NovelToon NovelToon
Reinkarnasi: Hamil Anak Pameran Utama Pria

Reinkarnasi: Hamil Anak Pameran Utama Pria

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Masuk ke dalam novel / Penyesalan Suami
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Unamed

Valeria Francesca terbangun di dalam tubuh wanita antagonis sebuah novel yang ditakdirkan mati tragis di meja operasi setelah kedoknya membobol keluarga konglomerat terbongkar. Di cerita asli, wanita ini menipu sang CEO, Alessandro Dirgantara, menggunakan pahlawan palsu dan jebakan kehamilan untuk memaksa menikah.

Saat terbangun di momen tepat sebelum melabrak Alessandro dengan hasil tes kehamilan, Valeria langsung merobek kertas itu. Demi selamat dari maut, ia memilih pura-pura penurut sambil diam-diam menabung untuk kabur.

Namun saat Valeria menyelinap ke rumah sakit untuk aborsi diam-diam agar bisa lari dengan tenang, Alessandro justru mendobrak pintu ruang operasi dengan mata memerah dan membentak, "Siapa yang memberi kamu izin menggugurkan anak kita?!"

Valeria melongo. Bos, bukankah di novel aslinya kamu yang paling ingin anak ini mati?!

!!(KARYA INI MURNI FIKTIF PENULIS)!!
!!(TEMPAT,LATAR MURNI IMAJINASI)!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unamed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Skenario Garis Dua

"Saya masih dalam rapat, apa yang begitu mendesak?"

Suara itu bariton, dingin, berat, dan memotong keheningan ruangan dengan ketajaman sebilah pisau es. Begitu gelombang suara itu menghantam indra pendengarannya, Valeria Francesca langsung membuka kelopak matanya dengan sentakan refleks. Kesadaran yang semula buram mendadak ditarik paksa ke permukaan, meninggalkan rasa pening yang berputar di pelipisnya.

Hal pertama yang tertangkap oleh kornea matanya adalah siluet seorang pria yang berdiri menjulang di hadapannya. Pria itu luar biasa tampan, dengan struktur wajah tegas seolah dipahat dengan ketelitian tinggi oleh seorang seniman genius yang perfeksionis. Namun, sebelum Valeria sempat memproses ketampanan fisik tersebut, otaknya lebih dulu dipaksa memproses lingkungan sekitar yang terasa sangat asing sekaligus mengintimidasi.

Tempat di hadapannya saat ini tampak seperti sebuah ruang rapat eksekutif yang sangat mewah dan bergaya modern-minimalis. Di dinding latar belakang, sebuah layar proyeksi raksasa menampilkan grafik data bursa saham real-time yang terus bergulir naik-turun dengan cepat dalam kombinasi warna merah dan hijau. Di sekeliling meja panjang dari kayu mahoni yang mengkilap, duduk lebih dari selusin pasang mata bersetelan formal. Mereka semua adalah jajaran direksi dan petinggi korporasi, yang saat ini tengah menatap lurus ke arah Valeria dengan tatapan menghakimi, sinis, dan penuh rasa ingin tahu—seolah-olah mereka baru saja kedatangan seorang badut yang siap mempertontonkan drama murahan di tengah agenda bisnis penting mereka.

Valeria benar-benar linglung. Kepalanya mendadak berdenyut nyeri seiring dengan debaran jantungnya yang kian berpacu tidak beraturan.

Tunggu... di mana ini? pikirnya dengan kepanikan yang mulai merayap di dada.

Bukankah beberapa saat yang lalu dia sedang menikmati masa liburan musim panas yang menyenangkan bersama sahabat dekatnya? Mereka sedang tertawa, menikmati embusan angin sepoi-sepoi, dan bersiap untuk bersenang-senang. Bagaimana mungkin dalam kedipan mata atmosfer itu berubah total menjadi ruang rapat korporat yang mencekam dan penuh tekanan psikologis seperti ini?

Dan yang lebih membingungkan lagi... sejak kapan bos di kantor tempatnya bekerja, pria paruh baya yang bertubuh buncit, berkepala botak, dan selalu hobi memarahinya demi hal sepele itu, mendadak bertransformasi menjadi pria muda yang ketampanannya berada di level dewa seperti ini?

Valeria tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pria di depannya. Garis rahang pria itu tajam menyerupai siluet elang yang siap menyergap mangsa, tatapan matanya sedingin es kutub dan memancarkan keangkuhan mutlak yang tak tergoyahkan. Setelan jas mahal berwarna gelap yang melekat di tubuhnya terpotong sangat pas, membungkus bahunya yang lebar dan proporsi pinggangnya yang ramping dengan sempurna. Pakaian itu memberikan siluet tubuh yang sangat ideal, menyisakan banyak ruang bagi siapa pun yang melihatnya untuk berimajinasi tentang bagaimana liat, tegap, dan kekarnya bentuk fisik di balik kain sutra mahal tersebut.

Sejujurnya, Valeria tidak memiliki banyak keahlian dalam hidupnya. Dia bukan wanita karier yang genius ataupun ilmuwan hebat yang serbabisa. Namun, jika ada satu hal yang paling dikuasainya di dunia ini, itu adalah mengenali dan mengagumi penampilan fisik yang rupawan. Dia adalah seorang pencinta visual garis keras tanpa penyesalan. Daftar video favorit di akun media sosialnya tidak pernah jauh dari kumpulan video pria-pria tampan berotot sixpack dengan proporsi tubuh atletis yang sering berseliweran di beranda.

Pria yang berdiri di hadapannya saat ini memancarkan aura keanggunan, otoritas, dan kemuliaan yang begitu dingin—sebuah karisma alami yang bahkan jauh lebih menonjol dibandingkan dengan aktor-aktor papan atas atau selebriti internasional yang pernah ia lihat secara langsung dari jarak dekat di dunia nyata.

Mungkin karena tatapan mata Valeria terlalu intens, langsung, dan terang-terangan tanpa tedeng aling-aling, alis tebal pria itu sedikit mengerut. Kilatan rasa tidak suka dan tidak nyaman melintas cepat di matanya yang sehitam obsidian, menciptakan kerutan tipis di dahi mulusnya.

"Tunggu aku di kantor dulu. Aku akan segera ke sana setelah ini selesai," ucap pria itu lagi, nadanya datar namun penuh penekanan yang tidak menerima celah atau bantahan sedikit pun.

Valeria mengerjapkan matanya berulang kali, mencoba mencerna rentetan kata yang baru saja keluar dari bibir tipis pria itu. Sebuah tanda tanya besar seolah menggantung di atas kegelapannya.

Hah? Dia sedang bicara denganku?

Melihat intonasi suara dan cara pria itu memerintah, hubungan mereka berdua jelas terasa sangat akrab atau setidaknya memiliki keterikatan personal yang cukup kuat. Masalahnya adalah, Valeria sama sekali tidak mengenal pria ini! Jangankan berteman atau bertegur sapa, bertemu dalam mimpi di tidur malamnya pun rasanya belum pernah terjadi.

Valeria membuka mulutnya sedikit, berniat untuk menanyakan di mana dia berada dan siapa pria tampan ini sebenarnya. Namun, pria itu sama sekali tidak memberinya celah sedikit pun untuk bersuara atau sekadar mengembuskan napas. Dengan gerakan tangan yang dingin dan penuh wibawa, pria itu memberi isyarat kepada salah seorang direktur yang tadi terinterupsi untuk melanjutkan presentasi laporan anggarannya.

Menyadari bahwa lusinan pasang mata di dalam ruangan itu masih terus mencuri pandang ke arahnya dengan bisik-bisik yang mulai terdengar bagai dengung lebah yang resah, Valeria tahu diri. Dia tidak ingin mati kutu menanggung malu di tempat asing ini. Sambil menahan rasa penasaran yang membakar dada dan membuat otaknya berputar keras, dia berbalik dan melangkah keluar dari ruang rapat tersebut dengan canggung, berusaha menjaga langkah kakinya agar tidak terlihat gemetar atau kehilangan keseimbangan.

Namun, begitu kakinya melangkah melewati pintu kaca tebal ruang rapat dan menyusuri koridor korporat yang sunyi berlantai marmer, pandangannya tidak sengaja membentur dinding kaca reflektif di sampingnya. Langkah kaki Valeria mendadak berhenti total. Dia mengerem langkahnya begitu keras hingga sol sepatunya mencicit pelan.

Jantungnya seakan berhenti berdetak saat sebuah wajah yang sama sekali tidak dikenalnya terpantul dengan sangat jelas dan jernih di permukaan kaca konveks tersebut.

Itu bukan wajahnya. Itu adalah wajah seorang wanita muda yang teramat cantik dengan kulit putih porselen, namun memiliki gurat wajah yang tampak licik, manipulatif, dan dipenuhi ambisi gelap yang haus akan kekuasaan.

Sebuah pikiran yang mengerikan, gelap, dan menggetarkan seluruh persendian jiwanya mendadak melintas di benaknya seperti sambaran petir di siang bolong.

Tunggu... bukankah... aku sudah mati?!

Ingatan bawah sadarnya mulai terkelupas satu demi satu, memaksa dirinya menghadapi kenyataan pahit. Kemarin, Valeria sedang melakukan olahraga ekstrem bungee jumping bersama sahabatnya di sebuah tebing tinggi yang curam. Karena kelalaian fatal dari staf instruktur lapangan yang tidak memeriksa tali pengaman dengan benar, pengait utamanya terlepas di tengah jalan ketika dia melompat. Dia jatuh bebas dari ketinggian ratusan meter dan tewas seketika di tempat saat tubuhnya menghantam dasar tebing batu yang keras. Rasa sakit yang mematikan itu bahkan masih menyisakan trauma samar berupa sensasi dingin yang mencengkeram tengkuk jiwanya.

Tepat ketika Valeria berhasil mengingat detail kematiannya sendiri, kepalanya mendadak didera rasa sakit yang luar biasa hebat, seolah-olah tengkoraknya sedang dihantam palu besar dari dalam. Bersamaan dengan rasa sakit yang mendera itu, banjir bandang berupa serangkaian ingatan, potongan memori, dan letupan emosi yang sama sekali bukan miliknya merangsek masuk tanpa izin, memaksa menyatu dengan sel-sel otaknya.

Adegan demi adegan, nama demi nama, dan seluruh alur kehidupan yang ada dalam memori asing itu terasa begitu familier di kepalanya. Valeria tercengang, matanya melebar menatap pantulan dirinya sendiri. Ini adalah plot dari sebuah novel drama romansa-melodramatis picisan yang sempat ia baca maraton hingga larut malam beberapa hari sebelum hari kematiannya yang tragis.

Kesadaran itu menghantamnya dengan telak hingga membuatnya nyaris limbung. Dia... telah bereinkarnasi ke dalam dunia buku!

Pantas saja sejak awal dia merasa kata-kata dan suara pria tampan tadi terasa tidak asing di telinganya. Jika ingatannya dari novel itu akurat, maka pria dengan aura penguasa yang berada di dalam ruang rapat tadi adalah sang tokoh utama pria, Alessandro Dirgantara, CEO muda dari Dirgantara Group yang terkenal kejam, bertangan besi, dingin, dan tidak mengenal kata ampun dalam dunia bisnis.

Dan dirinya sendiri saat ini... telah bertransmigrasi menjadi karakter wanita pendukung yang jahat, seorang antagonis sekunder yang kebetulan memiliki nama tengah yang sama dengannya: Valeria Francesca.

Berdasarkan plot novel aslinya, pemilik tubuh Valeria ini awalnya hanyalah seorang wanita gelandangan miskin kelas bawah yang tidak memiliki pekerjaan tetap dan selalu terlilit utang. Suatu hari, demi mendapatkan uang haram dalam jumlah cepat, dia menerima sebuah pekerjaan kotor dari seorang perantara untuk menyabotase dan memotong selang rem sebuah mobil mewah di sebuah area parkir bawah tanah yang sepi.

Namun, tepat saat dia hendak mengeksekusi rencana tersebut dengan tangannya sendiri, dia tidak sengaja melihat sebuah kartu nama berlapis emas milik sang pemilik mobil yang tertinggal di atas dasbor. Pemiliknya tidak lain adalah Alessandro Dirgantara, presiden direktur dari raksasa bisnis terbesar dan paling berpengaruh di negara ini.

Detik itu juga, sebuah ide yang sangat berani, gila, dan penuh kelicikan melintas di benak Valeria yang asli. Dia melihat sebuah peluang emas untuk mengubah nasib buruk dan kemiskinannya secara instan tanpa perlu memeras keringat seumur hidup.

Dia tetap memotong selang rem mobil tersebut sesuai pesanan awal agar tidak dicurigai, lalu diam-diam membuntuti mobil Alessandro menggunakan kendaraan sewaan lain hingga ke daerah pinggiran kota yang sepi di dekat sebuah tebing yang curam. Ketika mobil Alessandro kehilangan kendali akibat rem yang blong total dan terjun bebas ke dalam sungai berarus deras di bawah tebing, Valeria asli langsung melancarkan aksi heroik palsunya. Menggunakan peralatan penyelamatan sungai yang memang sudah dia persiapkan dengan sangat matang sebelumnya, dia turun ke bawah dan berpura-pura mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan Alessandro yang sudah tidak sadarkan diri dari dalam air yang dingin.

Setelah berhasil membawanya ke darat dan memberikan pertolongan pertama, dia merekayasa cerita dengan sangat rapi. Dengan wajah yang dibuat pucat pasi dan tubuh yang basah kuyup karena kedinginan, dia berbohong kepada Alessandro ketika pria itu siuman, mengatakan bahwa dia hanyalah seorang warga biasa yang kebetulan sedang lewat di daerah terpencil tersebut, lalu tergerak oleh kebaikan hatinya untuk melompat ke sungai demi menyelamatkannya dari maut.

Because Alessandro sendiri sempat samar-samar melihat siluet tubuh seorang wanita saat dia berada dalam kondisi setengah sadar di dalam air, pria itu sama sekali tidak menaruh kecurigaan sedikit pun. Memercayai sepenuhnya bahwa wanita di hadapannya adalah malaikat penolong yang telah menyelamatkan nyawanya dari cengkeraman maut, Alessandro berjanji akan mengakuinya dan memenuhi setiap permintaan Valeria sebagai bentuk balas budi, termasuk memberikan fasilitas apartemen mewah dan santunan finansial dalam jumlah yang sangat besar.

Akan tetapi, keserakahan Valeria yang asli ternyata tidak memiliki batas. Dia tidak puas jika hanya mendapatkan uang jajan bulanan atau santunan finansial berkala yang nilainya bisa dihentikan kapan saja oleh Alessandro. Dia menginginkan status sosial yang absolut. Dia menginginkan kekuasaan tertinggi sebagai seorang sosialita. Dia menginginkan Alessandro Dirgantara seutuhnya untuk menjadi miliknya yang sah secara hukum.

Namun, meskipun Alessandro sangat berterima kasih atas nyawanya yang telah diselamatkan, pria itu adalah sosok yang berhati es dan tidak tersentuh. Dia sama sekali tidak memiliki ketertarikan romantis sedikit pun terhadap Valeria dan selalu menjaga jarak profesional yang sangat tegas. Bagi Alessandro, membalas budi dengan materi berlimpah jauh lebih masuk akal dan bersih daripada harus melibatkan perasaan pribadi.

Merasa posisinya tidak akan pernah bergeser naik jika hanya mengandalkan rasa iba atau utang budi lama, Valeria asli menyusun rencana baru yang jauh lebih kotor dan berbahaya. Dia mencari kesempatan emas dalam sebuah acara perjamuan malam privat. Ketika perhatian Alessandro lengang, dia diam-diam mencampurkan obat bius perangsang berdosis kuat ke dalam gelas anggur yang akan diminum pria itu. Setelah Alessandro kehilangan kesadaran dan kendali dirinya akibat pengaruh obat tersebut, Valeria membawanya ke kamar hotel mewah dan menjebaknya untuk tidur bersama di balik selimut yang sama.

Keesokan paginya, sebelum Alessandro sempat memproses apa yang sebenarnya telah terjadi pada tubuhnya, Valeria langsung membalikkan keadaan dengan kemampuan akting yang luar biasa dramatis. Sambil menangis histeris, mengacak-acak rambutnya, dan menunjukkan tubuhnya yang penuh tanda merah buatan, dia menuduh Alessandro telah menggunakan kekuasaan, pengaruh, dan kekuatan fisiknya untuk memaksa dirinya melakukan hubungan seksual yang tidak diinginkan saat pria itu mabuk.

Alessandro yang terbangun dengan kepala yang pening luar biasa dan sama sekali tidak mengingat detail kejadian malam itu, benar-benar mengira bahwa dirinya telah melakukan kesalahan fatal yang tidak termaafkan di bawah pengaruh alkohol yang dikonsumsinya. Rasa bersalah yang teramat mendalam, merusak harga dirinya sebagai pria terhormat, dan mencoreng prinsip hidupnya membuat Alessandro mati kutu. Dirundung rasa penyesalan yang luar biasa terhadap wanita yang sudah menyelamatkan nyawanya dan kini justru dinodainya secara keji, Alessandro akhirnya menawarkan diri untuk bertanggung jawab penuh atas masa depan Valeria.

Hubungan mereka berdua pun resmi dimulai dengan cara yang sangat berantakan, toxic, penuh kepalsuan, dan dipenuhi oleh rantai manipulasi emosional.

Yang membuat plot ini semakin mengerikan dan terasa seperti bom waktu adalah, Valeria asli ternyata sudah memperhitungkan segala sesuatunya secara biologis dan matematis. Malam di mana dia menjebak Alessandro di hotel ternyata bertepatan dengan masa subur tubuhnya. Rencananya sukses besar tanpa celah; dia berhasil hamil dari malam terkutuk itu.

Dan momen hari ini... momen di mana Valeria baru saja keluar dari ruang rapat dengan langkah canggung... adalah momen paling krusial di dalam buku asli. Di mana Valeria asli datang ke kantor pusat Dirgantara Group sambil membawa selembar kertas laporan resmi dari rumah sakit yang menunjukkan hasil tes kehamilan bergaris dua yang sah, dengan maksud untuk melabrak Alessandro di tengah pekerjaannya dan memaksanya untuk segera meresmikan pernikahan mereka secara sah di hadapan hukum dan agama.

Namun, ada sedikit perbedaan kecil yang sangat krusial antara kejadian barusan dengan apa yang tertulis di dalam buku aslinya. Di dalam plot novel, Valeria asli yang berwatak kasar, serakah, dan tidak sabaran akan langsung menerobos masuk tanpa memedulikan hadangan asisten pribadi, mendobrak pintu ruang rapat utama dengan kasar, dan mengumumkan kehamilannya dengan suara lantang di depan seluruh jajaran direksi yang sedang berkumpul.

Berita skandal kehamilan di luar nikah yang melibatkan sang CEO muda itu pun langsung menyebar seperti api liar ke seluruh penjuru perusahaan hingga bocor ke media massa nasional, memicu kegemparan publik yang luar biasa besar dan menjatuhkan citra korporasi. Demi meredakan rumor liar yang terancam menghancurkan reputasi keluarga dan menurunkan nilai saham Dirgantara Group secara drastis, serta demi bertanggung jawab atas darah dagingnya sendiri yang ada di dalam kandungan, Alessandro tidak memiliki pilihan lain selain menelan harga dirinya bulat-bulat dan setuju untuk menikahi Valeria.

Pada akhirnya, Valeria asli berhasil mendapatkan apa yang dia impikan selama hidupnya. Dia sah menjadi Nyonya Dirgantara, istri dari seorang pria terkaya, paling tampan, dan paling berkuasa di negeri ini.

Namun, kehidupan setelah pernikahan itu tidak lebih dari sebuah neraka dunia yang dingin dan menyiksa batin. Alessandro memperlakukannya tidak lebih dari sekadar pajangan rumah tangga yang tidak bernyawa dan tidak memiliki arti. Pria itu sama sekali tidak menaruh rasa hormat sedikit pun, apalagi cinta yang tulus. Jika bukan karena utang nyawa di masa lalu yang terus mengganjal hatinya dan janin yang ada di dalam kandungan Valeria, Alessandro bahkan enggan berada di bawah satu atap yang sama dengannya. Pria itu menggunakan alasan pekerjaan yang menumpuk untuk lembur di kantor setiap malam, membiarkan Valeria kesepian di mansion megah mereka yang terasa tidak berbeda seperti sebuah sangkar emas yang sunyi.

Valeria asli yang merasa sudah mengorbankan segala cara untuk naik kelas sosial tidak sanggup menahan pengabaian dingin yang konstan tersebut. Sifat aslinya yang egois, temperamental, dan kasar mulai keluar ke permukaan; dia menyulut pertengkaran hebat dan merusak barang-barang berharga di mansion hampir setiap hari, menghancurkan sisa-sisa rasa bersalah yang dimiliki Alessandro hingga yang tersisa di hati pria itu hanyalah rasa muak, benci, dan antipati yang mendalam. Hubungan mereka berada di titik nadir yang paling membahayakan.

Hingga akhirnya, malapetaka yang sesungguhnya tiba tepat saat usia kandungan Valeria mendekati tanggal persalinan besarnya.

Sang tokoh utama wanita yang asli dalam cerita novel, Bianca Gabriella, akhirnya kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi jangka panjangnya di Eropa dengan hasil gemilang. Bianca adalah saksi kunci yang tidak sengaja berada di area parkir bawah tanah bertahun-tahun lalu ketika insiden sabotase mobil terjadi. Hanya dengan sekali lihat dalam sebuah acara perjamuan, Bianca langsung mengenali bahwa wanita yang kini menjadi istri sah Alessandro adalah orang yang sama yang ia lihat sedang merusak dan memotong selang rem mobil Alessandro kala itu di bawah kegelapan parkiran.

Melalui serangkaian takdir, bukti-bukti otentik, dan penyelidikan rahasia yang tak terelakkan, Alessandro akhirnya mengetahui seluruh kebenaran yang mengerikan dan busuk itu dari Bianca. Dia menyadari dengan syok dan murka bahwa wanita yang selama ini dia rawat, beri kemewahan, dan nikahi telah membohonginya sejak detik pertama mereka bertemu di tepi sungai. Valeria bukanlah malaikat penolong yang suci; dialah dalang kriminal di balik kecelakaan maut yang hampir merenggut nyawanya sendiri.

Tidak berhenti di situ, penyelidikan mendalam yang dilakukan oleh tim khusus Alessandro juga berhasil mengungkap fakta medis bahwa anggur yang diminumnya malam itu di hotel telah dicampur obat bius perangsang, dan kejadian malam itu sama sekali bukan kesalahannya yang kehilangan kendali karena pengaruh alkohol, melainkan sebuah skenario jebakan yang dihitung dengan sangat dingin, licik, dan cermat oleh Valeria sejak awal.

Kemurkaan Alessandro berada di level yang tidak bisa dibayangkan atau diredam oleh siapa pun di dunia ini. Merasa dikhianati secara ganda, dimanipulasi habis-habisan selama bertahun-tahun, dan dijadikan boneka mainan yang bodoh oleh seorang wanita kelas rendah, sisi kejam ala penguasa kegelapan dalam darah Alessandro bangkit sepenuhnya tanpa bisa dicegah. Tanpa ampun sedikit pun, pria itu langsung melayangkan gugatan cerai secara kasar, membekukan semua aset, dan mengusir Valeria dari kediamannya dalam kondisi berantakan.

Yang paling tragis dan membuat bulu kuduk berdiri, Alessandro tidak sudi darah dagingnya dilahirkan ke dunia dari rahim seorang wanita kriminal yang penuh dengan kebohongan menjijikkan seperti Valeria. Dia mengerhkan seluruh kekuasaan absolut dan koneksi medisnya untuk memaksa Valeria yang saat itu tengah hamil tua delapan bulan untuk menjalani operasi pengguguran kandungan secara paksa di sebuah rumah sakit terpencil milik keluarganya.

Karena usia kehamilan yang sudah terlalu lanjut dan kondisi psikologis Valeria yang stres berat, sebuah komplikasi hebat dan kecelakaan medis fatal terjadi di tengah jalannya operasi pengangkatan janin tersebut. Valeria asli akhirnya kehilangan nyawanya di atas meja operasi yang dingin bersama dengan bayi laki-lakinya yang belum sempat melihat dunia, bahkan tanpa meninggalkan jenazah yang utuh akibat pendarahan hebat yang gagal dihentikan oleh tim dokter.

Setelah seluruh memori tragis nan mengerikan itu selesai berputar sempurna di dalam kepala dan memorinya, Valeria Francesca yang sekarang hanya memiliki satu pikiran waras di otaknya yang berdenyut.

Aku ingin mati saja sekarang! Kenapa dari sekian banyak orang baik di dunia ini, aku harus terlempar masuk ke dalam tubuh wanita terkutuk ini?!

Apakah ini adalah bentuk hukuman instan dari Tuhan karena selama hidupnya yang dulu dia terlalu banyak menghabiskan waktu luangnya untuk menonton video-video pria tampan berotot di internet, sehingga kini dia diberi hukuman mati dengan cara yang begitu ekstrem dan berdarah-darah? Harga yang harus dibayar untuk menjadi seorang wanita pencinta visual ternyata terlalu mahal, tidak masuk akal, dan mematikan bagi keselamatan jiwanya.

Unuk situasi yang sudah berada di ujung tanduk seperti ini, menangisi nasib sial atau meratapi penyesalan masa lalu sama sekali tidak akan mengubah keadaan menjadi lebih baik. Detik waktu terus berjalan maju dengan cepat, dan bayang-bayang maut yang tragis itu sedang mengintainya dari balik pintu ruang rapat. Valeria menarik napas dalam-dalam beberapa kali, mencoba menstabilkan emosinya yang nyaris runtuh demi mencari cara taktis untuk memotong alur cerita tragis ini sebelum roda takdir novel menyeretnya ke jurang kematian.

Langkah pertama yang paling mutlak dan tidak bisa dinegosiasikan adalah: dia sama sekali, dalam kondisi apa pun atau tekanan apa pun, tidak boleh memberi tahu Alessandro tentang kehamilannya hari ini!

Jika dia nekat menyerahkan laporan medis ini sekarang demi mendapatkan status pernikahan instan dan kekayaan materi seperti yang dilakukan Valeria asli di dalam buku, maka dia hanya akan mempercepat jalannya roda takdir menuju meja operasi yang dingin itu. Ketika Bianca Gabriella kembali ke Indonesia nanti dari Eropa dan semua kedok kebohongannya terbongkar di depan publik, Alessandro yang murka pasti akan mencabik-cabiknya tanpa ragu sedikit pun.

Tidak hanya harus mengunci mulutnya rapat-rawat mengenai kehamilan ini, Valeria juga harus segera mencari klinik medis yang aman dan legal untuk melakukan prosedur aborsi secara diam-diam secepat mungkin, sebelum perutnya mulai membuncit dan memancing kecurigaan dari mata-mata milik Alessandro yang tersebar di mana-mana.

Namun, setelah dipikirkan lagi dengan kepala dingin dan analisis yang mendalam, bahkan jika dia berhasil menyingkirkan masalah anak ini tanpa ketahuan oleh siapa pun, dia masih memiliki dua catatan kriminalitas berat yang sewaktu-waktu bisa meledak bagai bom waktu yang tertanam di bawah kakinya: pertama, kebohongan besar mengenai dirinya sebagai pahlawan penyelamat nyawa Alessandro di sungai, dan kedua, insiden pembiusan Alessandro di kamar hotel. Dua hal itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Alessandro menjebloskannya ke penjara bawah tanah seumur hidup atau bahkan melenyapkannya dari muka bumi tanpa ada orang yang berani bertanya jika pria itu mengetahuinya.

Maka, satu-satunya jalan keluar yang paling logis, aman, dan masuk akal untuk menyelamatkan nyawa mudanya adalah melarikan diri sejauh mungkin!

Dia harus mengumpulkan uang sebanyak mungkin dalam waktu sesingkat-singkatnya dengan memanfaatkan fasilitas yang ada sekarang, lalu kabur keluar dari jangkauan pengaruh dan kekuasaan Dirgantara Group sebelum Bianca Gabriella menginjakkan kakinya kembali di bandara internasional Indonesia. Semakin jauh dia bersembunyi, ke pelosok daerah pedalaman yang terpencil atau bahkan ke luar negeri yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi, maka peluangnya untuk bertahan hidup akan semakin besar dan menjanjikan.

Tepat saat Valeria sedang berdiri terpaku di koridor sunyi sambil memikirkan rencana matang tempat persembunyian terbaik untuk menyelamatkan nyawanya, suara derit pintu kayu tebal dari kantor utama di ujung lorong membuyarkan lamunannya dengan sentakan keras. Pintu ganda dari kayu jati berukir mewah itu didorong terbuka dari luar dengan satu gerakan tegas yang tidak sabaran.

Sosok Alessandro Dirgantara berjalan keluar dari sana dengan langkah kaki yang tegap, konfiden, dan memancarkan aura dominan yang pekat hingga membuat atmosfer koridor mendadak terasa berat untuk dihirup. Ketika matanya yang setajam elang menangkap sosok Valeria yang masih duduk termenung sendirian di atas sofa kulit ruang tunggu VIP di depan kantor pribadinya, ekspresi wajah Alessandro tidak menunjukkan perubahan emosi sedikit pun; wajahnya tetap datar, kaku, dan sedingin es Wall Street. Pria itu hanya melirik sekilas ke arah asisten pribadinya yang berjalan setia dengan langkah konstan di belakang tubuhnya.

Asisten pria paruh baya yang sudah sangat terlatih dan peka terhadap kode-kode tipis dari atasannya itu langsung memahami isyarat mata sang CEO. Dia meletakkan beberapa dokumen penting bersampul kulit di atas meja kerja di dalam ruangan, membungkuk hormat dengan cepat tanpa bersuara, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan koridor tersebut, menutup pintu ganda itu dengan rapat di belakang punggungnya. Kini, di dalam area lorong luas yang mewah itu, hanya tersisa mereka berdua yang berdiri dalam keheningan yang mendadak terasa begitu sempit, mencekam, dan kedap udara.

Alessandro berjalan lurus menghampiri sofa tempat Valeria duduk membeku. Setiap ketukan langkah sepatu pantofel mahalnya di atas lantai marmer yang mengkilap terdengar seperti hitungan mundur bom waktu yang siap meledak di telinga Valeria. Pria itu berhenti tepat di dekat sofa, berdiri menjulang menatap Valeria dari ketinggian fisiknya yang proporsional dengan nada suara yang datar, dingin, berat, dan benar-benar bersih dari segala bentuk emosi manusiawi yang hangat.

"Ada apa kau ingin bertemu denganku?"

Alessandro baru sempat membaca rentetan pesan singkat di aplikasi WhatsApp yang dikirimkan oleh nomor Valeria beberapa jam lalu, tepat setelah rapat koordinasi jangka panjang dengan jajaran direksinya selesai dilaksanakan. Di dalam pesan teks tersebut, Valeria menulis dengan nada yang sangat menggebu-gebu, penuh emosi, bahwa dia memiliki sebuah kabar gembira yang sangat besar, krusial, dan harus disampaikan secara langsung tatap muka hari ini juga tanpa penundaan. Pesan itu dikirimkan berturut-turut dalam jumlah yang tidak sedikit, membuat Alessandro menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang sangat mendesak, penting, atau mungkin sebuah masalah baru yang sedang terjadi pada wanita yang memiliki utang budi dengannya itu.

Valeria mendongak secara perlahan dengan gerakan kaku, memberanikan diri untuk menatap lurus ke dalam netra mata hitam milik Alessandro yang berkilau tajam. Ketika melihat wajah pria itu dari jarak yang sedekat ini—hanya terpisah jarak kurang dari dua meter saja—ketampanannya yang luar biasa menakjubkan itu terasa semakin memukau, tegas, dan tidak nyata, seolah mampu menghentikan detak jantung wanita mana pun yang berani memandangnya secara langsung.

Namun, untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Valeria Francesca yang baru, dia sama sekali tidak memiliki hasrat, keinginan, atau ruang di otaknya untuk mengagumi keindahan visual kedewasaan di hadapannya saat ini.

Segala bentuk ketertarikan fisik yang menggebu-gebu atau pikiran cabul yang sempat tebersit sesaat di otaknya ketika pertama kali melihat pria ini di dalam ruang rapat tadi, kini telah menguap habis tanpa bekas, seolah tersapu oleh badai salju yang dingin. Perasaan itu digantikan sepenuhnya oleh rasa takut yang luar biasa pekat, mencekam, dan membuat seluruh bulu kuduk di lengannya berdiri tegak setelah mengetahui akhir hidup tragis dan berdarah yang menanti tubuh aslinya jika dia salah melangkah satu senti saja.

Bagaimanapun juga, tidak akan ada satu pun manusia normal dan waras di dunia ini yang bisa tetap menyimpan pikiran cabul, fantasi romantis, atau kekaguman visual yang menyenangkan, ketika mereka sedang berdiri berhadapan langsung dengan sosok pria kejam berkekuatan absolut yang di masa depan akan menjadi orang yang tega membunuh, memutilasi, dan mengeksekusi mereka tanpa ampun di atas meja operasi yang dingin.

Sebelum Valeria sempat memputar otak lebih cepat untuk mengarang sebuah alasan baru, kebohongan darurat yang masuk akal, atau kalimat pengalih perhatian demi menyelamatkan situasi dari kecurigaan, tatapan mata elang milik Alessandro tanpa sengaja menyapu ke arah bawah koridor pandangnya. Mata dingin yang tidak memiliki kehangatan itu tertuju tepat pada selembar kertas putih berstempel klinik yang sejak tadi dipegang erat dan sedikit diremas oleh jemari Valeria yang tampak memutih karena kegugupan yang luar biasa.

Alis tebal Alessandro sedikit menunduk, matanya menyipit tajam penuh selidik yang menusuk kulit saat mendeteksi adanya kegugupan, ketakutan, dan perilaku tidak biasa dari wanita yang biasanya selalu bersikap angkuh, menuntut, dan penuh percaya diri di hadapannya selama ini.

Aura di sekitar pria itu mendadak turun beberapa derajat, menciptakan tekanan udara yang membuat Valeria sulit untuk sekadar menelan ludahnya sendiri. Alessandro melangkah satu kali lagi ke depan, memperpendek jarak di antara mereka, lalu bersuara dengan intonasi yang merendah, mengintimidasi, dan menuntut sebuah jawaban instan yang jujur.

"Apa itu yang sedang kau pegang di tanganmu?"

___

Bersambung~~

1
Putri Amalia
semoga ngk Hiatus yah author 😭
FearMe: semoga ya😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!