Nadira, gadis miskin dari desa, datang ke kota demi biaya pengobatan ibunya. Hidupnya berubah ketika ia menemukan seorang wanita tewas di pinggir jalan dan tanpa sengaja menjadi tersangka pembunuhan karena DNA-nya ditemukan di tubuh korban.
Korban itu adalah Nayla Adiprana, istri Mahesa Adiprana, pengusaha kaya yang dipenuhi duka dan amarah. Sebagai hukuman, Mahesa memaksa Nadira menikah dengannya dan hidup menderita di rumahnya.
Namun seiring waktu, Mahesa mulai melihat ketulusan Nadira yang merawat putranya dengan penuh kasih. Saat benih cinta tumbuh, kebenaran mengejutkan terungkap.
Akankah Nadira memaafkannya atau justru Nadira akan menjauh darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1
Suara ayam berkokok terdengar bersahutan di pagi buta. Kabut tipis masih menyelimuti desa kecil itu ketika Nadira keluar dari rumah kayu sederhana sambil membawa ember kosong di tangannya.
Udara pagi terasa dingin menusuk kulit, tetapi Nadira sudah terbiasa hidup dalam kesederhanaan seperti itu. Gadis berusia dua puluh tiga tahun itu berjalan menuju sumur tua di belakang rumah. Pakaiannya sederhana, hanya kaus panjang lusuh dan rok panjang pudar, tetapi wajahnya tetap terlihat cantik alami.
Ia menimba air perlahan. Tangannya mulai kasar karena terlalu sering bekerja sejak kecil.
“Nadira...” panggil suara lemah dari dalam rumah.
“Iya, Bu!” sahut Nadira cepat.
Ia segera membawa ember masuk ke rumah kecil mereka yang nyaris roboh di beberapa bagian. Di atas ranjang bambu, ibunya terbaring lemah sambil batuk berkali-kali.
Nadira buru-buru menghampiri. “Minum dulu obatnya, Bu.”
Wanita tua itu tersenyum tipis. “Kamu belum sarapan.”
“Aku nanti saja bu.”
Padahal Nadira berbohong. Tak ada makanan lagi di rumah mereka selain sedikit nasi sisa semalam. Namun Nadira lebih memilih ibunya makan daripada dirinya sendiri.
Sudah bertahun-tahun mereka hidup miskin setelah ayahnya meninggal. Nadira bekerja apa saja di desa, mencuci pakaian warga, membantu di kebun, bahkan membersihkan kandang ternak orang lain. Tetapi penghasilannya tak pernah cukup untuk biaya pengobatan ibunya. Sampai akhirnya kemarin seorang tetangga memberi kabar bahwa ada lowongan pekerjaan di Jakarta sebagai karyawan warung makan.
Nadira memutuskan untuk pergi dan mencoba bekerja di kota.
“Bu...” ucap Nadira pelan.
“Hm?”
“Aku mau pergi ke Jakarta hari ini.”
Sang ibu langsung menatapnya khawatir. “Jakarta? Kamu sendirian? Untuk apa nak?”
Nadira mengangguk pelan. “Aku harus mencoba mencari pekerjaan lebih baik. Aku tidak mau ibu terus sakit begini.”
Mata wanita tua itu mulai berkaca-kaca. “Nadira... ibu takut terjadi sesuatu padamu.”
Nadira tersenyum kecil sambil menggenggam tangan ibunya. “Aku akan baik-baik saja ibu.”
***
Siang harinya, Nadira sudah berada di dalam bus tua menuju Jakarta. Ia duduk di dekat jendela sambil memeluk tas lusuh miliknya erat-erat. Di dalam tas itu hanya ada beberapa pakaian dan uang hasil tabungannya selama berbulan-bulan. Tak banyak. Namun cukup untuk bertahan beberapa hari.
Perjalanan panjang membuat tubuhnya lelah. Nadira beberapa kali tertidur lalu terbangun lagi. Saat sore tiba, akhirnya bus memasuki kota Jakarta. Mata Nadira membulat kagum melihat gedung-gedung tinggi dan jalanan ramai. Begitu berbeda dari desanya. Namun rasa kagum itu perlahan berubah menjadi gugup. Ia tidak mengenal siapapun di kota ini. Dan ia benar-benar sendirian.
Setelah turun dari bus, Nadira langsung mencari alamat warung makan yang membuka lowongan pekerjaan. Ia berjalan cukup jauh sambil bertanya kepada orang-orang. Tetapi sesampainya di sana
“Lowongan sudah penuh.” ujar sang pemilik warung makan.
Deg.
Wajah Nadira langsung pucat. “Tapi... kemarin kata tetangga saya di desa lowongan nya masih ada.”
“Sudah penuh. Sana pergi.” pemilik warung itu sangat kejam. Ia itu bahkan mengusirnya dengan tatapan meremehkan.
Nadira keluar dari warung makan itu dengan langkah lemas. Harapannya langsung hancur di hari pertama. Ia berjalan tanpa arah di tengah kota sambil menahan lapar. Uangnya terlalu sedikit untuk dihamburkan.
Hari mulai malam, Langit mendung gelap. Nadira terus berjalan sampai suasana kota perlahan berubah sepi. Ia tidak sadar sudah terlalu jauh dari pusat keramaian. Jalanan mulai lengang. Pepohonan besar berdiri di sepanjang trotoar. Lampu jalan terlihat redup. Angin malam terasa dingin. Nadira memeluk tasnya erat sambil berjalan cepat karena mulai takut. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti. Di pinggir jalan yang sepi itu, ia melihat sesuatu.
Nadira melihat Seorang wanita tergeletak di dekat semak-semak.
“Nona?” panggil Nadira pelan.
Tak ada jawaban. Jantung Nadira mulai berdebar takut.
Ia mendekat perlahan. Wanita itu mengenakan gaun indah berwarna putih. Rambutnya panjang dan wajahnya sangat cantik, tetapi tubuhnya tampak tak bergerak sama sekali.
“Nona...” Nadira langsung berjongkok panik. Ia mencoba mengguncang bahu wanita itu perlahan. Namun tubuh wanita itu terasa dingin. Sangat dingin.
“Nona bangun...”
Nadira mulai ketakutan. Saat itulah ia melihat bekas lebam di leher wanita itu, dan juga pisau yang menancap di perutnya yang sudah dilumuri darah. Tangan Nadira tak sengaja mendarat di sana hingga darah wanita itu melekat di tangannya dan ia menyentuh pisau itu tanpa sengaja.
Tangannya gemetar. “Astaga...” Nadira mencoba memeriksa napas wanita itu. Wanita itu tak lagi bernafas. Matanya langsung membelalak. Wanita itu sudah meninggal. Tubuh Nadira langsung lemas. Ia mundur perlahan dengan napas memburu.
“A-aku harus cari bantuan...”
Namun saat hendak berdiri, tiba-tiba suara sirine terdengar dari kejauhan. Nadira terkejut. Beberapa mobil polisi berhenti mendadak di pinggir jalan. Sorot lampu langsung mengarah ke tubuh Nadira dan wanita yang tergeletak di tanah.
“JANGAN BERGERAK!”
Nadira tersentak panik, ia tahu saat ini adalah pemandangan yang membuat siapa saja akan salah paham padanya.
“Aku menemukannya di pinggir jalan pak polisi." Nadira berusaha menjelaskan semuanya.
Beberapa polisi langsung berlari mendekat. Salah satu dari mereka memeriksa tubuh wanita itu. Wajahnya langsung berubah serius.
“Korban sudah meninggal. Ada pisau tajam menancap di tubuhnya.” para polisi menatap penuh curiga ke arah Nadira.
Deg.
Nadira langsung menggeleng panik. “Aku baru menemukannya! Aku tidak membunuhnya!”
Namun polisi lain justru melihat tangan Nadira yang penuh darah korban. “Pak, sidik DNA wanita ini pasti ada di tubuh korban dan juga di pisau ini!.”
Nadira semakin pucat. “Aku hanya mencoba menolongnya!, aku tidak menusuknya dengan pisau itu!, aku memang menyentuh pisau itu tapi tanpa sengaja pak!.”
Tetapi tak ada yang percaya. Polisi langsung memegang kedua tangannya.
“Ayo ikut kami!”
Tangis Nadira pecah. “Aku tidak bersalah!”
Namun tepat saat itu, Sebuah mobil hitam mewah berhenti di lokasi. Pintu mobil terbuka perlahan.
Seorang pria tinggi keluar dengan aura dingin yang langsung membuat suasana berubah menegangkan. Wajahnya tampan. Tatapan matanya tajam dan auranya gelap. Semua polisi langsung menunduk hormat.
“Tuan Mahesa...”
Langkah pria itu perlahan mendekati tubuh wanita yang tergeletak di tanah. Dan saat melihat wajah wanita itu, tubuh Mahesa langsung membeku.
“Nayla...” Suaranya terdengar parau.
Ia berjongkok perlahan lalu memeluk tubuh wanita itu dengan tangan gemetar. “Nayla... bangun...”
Tak ada jawaban. Mata Mahesa mulai memerah. “NAYLA!”
Teriakannya menggema di jalanan sepi itu. Nadira menatap pria itu dengan napas tercekat. Ia bisa melihat betapa hancurnya pria tersebut. Namun beberapa detik kemudian... Tatapan Mahesa perlahan beralih ke arahnya.
Tatapan penuh kebencian. Penuh amarah dan kecurigaan.
“Siapa dia?” tanyanya dingin.
“Wanita ini ditemukan bersama korban, Tuan,” jawab polisi.
Mahesa berdiri perlahan. Tatapannya jatuh pada tangan Nadira, dan melihat bercak darah di sana.
“Dia pembunuhnya?” ujar Mahesa dengan bibir bergetar.
“Sepertinya begitu, Tuan.”
Nadira langsung menggeleng panik. “Aku hanya mencoba menolongnya!”
Namun Mahesa melangkah mendekat dengan tatapan mengerikan. “Kamu pikir aku akan percaya?”
“Aku serius... aku baru menemukannya di sini... Saat aku berjalan di sekitar sini aku melihatnya tolong percayalah pak.”
Mahesa mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Istriku tidak mungkin mati begitu saja di tempat seperti ini. Dan apa yang dilakukan wanita sepertimu di larut malam dan tempat sepi begini kalau bukan untuk merampok dan melakukan kejahatan!”
Tangis Nadira semakin pecah. “Aku tidak membunuhnya... aku bukan orang jahat, aku hanya kebetulan lewat pak.”
Tetapi Mahesa tidak menghiraukan perkataan Nadira. Di matanya sekarang, Nadira hanyalah seorang wanita yang menjadi satu satunya orang di balik terbunuhnya sang istri.