NovelToon NovelToon
Pendekar Naga

Pendekar Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: DARAH DI WARUNG SUNYI

Angin siang yang tadinya berembus lembut tiba-tiba berhenti. Seolah alam ikut menahan napas, menyadari bahwa maut tengah mengintai di balik bayang-bayang pepohonan jati.

Di dalam warung kecil itu, suasana berubah drastis—dari kehangatan nostalgia menjadi ketegangan yang mencekam.

Rangga Nata masih duduk dengan posisi yang sama. Tenang, seolah tak ada yang terjadi.

Namun, sorot matanya telah berubah total; tidak lagi hangat, melainkan tajam dan dingin bagai mata pedang yang baru saja diasah.

Selasih di hadapannya pun tidak bergerak seinci pun. Namun, di bawah meja, jari-jarinya perlahan bergeser, menyentuh gagang pedang tipisnya yang tersembunyi di balik lilitan kain biru. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang mulai berpacu, bersiap untuk ledakan tenaga dalam.

Di sudut warung, dua pria berpakaian pengembara kasar itu saling bertukar pandang.

Wajah mereka tampak biasa, seperti rakyat jelata pada umumnya, namun aura membunuh yang mereka pancarkan tidak bisa menipu indera seorang pendekar kelas atas.

“Sudah lama aku tidak melihat pendekar muda sepeka ini…” salah satu dari mereka berdiri, membuat kursi kayu berderit nyaring.

Langkahnya berat dan mantap, setiap pijakannya mengandung tenaga dalam yang padat. Senyum miring tersungging di wajahnya yang penuh bopeng.

“Sejak kapan kalian menyadari keberadaan kami?” tanya pria satunya lagi, ikut berdiri dan menendang meja di depannya hingga terguling.

Rangga menghela napas pelan, seolah merasa terganggu saat makan siang.

“Sejak kalian masuk dan mencoba menyembunyikan langkah kaki kalian yang berat itu. Teknik Langkah Bayangan kalian masih terlalu kasar.”

Dua pria itu tertawa kecil, tawa yang kering dan penuh ejekan.

“Bagus… sangat bagus. Ternyata bocah ingusan ini memang punya nyali.”

Salah satu dari mereka mengeluarkan sebilah pisau pendek bergerigi dari balik pinggangnya.

Kilap logamnya dingin, memantulkan cahaya matahari yang masuk dari celah atap rumbia.

“Kalau begitu…” katanya pelan dengan suara yang parau, “…kalian juga pasti sudah tahu kenapa kami dikirim ke desa terpencil ini.”

Selasih tersenyum tipis, sebuah senyuman meremehkan yang membuat dahi lawannya berkerut.

“Untuk mengantarkan nyawa kalian?”

Pria itu tertawa keras, tawanya menggelegar di dalam warung yang sempit.

“Berani juga gadis Melati Putih ini! Cantik-cantik tapi mulutnya berbisa!”

Namun—belum sempat tawa itu selesai membahana—

WUSSS!!!

Tubuh Selasih melesat dari kursinya! Cepat, secepat bayangan burung walet yang menyambar mangsa!

“Hiyaaa!”

Pedang tipisnya terhunus dari balik kain, membelah udara dengan suara mendesing. Cahaya perak berkilat lurus mengarah ke leher lawan yang terdekat!

“Cepat sekali!” seru pria itu terkejut. Refleksnya masih cukup baik untuk mengangkat pisau pendeknya.

TRANG!!!

Benturan logam terjadi, memercikkan bunga api di udara. Pria bopeng itu berhasil menangkis, namun kekuatan totokan tenaga dalam Selasih membuatnya terdorong mundur dua langkah hingga menabrak tiang warung.

“Menarik… ternyata kau bukan sekadar pajangan cantik,” desisnya seraya mengusap tangannya yang kesemutan.

Sementara itu, pria kedua sudah bergerak! Ia tidak menyerang Selasih, melainkan melakukan gerakan memutar dan menusuk ke arah punggung gadis itu saat ia masih di udara! Sebuah serangan licik yang mengincar titik buta.

Namun, ia lupa akan satu sosok lagi di sana.

“Sangat tidak sopan menyerang seorang wanita dari belakang.” Suara Rangga terdengar dingin tepat di samping telinga pria itu.

Wuttt!

Tubuh Rangga menghilang dari kursi sudut seolah-olah ia bisa berpindah tempat dalam sekejap mata!

TRANG!!!

Pedang Naga Emas muncul di tengah lintasan serangan lawan. Rangga menahan tusukan itu hanya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap berada di belakang punggung.

Getaran keras menjalar dari pedang Rangga ke lengan si penyerang.

Pria kedua itu terpental mundur tiga langkah, matanya membelalak tak percaya melihat kekuatan fisik pemuda di depannya.

“Kau… kau si Naga Emas itu?!”

Rangga berdiri tegak di tengah warung, kain pembungkus pedangnya telah hancur berkeping-keping, memperlihatkan bilah emas yang memancarkan aura agung yang menindas.

“Kalau kalian datang atas perintah Macan Hitam…” suara Rangga rendah namun menggetarkan pilar kayu warung, “…seharusnya jangan kirim sampah selevel kalian.”

Dua pria itu saling pandang, rasa terkejut mereka berubah menjadi kemarahan yang liar. Mereka menyadari bahwa mereka tidak bisa lagi main-main.

“Baik…” kata salah satu dari mereka seraya merogoh kantong kecil di pinggangnya dan menelan sebuah pil merah. “Kita tidak akan menahan diri lagi!”

Sekejap, aura mereka berubah! Pembuluh darah di kening mereka menonjol, dan hawa di sekeliling mereka menjadi panas dan buas—efek dari Pil Pemicu Darah golongan hitam.

WUSSS!!!

Keduanya menyerang bersamaan dalam koordinasi yang apik! Satu menyerang bagian atas dengan tebasan lebar, sementara yang lain merangsek ke bawah dengan tusukan beruntun!

“Selasih! Jaga sayap kiri!” seru Rangga.

“Aku tahu!” jawab gadis itu sigap.

Mereka bergerak serempak, meski tanpa latihan bersama, ikatan batin pendekar golongan putih membuat gerakan mereka saling mengisi.

Selasih memutar tubuhnya dengan lincah, pedangnya menari membentuk pola lingkaran yang indah namun mematikan.

“Melati Menyibak Embun!”

Sret! Sret! Sret!

Tiga tebasan cepat Selasih memaksa lawannya mundur dengan luka sayatan kecil di dada. Sementara itu, Rangga melangkah maju satu langkah, menciptakan tekanan udara yang berat.

“Naga Menyapu Langit!”

Pedang Naga Emas bergerak lebar secara horizontal. Angin tajam berdesir mengikuti arah bilahnya.

TRANG!!!

Benturan keras kembali terjadi. Pria bopeng yang mencoba menahan serangan itu terlempar ke arah meja kayu. PRAKKK! Meja itu hancur berkeping-keping di bawah bobot tubuhnya.

“Ughhh!” Ia memuntahkan darah segar, namun berkat pengaruh pil setan itu, ia segera berdiri kembali dengan mata yang semakin merah liar.

“Tidak heran…” desis salah satu penyerang seraya menyeka darah di sudut bibirnya. “…Pemimpin menyuruh kami berhati-hati menghadapi murid Naga Emas.”

“Sayang sekali…” lanjut yang lain dengan seringai jahat, “kalian tetap akan berakhir menjadi mayat di warung kumuh ini.”

Rangga tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang membuat udara di sekelilingnya membeku. “Kalimat itu… sudah terlalu sering kudengar dari orang-orang yang kini sudah membusuk di bawah tanah.”

Tiba-tiba.

WUSSS!!!

Rangga menghilang dari pandangan!

“Di mana dia?!” teriak pria bopeng itu dengan panik, memutar tubuhnya ke segala arah.

“Tepat di belakangmu.” Suara itu tenang, namun bagi si penyerang, itu adalah vonis mati.

SRET!!!

Kilatan cahaya emas melintas dengan presisi yang mengerikan.

“AAAKHHHH!!!” Pria itu menjerit histeris saat lengannya tergores sangat dalam hingga menyentuh tulang. Darah hangat muncrat membasahi lantai tanah warung.

Selasih tidak menyia-nyiakan kesempatan saat lawan kedua teralih perhatiannya.

“HIYAH!”

Pedangnya meluncur bak kilat, menusuk bahu lawannya hingga menembus ke belakang.

DUG!

Pria itu mundur terhuyung-huyung, mencoba menahan pendarahan di bahunya.

Kini, kedua penyerang itu terluka parah. Dan untuk pertama kalinya, kabut ketakutan yang nyata muncul di wajah mereka, menelan keberanian buatan dari pil merah tadi.

“Kita mundur! Lapor pada Pemimpin!” teriak salah satu dari mereka seraya mencoba melempar bom asap ke lantai.

“Tidak ada kata mundur bagi pembunuh.” Suara Rangga terdengar dingin dan final. “Kalian datang untuk mencabut nyawa, maka siapkan nyawa kalian sendiri sebagai bayarannya.”

Rangga mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Matanya menyala, memancarkan wibawa naga yang murka.

“Naga Menghujam Bumi!”

Cahaya emas menyambar dari atas ke bawah!

PRRAAK!!! BLUARRR!

Dua tubuh itu terhempas keras ke luar warung, menghantam tanah dengan suara tulang patah yang memilukan. Mereka tergeletak diam, tak bergerak lagi. Nyawa mereka telah dicabut oleh keadilan Pedang Naga Emas.

Sunyi kembali menyergap. Hanya suara napas berat Selasih dan deru angin yang tersisa di dalam warung yang kini berantakan itu. Selasih menurunkan pedangnya perlahan, matanya masih tajam mengawasi sekitar, namun dadanya naik turun dengan cepat.

“Sudah selesai…” katanya pelan, mencoba menenangkan dirinya.

Rangga menyarungkan kembali pedangnya, namun otot-otot tubuhnya tidak sedikit pun mengendur. “Ini baru permulaan, Selasih.”

Selasih menoleh dengan wajah bingung. “Maksudmu?”

“Mereka sudah menemukan koordinat kita. Dua orang ini hanyalah umpan untuk mengukur kekuatan kita setelah kejadian di Istana,” Rangga menatap keluar warung, ke arah jalan desa yang kini tampak semakin sepi dan mencurigakan.

“Artinya… Macan Hitam atau pasukannya yang lebih besar tidak akan jauh dari tempat ini.”

Selasih menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis. Sebuah keberanian baru muncul di wajahnya. “Bagus kalau begitu.”

Rangga menoleh, sedikit terkejut. “Kau tidak takut? Tenaga dalammu belum pulih seratus persen.”

Selasih menggeleng mantap. Ia menatap mata Rangga dengan keyakinan penuh. “Selama kau ada di sampingku, Rangga… aku tidak akan pernah mundur satu langkah pun.”

Rangga terdiam sejenak, menatap ketulusan di mata gadis itu. Lalu, ia tersenyum tipis dan mengangguk.

“Kalau begitu… bersiaplah. Mari kita sambut mereka di luar.”

Rangga melangkah keluar dari warung menuju jalanan desa. Angin kembali berembus, namun kali ini ia membawa bau amis darah yang kental dan hawa dingin yang menusuk. Sebuah pertanda bahwa badai yang jauh lebih besar telah tiba untuk menjemput mereka.

Bersambung…

1
Ilman Xd
cerita apa ini dawk
anggita
ada visualisasi gambar tokohnya👌. like iklan👍☝
Idwan Syahdani: makasih kk udah mampir...
total 1 replies
angin kelana
lanjuuuuuttt mudah2n cerita selanjutnya makin seru...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!