NovelToon NovelToon
Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

​Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
​Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
​[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
​Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Tagihan Pertama yang Berbuah Hasil

Darren berdiri di trotoar kawasan industri Sunter saat sinar matahari pagi mulai menyengat kulit, namun beban di pundaknya terasa jauh lebih berat daripada hawa panas itu sendiri. Belum lagi wajahnya yang lebam dan pakaiannya yang penuh sobekan akibat dihajar habis itu tampak mencolok bagi keramaian lalu lintas pabrik.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya sebuah bus kota berhenti di depannya. Tanpa arah yang pasti, Darren menaiki anak tangga bus karena ingin menjauh sejauh mungkin dari gudang terkutuk itu. Sementara di dalam bus yang guncangannya terasa hingga ke tulang, perhatian pria itu tertuju pada telapak tangannya. Tangannya itu masih bergetar akibat sisa reaksi biologis dari pukulan benda tumpul yang diterimanya semalam, pertanda bahwa saraf fisiknya sedang berusaha memproses trauma.

“Sial, tanganku masih sekaku ini hanya karena dihajar cecunguk-cecunguk itu,” pikir Darren sambil mengepalkan tangan.

Pada saat yang sama pula notifikasi transparan muncul di depan pandangannya.

Saldo Debit Kolektor 50 DK. Efek fisik akan pulih dalam dua jam. Sistem menyarankan untuk menghindari aktivitas berat.

“Hanya dua jam? Sistem ini benar-benar tidak masuk akal,” batinnya tak percaya. Dua jam memang merupakan durasi yang sangat singkat untuk memulihkan tubuh yang nyaris hancur. Darren menyandarkan kepala pada kursi. Dia membiarkan kendaraan itu membawanya menuju terminal pusat, menjauh dari ingatan pahit di kawasan Sunter. Begitu bus berhenti, Darren turun dengan kaku, namun lambat laun sendi-sendinya mulai bergerak lebih luwes.

Terminal pagi itu merupakan muara dari segala jenis aktivitas manusia. Darren mengambil tempat duduk di sebuah bangku kayu panjang yang catnya sudah mengelupas. Matanya mulai mengamati kerumunan. Seorang kuli angkut lewat tepat di depannya, memanggul beban berat hingga kaosnya basah oleh peluh. Sedangkan di atas kepala pria itu, sebaris angka melayang dengan cahaya yang mencolok.

Utang Keberuntungan Rp0. Utang Umur 0 tahun.

Itu artinya pria itu bersih. Meskipun hidupnya tampak sulit di bawah tekanan beban fisik, dia tidak memikul utang karma apapun. Pandangan Darren beralih pada seorang ibu yang sedang sibuk membolak-balik gorengan di sudut terminal. Angka di atas kepalanya menunjukkan hasil yang identik.

“Jadi tidak semua orang punya utang keberuntungan? Kupikir sistem ini bakal menandai semua orang,” Darren menyimpulkan dalam kepalanya.

Pengamatan itu memunculkan sebuah pemahaman baru dalam benak Darren tentang kemiskinan yang ternyata tidak berbanding lurus dengan tumpukan dosa finansial spiritual. Sebagian besar orang yang berlalu lalang memiliki catatan yang bersih. Namun apakah semua orang seperti itu? Melihat seorang pria muda bertato yang sedang duduk di warung. Angka di atas kepalanya menyala dengan warna yang berbeda.

Utang Keberuntungan Rp45.000.000. Utang Umur 1 tahun 3 bulan.

“Nah, ini dia. Pria itu pasti pernah melakukan sesuatu yang sangat busuk sampai punya tagihan puluhan juta,” Darren menatap pria bertato itu dengan tajam.

Dia tidak tahu kejahatan apa yang telah diperbuat pria itu, sebab sistem tidak memberikan rincian peristiwa selain angka yang terpampang di sana. Kemampuan ini memang instrumen untuk menargetkan siapa yang memiliki utang besar, dan itu merupakan kunci utama bagi kelangsungan hidupnya sekarang.

Setelah menyelesaikan pesanan nasi rames di sebuah warung, notifikasi lain muncul tepat saat Darren hendak merogoh saku.

Rekening Sistem aktif. Saldo saat ini Rp0. Apakah Anda ingin mempelajari fitur ini?

“Rekening Sistem? Apa ini semacam dompet digital tapi versi gaib?” Darren yang penasaran pun menyentuh pilihan 'Ya' di dalam pikirannya.

Alhasil sederet penjelasan teknis segera memenuhi ruang pandangnya. Setiap tagihan yang berhasil ditarik akan dikonversi menjadi keberuntungan cair di dalam Rekening Sistem. Uang itu dapat diambil melalui mesin ATM mana pun dengan perintah khusus. Batas penarikan harian untuk tingkat pertama adalah Rp50 juta. Rekening itu juga berada di luar jangkauan radar perbankan konvensional dan sepenuhnya bebas dari potongan pajak pemerintah.

Tentu saja Darren sampai membisu dibuatnya.

“Tunggu dulu, kalau batas hariannya saja lima puluh juta, berarti uang Herman yang kemarin benar-benar ada di sana?” Darren segera memeriksa detail lebih lanjut.

Total keberuntungan yang terkumpul: Rp635.000.000 (Milik Herman Salim). Status: Tersedia.

“Enam ratus tiga puluh lima juta! Ini gila! Aku bisa membeli kehidupan yang baru dengan uang sebanyak ini,” rasa tidak percaya bercampur dengan harapan yang menyakitkan mulai menyinggahi rongga dadanya.

Notifikasi berikutnya menjelaskan bahwa untuk mencairkan dana, dia hanya perlu mengucapkan kata sandi tertentu di depan mesin ATM. Penarikan perdana tidak dikenakan biaya, sementara transaksi selanjutnya akan dipotong sebesar satu persen sebagai biaya operasional sistem. Darren menarik napas panjang, berulang-ulang sampai jantungnya lebih tenang. Ternyata, entitas supernatural ini pun tetap memiliki aturan mainnya sendiri.

Langkah kaki Darren membawanya menuju sebuah mesin ATM di pojok terminal. Suasana di sekitar area itu cukup sepi. Para pedagang kaki lima terlalu sibuk dengan pelanggan masing-masing untuk memedulikan seorang pria dengan pakaian robek yang berdiri mematung di depan mesin.

Darren memastikan keadaan sekitar sekali lagi sebelum berbisik. "Tarik."

Layar mesin itu lantas berkedip-kedip dengan cepat. Logo bank yang semula ada di sana lenyap, berganti dengan tampilan layar hitam dan teks putih yang kontras.

Sistem terhubung. Verifikasi identitas berhasil. Saldo Rp635.000.000. Batas harian Rp50.000.000. Masukkan nominal.

“Aku masih tidak percaya ini benar-benar berhasil! Ayo, cepat keluarkan uangnya!” Telunjuk Darren yang masih terasa sedikit kaku itu terus menekan angka 50.000.000 meski beberapa kali salah. Proses itu hanya memakan waktu beberapa detik saja sampai hitungan mundur dimulai dari angka tiga, dua, lalu satu.

Suara dengungan mesin terdengar nyaring sebelum pintu tempat keluarnya uang terbuka dan menyingkapkan tumpukan lembaran seratus ribu rupiah yang masih terikat rapi dengan segel kertas. Darren segera mengambil tumpukan itu. Tekstur kertasnya terasa nyata di bawah kulit telapak tangannya. Siapapun tahu jika ini bukan tipu muslihat.

“A-asli! Ini uang asli! Akhirnya aku punya modal untuk membalas mereka satu per satu,” batinnya sambil tersenyum dingin.

Lantas pria itu segera memasukkan uangnya ke dalam tas pinggang. Tas itu menggembung secara tidak wajar, memaksa resletingnya menegang maksimal. Begitu uang berpindah tempat, layar ATM kembali ke tampilan semula. Tidak ada struk yang keluar, alih-alih suara peringatan. Kamera pengawas di atas mesin itu pun tampak mati, tidak menunjukkan aktivitas perekaman.

Darren berjalan menjauh dengan detak jantung yang berpacu. Ada kesadaran yang tajam bahwa setiap langkah yang dia ambil sekarang telah memutus hubungannya dengan kehidupan lamanya sebagai pria yang selalu kalah.

Kini rumah sakit adalah tujuan berikutnya. Darren tidak memiliki alasan untuk pulang ke kontrakan yang kini hanya berisi kenangan pahit tentang kepergian Rina dan Cello. Begitu memasuki ruang rawat inap kelas tiga, aroma antiseptik yang tajam menyambut indra penciumannya.

Ibunya terbaring di atas tempat tidur dengan wajah yang tampak lebih pucat dari kemarin. Matanya terbuka perlahan saat menyadari kehadiran sang putra.

"Darren?" ucap Lastri dengan sangat lemah.

Darren pun duduk di kursi plastik yang ada di samping ranjang, lalu meraih tangan ibunya yang terasa dingin. "Iya, Bu. Nanti aku akan urus perpindahan ke kamar yang lebih nyaman."

Lastri menggelengkan kepala. Dia menyuarakan kekhawatirannya tentang biaya yang pasti sangat mahal meski Darren mempererat genggamannya, berusaha memberikan keyakinan melalui sentuhan itu. Dia meminta sang ibu untuk tidak lagi memusingkan soal uang.

"Aku bisa membayar semuanya sekarang, Bu," kata Darren dengan tenang.

Ada keraguan yang jelas terpancar dari mata Lastri. Dia bertanya dari mana asal uang yang sedemikian banyak itu. Sementara Darren telah menyusun sebuah cerita di dalam kepalanya. Dia menjelaskan bahwa itu adalah hasil investasi lama yang baru saja membuahkan hasil. Kebohongan itu terasa pahit saat diucapkan, namun itu merupakan opsi terbaik daripada menjelaskan kontrak supernatural yang sulit diterima nalar.

Setelah memastikan ibunya tertidur kembali, Darren melangkah keluar menuju koridor rumah sakit yang mulai sepi. Cahaya lampu menyinari wajahnya yang masih penuh lebam. Dia pun menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan pikirannya yang berkecamuk.

Notifikasi sistem muncul untuk terakhir kalinya pada babak ini.

Penarikan Rp50.000.000 berhasil. Sisa saldo Rekening Sistem: Rp585.000.000. Target berikutnya tersedia.

Nama Andre Gunawan muncul di baris berikutnya. Darren teringat kembali pada pria itu. Sosok pengusaha muda yang menghancurkan map utangnya dan tertawa saat dia harus memunguti uang di atas aspal yang basah oleh air hujan. Yang jelas Andre menganggapnya tak lebih dari sekadar sampah di pinggir jalan.

“Andre Gunawan. Kamu pikir kamu bisa terus sombong setelah apa yang kamu lakukan padaku? Tunggu saja besok. Aku akan memastikan kamu memohon padaku sambil bersujud,” Darren mengepalkan tangannya kuat-kuat. Bukan sekadar amarah yang kini dia rasakan, melainkan ketetapan hati yang sangat dingin. Dia tahu persis apa yang harus dilakukan selanjutnya. Besok, dia akan menemui pria itu. Jakarta mungkin masih terlihat sama bagi orang lain, namun bagi Darren, kota itu kini berubah menjadi ladang penagihan yang luas.

Andre Gunawan. Utang Keberuntungan Rp850.000.000. Utang Umur 5 tahun 2 bulan. Tagihan siap dieksekusi.

1
Bg Gofar
mantap gan
DanaBrekker: terima kasih 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!