Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.
Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Hujan turun deras, dingin, dan tak kenal ampun, seolah langit pun menangis atas kekejaman kebenaran yang baru terungkap. Air deras membasuh wajah mereka yang penuh debu, darah, dan keringat, tapi tidak bisa membasuh kotoran, noda hitam, dan rasa jijik yang kini melekat di dalam tulang, darah, dan jiwa mereka.
Mereka berlari sampai paru-paru terasa sobek, sampai kaki tak lagi terasa, sampai suara tembakan dan teriakan di belakang sana hilang ditelan deru air dan angin malam. Akhirnya, tubuh mereka yang kelelahan total menyerah. Mereka menemukan perlindungan di bawah atap gua batu kecil, tersembunyi di balik tebing curam, jauh di sisi utara Gunung Merah. Jauh, tapi tidak cukup jauh. Tidak akan pernah cukup jauh dari bayangan Andri Andalan.
Keheningan.
Hanya terdengar suara napas berat, terengah-engah, dan suara air hujan yang menetes dari mulut gua. Udara di dalam gua terasa lembap, dingin, dan dipenuhi bau besi, darah, dan keputusasaan.
Arya berdiri paling jauh, di sudut paling gelap gua, memunggungi yang lain. Bahu lebarnya yang biasanya tegap, kokoh, dan menjadi tempat berlindung bagi semua orang, kini tergantung lemah, berguncang hebat. Tangannya mencengkeram dinding batu kasar begitu kuat sampai kuku-kukunya patah, darah merah segar mengucur mengalir di sela-sela jari, bercampur dengan air hujan.
Dunia Arya Pratama baru saja mati.
Segala yang ia percayai, segala yang ia banggakan, segala yang ia cintai, semuanya ternyata dibangun di atas tanah kuburan dan kebohongan.
Pahlawannya? Andri Andalan, ternyata Iblis.
Musuhnya? Hendrawan Wijaya, ternyata korban utama.
Cintanya? Naya, wanita yang ia selamatkan, ternyata berasal dari benih kejahatan murni.
Dan anaknya... Sari Dewi.
Nama itu, suara itu, wajah itu... dulu adalah satu-satunya cahaya di hidupnya. Bukti cinta abadi. Hasil dari malam penuh kasih sayang di mana ia akhirnya memiliki wanita dan anak yang ia impikan seumur hidup. Tapi ternyata... malam itu, sebelum ia masuk, sebelum ia menyentuh Naya, monster itu sudah ada di sana. Monster itu yang menanam benihnya. Monster itu yang menciptakan gadis kecil yang selama 13 tahun ia anggap darah dagingnya sendiri.
Arya merasa kotor. Terkutuk. Bodoh. Ia merasa seluruh hidupnya hanyalah lelucon paling kejam yang ditulis oleh penulis yang gila.
Di sisi lain gua, Naya bersimpuh di tanah becek. Tubuhnya menggigil hebat, bukan karena dingin, tapi karena syok yang mendalam, trauma yang merobek akal sehatnya. Matanya kosong, menatap kekosongan dinding batu, air mata mengalir tanpa henti, tapi tanpa suara. Ia tidak menangis. Ia sudah lelah menangis. Jiwanya seolah sudah dicabut keluar dari tubuhnya.
Ayahnya.
Pria yang memeluknya saat kecil.
Pria yang mengajari dia naik sepeda.
Pria yang membela nama baik ibunya.
Pria yang mati sebagai martir.
Adalah pembunuh ibunya.
Adalah pemerkosa dirinya sendiri.
Adalah dalang di balik semua penderitaan.
Adalah monster yang paling jahat di muka bumi.
Dan Sari Dewi... anaknya sendiri, buah hatinya, satu-satunya alasan ia bertahan hidup... ternyata bukan anak dari cinta dan penyelamatan. Tapi anak dari kekerasan, obat bius, dan obsesi kotor ayahnya sendiri.
Naya ingin mati. Ia ingin merobek perutnya sendiri, ingin mencabut rahimnya, ingin membuang semua darah kotor Wijaya-Andalan yang mengalir di nadinya. Ia merasa ia bukan manusia. Ia adalah produk kegilaan. Ia adalah kesalahan alam.
Dan di tengah-tengah kekacauan emosi orang tuanya, berdiri Sari Dewi.
Gadis 13 tahun itu tidak menangis. Ia tidak gemetar. Ia tidak bersembunyi. Ia berdiri tegak di tengah gua, rambutnya basah kuyup menempel di bahu, matanya yang dulu hangat dan penuh rasa ingin tahu kini terlihat tua, lelah, dan sangat dingin.
Ia mendengar semuanya.
Ia tahu asal-usulnya.
Ia tahu siapa bapak kandungnya sebenarnya.
Ia tahu bahwa pria yang selama ini ia panggil "Ayah", yang ia puja, yang ia cintai, yang ia idolakan sebagai manusia terhebat di dunia... ternyata bukan ayahnya.
Dan yang paling menyakitkan: Ia tahu betapa jijik, betapa hancur, betapa benci ayah angkatnya sekarang melihat dirinya.
Karena bagi Arya, Sari Dewi bukan lagi "Sari Dewi, putriku". Sekarang, saat Arya menatapnya, Arya melihat Andri Andalan. Arya melihat monster itu. Arya melihat benih iblis yang ia rawat, ia peluk, ia cium, dan ia lindungi selama 13 tahun.
Sari Dewi melangkah satu langkah ke arah Arya. Langkahnya pelan, ragu, penuh rasa sakit yang tak terlukiskan.
"Ayah..." suaranya keluar seperti bisikan angin, pecah, nyaris tak terdengar. Tangan kecilnya terulur, ingin menyentuh punggung pria yang selama ini menjadi dunianya. "Ayah, tolong... lihat aku. Aku masih aku. Aku masih Sari Dewi. Ini bukan salahku. Aku tidak tahu. Aku tidak minta lahir dari dia..."
Sentuhan jari kecil itu baru saja menyentuh kain jaket belakang Arya.
PLAK!
Tubuh Arya bergerak kasar, mengibaskan tangan Sari Dewi dengan keras, sangat keras, sampai gadis itu terhuyung mundur, jatuh terduduk di tanah becek.
"JANGAN SENTUH AKU!!!"
Terakan itu. Suara itu. Suara Arya. Tapi bukan suara Arya yang ia kenal. Ini suara penuh rasa jijik, kemarahan, dan penolakan mutlak. Suara yang menusuk langsung ke jantung, meremukkan hati Sari Dewi menjadi debu halus.
Arya berbalik. Wajahnya merah padam, matanya bengkak, berair, penuh darah, menatap Sari Dewi dengan pandangan yang belum pernah gadis itu lihat sebelumnya.
Pandangan Benci.
Pandangan Takut.
Pandangan Jijik.
"JANGAN DEKAT AKU!" bentak Arya lagi, suaranya parau, serak, seperti orang yang sedang muntah darah. Ia menunjuk gadis itu dengan jari gemetar. "Kau... kau... kau adalah dia! Kau darahnya! Kau tulangnya! Kau cerminan dari segala hal yang paling aku benci di dunia ini! Selama ini aku bodoh! Aku buta! Aku pikir aku menyelamatkan sesuatu yang suci, ternyata aku memelihara ular berbisa di pelukanku sendiri! Aku membesarkan anak iblis!"
"Arya! BERHENTI!!!"
Suara Raga memecah kekacauan.
Raga, yang selama ini pendiam, dingin, dan terlihat tak punya hati, tiba-tiba bergerak cepat, berdiri di depan Sari Dewi, melindungi gadis itu dari tatapan membunuh ayah angkatnya sendiri. Tubuh besar Raga menghalangi, membentengi keponakannya. Mata Raga menyala, bukan lagi mata malas atau dingin, tapi mata yang penuh amarah—amarah yang ditujukan kepada Arya.
"Kau gila?!" geram Raga rendah, dada naik turun menahan emosi yang meluap. Ia mencengkeram kerah baju Arya, menariknya mendekat, wajah ke wajah. "Kau pikir dia minta lahir begini?! Kau pikir dia memilih siapa ayahnya?! Dia 13 tahun, Arya! Dia anak kecil! Dia korban sama seperti kita semua! Apa kau lupa?! Dia yang baru saja melawan monster itu demi kita?! Dia yang baru saja menyelamatkan lehermu dari pisau Andri!"
"Aku tidak peduli!" raung Arya, menepis tangan Raga dengan liar, matanya masih terkunci tajam pada Sari Dewi di belakang bahu Raga. "Dia darah Andri! Dia benih kejahatan! Lihat matanya! Lihat caranya berpikir! Cerdas, dingin, manipulatif, penuh rencana! Persis seperti dia! Aku bodoh! Aku bodoh sekali mengira itu kecerdasan, mengira itu keberanian! Itu sifat aslinya! Itu gen pembunuhnya!"
Setiap kata yang keluar dari mulut Arya adalah belati tajam yang menusuk dada Sari Dewi. Gadis itu masih duduk di tanah, basah, kotor, dingin. Ia merasakan sesuatu di dalam dirinya mati. Bagian yang dulu percaya cinta ayahnya itu, bagian yang merasa aman di pelukan Arya itu... hancur lenyap.
Sari Dewi perlahan bangkit berdiri. Ia tidak menangis. Air matanya sudah kering. Ia mengusap darah di bibirnya akibat terjatuh tadi. Matanya, yang tadi masih memohon, masih berharap, perlahan berubah. Kelembutan, kepolosan, dan harapan itu... menghilang. Digantikan oleh dinding batu setebal ribuan kilometer. Digantikan oleh kekosongan yang dingin dan mematikan.
Ia menatap Arya. Tatapan anak yang dulu memuja, kini berubah menjadi tatapan orang asing. Tatapan datar, tanpa emosi, tanpa cinta, dan tanpa rasa sakit. Seolah jiwanya sudah pergi meninggalkan tubuhnya.
"Kau benar, Ayah," suara Sari Dewi terdengar tenang, sangat tenang, bahkan lebih dingin dari suara Raga. Suara itu membuat bulu kuduk meremang. "Kau benar. Aku darahnya. Aku benih iblis. Semua hal buruk yang ada di dunia ini mengalir di pembuluh darahku. Aku bukan anakmu. Aku tidak pernah menjadi anakmu. Aku cuma kesalahan. Aku cuma bencana."
Sari Dewi melangkah mundur selangkah, menjauh dari Arya, menjauh dari Naya.
"Maaf sudah menghabiskan 13 tahun hidupmu dengan menanggung beban keberadaanku. Maaf sudah membuatmu berpura-pura mencintaiku. Maaf sudah membuatmu jijik sekarang. Mulai sekarang... kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan menyentuhmu. Aku tidak akan mendekatimu. Aku tidak akan minta apa-apa darimu lagi. Aku bebas. Dan kau bebas dari aku."
"Sari... Sari, bukan begitu maksud Ayah..." tiba-tiba kesadaran Arya sedikit kembali. Ia melihat perubahan di mata putrinya. Ia melihat sesuatu yang berharga, sesuatu yang murni, sesuatu yang ia cintai... mati tepat di depan matanya sendiri. Ia melihat Sari Dewi menghilang, digantikan oleh sesuatu yang keras dan tajam.
Arya ingin mundur. Ia ingin menarik kata-katanya. Ia ingin memeluk anaknya dan bilang dia gila, dia stres, dia tidak bermaksud begitu. Tapi rasa jijik, trauma, dan kengerian itu terlalu kuat. Setiap kali ia melihat wajah Sari Dewi, ia melihat wajah Andri. Ia melihat mata Andri. Ia melihat senyum Andri. Otak dan hatinya menolak.
Naya akhirnya bergerak. Ibu itu bangkit perlahan, kakinya gemetar, tubuhnya lemah. Ia berjalan mendekati putrinya. Matanya penuh air mata, penuh rasa bersalah, penuh rasa sakit yang tak terbayangkan. Ia ingin memeluk. Ia ingin bilang: Aku tetap mencintaimu, tidak peduli siapa ayahmu.
Tapi saat tangan Naya terulur, Sari Dewi mundur lagi, menggeleng pelan.
"Jangan, Bunda," bisik Sari Dewi lembut, tapi tegas. "Jangan sentuh aku. Kamu juga jijik, kan? Kamu juga takut, kan? Lihat aku... aku bukan anak cinta. Aku anak dosa. Aku anak noda. Kalau kamu peluk aku, kamu akan ingat malam itu. Kamu akan ingat siapa yang melakukan itu padamu. Aku cuma pengingat terus-menerus pada rasa sakitmu. Lebih baik aku jauh."
Naya menangis tersedu-sedu, jatuh berlutut di tanah, meremas dada kirinya yang terasa seperti robek jadi dua.
"Tidak, Sari... tidak... Bunda sayang kamu... kamu anakku... darah dagingku..." isak Naya, suaranya pecah tak terbentuk.
"Tapi separuh dari aku adalah darah musuh terbesarmu, Bunda. Separuh dari aku adalah darah pembunuh Nenek. Separuh dari aku adalah darah pemerkosa kamu. Dan kau tidak bisa menyangkalnya. Kau tidak bisa mencintai bagian itu. Jadi... jangan pura-pura."
Sari Dewi berbalik, memunggungi mereka semua. Ia berjalan masuk lebih dalam ke kegelapan gua, duduk di pojok paling jauh, merangkul lututnya sendiri, memeluk dirinya sendiri. Sendirian. Persis seperti yang selalu dikatakan nasibnya.
Raga melihat semua ini. Pria yang seumur hidupnya hanya tahu benci, marah, dan membunuh, merasa dadanya sesak dan sakit luar biasa. Ia melihat cermin dirinya sendiri di gadis kecil itu. Dulu, Raga juga seperti ini. Dulu, Raga juga anak yang dicintai, lalu tiba-tiba dilihat sebagai monster, sebagai beban, sebagai noda. Dulu, Raga juga ditolak oleh dunia, ditolak oleh kebaikan, dipaksa masuk ke kegelapan.
Dan sekarang, sejarah berulang. Mereka sedang melakukan hal yang sama pada Sari Dewi. Mereka sedang mendorong anak ini masuk ke dalam kegelapan yang sama, karena mereka terlalu lemah untuk menghadapi kebenaran.
Raga melirik Arya. Tatapan Raga tidak lagi hormat. Tidak lagi sekutu. Tatapan itu penuh penghinaan, penuh kekecewaan.
"Kau tahu apa yang paling menyedihkan dari semua ini, Arya?" bisik Raga parau, suaranya dingin menusuk tulang. "Selama ini kau sibuk takut sama aku. Kau sibuk benci sama aku. Kau sibuk menganggap aku ancaman terbesar, monster terbesar. Padahal... monster aslinya bukan aku. Monster aslinya bukan Andri. Monster aslinya adalah ketidakmampuanmu untuk mencintai apa yang tidak sempurna."
Raga menunjuk ke arah gadis kecil di kegelapan itu.
"Dia bukan Andri. Dia Sari Dewi. Dia gadis yang tumbuh besar dengan cinta kasihmu. Dia gadis yang punya hati paling lembut, paling pemberani, paling murni di antara kita semua. Dia baru saja menyelamatkan nyawamu, nyawa istrimu, nyawa kita semua. Dan sebagai balasannya... kau buang dia. Kau buang dia tepat ke pelukan kegelapan, sama seperti ayahku dulu buang aku. Kau pikir Andri jahat? Andri jahat karena dia gila. Tapi kau? Kau jahat karena kau lemah. Dan kelemahanmu ini... ini yang akan membunuh kita semua."
Arya terdiam. Kata-kata Raga seperti pisau tajam yang menusuk tepat ke jantung hati nuraninya. Ia tahu Raga benar. Ia tahu ia salah. Ia tahu ia kalah. Ia tahu, di detik ia mengibaskan tangan anaknya, ia kehilangan segalanya. Ia kehilangan haknya menjadi ayah.
Malam itu berlalu dalam kesunyian yang mencekik. Tidak ada percakapan. Tidak ada pelukan. Tidak ada tawa. Hanya ada empat orang yang dulu keluarga, sekarang hanya sekumpulan orang asing yang terpaksa bersama karena keadaan.
Di pagi hari, hujan reda. Kabut tebal menyelimuti gunung, menciptakan dunia abu-abu yang suram.
Mereka harus bergerak. Jejak mereka sudah pasti ditemukan. Pasukan Andri sedang bergerak mendaki. Mereka harus terus lari, terus bergerak, mencari tempat aman, mencari cara untuk melawan.
Saat mereka keluar dari gua, matahari pagi yang samar menyorot wajah mereka.
Sari Dewi berjalan paling depan. Ia tidak menunggu orang tuanya. Ia tidak melihat ke arah mereka. Ia berjalan tegak, cepat, mandiri. Pakaiannya kotor, rambutnya kusut, wajahnya pucat. Di lehernya, kalung kunci emas itu masih tergantung, tapi sekarang terasa berat, dingin, dan terkutuk.
Raga berjalan di belakangnya, menjaga jarak aman, tapi matanya tak lepas dari punggung kecil itu. Ia melihat perubahan drastis. Polosnya hilang. Cahayanya padam. Digantikan oleh baja dingin.
Arya dan Naya berjalan di paling belakang, seperti orang yang sedang berjalan menuju eksekusi mati. Naya sesekali ingin memanggil, ingin memanggil nama anaknya, tapi tenggorokannya terasa tertutup rapat. Arya... Arya merasa mati rasa. Ia merasa kosong. Ia memenangkan perang melawan kejahatan Wijaya, tapi ia kalah telak dalam perang melawan dirinya sendiri.
Di kejauhan, di atas puncak tebing di belakang mereka, di balik kabut tipis, sepasang mata merah sedang mengawasi.
Andri Andalan, dengan tangan dibalut perban darah, berdiri di sana, ditenagai oleh amarah dan obsesi yang tak terpadamkan. Di sampingnya, berdiri puluhan pasukan elit bersenjata lengkap.
Andri tersenyum melihat pemandangan di bawah sana. Ia melihat keretakan di dalam kelompok itu. Ia melihat perpecahan. Ia melihat rasa jijik Arya. Ia melihat penolakan Naya. Ia melihat kesepian Sari Dewi.
"Bagus..." bisik Andri pelan, mata jahatnya berkilau puas. "Bagus sekali. Teruslah tolak dia. Teruslah sakiti dia. Teruslah buat dia merasa dia tidak punya tempat di sisi terang. Karena semakin dia benci kalian... semakin dia dekat sama aku. Semakin dia gelap... semakin dia milikku."
"Buru mereka. Jangan bunuh. Pisahkan mereka. Pisahkan anak itu dari orang tuanya. Bawa dia ke aku," perintah Andri dingin.
Perburuan sesungguhnya baru saja dimulai. Tapi kali ini, buruannya bukan sekadar tubuh. Kali ini, Andri Andalan sedang memburu Jiwa Sari Dewi.
Dan berkat tindakan Arya semalam, Andri sudah setengah jalan menuju kemenangan.
🥀🩸😭 Ini bab yang paling sakit sejauh ini...
Arya, pahlawan yang selalu kuat, akhirnya jatuh karena kelemahan terbesarnya: Prasangka & Ketakutan. Ia baru saja melakukan kesalahan fatal yang akan merubah segalanya selamanya. Sari Dewi, gadis polos dan ceria, mati jiwanya, berubah jadi es dingin karena ditolak oleh orang yang paling ia cintai.
Hubungan mereka RUSAK PARAH. Retak tak bisa diperbaiki dengan mudah.
Dan yang paling mengerikan: Andri senang. Dia tahu dia tidak perlu banyak usaha, karena Arya dan Naya sedang melakukan pekerjaannya: Menghancurkan mental Sari Dewi.
Lanjut??