NovelToon NovelToon
SKENARIO TUAN DANENDRA

SKENARIO TUAN DANENDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Dijodohkan Orang Tua / Duda
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lovelyiaca

[TAHAP REVISI] [UPDATE 3 HARI SEKALI]

Elleta Clarissa Crassia, ia tahu bahwa nama belakangnya bukanlah hal yang harus di banggakan. Terlahir dari keluarga pengusaha sukses membuatnya menahan beban yang tak seharusnya ia pikul. Keputusan sang ayah membuatnya tak memiliki pilihan, sebuah perjanjian bisnis dengan kata "pernikahan."

Elleta di jodohkan dengan laki-laki, pewaris utama keluarga Danendra. Steve Athariz Danendra, laki-laki dingin yang katanya tak pernah tersentuh. Dan semuanya berawal dari sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Singa juga punya sisi lembut

PRANG!

​Suara nyaring kaca yang menghantam marmer lantai terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangan Elleta. Lampu aromaterapi kesayangannya pecah berkeping-keping, meninggalkan aroma lavender yang menusuk, bercampur dengan bau debu dan keputusasaan.

Tubuh Elleta yang sudah tidak terisi nutrisi sejak pagi tak mampu lagi menopang beban emosinya. Ia limbung, jatuh bersimpuh tepat di antara serpihan kaca yang berkilau tajam.

​Napasnya memburu. Matanya yang sembab menatap nanar pecahan kaca di dekat telapak tangannya. Sebelum ia sempat memungut pecahan yang paling tajam untuk sekadar melampiaskan rasa sakit di dadanya, sebuah bayangan hitam muncul di ambang pintu.

​"Elleta!"

​Steve sudah berada di sisinya dalam sekejap. Kecepatan gerakannya nyaris tidak manusiawi. Wajah yang biasanya sedingin es itu kini menyiratkan ketegangan yang nyata, hampir menyerupai kemarahan.

"Aku tahu kamu masih butuh bantuan, El. Itu sebabnya aku tidak langsung pergi dari balkon tadi," bisiknya rendah, suaranya mengandung otoritas yang membuat nyali Elleta menciut seketika.

​Tanpa menunggu persetujuannya, karena Elleta memang tak punya lagi sisa tenaga untuk mendebat dengan Steve menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung gadis itu.

Ia mengangkat tubuh Elleta dalam bridal style. Begitu ringan, namun bagi Elleta, pelukan itu justru terasa seperti jeruji besi yang perlahan merapat. Ia dibaringkan di ranjang dengan gerakan yang hampir terlalu hati-hati, seperti menangani benda porselen yang bisa hancur berkeping-keping dengan sentuhan sedikit saja.

​Berapa banyak wanita yang sudah ia perlakukan semanis ini? batin Elleta sinis, meski jantungnya berkhianat dengan detak yang tak beraturan. Kelembutan ini terasa palsu, sebuah taktik untuk melumpuhkan harga dirinya.

​"Sudah tahu tidak makan seharian sampai lemas, masih saja keras kepala. Meminta tolong itu tidak sesulit itu, El," sindir Steve tenang. Pria itu tidak segera pergi. Ia justru beranjak ke sudut kamar, mengambil sapu dan pengki, lalu membersihkan serpihan kaca dengan telaten.

Pemandangan seorang pengusaha yang memegang alat kebersihan terasa begitu surealis, namun di tangan Steve, semuanya tampak wajar. "Tunggu di sini. Aku ambilkan makanan."

​Di lantai bawah, Yuda dan Rena menunggu dengan wajah pias. Suasana ruang tamu terasa begitu mencekam. Begitu melihat Steve turun, mereka langsung menghampiri.

​"Bagaimana keadaannya?" tanya Yuda cemas.

​"Hanya kelelahan karena perutnya kosong, Tuan. Tadi ia hampir terluka, tapi sudah saya bersihkan semuanya," jawab Steve sopan, namun suaranya menyiratkan peringatan agar mereka tidak mengganggu Elleta untuk sementara waktu.

​Rena segera berlari kecil ke dapur, menyiapkan nampan berisi sayur lodeh dan nasi hangat dengan tangan yang masih gemetar. Ketika Steve kembali ke kamar, ia mendapati Elleta tengah mematung, menatap ponselnya dengan gelisah.

Saat aroma masakan rumahan itu memenuhi ruangan, perut Elleta tak bisa membohongi tuannya, suara gemuruh kecil terdengar, mengkhianati harga dirinya.

​Steve meletakkan nampan di nakas. Elleta membuang muka, berusaha keras untuk menulikan indranya dari aroma yang begitu menggugah selera itu. "Ngapain repot-repot? Aku enggak akan memakannya. Keluar dari kamarku, Steve!"

​Steve tidak memedulikan usiran itu. Ia mengambil sendok, menyendokkan nasi, dan menyodorkannya tepat di depan bibir Elleta.

"Makan, El. Atau kamu mau aku menggunakan cara yang lebih... memaksa agar kamu mau menelan makanan ini?"

​Elleta berdecak kesal, namun akhirnya membuka mulut. Sedikit saja, pikirnya. Tapi rasa lapar yang menyiksa membuat pertahanannya runtuh.

Tanpa sadar, piring itu akhirnya bersih. Steve hanya memperhatikan dengan senyum tipis yang sulit diartikan, sebuah seringai predator yang puas melihat mangsanya akhirnya patuh.

​"Katanya enggak mau, tapi habis juga," ejek Steve pelan.

​"Itu karena lodehnya yang enak, bukan karena kamu!" sembur Elleta tajam, wajahnya memerah karena malu.

​Saat Steve mencoba mengelus rambutnya, Elleta menepisnya kasar. "Aku mau mandi. Pergi!"

​Steve mengangguk, lalu beranjak pergi tanpa membantah. Namun, ia tidak benar-benar pergi. Sesaat setelah keluar dari kamar, Steve mengunggah sesuatu ke media sosialnya, foto yang ia ambil diam-diam melalui kamera tersembunyi di kacamatanya.

Foto tangan seorang pria dengan jam tangan hitam yang menopang tangan gadis dengan tato kecil bertuliskan Elleta C di pergelangan tangannya, dengan latar belakang serpihan kaca.

​Caption: "Siapapun yang berani mengusik hak milik Steve Athariz Danendra, berurusan langsung denganku."

​Dalam sekejap, internet gempar. Semua orang tahu itu tangan Elleta. Komentar-komentar hujatan yang tadi menyerang akun Elleta lenyap seketika, tertutup oleh keheningan ketakutan yang masif. Steve merasa puas. Ia melangkah ke ruang tamu di mana Yuda dan Rena sedang duduk. Yuda menunjukkan layar ponselnya dengan wajah tak percaya.

​"Ini ulahmu, bukan? Jika benar, saya berterima kasih banyak, Steve," ujar Yuda sambil bangkit dari kursinya, memberikan bungkukan hormat yang diikuti oleh istrinya.

​Steve menjawab dengan nada yang meremehkan masalah tersebut. "Itu hanya masalah kecil, Tuan. Apa yang sudah menjadi milik saya, tidak akan bisa disentuh orang lain dengan tangan kotor mereka. Saya tidak suka barang milik saya dipermainkan oleh orang-orang yang tidak memiliki kelas."

​Tak lama kemudian, Elleta turun dengan piyama pink yang lembut. Tanpa menyapa orang tuanya, ia menarik lengan Steve menuju sudut ruangan yang sepi. Elleta menunjukkan ponselnya yang sudah bersih dari hujatan.

​"Ini ulahmu, kan? Kenapa harus melakukan ini? Aku tidak minta bantuanmu!" desis Elleta tertahan.

​Steve menatapnya lekat, lalu berbisik di samping telinganya, "Yakin tidak butuh? Apa Daniel, kekasihmu itu, bisa melakukan ini untukmu?"

​Tubuh Elleta menegang. Rahangnya mengeras. Ia tidak bisa membantah kenyataan bahwa pria yang ia harapkan justru menghilang saat dunianya dihancurkan. Ia merasa kecil di depan Steve, namun ia enggan menunjukkan kelemahannya.

​"Aku melakukan ini karena aku tidak suka apa yang bakal menjadi milikku dicemarkan oleh mulut kotor orang lain," tegas Steve, suaranya berat dan penuh penekanan.

​"Pasti ada harga yang harus kubayar, kan?" tantang Elleta, menatap manik mata pria itu dengan sisa keberanian yang ia miliki.

​Steve tersenyum miring. "Mungkin. Bersiaplah, Elleta. Waktunya akan segera tiba. Jangan pernah menganggap bantuan ini gratis."

​Setelah Steve berpamitan dengan langkah angkuh, Elleta terpaku di tengah ruangan. Belum sempat ia menarik napas, Yuda sudah berdiri di depannya dengan tatapan dingin yang menusuk.

​"Cari laki-laki yang sesuai kastamu, El. Dengan begitu, kamu akan diperlakukan seperti ratu, bukan mengemis perlindungan pada pria seperti dia," ujar Yuda tajam, tanpa menyadari bahwa justru dialah yang membiarkan Steve masuk ke dalam hidup putrinya.

​Elleta menatap ayahnya dengan keberanian terakhir yang ia miliki. "Aku tidak butuh omongan Papa soal kasta. Papa sendiri yang menjualku, jangan salahkan aku jika aku mulai membenci pembelinya."

​Tanpa menunggu balasan, Elleta berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan ayahnya dalam kesunyian yang membara. Di lantai atas, ia membanting pintu kamarnya, menyisakan deru napas yang sesak.

Malam itu, Elleta menyadari satu hal: ia bukan lagi sekadar gadis yang bisa dikendalikan. Ia telah menjadi properti, dan sang pemilik telah memberikan tanda kepemilikan yang tidak bisa dihapus oleh siapa pun.

1
Maryati ramlin
cerita bagus di tunggu kelanjutan
Lovelyiaca: Terima kasih sudah membaca karyaku, di tunggu kelanjutannya ya 🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!