"Buang mayatnya! Jangan sampai bau busuk anak angkat ini merusak pesta putri kandungku."
Sepuluh tahun menjadi "boneka" sempurna keluarga Lynn, Nerina Aralynn justru mati dikhianati di gudang lembap demi memberi tempat bagi si putri asli, Elysia. Namun, maut memberinya kesempatan kedua. Nerina terbangun di masa lalu, kali ini dengan duri mawar hitam yang mematikan.
Satu per satu kekayaan keluarga Lynn ia preteli. Namun di balik balas dendamnya, Nerina menemukan satu rahasia: Satu-satunya pria yang menangisi kematiannya adalah Ergino Aldrich Leif—kepala pelayan misterius yang aslinya adalah penguasa dunia bawah.
"Aku adalah pedangmu, Nerina. Katakan, siapa yang ingin kau hancurkan lebih dulu?"
Saat sang putri terbuang mulai berkuasa, mampukah ia menuntaskan dendamnya, atau justru terjerat obsesi gelap sang pelayan yang melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: WANITA DARI MASA SILAM
Suasana kantor pusat Lynn Tower hari itu terasa sangat menyesakkan bagi Nerina. Kabar tentang pembekuan posisi Elysia sudah menyebar ke seluruh departemen, menciptakan kubu-kubu bisikan di antara para karyawan. Namun, peringatan Ergino di mobil tadi pagi jauh lebih mengganggu pikirannya daripada sekadar intrik kantor.
Ibu kandung? Nerina bahkan hampir lupa bagaimana rupa wanita yang meninggalkannya di panti asuhan belasan tahun lalu. Di kehidupan pertamanya, wanita itu tidak pernah muncul. Ia mati sebagai anak angkat yang kesepian. Lantas, kenapa di garis waktu ini semuanya berubah?
"Nona, Anda melamun lagi."
Suara Ergino membuyarkan lamunan Nerina. Mereka baru saja keluar dari lift menuju lobi utama untuk pulang. Ergino tetap berjalan selangkah di belakangnya, namun sorot matanya yang waspada menyapu setiap sudut lobi yang ramai.
"Aku hanya memikirkan ucapanmu, Gino," bisik Nerina. "Bagaimana mungkin dia muncul sekarang? Setelah bertahun-tahun?"
"Karena Elysia butuh senjata untuk membatalkan status ahli waris Anda secara permanen," jawab Ergino tenang. "Jika Anda terbukti memiliki keluarga kandung yang 'bermasalah', Tuan Elyas akan memiliki alasan hukum untuk mencabut nama Aralynn dari dokumen perusahaan."
Langkah Nerina terhenti tepat di ambang pintu kaca besar lobi. Di sana, di dekat air mancur pintu masuk, berdiri sebuah pemandangan yang sangat kontras dengan kemewahan gedung Lynn.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian lusuh yang dipaksakan rapi, rambutnya yang memutih disanggul asal-asalan. Ia tampak kebingungan di tengah hiruk-pikuk orang-orang bersetelan mahal. Di sampingnya, berdiri Elysia yang sedang merangkul bahu wanita itu dengan wajah penuh simpati yang dibuat-buat.
Beberapa wartawan yang entah sejak kapan berada di sana mulai mengarahkan kamera mereka.
"Kak Nerina!" teriak Elysia, suaranya melengking cukup keras untuk menarik perhatian seluruh lobi. "Lihat siapa yang kutemukan! Aku mencarinya ke desa-desa terpencil karena aku tahu Kakak merindukannya!"
Nerina terpaku. Ia menatap wanita itu. Ada kemiripan di struktur rahang mereka, namun mata wanita itu tidak memancarkan kasih sayang, melainkan keserakahan yang tersembunyi di balik tangisan palsu.
"Nerina... putriku..." wanita itu berlari mendekat, mencoba memeluk Nerina.
Refleks, Ergino melangkah maju ke depan Nerina. Ia menghalangi wanita itu dengan lengannya yang kokoh. "Mohon jaga jarak Anda, Nyonya."
"Gino, minggir!" bentak Elysia yang sudah berada di samping wanita itu. "Dia ibu kandung Kak Nerina! Berani-beraninya seorang pelayan menghalangi pertemuan ibu dan anak!"
"Ibu kandung?" Nerina bersuara, nadanya sangat dingin hingga membuat wartawan di sekitar mereka terdiam. "Wanita yang meninggalkanku di depan gerbang panti asuhan dengan surat hutang di dalam bedonganku? Itu yang kamu sebut ibu, Elysia?"
Wanita itu, yang bernama Nyonya Ratna, langsung menangis histeris. "Maafkan Ibu, Nerina... Ibu terpaksa saat itu! Ibu tidak punya uang! Sekarang Ibu datang untuk menebus kesalahan..."
"Atau kamu datang karena Elysia menjanjikan uang dalam jumlah besar untuk mengacaukan posisiku?" tuduh Nerina telak.
"Kak! Tega sekali bicara begitu!" Elysia memeluk Ratna dengan dramatis. "Ibu Ratna datang padaku sambil menangis! Dia hanya ingin bertemu putrinya sebelum dia jatuh miskin dan diusir dari kontrakannya. Aku sebagai adikmu merasa iba, makanya aku membawanya ke sini agar Ayah bisa melihat kebenarannya."
Elysia melirik ke arah kamera wartawan dengan senyum kemenangan yang sangat tipis. Strateginya sempurna. Jika Nerina menolak wanita ini, ia akan dianggap sebagai anak durhaka yang sombong karena kekayaan. Jika ia menerimanya, statusnya sebagai bangsawan Lynn akan hancur karena latar belakang ibunya yang bermasalah.
"Gino," panggil Nerina, suaranya sangat tenang. "Berapa banyak uang yang dia butuhkan?"
Ratna terdiam sejenak, matanya berkilat saat mendengar kata 'uang'. "Nerina, Ibu tidak butuh uang... Ibu hanya butuh tempat berteduh..."
"Katakan jumlahnya," ulang Nerina.
"Sepuluh miliar!" celetuk Ratna cepat, membuat Elysia sedikit tersentak karena wanita itu terlalu jujur pada keserakahannya. "Hutang Ibu banyak, Nerina... kamu kan kaya..."
Tawa kecil keluar dari bibir Nerina. Ia menoleh pada para wartawan. "Kalian dengar sendiri? Ibu kandung yang merindukan anaknya, namun hal pertama yang dia sebutkan adalah sepuluh miliar."
"Elysia," Nerina menatap adiknya dengan tatapan maut. "Permainanmu terlalu kasar. Kamu membawa orang dari masa laluku untuk mempermalukanku, tapi kamu lupa satu hal: Aku sudah terbiasa hidup tanpa ibu sejak hari aku lahir. Kehadirannya hari ini tidak mengubah apa pun padaku, tapi kehadirannya membuktikan satu hal tentangmu."
"Apa maksudmu?" tanya Elysia, wajahnya mulai panik.
"Maksudku adalah, terima kasih sudah membawa saksi kunci yang membuktikan bahwa kamu melakukan suap dan perdagangan informasi di luar perusahaan," Nerina mengambil sebuah amplop dari tangan Ergino yang sejak tadi sudah disiapkan.
"Apa itu?" tanya Elyas Lynn yang tiba-tiba muncul dari arah lift, wajahnya tampak sangat marah melihat keributan di lobi perusahaannya.
"Ayah, lihat!" Elysia kembali mengadu. "Nerina menghina ibu kandungnya sendiri!"
"Bukan ibu kandungku yang menjadi masalah di sini, Ayah," sahut Nerina. Ia menyerahkan amplop itu pada Elyas. "Gino menemukan rekaman transfer dari rekening pribadi Elysia ke rekening wanita ini sejak tiga hari yang lalu. Beserta kontrak yang menyatakan bahwa wanita ini harus berakting sebagai orang miskin dan menagih uang padaku di depan publik agar reputasiku hancur."
Elyas membuka amplop itu, wajahnya menjadi gelap saat melihat bukti transaksi yang sangat jelas.
"Elysia..." suara Elyas rendah dan mengancam. "Kamu menyuap orang untuk berpura-pura menjadi ibu Nerina?"
"Tidak Ayah! Dia memang ibunya! Aku hanya memberinya uang transport!"
"Uang transport sebesar dua ratus juta rupiah?" tanya Ergino, suaranya datar namun menusuk. "Sangat mahal untuk perjalanan dari desa terpencil."
Ratna yang merasa posisinya terancam mulai panik. "Elysia! Kamu bilang semuanya akan aman! Kamu bilang aku tinggal akting saja!"
Rahasia itu terbongkar di depan wartawan. Elysia mencoba menutup mulut Ratna, namun semuanya sudah terlambat. Para wartawan mulai memberondong Elysia dengan pertanyaan tentang penipuan dan manipulasi keluarga.
"Gino, bawa wanita ini ke pihak berwajib atas tuduhan penipuan dan percobaan pemerasan," perintah Nerina.
"Baik, Nona." Ergino memberikan isyarat pada dua pria bersetelan hitam yang tiba-tiba muncul dari balik pilar—orang-orang yang tidak pernah terlihat sebagai pelayan Lynn. Mereka menyeret Ratna pergi di tengah teriakan histerisnya.
Nerina menatap Elysia yang kini berdiri mematung di tengah lobi, dikelilingi oleh kilatan lampu kamera yang kini menghujatnya.
"Satu hal lagi, Elysia," bisik Nerina saat ia melewati adiknya. "Duri mawar hitam tidak hanya melindungiku, tapi juga bisa menusuk siapa pun yang mencoba memetiknya dengan tangan kotor."
Malam harinya, di perpustakaan kediaman Lynn yang kembali sunyi. Nerina duduk di kursi besar, menatap perapian yang menyala. Ia merasa lelah, sangat lelah.
Ergino masuk membawa secangkir cokelat hangat. Kali ini, ia tidak menggunakan perban di tangannya, namun bekas luka semalam masih terlihat kemerahan.
"Anda melakukannya dengan sangat baik hari ini, Nerina," puji Ergino.
"Bagaimana kamu bisa mendapatkan bukti transfer itu begitu cepat, Gino?" tanya Nerina tanpa menoleh. "Elysia sangat berhati-hati dengan akunnya."
Ergino meletakkan cangkir itu di meja. Ia berdiri di belakang Nerina, menatap api yang menari di perapian. "Ada banyak hal yang bisa dibeli dengan kekuasaan yang tepat, Nerina. Termasuk akses ke data yang paling rahasia sekalipun."
Nerina berbalik, menatap pria itu. "Tadi di lobi, orang-orang yang membawa Ratna... mereka bukan staf keamanan Lynn. Siapa mereka?"
Ergino terdiam sebentar. Ia menundukkan kepalanya, memberikan senyum yang sangat tipis dan misterius. "Mereka adalah orang-orang yang berhutang nyawa pada saya. Sama seperti saya yang berhutang nyawa pada Anda di masa lalu."
"Gino..." Nerina meraih tangan Ergino, jari-jarinya menyentuh bekas luka di punggung tangan pria itu. "Katakan padaku. Kenapa kamu menyakiti dirimu sendiri semalam? Dan kenapa kamu selalu bilang kamu 'mencari' aku?"
Ergino berlutut di depan kursi Nerina, mensejajarkan wajahnya. Di bawah cahaya api perapian, wajahnya tampak seperti pahatan dewa yang penuh penderitaan.
"Karena di kehidupan sebelumnya, saat mereka membuang mayatmu, aku bersumpah pada Tuhan yang tidak pernah aku percayai... bahwa jika aku diberi satu kesempatan lagi, aku akan menyerahkan seluruh duniaku, seluruh kekuasaanku, hanya untuk menjadi bayangan yang menjagamu," bisik Ergino. "Aku menghabiskan sisa hidupku di masa lalu mencari cara untuk memutar waktu. Dan ketika aku berhasil... aku tidak peduli jika aku harus menjadi pelayan rendahan di rumah ini, asalkan aku bisa berada di dekatmu."
Nerina tertegun, air mata jatuh di pipinya. "Jadi... kamu juga kembali?"
Ergino tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menarik tangan Nerina dan mencium telapak tangannya dengan sangat dalam dan lama. "Aku tidak hanya kembali, Nerina. Aku datang untuk memastikan bahwa kali ini, akulah yang akan menghancurkan siapa pun yang membuatmu menangis. Termasuk diriku sendiri jika aku gagal."
Di luar, badai mulai turun, namun di dalam perpustakaan itu, Nerina akhirnya menyadari bahwa ia tidak pernah berjuang sendirian. Sang mawar hitam telah menemukan akarnya yang paling kuat dalam diri seorang pria yang rela membakar dunia demi melihatnya tetap hidup.