Di Benua Langit Biru, hukum kultivasi berlaku mutlak: fokus pada satu elemen murni adalah satu-satunya jalan pintas menuju keabadian. Mereka yang lahir dengan banyak elemen justru dianggap memiliki meridian cacat—sebuah wadah bocor yang hanya akan memperlambat kultivasi dan berakhir sebagai sampah masyarakat.
Namun, takdir justru menertawakan Ling Yun. Ia lahir dengan kutukan terjahat: memeluk empat elemen utama bumi sekaligus—Tanah, Air, Api, dan Udara—di dalam satu tubuh. Dicaci, dikhianati, dan dibuang oleh dunianya, ia menolak untuk berlutut pasrah pada nasib. Dengan tekad seteguh karang, ia merayap dari titik terendah demi membalikkan takdir langit.
Menggenggam bara api, membelah samudra, menggoncang bumi, dan memotong badai, Ling Yun menantang dunia:
"Siapa bilang empat elemen adalah sampah? Dengan empat elemen ini, aku akan menghancurkan para dewa yang angkuh, membakar kesombongan langit, dan menulis ulang hukum alam semesta!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blizzardauthor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kendi Arak di Sepertiga Malam
Mata Ling Yun perlahan terbuka di dalam kegelapan ruangan. Alih-alih melompat ketakutan atau bersujud sembah seperti murid sekte luar pada umumnya, dia justru menurunkan segel tangannya dengan sangat tenang. Sepasang manik matanya menatap sosok kakek tua misterius berjubah rami itu dengan pendaran yang jernih, lalu seulas senyuman tipis muncul di sudut bibirnya.
Kakek tua misterius berjubah rami sederhana itu tak lain adalah Tetua Agung Tian Xuan, salah satu penguasa yang memegang kekuasaan tertinggi di Sekte Langit Abadi.
Tian Xuan menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu, menatap Ling Yun dengan sepasang mata yang membelalak lebar penuh keterkejutan. Dia tahu persis tentang kegemparan di ruang pengujian bakat siang tadi; kabar mengenai "Tubuh Spiritual Empat Elemen yang Seimbang" dan bangkitnya seorang mantan pelayan logistik telah sampai ke telinganya. Namun, melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pemuda yang sepuluh tahun lalu terbaring sekarat tanpa masa depan kini bisa duduk tegak, memancarkan aura ketenangan sedalam lautan, dan bahkan mampu mendirikan sebuah formasi dengan mekanisme yang sangat rumit... hal itu benar-benar mengguncang logika sang Tetua Agung.
Rasa senang yang teramat sangat, haru, sekaligus rasa penasaran yang membuncah seketika bercampur aduk di dalam hatinya. Tian Xuan menarik napas dalam-dalam untuk menekan getaran di dadanya. Ingatannya mendadak terlempar ke malam berdarah sepuluh tahun yang lalu.
Ling Yun bisa selamat dari tragedi pengkhianatan mengerikan yang menghancurkan keluarganya sepuluh tahun lalu adalah mutlak karena pertolongan Tian Xuan. Sebagai kenalan lama ayah Ling Yun semasa hidupnya, Tian Xuan langsung bergerak secepat kilat begitu mendengar kabar penyerangan tersebut. Namun sayang, dia datang terlambat. Saat dia tiba dan berhasil menghalau para pengejar, musuh telah melancarkan serangan fatal: Dan Tian milik Ling Yun saat itu sudah terlanjur dihancurkan secara paksa, memutus seluruh harapannya untuk menjadi seorang kultivator.
Selama sepuluh tahun ini, Tian Xuan sengaja menyembunyikan Ling Yun di gudang logistik sekte luar semata-mata untuk melindunginya dari kejaran musuh masa lalu, sembari meratapi kenyataan bahwa putra dari sahabat lamanya harus hidup sebagai manusia fana yang cacat seumur hidup.
"Kau... Yun-er, bagaimana mungkin...?" Suara Tetua Agung Tian Xuan yang biasanya berwibawa terdengar sedikit serak karena syok. Dia melangkah mendekati meja batu, masih menatap Ling Yun seolah-olah sedang melihat sebuah mukjizat yang mustahil. "Sepuluh tahun lalu, aku sendiri yang memeriksa tubuhmu. Dan Tian milikmu telah hancur total, meridianmu rusak... Tapi siang ini, dan malam ini... aura di tubuhmu bahkan membuatku merasa tidak bisa melihat menembus jiwaku sendiri!"
Ling Yun menghela napas pelan, memahami badai batin yang sedang dialami oleh penyelamat hidupnya itu. Interaksi hangat dan kunjungan rahasia kakek tua ini selama sepuluh tahun penderitaannya di logistik—membawakannya makanan atau sekadar menemaninya mengobrol tanpa mengungkap identitas aslinya—adalah alasan terbesar mengapa Ling Yun tidak pernah membenci Sekte Langit Abadi sepenuhnya. Kakek tua ini tulus menyayanginya demi mendiang ayahnya.
"Tenanglah, Tetua. Bagaimana jika kita duduk dulu," ucap Ling Yun santai, mencairkan suasana yang sempat tegang. Dia berjalan menuju meja batu tanpa ada rasa canggung sedikit pun.
Tian Xuan terkekeh pelan, meski sisa keterkejutan dan rasa penasarannya masih terlihat jelas di wajahnya. Dia mengibaskan lengan jubah rami nya, mengeluarkan sebuah kendi tanah liat kecil berisi arak fana biasa—bukan arak spiritual mewah—yang biasa mereka nikmati bersama di masa lalu. "Kau benar-benar tidak berubah, selalu bersikap acuh tak acuh. Padahal kau baru saja menjungkirbalikkan akal sehatku!" ucap Tian Xuan sembari menuangkan arak ke dua cangkir tanah liat.
"Beberapa waktu lalu saat aku mencari kayu bakar di hutan belakang, aku tidak sengaja menemukan sebuah gua tersembunyi," bohong Ling Yun dengan rapi, menyusun cerita palsu demi menutupi kebenaran tentang Mutiara Primordial Empat Penjuru miliknya. "Di sana, ada sisa jasad seorang tetua dari sekte kuno era terdahulu yang tampaknya terluka parah akibat Perang Suci masa lalu. Sebelum tiada, dia meninggalkan sisa jiwanya dan memberikan warisan memori serta teknik rahasia kepadaku. Teknik itulah yang mengajari cara merekonstruksi Dan Tian yang hancur and memulihkan meridian menggunakan fondasi empat elemen. Apa yang terjadi siang tadi di ruang pengujian, semuanya berkat warisan dari tetua kuno itu."
Mendengar penjelasan tersebut, mata Tian Xuan kembali berbinar takjub, namun kali ini dipenuhi rasa lega yang luar biasa. Dia menepuk meja batu dengan tawa renyah yang meledak penuh kepuasan. "Hahaha! Surga memang adil! Sahabat lamaku di alam baka pasti sedang tersenyum melihat putranya mendapatkan berkah sebesar ini setelah sepuluh tahun menahan penderitaan!"
Di sela-sela obrolan santai dan tegukan arak fana yang hangat, raut wajah Tetua Agung kembali berubah serius ketika menyinggung konflik siang tadi. "Namun, Yun-er, kebangkitanmu ini juga memicu bahaya baru. Tetua Mo dan faksi Aula Pengawasnya tidak akan tinggal diam setelah apa yang telah kau lakukan pada mendiang keponakannya. Siang tadi, untung saja Tetua Liu dari Divisi Alkimia bergerak cepat memberikanmu lencana dekret," ucap Tian Xuan, yang tentunya tahu mengenai konflik panas antara Ling Yun dan Tetua Mo.
"Padahal bukan aku yang membunuhnya saat itu, melainkan itu ulahnya sendiri karena berniat mencelakai ku," ucap Ling Yun sembari mengembuskan napas dengan kesal membuat Tian Xuan yang mendengar itu penasaran tentunya dan balik bertanya kepada dirinya.
"Apa maksudmu, Nak? Memangnya apa yang telah terjadi sebenarnya antara kau dan Zhao Hu sehingga membuat Tetua Mo sangat marah seperti itu kepadamu?" tanya balik Tian Xuan.
Ling Yun yang mendengar itu pun mulai menceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi tiga bulan lalu di perbatasan Hutan Kabut Hitam. Dengan nada tenang, dia menjabarkan bagaimana Zhao Hu dan anak buahnya merasa tidak terima karena telah dipermalukan olehnya. Demi melampiaskan kekesalan dan menghindari kecurigaan dari Nona Muda jika bergerak di dalam lingkungan sekte, kelompok Zhao Hu merencanakan jebakan licik untuk membunuh Ling Yun secara permanen dengan memanfaatkan momen jadwal 'Pelepasan Ritual' Sanca Kerak Bumi ke Hutan Kabut Hitam.
Namun, niat jahat untuk menghabisi nyawa Ling Yun itu justru menjadi senjata makan tuan. Akibat keserakahan dan ketidaktahuan mereka sendiri di area berbahaya tersebut, rencana pembunuhan yang mereka susun justru memicu petaka bagi diri mereka sendiri, membuat kelompok Zhao Hu tewas mengenaskan akibat jebakan yang mereka buat sendiri.
Tian Xuan mendengarkan cerita itu dengan saksama. Setelah mengetahui kebenaran di balik insiden tersebut, senyum penuh arti kembali terukir di wajah keriputnya. Rasa penasaran dan keterkejutan di awal malam kini telah sepenuhnya berubah menjadi dukungan mutlak serta rasa bangga yang mendalam.
"Jika begitu masalahnya, lakukan saja apa pun yang ingin kau lakukan, Yun-er. Hancurkan rencana Tetua Mo itu, balikkan Aula Pengawasnya jika perlu. Orang Tua ini sudah terlalu bosan melihat politik kotor mereka di sekte luar," ucap Tian Xuan dengan nada santai namun tegas.
Sang Tetua Agung kemudian berdiri dari kursi batunya. Pada momen itu, sebuah otoritas agung yang mampu menggetarkan seluruh benua memancar samar dari tubuhnya. "Aku memberikan mu lampu hijau secara pribadi. Selama kamu bergerak di sekte luar, orang tua ini menjamin bahwa tidak akan ada satu pun monster tua atau leluhur dari Sekte Dalam yang berani mengintervensi urusanmu. Sebaliknya, aku merasa bersyukur karena dirimu mau melakukan hal itu." Ucap Tian Xuan tersenyum tipis.
Ling Yun mengangkat cangkirnya tinggi-tinggi sebagai bentuk rasa hormat yang tulus kepada sahabat ayahnya sekaligus penyelamat hidupnya itu. Tian Xuan tertawa puas, melangkah menuju pintu paviliun, dan dalam sekejap mata, sosoknya mengabur lalu lenyap selembut embun malam tanpa menyisakan fluktuasi energi sedikit pun.
Ling Yun menatap kendi kosong di atas meja dengan senyuman tipis di sudut bibirnya. Dengan perisai taktis berupa jaminan keamanan dari orang terkuat di sekte yang kini telah berada di tangannya, dia kembali memejamkan mata di atas bantalan giok. Fokusnya menyatu kembali dengan kabut Qi tebal yang menyelimuti ruangan, bersiap melanjutkan kultivasi fondasi empat elemennya dengan kepala dingin sembari menunggu hari esok tiba.
>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga senantiasa sehat selalu untuk saudara-saudara ku.