Arga, seorang pemuda yatim piatu miskin yang berjuang hidup sebagai nelayan sampan, harus menelan pil pahit saat dihina habis-habisan oleh mantan teman-teman sekolahnya di sebuah acara reuni.
Merasa putus asa dan tidak terima dengan ketidakadilan takdir, ia melampiaskan emosinya dengan memancing di tengah malam, namun kailnya justru menarik sebuah umpan logam berkarat misterius yang menyerap darahnya dan membangkitkan Sistem Mancing Mania Mantap.
Berbekal sistem aneh yang menggunakan emosi sebagai umpan dan menunjukkan lokasi pancing yang tidak masuk akal, Arga tidak lagi sekadar memancing ikan biasa, melainkan menarik harta karun dimensi lain, pusaka kuno, hingga kekuatan gaib yang akan memutarbalikkan nasibnya dari pemuda rendahan menjadi sosok kaya raya yang ditakuti semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Angin malam berhembus sangat kencang membawa aroma garam dan karat besi tua di kawasan pelabuhan Tanjung Priok.
Arga berjalan mengendap-endap di antara tumpukan peti kemas raksasa yang sudah lama ditinggalkan.
Layar peta sistem di matanya terus menunjukkan sebuah titik merah menyala dari arah gudang terbuka di ujung dermaga.
Arga menghentikan langkah kakinya dan bersembunyi sejenak di balik sebuah mesin pengeruk yang rusak.
Dari jarak dua puluh meter, dia bisa melihat sosok seorang pria sedang sibuk memukul gembok sebuah peti besi besar.
Pria itu adalah Bayu sang mantan komandan pasukan elit yang wajahnya terlihat sangat frustrasi.
Arga menarik napas panjang dan melangkah keluar dari tempat persembunyiannya dengan langkah yang sengaja dibuat terdengar berat.
Tap tap tap.
"Susah payah lo bawa kabur peti ini dari acara lelang, ujung-ujungnya mentok juga kan buka gemboknya," sapa Arga memecah kesunyian malam.
Bayu menoleh dengan sangat cepat ke arah sumber suara tersebut.
Wajah pria itu terlihat sangat lelah namun matanya memancarkan niat membunuh yang sangat pekat.
"Siapa lo berani masuk ke area terlarang gue malam-malam begini?" bentak Bayu langsung mengambil posisi kuda-kuda bertarung.
"Gue cuma kurir pengantar pesan dari asosiasi lama lo," jawab Arga tersenyum sinis sambil terus berjalan mendekat.
"Mereka minta peti besi itu dikembaliin sekarang juga ke tempat asalnya."
Bayu meludah ke arah lantai beton yang kotor dan tertawa meremehkan.
"Asosiasi itu isinya cuma orang tua pengecut yang gak tahu cara pakai kekuatan sejati di dunia ini," balas Bayu dengan nada penuh kebencian.
"Terus lo pikir buka peti kutukan pembuat kelaparan itu tindakan orang pemberani?" tantang Arga membalas tatapan tajam Bayu.
Bayu tidak menjawab dan tubuhnya tiba-tiba menghilang sepenuhnya dari pandangan mata Arga.
Wush.
Arga langsung merasakan hawa dingin yang sangat menusuk muncul dari arah belakang lehernya.
Bayu muncul dari udara kosong dan melayangkan tendangan memutar yang menargetkan kepala belakang Arga.
Arga merunduk dengan sangat cepat berkat refleks super dari Peningkatan Fisik Tingkat Dasar miliknya.
Tendangan Bayu hanya mengenai ruang kosong dan menimbulkan suara angin yang berdesir tajam.
"Cepat juga gerakan lo buat ukuran manusia normal yang jadi anjing suruhan asosiasi," puji Bayu sebelum kembali menghilang ke dalam dimensi ruang.
Arga segera memusatkan pandangannya dan mengaktifkan Keterampilan Penilaian Barang Gaib miliknya ke sekeliling ruangan gelap itu.
Layar biru sistem langsung menyoroti sebuah distorsi energi kemerahan di sisi kiri atas tumpukan peti kemas terdekat.
"Sistem, keluarin Trisula Penakluk Ombak sekarang juga," perintah Arga di dalam hatinya tanpa ragu sedikit pun.
Cahaya hijau kebiruan meledak di telapak tangan kanan Arga saat senjata pusaka itu terwujud dari udara.
Arga langsung memutar tubuhnya dan melemparkan trisula itu sekuat tenaga ke arah titik distorsi energi di atas peti kemas tersebut.
Trang.
Suara logam beradu berbunyi sangat nyaring saat ujung trisula Arga menabrak belati yang baru saja dikeluarkan oleh Bayu.
Bayu terlempar dari tempat persembunyiannya dan mendarat dengan kasar berguling di atas lantai beton.
"Pusaka tingkat laut dalam?" gumam Bayu membelalakkan matanya terkejut melihat trisula yang menancap di tanah.
"Gak usah banyak omong, serahin petinya atau lo gue kirim nyusul anak buah mutan lo di neraka," ancam Arga memanggil kembali trisulanya dengan tarikan energi gaib.
Bayu tertawa keras mendengar ancaman dari pemuda yang dia anggap amatiran ini.
Dia merapalkan sebuah mantra kuno dari mulutnya dengan tempo yang sangat cepat dan tidak jelas.
Tiba-tiba lima bayangan ilusi Bayu tercipta secara bersamaan mengepung posisi Arga dari segala arah.
Kelima ilusi itu memegang belati beracun yang mengarah tepat ke organ-organ vital di tubuh Arga.
"Kita lihat seberapa hebat lo nebak mana yang asli bocah," teriak kelima bayangan itu secara serempak.
Arga sama sekali tidak merasa panik melihat trik ilusi tempur murahan tersebut.
Mata gaibnya dengan sangat mudah menemukan wujud asli Bayu yang rupanya sedang berlari mengendap-endap menuju peti besi bencana itu.
"Kalau gue gak bisa jual peti ini ke penadah malam ini, mending kita semua mati kelaparan sama-sama di kota ini," teriak Bayu mengarahkan belatinya untuk mencongkel paksa segel gembok utama.
"Gak semudah itu pengkhianat," balas Arga mengayunkan tangan kirinya tinggi-tinggi ke udara.
Jaring Penangkap Roh Kuno melesat dari genggaman Arga menyebar luas seperti jaring laba-laba raksasa di udara.
Jaring gaib bercahaya emas itu langsung menutupi dan membungkus tubuh Bayu secara sempurna dari atas sampai bawah.
Srak.
Bayu menjerit kesakitan yang amat sangat saat jaring kuno itu membakar habis sisa energi sihir dimensi di dalam aliran darahnya.
Tubuh pria itu langsung jatuh telungkup di lantai beton tidak bisa menggerakkan satu pun jari tangannya layaknya seekor ulat yang diinjak.
Kelima ilusi bayangannya seketika menghilang menjadi asap hitam pekat yang tertiup angin laut malam.
"Lepasin gue keparat," kutuk Bayu meronta-ronta di dalam lilitan jaring gaib yang semakin menyempit tersebut.
Arga berjalan santai menghampiri tubuh Bayu dan berjongkok tepat di hadapan wajah pria itu.
"Lo terlalu banyak gaya buat ukuran maling kelas teri yang bisanya cuma lari-lari," bisik Arga menepuk pipi Bayu dengan pelan namun penuh ejekan.
Arga berdiri kembali dan berjalan menuju peti besi karatan yang menjadi sumber segala kekacauan besar hari ini.
"Sistem, simpan peti besi ini ke dalam ruang inventaris sekarang juga," perintah Arga menyentuh permukaan dingin peti tersebut.
Dalam sekejap mata peti besi seberat ratusan kilogram itu lenyap tanpa jejak menyisakan ruang kosong di atas lantai.
Arga lalu mengambil ponsel satelit hitam tebal dari saku dalam jaket kulitnya dan menekan tombol panggilan cepat.
"Halo Saudara Arga, apakah ada perkembangan bagus dari perburuan Anda malam ini?" sapa Baskara dari seberang telepon dengan nada yang sangat waspada.
"Peti bencananya udah aman masuk di tempat penyimpanan khusus saya Baskara," lapor Arga dengan nada bicara santai seperti sedang melaporkan cuaca.
"Pelakunya si Bayu mantan komandan anda juga udah saya ikat rapi kayak pepes ikan di gudang pelabuhan Tanjung Priok."
Terdengar suara tarikan napas panjang dari ujung telepon Baskara yang menandakan rasa kelegaan luar biasa.
"Anda benar-benar pahlawan penyelamat bagi kota ini Saudara Arga, saya tidak tahu harus membalas budi Anda dengan cara apa lagi," puji Baskara dengan suara bergetar haru.
"Balas pakai uang sepuluh miliar aja udah cukup buat gue," jawab Arga sambil tertawa kecil.
"Saya akan segera mengirimkan tim penjemputan elit ke lokasi Anda saat ini juga untuk mengamankan Bayu," ucap Baskara mengembalikan profesionalismenya.
"Gue tunggu kedatangan kalian setengah jam lagi di gerbang depan gudang sektor empat ini," tutup Arga mematikan sambungan telepon satelit tersebut.
Arga memutar tubuhnya dan duduk di atas sebuah tumpukan ban bekas sambil mengawasi Bayu yang masih terus mengumpat sumpah serapah.
Poin sistem dan uang miliaran rupiah yang dia keluarkan ternyata sangat sepadan dengan hasil yang dia petik malam ini.
Setengah jam kemudian empat buah mobil SUV hitam anti peluru tiba di lokasi dan belasan agen berpakaian rapi turun menyergap area tersebut.
Baskara berjalan mendekati Arga dengan senyum yang sangat lebar dan menjabat tangan pemuda itu dengan erat.
"Kerja yang sangat bersih dan rapi Saudara Arga, jaring gaib penahan roh itu benar-benar melumpuhkan Bayu total," puji Baskara melihat tawanan mereka.
Para agen langsung memasukkan tubuh Bayu ke dalam mobil penahanan khusus yang segel keamanannya berlapis-lapis.
"Peti besinya saya bawa dulu ke ruko ya Baskara, saya baru bakal serahin barang itu kalau sisa uang komisi gue yang lain udah cair," tawar Arga memegang kendali negosiasi.
"Itu permintaan yang sangat wajar Saudara Arga, dewan pimpinan juga sudah setuju untuk menjadikan Anda sebagai anggota mitra kehormatan kami mulai malam ini," balas Baskara menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Baguslah kalau kalian ngerti aturan main bisnis yang profesional," kata Arga melangkah menuju mobilnya sendiri.
Malam ini Arga pulang dengan perasaan yang sangat puas karena dia berhasil membuktikan kualitas dirinya di mata organisasi penguasa dunia bawah tersebut.
Arga menyalakan mesin kendaraannya dan melaju meninggalkan kawasan pelabuhan untuk kembali menuju ruko perusahaannya di Menteng.