NovelToon NovelToon
Jodoh Yang Allah Tuliskan Untukku

Jodoh Yang Allah Tuliskan Untukku

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Dosen
Popularitas:98
Nilai: 5
Nama Author: Rosy_Lea

Dengan langkah lemah, Farin mencoba pulang dan meninggalkan semua kenangan tentang lelaki yang pernah menyelamatkannya. Namun baru beberapa langkah menjauh dari pematang sawah, tiba-tiba sebuah suara lirih memanggil namanya dari balik hutan.

“Farin…”

Tubuhnya seketika membeku.
Suara itu… suara yang dulu menemaninya di saat gelap, saat luka dan ketakutan hampir merenggut hidupnya. Suara Althaf.

Jantung Farin berdegup tak karuan. Dengan mata berkaca-kaca ia menoleh cepat ke arah hutan lebat di seberang sawah, berharap menemukan sosok yang selama ini terus ia cari dalam doa-doanya.

Tapi tak ada siapa-siapa.
Hanya angin, dedaunan yang bergoyang pelan, dan keheningan yang terasa begitu menyakitkan.

Air mata Farin jatuh tanpa bisa ditahan. Nama itu kembali menggema dalam hatinya, memenuhi dadanya dengan rindu yang selama ini ia kubur sendirian.

Di tengah sesak yang menghancurkan dadanya, tubuh Farin perlahan melemah. Pandangannya kabur, lututnya tak lagi mampu menopang luka dan rindu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosy_Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masa Terindah

Saat ambulans tiba di rumah sakit kota Yogyakarta, matahari sudah naik tinggi dan menyinari pelataran rumah sakit dengan hangat.

Para petugas medis segera menyambut mereka dan membawa Farin masuk menuju ruang observasi, aroma antiseptik langsung memenuhi indra penciumannya.

Farin memejam pelan, sementara ibunya tetap menggenggam tangannya tanpa lepas. Ayahnya berjalan di belakang dengan wajah penuh cemas, meski sorot matanya menyimpan harapan besar.

Di lorong rumah sakit yang sejuk, suara roda brankar menggema pelan, seakan menjadi pertanda bahwa perjuangan Farin belum selesai, namun kini ia tidak lagi menjalaninya sendirian.

Setibanya di ruang observasi, tim medis segera melakukan pemeriksaan awal. Tekanan darah, suhu tubuh, respons saraf, hingga kondisi fisiknya diperiksa dengan teliti.

Farin terlihat tenang meski tubuhnya masih lemah. Selang infus terpasang di lengannya, sementara monitor di samping tempat tidur terus menunjukkan denyut kehidupannya yang perlahan stabil.

Dokter jaga mencatat hasil pemeriksaan sambil berbicara singkat pada perawat. “Kita observasi selama dua puluh empat jam dulu. Kalau kondisinya stabil, baru kita lanjutkan fisioterapi dan pemeriksaan mata lebih detail.”

Bu Halimah hanya mampu mengangguk sambil menahan air mata.

Hari itu menjadi awal dari proses panjang yang lebih jelas arahnya.

Setelah dua puluh empat jam observasi, dokter akhirnya menjelaskan kondisi Rachel kepada keluarganya. “Secara umum, kondisi Farin cukup stabil,” ujar dokter tenang. “Namun ia masih mengalami trauma pada saraf dan kelemahan otot akibat kejadian yang dialaminya.”

Dokter kemudian menjelaskan dua penanganan utama yang harus dijalani Farin, “Pertama, fisioterapi rutin untuk membantu pemulihan fungsi otot dan saraf pada kakinya. Kedua, pemeriksaan lanjutan untuk matanya. Ada kemungkinan tindakan operasi ringan diperlukan, tergantung hasil pemeriksaan dari dokter spesialis mata nanti.”

Pak Harist mengangguk pelan, sementara istrinya menyeka air mata haru. “Untuk pemeriksaan mata, jadwalnya hari Rabu pukul sepuluh pagi,” lanjut dokter. “Sedangkan fisioterapi akan dimulai besok pagi, setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat pukul delapan.”

Farin mendengarkan semua penjelasan itu dalam diam, lelah memang masih terasa, tapi setidaknya kini ia tahu ke mana harus melangkah untuk sembuh.

Meski Farin sudah mampu berdiri dan berjalan perlahan berkat bantuan Althaf selama mereka berada di goa, namun kakinya belum benar-benar pulih.

Ramuan herbal yang diberikan Althaf memang membantu mengurangi rasa sakit dan membuat tubuhnya bertahan, tetapi kerusakan pada otot dan sarafnya tetap membutuhkan penanganan medis yang lebih serius.

Setiap langkah Fatin masih terasa nyeri.

Namun semangatnya untuk sembuh perlahan tumbuh lebih kuat dari rasa sakit itu sendiri.

Keesokan paginya, Farin menjalani sesi fisioterapi pertamanya. Dengan bantuan perawat, ia berjalan perlahan menuju ruang terapi sambil menahan degup jantungnya yang terasa lebih cepat dari biasanya.

Rasa gugup memenuhi dadanya, namun senyum hangat dari terapis yang menyambutnya sedikit menenangkan hati Farin.

“Kita mulai pelan-pelan saja, Farin,” ujar sang terapis lembut. “Fokus pada setiap gerakan, yakin sama prosesnya.”

Farin mengangguk pelan sebelum melangkah menuju meja terapi. Ia tahu perjalanan ini tidak akan mudah, akan ada rasa sakit, lelah, bahkan mungkin putus asa, tapi setelah semua yang berhasil ia lewati, Farin tidak ingin menyerah lagi.

Selama hampir satu jam, Farin menjalani berbagai latihan untuk membantu menguatkan otot dan saraf di kakinya. Sesekali wajahnya meringis menahan nyeri, namun ia tetap mencoba bertahan.

Dan ketika sesi itu selesai, tubuh Farin terasa sangat lelah, namun di balik rasa lelah itu, ada sesuatu yang perlahan tumbuh di dalam dirinya, harapan. “Bismillah… ini baru permulaan,” bisiknya lirih dalam hati.

Perawat yang mendampinginya tersenyum hangat. “Kamu hebat, Farin. Pelan-pelan saja, semuanya akan membaik.”

Farin mengangguk lemah, sesampainya di kamar rawat, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil mengatur napas yang masih terasa berat, matanya perlahan terpejam.

Namun di tengah keheningan itu, bayangan Althaf kembali hadir tanpa diminta, ia teringat malam-malam dingin di dalam goa, teringat bagaimana Althaf merawat luka-lukanya dengan sabar, mencari tumbuhan herbal di sekitar hutan, lalu membalut tubuhnya dengan tangan penuh kehati-hatian.

Althaf tidak pernah banyak bicara, tapi setiap tindakannya selalu berhasil membuat Rachel merasa aman. “Jangan menyerah, Farin. Kamu lebih kuat dari yang kamu kira.”

Suara itu kembali terngiang jelas di kepalanya, Farin memejamkan mata lebih erat, ada rasa hangat yang perlahan memenuhi dadanya setiap kali mengingat lelaki itu.

Tentang bagaimana Althaf selalu ada di saat dirinya hampir kehilangan harapan, tentang bagaimana lelaki itu menolongnya tanpa pernah meminta balasan apa pun.

Farin mencoba menepis perasaan yang mulai tumbuh terlalu jauh. “Sudah cukup, Farin… fokuslah untuk sembuh,” bisiknya pelan pada diri sendiri.

Namun semakin ia mencoba menguburnya, semakin jelas pula sosok Althaf tinggal di dalam hatinya.

Dan tanpa Farin sadari, kerinduan itu mulai tumbuh perlahan… bersama harapan kecil untuk bisa bertemu dengannya sekali lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!