Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.
Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Badai Opini dan Aliansi Hitam
Suasana di restoran privat Hotel Langham malam itu seolah menjadi penanda dimulainya perang terbuka antara Al-Fatih Group dan Wijaya Corps. Adrian Wijaya tak lagi repot-repot menyembunyikan niat busuknya di balik senyum basa-basi. Begitu pintu geser tertutup dan menyisakan dirinya dalam kesunyian di lantai tertinggi gedung itu, ia mengempaskan map biru di tangannya. Lembaran kertas di dalamnya pun berhamburan, berserakan di atas meja marmer yang dingin.
"Brengsek! Bagaimana mungkin Farhan bisa mendapatkan data aliran dana itu?!" geram Adrian. Suaranya bergema, sarat amarah yang tertahan di balik dinding kedap suara.
Dengan sisa emosi yang meluap, ia merogoh ponsel dan menghubungi nomor khusus milik seorang pejabat kementerian. Padahal, baru beberapa jam yang lalu orang itu menjamin posisi mereka aman di mata hukum. Namun, alih-alih suara penenang yang didapat, ia justru disambut oleh suara operator yang menyatakan nomor tersebut sedang tidak aktif. Emosinya kian membuncah. Farhan Al-Fatih terbukti bergerak lebih gesit; ia tidak hanya menghalau serangan, tapi langsung memotong jalur logistik politik Wijaya Corps melalui Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).
Namun, menyerah bukan ada dalam kamus seorang Adrian. Watak keras kepala dan ambisi tanpa batas yang ia warisi dari garis keturunan Wijaya justru memacu otaknya untuk berpikir lebih licik. Ia mulai mencari celah lain untuk melancarkan serangan balasan.
"Tuan Adrian..." Sekretaris pribadinya melangkah masuk dengan sangat hati-hati sembari menyodorkan laporan singkat pergerakan media digital pukul dua pagi. "Tim humas mendeteksi ada pergerakan masif dari akun-akun anonim di media sosial. Menariknya, mereka tidak membahas soal paten atau proyek CBD Menteng, melainkan mulai mengungkit kembali sejarah pernikahan Tuan Farhan dan Ibu Andini."
Dahi Adrian berkerut. Matanya seketika berbinar saat mencium aroma peluang baru. "Maksudmu?"
"Ada narasi lama yang sengaja diembuskan kembali ke publik. Intinya, mereka menyebut pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis atau marriage of convenience untuk menyelamatkan reputasi Al-Fatih Group setelah skandal Tante Sofia dulu. Mereka mencoba menggiring opini bahwa Ibu Andini adalah sosok oportunis yang memanfaatkan status jandanya demi menguras harta keluarga Al-Fatih," sang sekretaris memaparkan secara rinci.
Adrian menyandarkan punggungnya di kursi kulit. Sebuah senyuman dingin perlahan tersungging di wajahnya yang rupawan. "Menghancurkan benteng korporasi Farhan mungkin sulit karena fondasi keuangannya terlalu kuat. Tapi menyerang sisi emosionalnya melalui nama baik sang istri... itu adalah titik lemah yang sangat rapuh."
Adrian bangkit, melangkah menuju dinding kaca raksasa yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu Jakarta yang kian meredup menjelang fajar. "Hubungi seluruh jaringan media gosip terbesar kita. Guyur mereka dengan dana tak terbatas untuk menggoreng isu ini selama sepekan penuh. Kita bangun opini publik bahwa Andini Larasati hanyalah wanita ambisius yang tidak tahu diri. Begitu mentalnya hancur, fokus Farhan di sidang KPPU minggu depan pasti akan buyar."
Keesokan paginya, suasana di kediaman mewah Al-Fatih di Menteng terasa ganjil. Saat Andini tengah menyiapkan sarapan bubur organik untuk Baby Nadir, ia menangkap gelagat aneh dari para pelayan rumah tangga yang menatapnya dengan rasa canggung.
Andini mencoba tetap tenang dan fokus menyuapi putranya yang sedang asyik mengoceh. Namun, ketenangan itu terusik saat Citra tiba-tiba merangsek masuk tanpa mengetuk pintu dengan wajah pucat pasi. Firasat Andini seketika memburuk.
"Ndin! Kamu sudah lihat berita pagi ini belum?!" seru Citra tanpa basa-basi seraya menyodorkan ponselnya ke depan wajah Andini.
Di layar itu, sebuah situs berita hiburan dan bisnis terkemuka memasang tajuk utama yang sangat provokatif. Ada foto kolase Andini yang tampak anggun dengan gaun couture semalam, disandingkan dengan foto masa lalunya saat masih berjualan kue di pasar tradisional setelah bercerai dari Reno.
‘Di Balik Takhta Sang Ratu Mode: Apakah Pernikahan Andini Larasati dan Farhan Al-Fatih Hanya Draf Kontrak Bisnis demi Harta? Seorang Sumber Mengungkap Fakta Mengejutkan Mengenai Ambisi Terselubung.’
Membaca kalimat demi kalimat yang penuh sindiran negatif itu, dada Andini terasa sesak. Artikel tersebut bukan hanya menyerang integritasnya sebagai pemimpin Nadir Label, melainkan secara keji menuduh bahwa ia memanfaatkan kehamilan dan Baby Nadir sebagai alat untuk mengamankan saham di Al-Fatih Group.
"Ini keterlaluan, Ndin!" maki Citra dengan suara bergetar menahan marah. "Ini pasti ulah tim buzzer Adrian Wijaya! Mereka menggunakan taktik character assassination karena tahu mereka sudah kalah di ranah hukum!"
Andini terdiam, tangannya yang memegang mangkuk bubur bergetar hebat. Sebagai wanita yang pernah merasakan pahitnya pengusiran, fitnah soal gila harta adalah luka yang paling menyakitkan. Ia tak pernah mengincar kekayaan keluarga Al-Fatih; ia menerima pinangan Farhan karena rasa aman, rasa hormat, dan cinta tulus yang diberikan pria itu di saat ia berada di titik terendah.
Sebelum Andini sempat bersuara, langkah kaki yang berat terdengar dari arah tangga utama. Farhan Al-Fatih muncul dengan kemeja putih yang lengan bajunya belum terkancing sempurna. Wajahnya tampak mengerikan; rahangnya mengeras dan urat lehernya menegang, tanda amarah yang sudah di ubun-ubun.
Rupanya, Farhan sudah membaca berita sampah itu di ruang kerjanya.
Tanpa memedulikan kehadiran Citra, ia langsung menghampiri Andini dan menariknya ke dalam pelukan yang hangat. Farhan mengecup puncak kepala istrinya berkali-kali, seolah ingin menyalurkan rasa bersalah yang mendalam.
"Maafkan aku, Sayang... Maaf aku belum bisa melindungimu dari permainan kotor mereka," bisik Farhan dengan suara bariton yang bergetar menahan murka.
Andini menyandarkan wajahnya di dada bidang Farhan, menghirup aroma maskulin yang selalu menenangkannya. "Aku tidak apa-apa, Mas... Aku hanya tidak ingin Baby Nadir terseret dalam kebencian bisnis ini."
Farhan melepaskan pelukannya perlahan, lalu memegang kedua pundak Andini. Ia menatap tajam ke dalam mata istrinya, sebuah tatapan yang menjanjikan perlindungan mutlak.
"Mereka pikir bisa menjatuhkanku dengan menyentuhmu, Ndin," ujar Farhan dengan nada rendah namun penuh penekanan. Sang singa Al-Fatih telah terjaga untuk melakukan perburuan. "Adrian Wijaya baru saja menandatangani surat kematian bisnisnya sendiri karena berani membawa nama istri dan anakku dalam taktik kotornya."
Farhan berbalik arah dan menatap Ahmad yang baru saja tiba di lobi bersama tim humas.
"Ahmad, batalkan semua rencana rilis pers yang diplomatis," perintah Farhan tegas. "Hari ini juga, ajukan gugatan pidana pencemaran nama baik dan pelanggaran UU ITE terhadap tiga media utama itu. Dan untuk Adrian Wijaya..."
Farhan mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih. "Instruksikan divisi finansial untuk melakukan aksi korporasi short selling terhadap seluruh saham Wijaya Corps di bursa mulai jam sembilan pagi ini. Kita buat nilai perusahaan mereka anjlok miliaran rupiah sebelum sidang KPPU dimulai. Biarkan Adrian menyaksikan takhta keangkuhannya hancur berkeping-keping karena berani mengusik keluargaku."
Semangat 💪