NovelToon NovelToon
Mr And Mrs Adiputra

Mr And Mrs Adiputra

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Obsesi
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Gedung Adiputra Group menjulang angkuh di pusat distrik bisnis Jakarta, dinding kacanya memantulkan cahaya matahari pagi yang terik. Arunika berdiri di depan pintu kaca otomatis dengan napas yang sedikit memburu. Ia melirik jam tangan digitalnya—09.58.

Dua menit sebelum waktu yang ditentukan Thomas.

"Napas, Nika. Napas," bisiknya pada diri sendiri. Ia merapikan kemeja putih dan rok span hitamnya yang terasa sedikit terlalu formal, namun ia tidak ingin memberikan celah bagi Thomas untuk menghinanya lagi.

Setelah melewati pemeriksaan keamanan yang ketat, ia diantar menuju lantai paling atas. Ruangan itu luas, didominasi warna abu-abu gelap dan perak, dengan pemandangan kota yang terhampar luas di balik dinding kaca. Di tengah ruangan, duduklah pria itu. Thomas Adiputra, tampak sangat sibuk dengan tumpukan dokumen di depannya.

Thomas tidak mendongak sedikit pun saat Arunika masuk. "Duduk," perintahnya singkat.

Arunika duduk di kursi kulit di depan meja kerja Thomas yang luas. Keheningan menyelimuti ruangan itu selama hampir lima menit, hanya terdengar suara gesekan pena Thomas di atas kertas.

"Saya kira kamu tidak akan datang," ujar Thomas akhirnya, meletakkan penanya dan menyandarkan punggung ke kursi kebesarannya. Matanya yang tajam menatap Arunika, menelanjangi kegugupan gadis itu.

"Mas yang minta saya datang," jawab Arunika berusaha terdengar berani.

Thomas mendengus kecil. Ia merogoh laci mejanya, mengeluarkan sebuah map kulit berwarna hitam yang tampak sangat resmi, lalu melemparkannya ke depan Arunika. Map itu mendarat dengan suara buk yang berat.

"Ini apa, Mas?" tanya Arunika bingung, tidak segera membukanya.

"Baca."

Arunika membuka map tersebut. Matanya menyusuri baris demi baris kata yang tertera di sana. Kepalanya mendadak pening. Di bagian atas kertas itu tertulis dengan huruf kapital yang tegas: PERJANJIAN KESEPAKATAN PERNIKAHAN.

Arunika terbelalak. Ia membaca poin-poin di dalamnya dengan jantung yang berdegup kencang hingga ke telinga.

"Hah? Ni-nikah?! Mas Thomas gila ya?!" Arunika berseru, hampir berdiri dari kursinya. "Ini... ini maksudnya apa? Kontrak pernikahan? Mas mau saya menikah dengan Mas?"

Thomas tetap tenang, wajahnya sedatar papan tulis. "Mami terus mendesak saya untuk segera menikah tahun ini. Beliau bahkan sudah menyiapkan daftar kandidat perempuan dari keluarga rekan bisnisnya yang—menurut saya—hanya akan membuang-buang waktu. Saya tidak punya waktu untuk kencan atau basa-basi asmara."

"Terus kenapa saya?" suara Arunika meninggi. "Kita ini tetangga, Mas! Dan Mas tahu sendiri kalau saya... saya..."

"Sangat mencintai Marsellino?" potong Thomas dengan nada pedas. "Ya, saya tahu. Dan itulah alasan utamanya."

Arunika terdiam, benar-benar tidak mengerti jalan pikiran pria di depannya ini.

"Dengar, Arunika," Thomas memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan kedua tangan. "Marsel baru saja jadian dengan Aletta. Kamu pikir butuh berapa lama sampai mereka memutuskan untuk bertunangan? Enam bulan? Satu tahun? Dan selama itu, kamu akan tetap menjadi gadis malang di sebelah rumah yang memandangi mereka dari balik jendela dengan mata sembab."

"Mas nggak perlu sejahat itu mengingatkan saya!"

"Saya bicara kenyataan! Kamu mau Marsel terus-menerus melihat kamu sebagai beban yang mengemis perhatian? Atau kamu mau dia melihat kamu sebagai seseorang yang bahkan tidak bisa dia raih lagi?" Thomas menatapnya tajam. "Jika kamu setuju dengan kontrak ini, kamu bukan lagi sekadar 'tetangga' atau 'anak kuliah semester akhir yang gagal cinta'. Kamu akan menjadi istri dari CEO Adiputra Group. Kamu akan berada di level yang bahkan tidak bisa dicapai oleh Aletta."

Arunika meremas ujung map itu. "Tapi ini bohong, Mas. Ini cuma kontrak."

"Di mata hukum dan keluarga, ini sah. Mami akan berhenti menjodohkan saya, dan kamu... kamu punya alasan untuk berdiri tegak di depan Marsel. Kamu mau Marsel lihat kamu terus-terusan gamon alias gagal move on? Silakan. Teruslah jadi menyedihkan."

Arunika menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Perkataan Thomas selalu terasa seperti cuka yang disiramkan ke atas luka, tapi anehnya, ada benarnya. Ia membayangkan makan malam keluarga di rumah Marsel nanti, melihat Marsel dan Aletta bermesraan, sementara ia hanya bisa duduk di sudut ruangan.

"Kenapa Mas Thomas mau melakukan ini? Mas nggak rugi?" tanya Arunika lirih.

Thomas terdiam sejenak. Ada kilat aneh yang melintas di matanya selama sepersekian detik sebelum kembali menjadi dingin dan datar.

"Saya butuh tameng dari Mami. Kamu adalah pilihan yang paling praktis karena keluarga kita sudah saling kenal. Tidak perlu banyak adaptasi. Ini bisnis, Arunika. Saling menguntungkan."

Arunika tidak tahu bahwa di balik topeng es itu, jantung Thomas sebenarnya berdegup jauh lebih kencang dari yang pria itu tunjukkan. Thomas telah melihat Arunika sejak gadis itu masih memakai seragam SMA dengan pita di rambutnya. Ia telah melihat bagaimana Arunika tumbuh, bagaimana ia tertawa, dan bagaimana ia selalu menatap Marsel dengan binar yang tidak pernah diberikan kepada Thomas.

Thomas selalu berada di sana, di balik tembok rumahnya, memperhatikan Arunika yang sibuk membuatkan bekal untuk adiknya yang tidak tahu diri itu. Ia menyimpan rasa itu sangat dalam, menguncinya di bawah tumpukan ambisi dan kerja keras, karena ia tahu, bagi Arunika, Thomas hanyalah kakak laki-laki tetangga yang galak.

"Berapa lama?" tanya Arunika memecah keheningan.

"Dua tahun," jawab Thomas tegas. "Setelah itu, jika kamu ingin pergi, saya akan memberikan kompensasi finansial yang cukup untuk kamu membangun hidupmu sendiri tanpa perlu bergantung pada siapa pun. Termasuk apartemen dan modal usaha."

Arunika menatap kontrak itu lagi. Pikirannya berkecamuk. Di satu sisi, ini adalah kegilaan. Di sisi lain, bayangan wajah Marsel yang memandangnya rendah kemarin membuatnya ingin melakukan apa saja untuk menghapus ekspresi itu.

"Mas Thomas nggak akan... maksud saya, ini cuma status, kan? Mas nggak akan minta 'hak' Mas sebagai suami?" tanya Arunika dengan wajah memerah.

Thomas menaikkan satu alisnya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang mengejek. "Kamu pikir saya seputus asa itu sampai harus menyentuh gadis kecil yang pikirannya masih dipenuhi drama kampus? Jangan terlalu percaya diri, Nirmala. Saya hanya butuh kehadiranmu di acara keluarga dan di depan media."

Arunika merasa tersinggung, tapi juga lega. "Oke. Tapi saya punya syarat."

"Sebutkan."

"Saya tetap mau magang di sini. Saya mau belajar bisnis. Saya nggak mau cuma jadi pajangan yang duduk diam di rumah."

Thomas tertegun sesaat. Ia tidak menyangka Arunika akan meminta hal itu. "Setuju. Kamu akan tetap menjadi asisten riset saya di kantor, dan menjadi istri saya di luar kantor. Tapi ingat, di kantor saya adalah atasanmu. Jika kerjamu buruk, saya tidak akan segan memecatmu, meskipun statusmu istri saya."

Arunika menarik napas panjang. Ia mengambil pena yang ada di meja Thomas. "Jangan menyesal ya, Mas, kalau nanti saya malah merepotkan."

"Saya tidak pernah menyesal atas keputusan yang sudah saya ambil," sahut Thomas dingin.

Arunika membubuhkan tanda tangannya di atas materai. Tangannya sedikit gemetar. Setelah selesai, ia menyerahkan map itu kembali kepada Thomas.

Thomas mengambil map itu dan menyimpannya kembali ke laci. "Bagus. Mulai besok, sopir saya akan menjemputmu untuk pindah ke apartemen saya. Kita harus mulai terlihat seperti pasangan sebelum pengumuman resmi ke keluarga minggu depan."

"Besok?! Cepat banget?"

"Saya tidak suka menunda-nunda. Sekarang, keluar. Saya punya rapat dalam sepuluh menit. Pergi ke divisi HRD di lantai 5, urus administrasi magangmu."

Arunika berdiri, merasa kakinya sedikit lemas. Saat ia baru sampai di pintu, suara Thomas kembali menghentikannya.

"Arunika?"

Gadis itu menoleh. "Ya?"

"Hapus semua foto Marsel di ponselmu. Saya tidak ingin istri saya menyimpan sampah di perangkatnya."

Arunika ternganga, ingin membalas, tapi Thomas sudah kembali fokus pada komputernya, menganggap percakapan mereka benar-benar sudah berakhir. Arunika keluar dari ruangan itu dengan perasaan campur aduk. Ia baru saja menjual dua tahun hidupnya kepada pria paling dingin yang pernah ia kenal.

Di dalam ruangan, setelah pintu tertutup rapat, Thomas melepaskan kacamatanya. Ia menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata. Tangannya sedikit gemetar saat menyentuh map di dalam laci.

"Akhirnya," bisiknya sangat pelan, hampir tak terdengar. "Kamu tidak akan pernah tahu, Arunika, bahwa ini adalah satu-satunya cara yang saya punya untuk memilikimu."

Tanpa diketahui Arunika, di dalam laci pribadi Thomas yang terkunci rapat, terdapat sebuah sketsa wajah seorang gadis yang sedang tersenyum di bawah pohon mangga—sketsa yang dibuat Thomas sepuluh tahun yang lalu, saat ia pertama kali menyadari bahwa hatinya telah jatuh pada gadis kecil di sebelah rumahnya. Namun hari ini, ia harus tetap menjadi 'pria jahat' agar gadis itu tetap berada di sisinya.

1
Alex
ku tunggu thor🤭
merry
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/nungu dh lm tu ank org Ardi 🤣🤣🤣 dh lm bljr juga jdi bisa bkin ank perwan org baper🤣🤣🤣
merry
klo dh cinta diksh hal kcil pun dh bhgia y tom 🤭🤭🤭🤭
merry
moga aj nika gk terpengaruh lg sm Marcel biar Marcel nyesel dan Aleta nyesel yg di incar bukn CEO🤣🤣🤣
merry
msh polos 🤣🤣🤣mklum blm pnh pcran trs yg di kejar mn cuek Bebek
merry
jgn hrpin mercel lg nika,, trs jjur aj sm pernikahan mu sm orgtua mu
Alex
wkwkwkwkwkwkwk
gagal
coba lagi dong 🤭
Alex
sweet bgts pak CEO ini
Alex
suka bgtss ceritanya
Nasya
selamat pegantin baru
Dyou Tatik
lanjut kak
Nasya
diihh marsel 🙄
Nasya
🤣
bunga citra
sabar ya mas Thomas
bunga citra
bagus
bunga citra
lanjut
Nasya
aaawww so cutee 🥰
English Lesson
Kak, nggak update?
Nasya
co cuit mas thomas, smngat 😁💪🏻💪🏻
English Lesson
Sweet💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!