NovelToon NovelToon
Terjerat Pesona Berondong

Terjerat Pesona Berondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Obsesi / Enemy to Lovers
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘

Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Langit di atas langit Jakarta sudah sepenuhnya berganti menjadi warna jelaga yang pekat ketika jam dinding di dalam ruko menunjukkan pukul delapan malam. Seluruh aktivitas pengepakan barang jastip akhirnya selesai. Satu per satu karyawan sudah pulang, menyisakan keheningan di area ruko berlantai dua tersebut.

Haura melangkah keluar dari ruko setelah memastikan semua saklar lampu mati dan pintu kaca terkunci rapat dari dalam. Dengan tas tangan mewah yang tersampir di pundaknya dan sisa lelah yang menggelayuti pundak, wanita berusia 38 tahun itu berjalan anggun menyeberangi pelataran parkir ruko yang mulai sepi menuju mobil sedan putih kesayangannya.

Namun, baru saja jemarinya hendak menekan tombol unlock pada keyless mobilnya, sebuah bayangan tubuh tinggi menjulang mendadak melangkah cepat dari balik pilar, langsung berdiri kokoh tepat di depan pintu kemudi mobilnya. Menghadang jalurnya dengan mutlak.

Haura menghentikan langkahnya dengan sentakan pendek, napasnya berembus jengkel saat mendongak dan mendapati wajah tampan Marco yang sedang menatapnya dengan seulas senyum miring yang sangat menyebalkan.

"Apa lagi, Marco? Minggir nggak!" ketus Haura, melipat kedua tangannya di depan dada, mencoba memasang wajah Boss Lady andalannya yang dingin.

"Nggak," jawab Marco santai, tanpa beban. Cowok berusia dua puluh tahun itu justru menumpu satu tangannya di atas kap mobil Haura, melonggarkan jaket bomber-nya. "Gue nggak bakal minggir sebelum lo izinin gue pulang bareng lo malam ini, Tan."

Haura memutar bola matanya jengah, mendengus mendengar panggilan itu. "Tan, Tan, Tan! Kamu pikir aku setan, hah?! Sopan dikit kenapa sih kalau manggil orang yang lebih tua!"

Marco menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah Haura hingga jarak di antara mereka mengikis, memancarkan aroma parfum maskulin yang langsung menyerbu indra penciuman Haura. "Sayang deh kalau gitu. Mau gue panggil sayang sekarang, hm?" bisik Marco dengan nada berat yang menggoda.

"Marco!!" pekik Haura, wajahnya seketika memanas hebat. Ia langsung mengulurkan tangannya, berusaha merebut kunci mobilnya yang ternyata sudah berpindah tempat ke dalam genggaman tangan besar Marco sejak kapan. "Siniin kunci mobil aku! Jangan main-main ya, saya capek, mau pulang!"

"Gue juga capek, Haura. Makanya gue mau nebeng mobil lo. Adil, kan?" Marco mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara, menjauhkan gantungan kunci mobil itu dari jangkauan tangan Haura. Dengan tinggi badannya yang mencapai 180 senti lebih, usaha Haura yang hanya setinggi bahunya bener-bener terlihat sia-sia.

"Marco, kembalikan nggak! Nanti ada yang lihat!" Haura mulai tidak sabaran. Ia berjinjit, melompat kecil mencoba menggapai tangan Marco.

"Ambil sendiri kalau bisa," tantang Marco, justru melangkah mundur dengan tawa renyah yang terdengar sangat menyebalkan sekaligus seksi di telinga Haura. Pemuda itu mulai berjalan mundur memutari area pelataran parkir ruko yang sepi.

"Ih! Bocah tengil bener-bener ya!" Haura yang sudah terlanjur kesal akhirnya mengabaikan fakta bahwa ia sedang mengenakan heels setinggi tujuh senti. Ia mengejar langkah Marco, terlibat dalam aksi kejar-kejaran kecil di bawah temaram lampu merkuri pelataran parkir.

Marco sengaja memperlambat langkahnya, membiarkan Haura hampir berhasil menyentuh ujung kemeja hitamnya, sebelum akhirnya kembali menghindar dengan gerakan taktis khas anak muda. Haura yang sudah kehabisan napas dan kesal setengah mati terus memburu pemuda itu dengan wajah yang sudah merah padam sempurna.

Di dekat pintu keluar ruko, Emilia yang baru saja selesai merapikan tasnya dan bersiap menuju motor maticnya menghentikan langkah. Perempuan itu bersandar pada tiang, melipat tangan di depan dada sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menatap pemandangan absurd di depannya.

Ck, ck, ck. Emilia berdecak keras sengaja agar terdengar oleh keduanya.

"Dasar kelakuan bocah-bocah zaman sekarang," gumam Emilia dengan suara lantang. "Yang satu mancing-mancing mulu kerjaannya, yang satunya lagi gengsinya setinggi langit ke tujuh padahal mah dalam hati mau-mau aja tuh ditebengin!"

"Emilia! Jangan ikut ngaco ya!" teriak Haura dari seberang parkiran tanpa menghentikan langkahnya mengejar Marco.

Mendengar sindiran Emilia, Marco mendadak menghentikan langkah kakinya tepat di sudut pembatas taman ruko. Ia membalikkan badannya dengan cepat, membuat Haura yang sedang berlari kencang di belakangnya tidak sempat mengerem langkah kakinya dengan sempurna.

DUG!

Tubuh ramping Haura menabrak dada bidang Marco dengan keras. Marco dengan sigap langsung melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Haura, menahan tubuh wanita itu agar tidak terjerembab ke belakang karena hilangnya keseimbangan akibat heels-nya.

"Pegel tahu nggak!" seru Marco pelan, napasnya ikut memburu halus di depan wajah Haura yang kini tertahan tepat di dada bidangnya. "Lo keras kepala banget sih, Tan. Tinggal bilang 'iya, Marco boleh bareng' aja apa susahnya?"

Haura yang berada di dalam dekapan erat Marco mendongak dengan napas terengah-engah, kedua tangannya bertumpu pada pundak tegap pemuda itu untuk mencari keseimbangan. Jarak yang sangat intim ini kembali memicu debaran gila di dalam dadanya. "Kamu... kamu yang mulai duluan! Siapa yang nyuruh kamu nyuri kunci mobil saya, hah?!"

"Gue nggak nyuri, gue cuma mengamankan fasilitas buat perjalanan pulang kita," sahut Marco dengan senyum miring andalannya yang kembali terbit di wajah tampannya. Ia menaikkan tangan kanannya yang masih memegang kunci mobil, menggoyang-goyangkannya di depan mata Haura. "Jadi gimana? Mau gue yang nyetir atau lo yang mau terus-terusan gue peluk di tengah parkiran begini sampai ditonton Mbak Emilia?"

Haura melirik cepat ke arah Emilia yang kini sedang melambaikan tangan dengan cengiran jail dari kejauhan, lalu kembali menatap mata cokelat gelap Marco yang tampak berkilat jenaka namun penuh tuntutan.

Menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa menang melawan ketengilan dan tenaga berondong berumur dua puluh tahun ini, Haura akhirnya mengembuskan napas pasrah, melunakkan bahunya yang semula tegang. Gengsi tingginya terpaksa harus diturunkan satu tingkat malam ini.

"Ya udah, iya! Kamu yang nyetir! Tapi lepasin dulu tangan kamu dari pinggang aku, Marco!" ketus Haura, meskipun volume suaranya mengecil, menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang luar biasa.

"Nah, gitu dong dari tadi. Nurut sama cowoknya kan enak," bisik Marco lembut, memberikan remasan pelan yang intim di pinggang Haura sebelum akhirnya melepaskan dekapannya dengan berat hati.

Marco berjalan mendahului Haura menuju pintu kemudi sedan putih tersebut dengan langkah yang tampak sangat ringan dan penuh kemenangan. Sementara Haura berjalan mengekor di belakangnya, sibuk merapikan blusnya yang sedikit berantakan dengan jantung yang masih bertalu-talu di dalam dada. Di dalam hatinya, Haura tahu, menyerahkan kemudi mobilnya pada Marco malam ini sama saja dengan menyerahkan sebagian besar kendali hidupnya ke dalam genggaman sang predator muda.

***

Jangan lupa tinggalkan jejak.

1
apiii
yg sabar ya mar🥹
apiii
ditunggu bucinya tante haura🤣
apiii
manis bngt sihh berondongnya mau satu kaya marco bolehhh🤣
apiii
jangan pindah lapak🥲 thor soalnya cuma cerita dari novel author yg paling aku tunggu🥹
Penulis GenZ: nggak pindah lapak kak cuma aku nulis juga cerita disana hehe. yang disini tetep aku tamatin kok tenang aja ya😍
total 1 replies
apiii
kenapa sih itu mbah" ga bisa berkaca dari kejadian si cegill
Penulis GenZ: mbah² bgt nih kak🤣
total 1 replies
apiii
akhirnya up lagi❤️
apiii
semangat cogill🤣
apiii
emng bener berondong lebih menarik buktinya si haura sampai nggak berkutik🤣
apiii
sangat bagus alur ceritanya tidak membosankan dan membuat pembaca jadi penasaran
Indra P.
lannjutttt thorrr...
semangattt
apiii
semangat ya thor aku suka bangt semua novel yg author tulis
Penulis GenZ: jadi terharu mau nangis 🥺
total 1 replies
apiii
ngga kak asik bngt loh alur ceritanya aja bagus dan ya emg sekarang lagi musim kakak" pacaran sama berondong🤣
apiii
emng berondong itu bikin mabok kepayang🤣
apiii
berondong kesayangan🥲
apiii
mulai terpikat pesona berondong🤣
apiii
kayanya lucu klo mereka tbtb nikah🤭
apiii
jodohin haura sama si berondong tengil itu🤣
apiii
semangat up nya thor❤️
apiii
thor kenapa haura ketemu tua bangt🥲
Penulis GenZ: apanya yang tua🤣🤣
total 1 replies
English Lesson
menarik💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!