*Sinopsis*
Evelyn Mahesa bukan orang yang percaya cinta instan.
Ia hanya percaya pada satu hal: ibunya harus sembuh.
Saat tagihan rumah sakit 200 juta menumpuk dan semua jalan buntu, muncul Matthias Virel—CEO dingin, kaya, dan paling ditakuti di dunia bisnis.
Ia menawarkan jalan keluar yang mustahil ditolak:
*4,5 miliar rupiah. Syaratnya, Evelyn harus jadi istri kontraknya selama 90 hari.*
Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Hanya peran di depan publik demi menenangkan nenek Matthias yang sekarat.
Awalnya, Evelyn pikir ini cuma transaksi.
Tapi tinggal serumah dengan pria yang jago bikin jengkel sekaligus bikin jantung berdebar itu… ternyata lebih sulit dari yang ia kira.
90 hari.
Cukup untuk jatuh cinta?
Atau cukup untuk saling membenci sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baby Shower yang Nggak Direncanakan
Hari ke-138.
Kehamilan Evelyn masuk minggu ke-15.
Perutnya udah keliatan dikit kalau pakai baju ketat.
Dia masih mual, tapi udah bisa ketawa lagi tiap pagi.
Setelah Clarissa ketangkap dan ngaku, hidup mereka lumayan tenang.
Nggak ada berita fitnah baru. Nggak ada paket aneh.
Cuma ada dokter, kontrol kehamilan, dan perdebatan kecil tiap malam: nama bayi, warna kamar, stroller merek apa.
Malam itu, Evelyn lagi gambar desain kamar bayi di studio.
Warna krem, kayu oak, lampu kuning hangat.
Nggak ada pink mencolok. Katanya, “Anak gue bukan boneka.”
Matthias masuk bawa teh jahe hangat.
“Dokter bilang lo harus tidur jam 10.”
Evelyn nggak nengok.
“Dokter juga bilang jalan kaki 30 menit sehari. Lo ajak gue jalan nggak?”
Matthias duduk di lantai, sandar ke meja.
“Nanti. Sekarang gue mau liat lo gambar.”
Evelyn ketawa.
“Romantis banget jadi satpam studio.”
“Gue satpam istri gue. Beda.”
Tiba-tiba ponsel Evelyn berdering.
Nomor nggak dikenal.
Dia angkat.
“Halo?”
Suara di seberang pelan, tapi dikenal.
“Evelyn... ini aku, Nyonya Alina.”
Evelyn duduk tegak.
“Ada apa, Ma?”
“Bisa kamu dan Matthias turun sekarang? Ada tamu. Banyak.”
Evelyn ngernyit.
Matthias udah ngangkat alis.
“Mereka bilang... ini kejutan.”
---
Mereka turun ke lantai 1.
Lampu dimatiin.
Pas pintu ruang keluarga dibuka, lampu nyala serentak.
“Surprise!”
Satu ruangan penuh orang.
Nyonya Alina, Om Dimas, beberapa asisten lama Virel Group, dokter kandungan Evelyn, bahkan dua perawat yang pernah jaga Matthias di ICU.
Balon biru muda dan krem gantung di mana-mana.
Meja panjang penuh kue, kado kecil, dan tulisan besar: _Welcome Baby Aurelia_
Evelyn nutup mulut.
“Ini... apa?”
Nyonya Alina langsung peluk dia.
“Baby shower, sayang! Kami nggak tahan nunggu kamu tenang dulu. Sekarang aman, kan? Sekarang boleh rame-rame sayang cucu Mama!”
Matthias di belakangnya cuma bisa ketawa.
Dia juga nggak tahu.
Jelas kerjaan Nyonya Alina.
Evelyn mau protes, tapi matanya udah berkaca-kaca.
3 tahun dia nggak ngerasain kayak gini.
Dirayain. Disayang. Dianggap penting.
Matthias pelan-pelan ngerangkul pinggangnya.
“Lo nggak keberatan kan? Gue janji kalau lo capek, kita bubarin 15 menit lagi.”
Evelyn geleng.
“Nggak. Gue senang. Makasih, Ma.”
Nyonya Alina ngelus pipinya.
“Kamu pantas, Nak. Pantas banget.”
---
Acara jalan 1 jam.
Nggak ada wartawan. Nggak ada live IG.
Cuma keluarga dan orang-orang yang bener-bener peduli.
Ada sesi buka kado.
Evelyn dapet baju bayi warna krem, buku cerita, mainan kayu, dan satu kotak kecil dari Nyonya Alina.
Di dalamnya: gelang emas kecil, ukiran “Aurelia”.
“Buat hari dia lahir,” kata Nyonya Alina.
Evelyn peluk dia lagi.
Ada sesi tebak jenis kelamin.
Semua orang udah tahu, tapi pura-pura kaget pas balon meledak dan keluar konfeti biru muda.
Om Dimas teriak paling keras.
“YES! Cucu perempuan! Akhirnya ada yang bisa gue manjain selain bos!”
Matthias cuma senyum-senyum sambil pegang pinggang Evelyn.
Dia nggak banyak ngomong. Tapi tiap kali Evelyn liat dia, dia lagi ngeliatin perut Evelyn.
Di akhir acara, semua orang ngumpul buat foto.
Evelyn di tengah, pegang perut.
Matthias di sampingnya, tangan di pundak Evelyn.
Nyonya Alina di depan, pegang banner _Aurelia 2026_.
“1... 2... 3!”
Klik.
Foto itu nggak pernah di-upload.
Tapi Evelyn simpan di dompetnya.
Itu foto pertama mereka sebagai keluarga.
---
Jam 11 malam, tamu pulang.
Rumah balik sepi.
Balon masih nempel di langit-langit.
Kado numpuk di sudut.
Evelyn duduk di sofa, capek tapi senang.
Matthias duduk di lantai, nyender di kakinya, pijit betisnya pelan.
“Lo capek nggak?” tanya Matthias.
Evelyn ngangguk.
“Tapi capek yang enak.”
Matthias senyum.
“Gue senang liat lo senang.”
Evelyn elus rambutnya.
“Lo tahu nggak, gue mikir...
Kalau 3 tahun lalu ada yang bilang gue bakal ada di sini, ngerayain kehamilan gue sama lo, gue pasti ngak.”
Matthias ngangkat muka.
“Sekarang?”
“Sekarang gue bersyukur. Semua sakit itu nganter gue ke sini.”
Matthias pegang tangannya, cium pelan.
“Gue juga bersyukur. Karena lo nggak nyerah sama gue.”
Mereka diem.
Di atas, Aurelia gerak dikit.
Evelyn langsung pegang perut.
“Dia denger kita ngomong.”
Matthias naruh telinga di perut Evelyn.
“Nggak denger apa-apa.”
Evelyn ketawa.
“Ya iya lah, lo telinganya di luar.”
Mereka ketawa bareng.
Untuk pertama kalinya dalam lama banget, rumah itu nggak ada ketegangan.
Cuma ada tawa, capek, dan harapan.
---
Malam itu Evelyn tidur nyenyak.
Nggak mimpi buruk. Nggak bangun jam 3 pagi.
Dia mimpi kamar bayi yang mereka gambar.
Ada mainan, ada lagu pengantar tidur, dan ada dua orang dewasa yang nggak tidur demi jaga bayi kecil itu.
Besoknya, Evelyn bangun jam 8.
Matthias udah bikin sarapan. Gosong lagi.
Tapi Evelyn makan semuanya.
“Rasanya kayak cinta,” katanya sambil ketawa.
Matthias ngangkat alis.
“Cinta rasanya gosong?”
“Iya. Karena meski gosong, gue tetap mau.”
Matthias ketawa.
Dia ngambil ponsel, foto Evelyn yang lagi makan roti gosong sambil senyum.
“Buat kenangan,” katanya.
“Jangan di-upload.”
“Tenang. Ini cuma buat gue.”
---
Hari ke-145.
Evelyn kontrol lagi.
Denyut jantung Aurelia 148. Normal. Kuat.
Dokter bilang, “Ibu dan bayi sehat. Siap-siap aja, minggu ke-20 biasanya udah kerasa tendangan.”
Di mobil pulang, Evelyn ngeliat keluar jendela.
“Matthias.”
“Hmm?”
“Gue takut.”
Matthias langsung genggam tangannya.
“Takut apa?”
“Takut nggak jadi ibu yang baik. Takut Aurelia ngerasain sakit yang gue rasain.”
Matthias parkir di pinggir jalan.
Dia putar badan, tatap Evelyn langsung.
“Lo bakal jadi ibu terbaik. Karena lo udah ngerasain sakit, jadi lo tahu cara lindungin dia.
Dan gue ada. Gue nggak akan biarin dia ngerasain apa yang lo rasain sendirian.”
Evelyn ngangguk.
Air mata jatuh.
Tapi ini air mata lega.
Mereka pulang.
Makan siang.
Ngobrolin nama panggilan buat Aurelia.
Matthias mau panggil “Riri”.
Evelyn mau panggil “Lia”.
Akhirnya mereka sepakat: panggil dua-duanya. Biar bingung sendiri nanti.
---
Malam itu, sebelum tidur, Evelyn nulis di buku diary kecil yang baru dia beli.
Tulisannya cuma satu kalimat:
_“Hari ini, untuk pertama kalinya, gue nggak takut jadi ibu.”_
Dia tutup buku.
Matiin lampu.
Tidur di samping Matthias, tangan di perut.
Di luar, dunia masih ribut.
Tapi di dalam, mereka udah punya damai.
---
Bersambung..