Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21- Dunia yang berbeda
Dunia yang Berbeda
Keesokan paginya, Mona terbangun perlahan saat mobil berhenti di depan rumahnya. Ia langsung tersadar dan buru-buru menjauh dari bahu Wira.
“Maaf… saya ketiduran lagi.”
Wira mematikan mesin mobil. “Kamu memang hobi tidur di bahu orang.”
Mona langsung salah tingkah. “Itu karena saya capek…”
“Mhm.” Nada santai itu justru membuat wajah Mona makin merah, namun saat melihat jam di dashboard mobil, Mona langsung panik.
“Ya Tuhan! Sudah jam tiga pagi?!”
“Makanya jangan kerja sambil begadang.”
Mona menggigit bibir kecil, lalu menoleh pelan. “Pak Wira…”
“Apa?”
“Terima kasih.”
Wira menatapnya beberapa detik. Tatapan yang sekarang mulai terlalu sering membuat jantung Mona tidak tenang.
“Besok aku ikut ke rumah sakit.”
Mona langsung menggeleng cepat. “Tidak usah, Pak.”
“Aku tidak bertanya.”
“Tapi itu merepotkan—”
“Mona.”
Nada tegas itu langsung menghentikannya dan anehnya… Mona mulai terbiasa dengan cara Wira menunjukkan perhatian. Keras, tapi tulus.
***
Pagi harinya, Mona kembali ke rumah sakit lebih dulu. Ayahnya terlihat sedikit lebih baik. Meski masih lemah, setidaknya warna wajahnya sudah tidak sepucat semalam.
“Kerja sana,” ujar ayahnya pelan. “Ayah tidak apa-apa.”
Mona langsung mengerucutkan bibir. “Ayah selalu bilang begitu.”
“Ayah memang tidak suka lihat anak ayah capek.”
Mona tersenyum kecil, namun sebelum ia sempat menjawab...
Tok tok
Pintu kamar rawat diketuk pelan dan beberapa detik kemudian… Wira masuk. Masih dengan pakaian kerja rapi seperti biasa, namun kehadirannya di rumah sakit sederhana itu langsung terasa mencolok. Ayah Mona tampak sedikit terkejut. Sementara ibunya buru-buru berdiri.
“Pak Wira…”
Wira mengangguk sopan. “Bagaimana keadaan Bapak?”
Ayah Mona terlihat kikuk. “Sudah lebih baik…”
Mona sendiri masih membeku. Dia benar-benar datang dan lebih mengejutkannya lagi… Wira membawa beberapa kantong makanan dan buah.
“Untuk sarapan,” ujarnya singkat.
Ibu Mona langsung tersenyum hangat. “Aduh, jadi merepotkan…”
“Tidak.”
Wira memang bukan pria yang pandai berbasa-basi, tapi justru karena itu, semua tindakannya terasa lebih tulus.
***
Beberapa menit kemudian, Mona dan Wira keluar sebentar dari kamar rawat.
Mona menatap pria di sampingnya sambil menghela napas. “Bapak tidak perlu sampai datang begini.”
Wira memasukkan tangan ke saku celana. “Kamu pasti tidak fokus kerja kalau aku tidak datang lihat langsung.”
Mona terdiam, lalu pelan tersenyum kecil. “Pak Wira ternyata perhatian ya.”
“Aku hanya memastikan sekretarisku tidak pingsan di kantor.”
“Bapak selalu bawa pekerjaan.”
“Karena itu alasan paling aman.”
Deg
Kalimat itu langsung membuat Mona kehilangan kata-kata.
Wira meliriknya sekilas dan lagi-lagi… tatapan itu terlalu lembut.
***
Namun momen tenang itu tidak berlangsung lama, karena saat mereka kembali menuju kamar rawat… dua orang pria berpakaian rapi tiba-tiba datang menghampiri.
“Permisi.”
Mona dan Wira menoleh bersamaan. Salah satu pria itu terlihat membawa map.
“Kami dari bagian administrasi rumah sakit.”
Mona langsung sedikit gugup. “Ada apa ya?”
“Tagihan rawat inap ayah Anda sudah dilunasi.”
Mata Mona langsung membesar. “Hah?”
“Kami hanya ingin konfirmasi data pasien.”
Mona langsung menoleh ke arah Wira. Pria itu terlihat santai dan itu sudah cukup menjadi jawaban.
“Pak Wira…”
“Anggap saja pinjaman.”
“Tapi—”
“Fokus urus ayahmu.”
Mona langsung terdiam. Dadanya terasa hangat sekaligus tidak tenang, karena sekali lagi… pria itu melakukan sesuatu tanpa memberitahu dirinya.
***
Siang harinya, Mona memaksa Wira kembali ke kantor. “Kalau Bapak terus di sini, nanti semua kerjaan berantakan.”
“Ada wakil direktur.”
“Dan mereka semua takut sama Bapak.”
Wira menahan senyum tipis. “Aku pergi setelah makan siang.”
Akhirnya Mona menyerah, namun saat mereka sedang berbicara di lorong rumah sakit—
Seseorang tiba-tiba menghampiri. “Mona?”
Mona menoleh dan langsung terlihat terkejut. “Reza?”
Pria di depannya tampak seusia Mona. Berpenampilan santai dengan wajah ramah.
“Ya ampun, benar kamu!” Reza tersenyum lebar. “Aku kira tadi salah lihat.”
Mona langsung tersenyum kecil. “Kamu ngapain di sini?”
“Jenguk tanteku.”
Wira yang berdiri di samping langsung memperhatikan mereka diam-diam. Tatapannya berubah datar lagi.
“Kita sudah lama nggak ketemu,” lanjut Reza antusias. “Sejak kamu pindah kerja.”
Mona tertawa kecil. “Iya juga.”
“Masih sama kayak dulu.”
“Apanya?”
“Cantik.”
Mona langsung salah tingkah. Sementara di sisi lain… ekspresi Wira mulai mengeras sedikit dan Mona yang terlalu fokus bicara bahkan tidak menyadarinya.
“Eh iya,” kata Reza lagi. “Nanti kapan-kapan kita makan bareng.”
Belum sempat Mona menjawab...
“TIDAK BISA.” Suara Wira keluar datar tapi tajam.
Mona dan Reza langsung menoleh bersamaan.
Wira berdiri tenang, namun aura dinginnya mendadak terasa jelas.
Reza mengernyit bingung. “Maaf…?”
“Mona sibuk.” Jawaban singkat itu membuat suasana sedikit canggung.
Mona langsung panik kecil. “Pak Wira…”
Reza akhirnya tersenyum tipis meski terlihat bingung. “Oh… bos kamu?”
“Iya…”
Wira mengulurkan tangan formal. “Wira Aditama.”
Dan saat Reza menyadari siapa pria di depannya… wajahnya langsung berubah kaget. CEO besar itu, yang berdiri di samping Mona sejak tadi.
“Senang bertemu,” ujar Reza cepat.
Namun tatapan Wira tetap datar. “Saya juga.”
Tapi semua orang di situ tahu… Pria itu sama sekali tidak terlihat senang.