Rumah tangga Puann hancur seketika saat wanita dari masa lalu suaminya datang membawa kabar kehamilan, ditambah lagi fitnah bertubi-tubi yang membuatnya dikucilkan bahkan oleh keluarganya sendiri.
Di saat kepercayaannya sudah habis dan ia mulai bersandar pada laki-laki lain yang jauh lebih tulus, Bahlil, suaminya berjuang membuktikan bahwa semua itu hanyalah jebakan. Namun, kebenaran tentang masa lalu dan trauma besar yang disembunyikan Bahlil justru membuka luka yang jauh lebih dalam.
Di ambang perceraian dan di tengah pengakuan yang hampir menyatukan mereka kembali, sebuah skandal video pun muncul dan mematikan segala harapan.
Apakah cinta yang penuh kebohongan dan rasa sakit ini layak diperjuangkan, atau lebih baik diakhiri selamanya sebelum hati mereka benar-benar hancur lebur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Aku Dijebak
Bahlil mengepal tangannya dengan kuat. Ia merasa sangat marah karena menyadari dirinya dan Puann telah dipermainkan. Namun di sisi lain, hatinya merasa sangat senang, artinya ia tidak pernah mengkhianati istrinya, dan alasan Puann pergi hanya didasarkan pada kebohongan.
"Aku punya buktinya sekarang! Aku bisa jelasin semuanya ke Puann! Dia pasti mau dengerin dan mau balik lagi sama aku!" ucap Bahlil dengan semangat, wajah kusutnya kembali bersinar karena harapan yang muncul.
Namun di tengah rasa gembira itu, satu pertanyaan besar muncul di kepalanya. Mengapa Arifatul berani bertindak sejauh itu?
Apakah dia bergerak sendiri atau ada bantuan orang lain?
Dan yang paling penting, apakah Puann masih mau mendengarkan penjelasannya setelah rasa sakit yang telah ia berikan?
Tanpa membuang waktu lagi, Bahlil bergegas keluar rumah. Ia harus menemui Puann secepatnya, menyerahkan bukti ini, serta memohon maaf sekali lagi. Ia yakin kebenaran ini adalah satu-satunya cara untuk menyatukan kembali hati mereka yang sempat terpisah.
"Aku datang, Puann. Tunggu sebentar lagi. Kali ini aku nggak bakal biarin kamu pergi lagi, apapun yang terjadi," janji Bahlil di perjalanan, hatinya berdebar kencang saat membayangkan pertemuan mereka nanti.
Bahlil mengemudikan kendaraannya secepat mungkin menuju rumah Ririn, sahabat Puann. Ia menggenggam erat dokumen hasil pemeriksaan itu, satu-satunya bukti yang dapat menyelamatkan rumah tangganya yang hampir runtuh.
"Kamu pasti percaya lagi deh sama aku. Kali ini buktinya nyata, nggak ada keraguan lagi," gumamnya penuh semangat.
Di perjalanan, ingatan Bahlil kembali pada kejadian-kejadian ganjil belakangan ini. Ia teringat Citra yang kerap memberikan informasi keliru dan memperkeruh suasana, serta Arifatul yang selalu mengetahui hal pribadi yang seharusnya tertutup.
Seluruh peristiwa itu kini saling berkaitan dengan jelas. Nyatanya, Arifatul dan Citra telah bersekongkol sejak awal.
Citra memiliki dendam karena pernah ditolak dan dipermalukan Bahlil, lalu bersatu dengan Arifatul yang ingin membalas dendam sekaligus merebut harta dan kedudukan. Keduanya merancang rencana jahat, mulai dari menanamkan kecurigaan, menyebarkan fitnah, hingga mengarang kabar kehamilan palsu untuk menghancurkan kepercayaan Puann sepenuhnya.
"Wanita-wanita licik! Emang sengaja jebak aku, nyakitin Puann, dan rusak bahagia kita. Tapi sekarang kedok kalian udah kebuka semua," batin Bahlil dengan amarah, namun merasa lega karena kebenaran akhirnya terungkap.
Sesampainya di lokasi, Bahlil melihat kendaraan milik Arifatul terparkir di halaman. Jantungnya berdebar kencang karena kebingungan sekaligus curiga.
"Apa urusan cewek itu di sini? Dia tau rencananya ketahuan? Atau ada rencana jahat lain lagi?" batinnya.
Bahlil berjalan cepat menuju teras, lalu mengintip melalui celah jendela yang tidak tertutup rapat. Pemandangan di dalam ruangan itu membuat darahnya mendidih seketika.
Di dalam, Puann duduk diam dengan wajah pucat dan penuh kesedihan. Di hadapannya berdiri Arifatul yang tersenyum licik sambil menyodorkan selembar foto.
Hal yang paling menyakitkan adalah isi foto itu, yang menampilkan dirinya berdiri sangat dekat dengan Arifatul, berpegangan tangan dan tertawa bahagia bersama.
Padahal, foto itu diambil saat ia terpaksa menghadiri pertemuan keluarga yang tidak dapat ditolak. Arifatul sengaja memanfaatkan momen itu untuk berpose mesra, lalu mengeditnya agar tampak meyakinkan dan menyebarkannya sebagai bukti hubungan mereka.
"Kamu lihat sendiri kan? Aku sama Mas Bahlil nggak pernah beneran putus. Dia cuma sembunyiin hubungan kita, padahal aslinya kita masih sering bareng dan akrab banget kayak dulu," ucap Arifatul dengan nada manja yang menyakitkan.
Ia melanjutkan pembicaraannya sambil menatap tajam ke arah Puann. "Kalau emang nggak ada apa-apa, ngapain dia mau foto gitu? Ngapain dia masih ketemu aku kalau dia beneran sayang kamu?"
Puann menatap foto itu dengan pandangan kosong. Matanya berkaca-kaca, namun air matanya tidak jatuh lagi.
Hatinya yang telah hancur kini terpukul lebih keras. Ia telah berusaha berpikir positif, namun bukti-bukti terus berdatangan dan menumpuk di hadapannya.
"Aku udah nggak punya tenaga buat bantah atau jelasin apa-apa. Kalau dia emang milih kamu, ya udah, terserah kalian aja," jawab Puann lirih dengan nada mati rasa dan penuh kepasrahan.
Di luar rumah, Bahlil ingin sekali masuk dan berteriak bahwa semua itu bohong dan rekayasa. Ia juga ingin menunjukkan bukti kebenaran yang dibawanya.
Namun, kakinya terasa berat. Ia melihat raut wajah Puann yang telah kehilangan cahaya, tanda wanita itu telah menutup pintu hatinya rapat-rapat.
Bahlil sadar bahwa jika ia masuk sekarang, penjelasannya hanya akan dianggap alasan lagi. Puann telah terlalu sering mendengar janji dan penyangkalan, sedangkan bukti palsu yang ditunjukkan Arifatul selalu tampak lebih nyata.
Arifatul berjalan keluar sambil tersenyum menang.
Arifatul pergi meninggalkan tempat itu. Bahlil menggenggam kertas bukti tes palsu itu dengan tangan gemetar.
Dokumen itu kini terasa tidak berarti sama sekali jika dibandingkan dengan foto yang baru saja disodorkan Arifatul. Kesalahpahaman semakin menumpuk.
Ia harus mencari cara lain yang lebih kuat dan meyakinkan sebelum hubungan mereka benar-benar putus. Untuk saat ini, ia hanya bisa berdiam di luar, melihat wanita yang dicintainya semakin menjauh, dan menyimpan kebenaran itu sendirian.