NovelToon NovelToon
Cinta Dibalik Kontrak

Cinta Dibalik Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: DinaSafitri

Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CDK. 3

Suasana kafe sore itu dipenuhi cahaya temaram yang hangat. Alunan musik lembut mengalun dari sudut ruangan, berpadu dengan aroma kopi dan roti panggang yang menggoda. Di salah satu meja dekat jendela, tiga gadis duduk melingkar sambil menatap buku menu. Tawa kecil sesekali pecah di antara mereka, seolah dunia tak memiliki beban sedikit pun.

Widya menopang dagu sambil menatap dua sahabatnya bergantian.

“Lo mau pesan apaan?”

Ayi langsung mengangkat tangan seolah sedang rapat penting.

“Jus alpukat deh, sama snack-nya kentang goreng.”

Widya mengangguk pelan, lalu menoleh ke Alya yang sejak tadi lebih banyak diam. Namun sebelum Alya menjawab, Ayi kembali bersuara sambil merebut perhatian.

“Eh, bentar. Gue lagi diet. Gue pesan menu salad aja deh.”

Widya spontan mengernyit.

“Salad? Nggak salah tuh?”

Ayi mendelik tak terima.

“Nggak lah. Emang di mana letak salahnya? Bukannya orang diet itu makanannya yang sehat-sehat, ya? Salad kan isinya sayuran, berarti sehat dong?” ucapnya dengan wajah heran.

Widya menggeleng pelan, seolah baru saja mendengar teori paling aneh sedunia.

“Coba lo jawab pertanyaan gue dulu. Hewan darat terbesar di dunia makannya apa?”

Ayi mengerutkan alis.

“Hewan? Kenapa jadi ke hewan, sih? Kita lagi order makanan, lho.”

“Jawab dulu, ege!”

Ayi terdiam sejenak sambil berpikir keras.

“Gajah?”

Widya menjentikkan jari dengan bangga.

“Yup! Betul! Gajah makannya apa?”

“Eum... tumbuhan.”

“Nah, lihat! Badannya langsing nggak? Gue tanya! Mereka makan tumbuhan setiap hari, lho! Bahkan tiap menit. Segitu aja gue lihat-lihat...”

“Suwe lo!” Ayi mendecak kesal sambil melempar tisu ke arah Widya. “Yaudah, nggak jadi! Gue pesan ayam bakar satu, nasi pecel satu, sate tanpa lontong satu, terus minumannya jus alpukat satu, orange juice satu. Cemilannya gue mau sosis setengah, nugget setengah, otak-otak satu porsi!”

Widya sampai ternganga.

“Buset! Habis tuh?”

“Diem! Ini juga gara-gara lo, tauk!”

Tawa mereka pecah. Bahkan Alya yang sejak tadi murung sempat tersenyum tipis melihat tingkah dua sahabatnya.

Widya kemudian menoleh lembut pada Alya.

“Lo pesan apa, Al?”

“Strawberry juice aja deh.”

“Nggak makan?”

“Nggak. Gue masih kenyang.”

Widya memanggil pelayan dan menyerahkan pesanan. Setelah pelayan pergi, suasana mendadak berubah. Widya memperhatikan wajah Alya yang pucat dan matanya yang sayu.

“Lo kenapa sih? Akhir-akhir ini gue perhatiin kayaknya lesu banget. Lo ada masalah hidup, sampai tuh muka jelek banget kayak kertas habis diremes-remes.”

Alya mendelik.

“Apaan sih, lebay amat bahasa lo!”

“Ya lagian kayak nggak ada semangat hidup aja.”

Ucapan itu membuat Alya terdiam. Senyum tipis di wajahnya lenyap begitu saja. Ia menarik napas panjang, seakan sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang berat.

“Keluarga gue terancam bangkrut.”

Uhuk!

Uhuk!

Uhuk!

Widya dan Ayi yang sedang minum langsung tersedak bersamaan.

“Sorry! Bangkrut? Serius lo?” Widya menatap Alya dengan mata membulat tak percaya.

“Jangan bercanda deh, Al,” timpal Ayi cepat.

Alya menatap keduanya tajam.

“Gilak aja lu berdua! Nggak mungkin dong gue bercandain hal yang nyangkut keluarga. Aneh lu pada.”

Widya dan Ayi saling pandang. Raut wajah Alya terlalu serius untuk dianggap bercanda.

“Maaf deh,” ucap Widya lirih. “Soalnya kita jarang banget lihat lo mode begini. Jadi kita kira lo bercanda.”

“Iya, bener,” sambung Ayi. “Emang utang bokap lo berapa sih? Kok bisa lo bilang bakal bangkrut?”

Alya menunduk. Jemarinya saling meremas di bawah meja.

“Ratusan miliar maybe... kurang paham juga. Intinya keluarga gue terancam bangkrut. Kalau bokap gue nggak bayar sampai minggu ini, bokap gue bakal dipenjara.”

“HAAA?!” Widya dan Ayi berseru bersamaan.

Mereka tak menyangka sahabat yang selalu tampil ceria dan berkecukupan ternyata sedang berada di ujung jurang kehancuran.

“Gue turut prihatin ya, Al,” ucap Widya tulus.

“Gue juga,” sambung Ayi. “Terus sekarang gimana? Udah dapat bantuan belum?”

Alya menggeleng pelan. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Gue udah nawarin uang tabungan gue, tapi bokap gue nolak. Katanya itu uang buat biaya sekolah gue. Bokap gue nggak mau kalau sampai gue putus sekolah.”

Kalimat itu menggantung di udara, menyesakkan dada siapa pun yang mendengarnya.

“Tapi yang bokap lo bilang emang bener,” kata Widya mantap. “Pendidikan itu penting buat masa depan lo. Ntar gue coba ngomong sama orang tua gue, siapa tahu mereka bisa bantu.”

“Setuju!” Ayi menepuk meja semangat. “Gue juga nanti bakal ngomong sama nyokap gue. Tenang, Al. Lo nggak sendirian. Ada kita yang bakal bantuin lo. Ya, meskipun kita semua tahu ini nggak seberapa, tapi setidaknya bisa ngeringanin beban bokap lo.”

Alya menatap kedua sahabatnya dengan mata bergetar. Ia tak menyangka di tengah badai yang menghantam hidupnya, masih ada dua tangan yang siap meraih dan menahannya agar tak tenggelam.

“Kalian serius?” suaranya nyaris berbisik. “Thank you, guys... gue nggak bakal lupain jasa kalian. Suatu saat gue pasti bakal balas kebaikan kalian.”

Mereka bertiga tersenyum. Tanpa banyak kata, ketiganya saling berpelukan. Di tengah hiruk-pikuk kafe, persahabatan mereka terasa jauh lebih hangat daripada secangkir kopi mana pun.

~*~

“Mana laporan yang saya minta?”

Suara berat itu menggema di ruangan kantor mewah lantai sepuluh.

“Ini, Tuan.”

Seorang pria tinggi menjulang, sekitar 190 sentimeter, berkulit sawo matang dengan mata cokelat keemasan menerima berkas dari sekretarisnya. Di usia tiga puluh tahun, wibawanya begitu kuat hingga ruangan terasa tunduk hanya dengan kehadirannya.

Ia membuka lembar demi lembar laporan itu dengan tenang. Sorot matanya tajam, tak melewatkan satu detail pun.

“Foto.”

Jayden segera menyerahkan map lain.

Pria itu menerima dan memeriksa satu per satu gambar di dalamnya. Namun tangannya berhenti pada satu foto. Seorang gadis muda dengan wajah manis dan mata teduh.

“Siapa ini?”

“Itu Alya Gabrielsen, putri bungsu keluarga Gabrielsen. Usianya delapan belas tahun dan masih duduk di bangku sekolah, Tuan.”

Pria itu terdiam lama. Entah apa yang berputar di kepalanya. Ia lalu mengangguk dan mengembalikan semua berkas, kecuali foto Alya.

Ia bangkit, berjalan ke arah jendela besar sambil menggenggam foto itu. Kota terbentang megah di bawah sana.

“Apakah keluarga ini sudah menemukan bantuan?”

Jayden menggeleng.

“Belum, Tuan. Tuan Tyo masih mencari bantuan, namun tak satu pun siap membantu. Dari seratus persen orang, kemungkinan hanya lima persen yang mau membantu. Dan waktunya hanya tersisa dua hari lagi. Jika dalam dua hari ia tak mendapat bantuan, keluarga mereka akan jatuh miskin dan Tuan Tyo akan dipenjara.”

Sebuah ketukan pintu memotong pembicaraan.

Jayden membukanya. Meysa berdiri dengan sopan.

“Ada apa, Meysa?”

“Maaf, Tuan. Tapi ibu dari Tuan Max ingin bertemu.”

“Suruh tunggu di bawah. Saya akan menyusul.”

Bukan Jayden yang menjawab, melainkan Max sendiri.

Meysa mengangguk dan pergi.

Jayden menoleh sambil menghela napas.

“Kenapa nggak disuruh masuk? Biasanya juga main nyelonong aja.”

Kini jam istirahat telah tiba, dan hubungan formal mereka berubah menjadi santai. Sebab Jayden bukan hanya sekretaris, tetapi juga sahabat lama Max.

“Aku tidak ingin mendengarkan mulutnya yang cerewet itu,” jawab Max datar. “Makanya aku menyuruh Meysa untuk tidak membiarkan siapa pun datang, termasuk mamaku sendiri.”

Jayden hanya geleng-geleng kepala. Di balik sikap dinginnya, ia tahu Max tetap menyayangi wanita yang telah melahirkannya.

Sementara itu dilobi-

“Maaf, Nyonya. Tuan mengatakan untuk Anda menunggu saja. Sebentar lagi Tuan akan menyusul,” ujar Meysa hati-hati.

“Apaaa?! Dasar anak durhaka! Awas saja kamu, MAX ALEXANDER WIJAYA, PRIA BUJANG TIDAK LAKU YANG SUDAH TUA!” geram Isabella hingga membuat seluruh orang dilobi menoleh.

~*~

“Dari mana saja kamu? Kenapa baru pulang sekarang?”

Di rumah megah yang kini terasa dingin, Tyo bertanya dengan wajah datar.

Helena memutar bola mata malas.

“Jawab, HELENA!” bentaknya lagi.

“Mau aku ke mana, pulang ataupun nggak, itu semua nggak ada urusannya denganmu, Pah!”

“Nggak ada urusan bagaimana? Aku ini suami kamu, Helena! Aku berhak bertanya ke mana kamu semalam dan baru pulang sekarang!”

“Terserah Mama!” bentak Helena balik. “Daripada Papa mikirin Mama ke mana dan sama siapa, lebih baik Papa pikirkan diri Papa yang sebentar lagi masuk penjara!”

“Ini juga Papa lagi berusaha, Mah!”

“Berusaha apanya?” suara Helena penuh hinaan. “Papa itu cuma ongkang kaki dan baca koran yang nggak jelas! Sadar kamu, Pah. Kita sebentar lagi bakal jatuh miskin. Dan itu semua gara-gara kamu!”

Helena berlalu pergi meninggalkan ruangan.

Sunyi mendadak menyelimuti rumah besar itu. Tidak ada lagi kemewahan yang terasa megah. Yang tersisa hanya bayang-bayang kehancuran.

Tyo mengusap wajahnya kasar, lalu menjatuhkan tubuh ke sofa. Bahunya yang biasanya tegak kini tampak runtuh.

Untuk pertama kalinya, seorang pria yang pernah berdiri di puncak segalanya mulai merasakan bagaimana rasanya kehilangan dunia.

1
Neng Nosita
apa yg drencanakan max? apakah pernikahan hanya dijadikan alat bagi mereka yg berkuasa?
Barru Kab
mana kelanjutannya thor
Dina Safitri: OTW yaa🤭
total 1 replies
Neng Nosita
semoga nanti Max mengetahui kelicikan ibu mertuanya
Neng Nosita
wah..siapa tuh?
Neng Nosita
lamaran yang jauh dari kata romantis,...😄
Neng Nosita
sak sek syok pasti si Alya...
Neng Nosita
uuuh..seru thor👍
Dina Safitri: MasyaAllah terimakasih sudah mampir kakak. mohon untuk saran keritikan nya😍

cerita ini masih dalam proses kontrak, begitu kontrak turun aku akan melanjutkan ceritanya. sekali lagi terimakasih karena sudah mampir🙏
total 1 replies
pieyyy
bgs kak, sini mampir bntr kak aku baru keluarin karya baruku, makasihh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!