuskan napas perlahan. “Kayaknya kita memang harus mulai jujur kalau kita udah nikah, Kia.”

Zaskia langsung menatap suaminya. “Caranya? Kita promosi gitu?”

Aryan malah tertawa kecil meski suasana hati mereka sedang campur aduk. “Ya enggak gitu juga,” ucapnya gemas. “Itu nanti aja kita pikirin pelan-pelan.”

Setelah itu Aryan melepas pelukannya. Kedua tangannya naik menangkup pipi Zaskia lembut. Ibu jarinya mengusap sisa air mata di wajah perempuan itu dengan hati-hati.

“Sekarang kamu jangan mikir macam-macam dulu,” tutur Aryan lembut. “Biar semuanya jadi urusan kakak.”

Tatapan Zaskia perlahan melunak. Mau bagaimana lagi? Saat ini hanya Aryan yang bisa membuatnya merasa sedikit tenang.

“Tapi...” Aryan kembali menatap wajah istrinya dengan ekspresi tak percaya. “Masa iya kamu beneran hamil?”

“Kia juga gak tau.” Zaskia mengusap ujung hidungnya pelan. “Tadi Rena bilang Bu Sari nekan perut Kia, terus habis itu beliau bilang kalau Kia udah hamil dua bulan.”

“Hah? Dua bulan?”

“Iya.”

Aryan langsung menatap perut Zaskia seolah sedang memproses semuanya. “Ya Allah, Kia...” gumamnya pelan. “Berarti selama ini kamu gak haid karena... ada bayi di sini?”

Tangannya perlahan menyentuh perut rata Zaskia.

Seketika kedua pipi perempuan itu memerah.

“Apa sih, Kak...” protesnya malu.

Aryan malah tersenyum lebar. Perlahan ia menurunkan tubuh hingga berlutut di depan Zaskia. Kini wajahnya sejajar dengan perut istrinya.

“Udah bisa diajak ngobrol belum ya?” tanyanya serius tapi penuh antusias.

Zaskia langsung meringis malu. “Mana Kia tau...” sahutnya lirih sambil memalingkan wajah.

Aryan tertawa pelan melihat tingkah istrinya yang salah tingkah sendiri. Tangannya masih mengusap lembut perut Zaskia seolah benar-benar sedang menyapa calon anak mereka.

“Halo, dedek bayi,” bisiknya pelan. “Ini Ayah."

1
Syti Sarah
Masya Allah bucin bnget sih Aryan 🥰🥰
Ayu Oktaviana
jodohnya kafa msih unyu unyu😁😁😁😂😂😂
syora
dara nih kyak si onty zura 🤣🤣🤣🤣
Nifatul Masruro Hikari Masaru
wah jodoh nya kafa masih sd
Syti Sarah
kocak juga nih anak nya Azzam 😂😂
Shabrina Darsih
blm Tau aja kia. uda nikah pasti hbs tuh sm aryan
Nifatul Masruro Hikari Masaru
ya nggak papa lah wong yang hamilin kan suami sendiri
nan luxiao
suka banget, dari cerita athar cila, abidzar zuya, azzam aira, sama yang ini selalu seruu banget
Syti Sarah
waah,mmang ya umma zuya absurd nya gak ada lawan.msa anak sndiri di bilang hamil 😂😂
anakkeren
best ,❤️
Anak manis
cakep buat authornya 🥰
just a grandma
seruuu
cutegirl
pokoknya aku sllu menunggu cerita dri author ini
cutegirl
ada ada aja😂
Ayu Oktaviana
selamat untuk kia dan aryan😍😍.. kita tinggal tunggu arshaf nih
Fegajon: kurang lebih begitu 😛
total 3 replies
Syti Sarah
Masya Allah,lengkap sudh kbhgian pasangan ini.slmat ya kia Aryan 🥰🥰
Syti Sarah
ciie yg udh di blas cinta nya sama istri 🥰
Syti Sarah
prsis kyak Abi nya ya aryan ini.tpi klau udh sah,bda bnget sifat nya sama istri nya .jdi syang ,bucin bnget sama istri nya .eeeh,udh mulai brani ya kia😁😁
Syti Sarah: iya btul bnget kak 😊
total 4 replies
Syti Sarah
ciie yg msak untuk pak suami 🤭🤭
Nifatul Masruro Hikari Masaru
udah terlambat kali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!