Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ALASAN SESERHANA UNTUK BERTEMU
Siang itu, pembicaraan berlanjut ke urusan kerja sama yang menjadi tujuan utama kedatangan Angkasa dan Dewa. Di ruang tamu yang tenang, Angkasa menjelaskan maksudnya dengan sopan dan berwibawa, sesekali menyelipkan tutur kata halus khas Jawa yang membuat Pak Bimo makin segan dan nyaman.
"Pak Bimo, saya bermaksud mengajak kerja sama mengambil pasokan hasil bumi dari Bapak. Kualitas kebun Bapak memang terbaik di sini, dan saya ingin menjaga itu tetap terjaga untuk usaha saya," ujar Angkasa tenang.
"Kulo jamin urusan harga dan pembayaran pasti pantas dan menguntungkan kedua belah pihak, Bapak mboten perlu khawatir soal apa pun."
Pak Bimo tersenyum lebar, sangat setuju. "Bagus kalau begitu, Angkasa. Saya sendiri sudah lama cari mitra yang jujur dan berkelas sepertimu. Apalagi kamu anaknya Mas Adi, Pasti saya percaya sepenuhnya. Ya sudah, sepakat ya kita."
"Matur nuwun sanget, Pak. Bagi kulo, dipercaya dan bisa bekerja sama sama Bapak adalah kehormatan besar," jawab Angkasa menunduk hormat.
Pembicaraan pun selesai dengan mulus, semua kesepakatan berjalan lancar tanpa halangan apa pun.
Hari mulai sore menjelang malam, Angkasa dan Dewa berpamitan hendak pulang, tapi Bu Saras langsung mencegah ramah.
"Waduh, belum disuguhin apa apa sudah mau pulang? Ini sudah waktunya makan malam. Makan dulu saja di sini, makanannya sederhana kok, jangan sungkan ya."
"Nuwun sewu nggih Bu, jadi merepotkan," jawab Angkasa lembut.
"Kalau begitu kami terima. Terima kasih banyak atas kebaikannya."
Malam itu terasa hangat dan akrab sekali. Meja makan penuh tawa dan cerita masa lalu Ayah Bimo dan Ayah Angkasa, membuat Angkasa yang dulu kesepian kini merasa benar-benar punya keluarga baru.
Setelah makan selesai dan suasana mulai sepi, Angkasa pamit sebentar untuk mencari udara segar ke bagian samping rumah. Hatinya sebenarnya sedang mencari satu orang saja: Arum.
Dan benar saja, di teras belakang yang agak sepi dan remang, gadis itu ada di sana.
Arum duduk sendirian di kursi kayu panjang, sibuk menunduk menatap layar laptop di pangkuannya. Jari-jarinya bergerak lincah mengetik, wajahnya serius berkonsentrasi menyusun kata-kata untuk novelnya. Rambut panjangnya dibiarkan terurai, sesekali terhembus angin malam yang sejuk dan tenang. Dia begitu asyik sendiri sampai tidak sadar ada orang lain yang berdiri diam memperhatikannya dari dekat.
Angkasa menghela napas pelan, lalu melangkah mendekat dengan hati-hati agar tidak mengejutkan. Saat dia berdiri tepat di sampingnya, Arum baru tersentak kaget dan buru-buru menutup sedikit layar laptopnya.
"Mas Angkasa...? Eh, maaf, saya nggak denger ada yang datang. Cari Bapak ya?" tanyanya malu-malu.
Angkasa menggeleng pelan, lalu duduk sopan di ujung kursi itu. Matanya menatap lembut wajah Arum yang terlihat makin manis dalam cahaya lampu taman.
"Enggak, Mbak Arum. Saya cuma mau cari udara segar, eh malah nemu Mbak di sini. Masih sibuk nulis ya?" tanyanya pelan.
Arum mengangguk sambil tersenyum canggung. "Iya... kebiasaan. Kalau malam begini suasananya enak banget, jadi ide cerita mengalir terus. Maaf ya kelihatannya aneh, duduk sendiri begini."
"Enggak kok. Justru indah sekali dilihatnya," jawab Angkasa tulus, membuat pipi Arum seketika memerah merona. Dia lalu mengubah posisi duduknya, menatap lebih lekat.
"Ngomong-ngomong, ada hal yang belum selesai di antara kita, Mbak."
Arum mengerutkan kening bingung. "Hal apa, Mas?"
"Buku catatan kita. Waktu itu tertukar di kedai kopi, kan? Saya bawa punya Mbak, dan Mbak bawa punya saya."
Mata Arum langsung teringat, mulutnya membulat kaget. "Eh, iya! Betul sekali! Sampai sekarang masih ada sama saya. Kebetulan banget Mas ingetin. Nih, kebetulan saya bawa tasnya, bukunya ada di sini."
Arum buru-buru meraih tas kecil di sampingnya, mengeluarkan buku bersampul kulit hitam milik Angkasa, lalu mengulurkannya rapi.
"Ini bukunya Mas. Saya enggak berani buka-buka lagi, takut mengganggu privasi. Nah... kalau begitu buku punya saya, boleh saya minta balik sekarang, Mas?" tanyanya polos sambil tersenyum lega.
Angkasa menerima bukunya kembali perlahan, jari-jarinya menyentuh sampul itu sejenak. Dia menatap wajah penasaran Arum, lalu menggeleng pelan dengan raut sedikit menyesal.
"Maaf ya, Mbak Arum... buku punya Mbak... ketinggalan di rumah saya."
Arum terdiam bingung. "Loh? Kok bisa ketinggalan?"
Angkasa menunduk sedikit, seolah benar-benar merasa bersalah, padahal di dalam hatinya dia tersenyum manis. Itu semua cuma alasan. Dia sengaja tidak membawa buku itu, dia butuh alasan supaya bisa bertemu Arum lagi.
"Iya... jujur saja, saya sama sekali tidak menyangka hari ini bisa datang ke sini, apalagi ketemu Mbak lagi secepat ini," ucap Angkasa meyakinkan.
"Saya kira pertemuan kita masih lama, jadi bukunya masih aman tersimpan di meja kerja saya. Saya lupa bawa, nyuwun pangapunten ya Mbak, jadi merepotkan."
Arum langsung mengangguk maklum, wajahnya sama sekali tidak kecewa. "Oh, jadi begitu... ya gak apa-apa kok Mas. Memang kebetulan banget ya Mas bisa datang ke sini karena urusan Bapak. Ya sudah, nanti saja dikembalikan."
Angkasa mengangkat wajahnya kembali, matanya berbinar bahagia karena rencananya berhasil.
"Iya, nanti. Kalau begitu izinkan saya yang akan mengantar bukunya ke sini lagi, sebagai ganti rasa bersalah saya," katanya penuh harap.
"Jadi... saya boleh datang ke sini lagi ya, Mbak? Bukan urusan bisnis, cuma sekadar mengantar buku... dan mungkin sekadar berkunjung sebentar?"
Jantung Arum berdegup halus. Dia melihat tatapan lelaki itu, tatapan yang jelas-jelas tidak hanya ingin mengantar buku, tapi ingin melihat wajahnya lagi. Arum menunduk malu, lalu mengangguk pelan sambil tersenyum manis yang tak bisa dia sembunyikan.
"Boleh banget, Mas. Rumah ini kan kata Bapak rumah Mas juga sekarang. Kapan saja boleh datang. Saya juga... terima kasih banget sudah dijaga bukunya sampai sekarang."
Angkasa tersenyum puas dan lega. Alasan sudah ada. Alasan indah yang mengikat mereka untuk bertemu lagi, dan lagi. Di bawah langit malam yang sama, rasa itu makin kuat terjalin di hati keduanya.