"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"
Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.
Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: BARA DI JALAN SUDIRMAN
Layar tablet di tangan Tuan Aksara masih menyala, menampilkan rekaman live yang memuakkan bagi Arka.
Di Jalan Sudirman, Kota Batu, ruko Pustaka Senyap yang biasanya jadi tempat paling damai di dunia bagi Dafa, kini dikepung oleh bayang-bayang kematian.
Asap hitam mulai membumbung dari tumpukan kardus buku di teras depan.
Di sana, berdiri Rendra Adiningrat. Pria yang seharusnya sudah membusuk di perbatasan lima tahun lalu itu tampak lebih kekar, dengan bekas luka bakar yang melintang di separuh wajahnya.
Ia memegang korek api perak, memainkannya dengan senyum psikopat yang tidak pernah berubah. KLIK... KLIK...
"Pilih, Arka," suara Tuan Aksara memecah deru ombak di teluk.
"Pulang ke Batu dan hadapi Rendra dalam kondisi 10% ini, tapi kau akan kehilangan kesempatan mengamankan artefak di Jakarta yang bisa memutus kutukan segelmu selamanya."
"Atau, biarkan Wironegoro menangani Rendra, dan kau ikut aku."
Arka tidak segera menjawab. Rahangnya mengeras, hingga terdengar bunyi gemeretak tulang. Ia merasakan Segel Bumi di punggungnya memanas, merespons amarah yang meluap.
KRAAKKK... KRAAAKKKK... Tanah di bawah kaki Arka mulai retak, menjalar hingga ke arah kaki Aksara.
"Kau mengancamku dengan keselamatan anakku, Aksara?" suara Arka rendah, hampir seperti bisikan, namun mengandung tekanan udara yang membuat ombak di belakangnya mendadak surut.
"Aku tidak mengancam. Aku menawarkan solusi sistematis," jawab Aksara tenang, tak bergeming meski aspal di bawahnya retak.
"Wironegoro punya satu batalyon infanteri yang siap mengepung Jalan Sudirman dalam hitungan detik. Tapi mereka butuh perintah khusus dariku agar tidak memancing kecurigaan intelijen asing."
"Jika kau setuju ke Jakarta, Dafa aman. Jika tidak... Wironegoro terikat prosedur birokrasi yang lambat."
Arka menatap layar tablet itu sekali lagi. BRAAAKKK... Ia melihat pintu ruko didobrak. Ia melihat bayangan Reyna berdiri di depan tangga, memegang sebilah keris kecil, mencoba melindungi akses ke kamar Dafa.
“Maafkan aku, Jagoan... Papa harus memercayai orang lain sejenak,”batin Arka menjerit pedih. "Hubungi Wironegoro," perintah Arka dingin.
"Katakan padanya, jika ada satu helai rambut Dafa yang jatuh, aku akan meratakan seluruh gedung pusat Perpustakaan Bayangan dengan tanah. Kau paham?"
Aksara tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang sopan. Ia menekan satu tombol di tabletnya. "Jenderal, laksanakan operasi Pagar Besi. Amankan target di Pustaka Senyap. Tanpa saksi mata dari pihak lawan."
ZLAP! ZLAP! ZLAP!
Di layar tablet, Arka melihat kilatan cahaya merah dari arah atap gedung seberang ruko. BRUK! DEBUM! Tiga anak buah Rendra tumbang seketika tanpa suara, tembakan runduk dari tim bayangan Wironegoro.
Rendra tampak terkejut, segera berlindung di balik mobil SUV-nya.
"Selesai," ucap Aksara. "Sekarang, kita punya waktu empat jam sebelum fajar menyingsing di Jakarta. Mari, helikopter sudah menunggu di balik bukit."
***
Perjalanan menuju Jakarta dilakukan dengan helikopter militer tanpa tanda pengenal. Arka duduk di pojok kabin, menatap kegelapan di bawahnya.
Pikirannya masih tertinggal di ruko. Ia tahu Reyna adalah petarung yang hebat, dan Wironegoro adalah kawan yang setia, tapi perasaan seorang ayah tidak bisa dibohongi oleh logika militer.
"Kau tahu apa yang ada di bawah Monas, Arka?" tanya Aksara, mencoba mencairkan suasana sambil menyesap kopi dari termos peraknya.
"Aku tidak peduli," jawab Arka tanpa menoleh. "Aku hanya ingin tahu kenapa kalian, The Sovereign, dan Black Order sangat terobsesi dengan titik-titik meridian ini."
Aksara mengangguk paham. "Dunia ini sedang sakit, Arka. Sumber daya alam habis, energi fosil menipis. Tapi bumi memiliki cadangan energi murni yang disebut Loka-Data."
"Titik-titik meridian seperti Nadi Samudera semalam adalah lubang pengisiannya. Siapa pun yang menguasai tujuh titik utama, dia bisa mengatur ulang iklim, ekonomi, bahkan usia harapan hidup manusia."
"Dan aku adalah kuncinya?"
"Kau bukan sekadar kunci. Kau adalah Poros. Tanpa kehadiran fisik seorang Satria Piningit yang memiliki keselarasan elemen, energi itu tidak bisa diekstraksi."
"Kami butuh kau untuk membuka 'pintu' itu. Tapi bedanya, kami ingin menggunakannya untuk menyeimbangkan dunia, sementara Black Order ingin menggunakannya untuk menghapusnya dan membangun kembali dari nol."
Helikopter mendarat di atap sebuah gedung pencakar langit di kawasan Jakarta Pusat. Udara Jakarta yang penuh polusi terasa menyesakkan bagi paru-paru Arka yang baru saja menghirup energi murni samudera.
Mereka turun menggunakan lift rahasia yang langsung menuju lantai basement terdalam. Di sana, sudah menunggu sebuah kendaraan taktis yang akan membawa mereka masuk ke terowongan bawah tanah menuju area Monas.
"Jakarta dibangun di atas jaringan terowongan kuno dari era kolonial, bahkan lebih tua lagi," jelas Aksara.
"Di bawah cawan Monas, tepat di titik tengahnya, terdapat sebuah artefak bernama 'Prasasti Tanah Sejati'. Itu adalah kepingan kedua yang kau butuhkan untuk meningkatkan sinkronisasi segelmu menjadi 20%."
Arka hanya diam, mengikuti langkah Aksara. Ia merasakan getaran aneh di telapak kakinya. Tanah Jakarta tidak sedingin tanah Batu atau sekuat tanah pesisir.
Tanah ini terasa 'gelisah', seolah-olah ada jutaan jeritan manusia yang tertanam di bawah aspalnya. Mereka sampai di sebuah pintu baja raksasa yang dijaga oleh robot-robot keamanan tingkat tinggi.
Begitu masuk, Arka melihat sebuah ruang luas dengan langit-langit kubah yang megah. Di tengah ruangan itu, terdapat sebuah pilar batu yang melayang di atas genangan air raksa. SREEEEE... (Suara air raksa yang berputar tenang).
ZAP... ZAP... ZAP...
Pilar itu bertuliskan aksara yang terus berubah-ubah setiap detiknya, terkadang Sansekerta, terkadang Jawa Kuno, terkadang bahasa yang tidak dikenal manusia.
"Sentuh pilar itu, Arka. Gunakan 10% Segel Bumi yang kau dapatkan semalam," perintah Aksara.
Arka melangkah maju. Namun, tepat sebelum ia menyentuh pilar itu, insting tempurnya berteriak. Ia merasakan pergeseran udara di sisi kirinya.
BZZZTT!
Arka merunduk secara refleks. SET! Sebuah sinar laser merah membelah udara di tempat kepalanya berada tadi. Dari balik kegelapan pilar, muncul sosok pria dengan jubah panjang berwarna abu-abu.
Wajahnya tertutup topeng perak berbentuk wajah singa. Di tangannya, ia memegang sebuah tongkat yang memancarkan energi listrik biru.
"Tuan Aksara... kau selalu selangkah lebih lambat," ucap pria bertopeng itu. Suaranya terdengar seperti dua logam yang bergesekan.
"The High Curator," Aksara mendesis, wajahnya yang biasanya tenang kini tampak sangat tegang. Ia segera mencabut pistol peraknya. SRET! "Bagaimana kau bisa menembus pengamanan kami?!"
"Pengamananmu hanya berbasis teknologi manusia, Aksara. Aku menggunakan frekuensi yang kau sendiri tidak pahami," si Kurator menatap Arka.
"Selamat datang, sang Poros yang Terbelenggu. Aku datang untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milik Black Order sejak lama."
THAK! Kurator itu mengayunkan tongkatnya ke arah lantai. WREEEAAAAAARGH! (Suara raungan dari cairan yang bergejolak). Seketika, air raksa di bawah pilar itu bangkit, membentuk tiga raksasa cair yang mengerikan.
"Arka, tahan mereka! Aku akan mencoba melakukan enkripsi balik pada sistem keamanan!" teriak Aksara sambil berlindung di balik pilar beton.
Arka menarik napas panjang. Ia merasa tubuhnya sangat berat karena efek gravitasi bawah tanah. Ia mengepalkan tangan kanannya.
Segel Bumi di punggungnya menyala terang, pendar cokelat keemasannya menerangi ruangan yang remang itu.
BRAKKKKKK!
Salah satu raksasa air raksa menerjang Arka dengan tinju raksasanya. Arka tidak menghindar. Ia ingin mencoba kekuatan 10% miliknya. Ia menghantamkan tinjunya ke arah kepalan air raksa tersebut.
BOOM!
Gelombang kejut meledak di ruangan itu. Tinju Arka yang dilapisi energi bumi padat berhasil memecah molekul air raksa tersebut, membuatnya hancur berantakan menjadi butiran kecil yang tidak berbentuk.
Namun, dalam sekejap, air raksa itu menyatu kembali. SLUUP...
"Cairan itu tidak bisa dihancurkan dengan kekuatan fisik murni, Arka!" teriak Aksara. "Kau harus menggunakan getaran frekuensi rendah! Hancurkan resonansinya!"
Arka mengerti. DUM... Ia meletakkan kedua telapak tangannya di lantai. Ia memejamkan mata, mencari nada dasar dari tanah Jakarta yang gelisah ini.
Ia mulai menggetarkan energi buminya, menyelaraskannya dengan struktur molekul air raksa tersebut. HUMMMMMM.... Suara dengungan rendah yang menggetarkan seluruh ruangan.
Raksasa-raksasa air raksa itu mulai gemetar, bentuk mereka menjadi tidak stabil. DRRRRRRRR!
"STOP!" Kurator itu marah, ia melepaskan tembakan energi dari tongkatnya ke arah Arka. ZLAP!
Arka tidak bisa bergerak karena sedang memfokuskan energi getaran. Namun, tiba-tiba...
TANGG! sebuah bayangan melesat di depan Arka, menangkis tembakan energi itu dengan sebilah pedang pendek yang berpendar ungu.
Itu adalah Reyna.
Arka terbelalak. "Reyna?! Kenapa kau ada di sini? Dafa?!"
Reyna tidak menoleh, ia sibuk menangkis serangan bertubi-tubi dari si Kurator. SET! TRING!
"Dafa aman bersama Wironegoro di bunker rahasia! Jenderal mengirimku lewat jalur udara khusus karena dia tahu ini adalah jebakan! Arka, selesaikan prasastinya! Aku akan menahan si Singa Perak ini!"
Kehadiran Reyna memberikan dorongan moral yang luar biasa bagi Arka. Ia memperkuat getaran energinya.
KRAAAKK!
Tiga raksasa itu meledak secara bersamaan, berubah menjadi uap yang tak berbahaya. Arka segera berdiri, berlari menuju pilar melayang. Ia meletakkan tangannya di atas aksara yang sedang berubah-ubah itu. ZINGGGGG!
Seketika, seluruh ruangan bergetar hebat. Monumen Nasional di atas sana bergoyang seolah dihantam gempa berkekuatan 8 SR.
Arka merasakan gelombang informasi masuk ke otaknya, 'sejarah nusantara', lokasi titik meridian berikutnya, dan... sebuah kebenaran pahit tentang identitas asli Aksara.
Arka menoleh ke arah Aksara yang sedang sibuk di panel kontrol.
"Aksara... kau bohong padaku. Artefak ini bukan untuk mengamankan segelku. Artefak ini adalah tracker yang akan memberitahu seluruh dunia di mana lokasi satria piningit berada!"
Aksara berhenti bergerak. Ia menoleh ke arah Arka dengan senyum yang sangat berbeda, senyum yang penuh kelicikan.
"Akhirnya kau sadar, Arka. Kami tidak bisa memilikimu, jadi kami akan membiarkan seluruh dunia memburumu. Dengan begitu, kau tidak punya pilihan selain berlindung di bawah sayap Perpustakaan Bayangan selamanya."
"Brengsek!" Arka hendak melepaskan tangannya, namun tangannya seolah tersedot oleh pilar tersebut.
Tiba-tiba, suara tawa Rendra Adiningrat terdengar dari pengeras suara ruangan. "Kalian semua terjebak di sini," suara Rendra menggema.
"Aku sudah memasang bom di empat pilar utama Monas. Dalam satu menit, tempat ini akan menjadi kuburan masal bagi sang Poros, si Kurator, dan si Pustakawan sialan itu."
Di layar monitor, tampak hitungan mundur: 00:59... 00:58...
Si Kurator berhenti menyerang Reyna. Ia menatap Aksara dengan dendam. "Kau mengkhianati kesepakatan kita, Aksara?!"
"Kesepakatan berubah saat kalian gagal menangkap Arka di Batu!" balas Aksara, ia segera berlari menuju lift darurat.
Arka masih terjebak di pilar. Tangannya tidak bisa lepas sementara energi prasasti terus menyedot sukmanya. Reyna mencoba menarik tangan Arka, namun ia justru terpental oleh pelindung energi pilar tersebut. BRUKK!
"Arka! Cepat lepas!" teriak Reyna panik.
"Tidak bisa, Rey! Pilar ini sedang mengunci koordinatku!" Arka menatap hitungan mundur: 00:15... 00:14...
Di saat genting itu, Arka melihat ke arah langit-langit terowongan yang mulai retak. Ia melihat bayangan Dafa di benaknya. Ia tidak boleh mati di sini. Jika ia mati, tidak akan ada yang melindungi Dafa dari monster-monster ini.
“Segel Bumi... Segel Air... Segel Udara... Menyatu dalam satu titik!” Arka memaksakan kekuatan di luar batas 10% miliknya.
KRRRRIIIEEEETTT!
Rantai hitam di punggung Arka berderit hebat. Salah satu rantai meledak hancur berkeping-keping.
Segel Bumi: Terbuka 20%.
Arka menghentakkan kakinya ke lantai beton dengan kekuatan penuh. DUUMMMMMMMMMMMMMM!!!!!!!!
***
Dukung perjalanan Arka Nirwana dengan Like & Komen. Update setiap hari. Terima kasih.