Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang Yang Hilang Kendali
Keheningan di ruang tamu utama terasa menyesakkan. Tidak ada yang berbicara setelah ucapan Arcelia tadi.
Hanya suara api dari perapian penerangan yang terdengar samar di sudut ruangan.
Marquess Elena Vareinne masih berdiri dengan anggun anggun di tempatnya. Namun sekarang tatapannya tidak setenang biasanya.
“Kamu menuduhku meracuni anakku sendiri?” tanyanya lirih. Nada suaranya terdengar seperti seseorang yang terluka. Sempurna seperti seorang ibu yang difitnah tanpa alasan.
Sayangnya, Arcelia sudah tidak mudah tertipu. “Aku tidak mengatakan ibu meracuniku kan?.” kata Arcelia dengan tenang.
“Namun semua perkataanmu mengarah padaku seolah ibu yang meracunimu." kata Marquise Elena dengan wajah sedih.
Arcelia tersenyum tipis. “Aku bilang seharusnya ibu tahu bagaimana racun itu bisa masuk. Kalau Ibu merasa tersinggung, mungkin karena Ibu sendiri merasa bersalah.”
Lunaria sangat terkejut dan wajahnya langsung berubah pucat.
Sementara Elena juga terkejut dan bergetar sepersekian detik. Dan itu cukup bagi semua orang di ruangan untuk menyadari ada sesuatu yang salah.
“Ayah…” Lunaria buru-buru menatap Duke Cedric. “Ibu tidak mungkin melakukan hal seperti itu.” katanya sambil mendekati Duke Cedric.
Namun malam ini tidak seperti biasanya, Duke Cedric Vareinne tidak langsung membela mereka.
Tatapan pria itu justru tertuju pada Elena dengan wajah sulit ditebak.
“Elena,” katanya perlahan. “Sudah berapa lama kamu mengatur seluruh kebutuhan mansion?”
Wanita itu terlihat sedikit terkejut oleh pertanyaan tersebut. “Sejak kita menikah.” katanya dengan suara pelan, bibirnya terlihat sedikit gemetar.
“Termasuk mengatur dapur?." tanya Duke Cedric
“Ya.” kata Elena, dia tidak bisa dengan tidak bilang iya.
“Termasuk pelayan pribadi Arcelia.?" mata Duke Cedrik berubah tajam.
Elena terdiam sesaat melihat sorot mata suaminya yang kini penuh dengan ancaman. “Karena saat itu Arcelia masih kecil jadi aku yang mengatur pelayannya." katanya.
Cedric menatapnya cukup lama, tapi sekarang pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan bukan seperti seorang suami. Melainkan seorang duke yang sedang menginterogasi seorang pelaku.
“Aku mempercayakan semuanya padamu,” ucapnya rendah.
Mata Elena berubah sedikit. “Apa kamu juga sedang mencurigaiku?”
Duke Cedric hanya diam, dia terus menatap mata Elena. Dan justru diamnya Duke seolah menjawab pertanyaan Elena dan meng-iya-kan secara tidak langsung dan membuat dirinya cukup terkejut.
Karena selama bertahun-tahun Duke Cedric selalu berada di pihak Elena. Selalu mempercayainya bahkan meskipun Elena berbuat salah dia selalu berpihak kepadanya.
Namun kali ini, dimata Elena Duke Cedric seperti orang lain. Sama sekali tidak ada kehangatan pada sorot matanya.
Namun sekarang hanya keraguan yang mulai muncul di matanya.
[Hubungan target berubah.]
[Kepercayaan terhadap Elena menurun.]
Layar biru transparan kembali muncul dimata Arcelia.
Arcelia diam-diam memperhatikan semuanya dan merasa senang. "akhirnya ayah mulai sadar siapa wanita ular ini sebenarnya." batinnya.
Retakan kepercayaan yang pertama akhirnya muncul.
“Ayah…” Lunaria tampak mulai panik sekarang. “Anda tidak mungkin percaya Kakak lebih dari Ibu, kan?”
Tatapan Duke Cedric perlahan berpindah pada putri tirinya. Dan entah kenapa untuk pertama kalinya ia melihat kegugupan aneh di wajah Lunaria.
Tidak ada rasa sedih sama sekali diwajahnya melainkan rasa ketakutan terhadap sesuatu.
“Kalau kalian tidak bersalah,” katanya dingin, “kenapa kalian terlihat begitu gelisah?”
Susana ruangan tiba-tiba berubah menjadi dingin setelah Duke Cedric berkata demikian.
Lunaria langsung pucat, sementara Elena perlahan menggenggam ujung gaunnya lebih erat karena dia tahu. Suaminya perlahan memojokkannya.
“Aku hanya terluka karena kamu meragukanku,” jawab Elena lembut.
“Kamu ingin aku tidak meragukan siapa pun setelah menemukan racun di teh putriku?” Nada suara Duke Cedric mulai berubah tajam.
Bahkan Leonard yang berdiri di dekat pintu tampak sedikit terkejut. Karena ini pertama kalinya Duke berbicara seperti itu kepada Elena.
“Ayah…” Arcelia tiba-tiba bersuara membuat semua mata langsung tertuju padanya. “Aku ingin bertanya sesuatu.” kata Arcelia.
Duke Cedric langsung menatap Arcelia dengan wajah yang sangat sulit diartikan, "iya Arcelia, apa yang ingin kamu tanyakan." kata Duke.
“Apa selama ini Ayah benar-benar tidak pernah merasa ada sesuatu yang aneh?”
Wajah pria itu sedikit berubah seolah sedang mengingat atau berfikir. “Aneh?”
“Tubuhku selalu lemah.” Arcelia berjalan pelan mendekati meja. “Aku sering sakit. Nafsu makanku buruk. Bahkan berjalan jauh saja terasa sangat melelahkan.”
Kemudian Arecelia menatap Duke Cedric lurus-lurus. “Namun tidak ada satu pun tabib dimansion yang menemukan penyebabnya.”
Semua orang terkejut dan mulai merasa ada kejanggalan. Dan kalimat itu terasa jauh lebih berat sekarang setelah racun benar-benar terbukti ada.
Karena artinya seseorang sengaja menutupi kondisi Arcelia selama ini.
Tangan duke kembali mengepal karena marah. “Tabib pribadi mansion…” gumam Duke Cedric pelan.
Tatapannya berubah tajam “Panggil mereka semua besok pagi.”
Beberapa pelayan langsung menunduk gugup dan ketakutan.
Elena tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya dia menahannya.
Dan Arcelia menyadarinya wanita itu mulai kehilangan ritme permainan. Biasanya Elena selalu bisa mengendalikan suasana.
Namun sekarang semuanya bergerak terlalu cepat. Satu kesalahan kecil dan semua rahasia bisa runtuh.
“Aku rasa kita sebaiknya tidak mengambil keputusan saat emosi,” ucap Elena akhirnya.
Duke Cedric langsung menatapnya. “Emosi?” Duke Cedric semakin tidak mengerti dengan sikap Elena.
“Aku mengerti kau khawatir pada Arcelia, tetapi—” kata Elena namun belum selesai Duke Cedric langsung memotong ucapannya.
“Aku hampir kehilangan putriku selamanya." kata Duke.
Suara Duke terdengar rendah. Namun begitu dingin hingga membuat ruangan terasa mencekam.
Elena langsung diam, dia mengepalkan kedua tangannya sangat keras hingga kuku-kuku nya yang panjang melukai telapak tangannya sendiri.
Arcelia dapat melihat sesuatu yang belum pernah muncul sebelumnya di wajah wanita itu.
Marquise malam ini benar-benar sangat ketakutan.
Karena pria yang selama ini berada dalam genggamannya… mulai lepas sedikit demi sedikit.
Tiba-tiba layar biru transparan kembali muncul,
[Ding..!!]
[Misi baru muncul.]
[Temukan dalang utama sebelum Festival Kekaisaran.]
[Hadiah: Skill Analisis Tingkat Lanjut.]
"Festival Kekaisaran?" batinnya. Arcelia sedikit menyipitkan mata.
"Berarti sesuatu besar akan terjadi di sana." gumamnya pelan tapi tidak ada yang mendengar karena terlalu fokus dengan masalah yang sedang ada.
Dan sistem memberikan Arcelia sebuah peringatan yang membuat wajahnya tiba-tibs berubah pucat.
“Nona…” Lilian mendekat pelan dan berbisik, “Anda terlihat sangat pucat, apakah anda baik-baik saja?.“ tanya Lilian.
Arcelia sedikit tersentak dan langsung menatap Lilian, “Aku tidak apa-apa, mungkin hanya lelah.”
Sebenarnya bukan karena lelah, meski Arcelia mendapatkan bantuan sistem untuk menahan efek racun tapi didalam tubuh Arcelia racun itu masih ada.
Semua orang menyadari Arcelia terlihat lebih pucat dari sebelum masuk ruangan.
"Nona, sebaiknya anda beristirahat lebih awal, karena anda belum benar-benar pulih." kata tabib Orion saat melihat wajah Arcelia semakin pucat.
Arcelia hanya diam dan pandangannya bergeser secara perlahan, kemudian tatapannya bertemu dengan Elena.
Wanita itu kembali tersenyum lembut. Tetapi Arcelia bisa membaca isi senyum tersebut dengan jelas.
“Kau belum menang.” kata Elena dibalik senyumnya yang lembut.
Dan Arcelia membalas senyum itu dalam diam.
“Aku baru mulai.” bisik Arcelia.