Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.
Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.
Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.
Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 - Kepingan yang Kembali Hadir
Nala masih terdiam. Kepalanya rasanya sangat pusing, banyak hal yang rasanya terlalu kebetulan dari foto-foto yang ada Instagram pria itu. Nala melihat Arya yang tampak biasa saja, terlihat tenang.
“Bisa kau jelaskan Tuan Wijaya?”
“Dunia ini begitu luas, nona. Hanya kebetulan kita berada di tempat yang sama.” Terdengar masuk akal, namun Nala bisa melihat bahwa itu hanyalah sebuah alasan semata.
Tak ingin membantah, Nala memilih bungkam. Terlalu banyak yang bisa dia pikirkan dari masalah tak jelas seperti ini. Lagipula jawaban Arya cukup terdengar nyata baginya.
Jika Nala memilih diam, maka Zara dan Citra tampak antusias. Mereka tak menyangka akan ada sebuah kebetulan yang mendukung sandiwara mereka. Bagi mereka ini terlalu kebetulan, apalagi foto itu terlihat sama persis. Terutama foto makanan di sebuah kafe dengan kota Semarang yang tersemat dalam foto itu terlihat satu foto yang sama dengan diambil orang yang sama, bukan foto yang berbeda.
Zara dan Citra saling pandang, seolah ada sebuah teka-teki yang baru saja hadir. Mereka kali ini menyusun potongan puzzle yang begitu berserakan, tak menentu arahnya. Sebuah misteri yang harus mereka pecahkan, apalagi ini menyangkut masa lalu Nala yang sempat hilang.
Melirik kedua sahabatnya yang tampak ingin menggodanya langsung dengan cepat ia memberi kode untuk diam. Dia tak ingin masalah ini semakin panjang.
“Nona Nala dan Tuan Arya, dipanggil Tuan Hari!” ujar staff memanggil Nala dan Arya.
Nala diam, dia tak akan membahas ini lebih lanjut. Wajahnya langsung memperingatkan Zara dan Citra yang terlihat akan berbuat sesuatu. “Diam, jangan bertingkah!” ujarnya tanpa suara. Zara dan Citra yang bisa membaca gerak bibir Nala hanya tertawa kecil.
...****************...
Setelah pemotretan, Nala tanpa sengaja memperhatikan mata Arya. Nala tampak sangat mengenali sorot mata Arya. Bahkan dari sisi samping, Nala mampu melihat mata Arya dengan jelas. Saat melihat Arya akan pergi, Nala menghentikan langkah Arya.
Arya merasa Nala sedang menarik tangannya membuatnya menghentikan langkahnya. Berbalik, melihat ke arah Nala yang tampak memperhatikannya. “Ada apa?” Suara mungkin terdengar pelan, namun semua orang mampu mendengarnya.
Nala fokus memperhatikan mata Arya. Tangannya terulur menutupi area hidung hingga bibir Arya, hanya memperlihatkan area mata Arya saja. Seketika sebuah bayangan masuk ke dalam ingatan Nala. Nala mengenali sorot mata itu, namun dia tak mengingat siapa bayangan itu.
“Kenapa?” Arya bingung melihat reaksi kaget milik Nala yang terlihat berlebihan. Tangan Nala yang bergetar langsung ia pegang. Terasa dingin, seakan tangan itu baru saja menyentuh sebongkah es.
“Nala??” Arya memanggil-manggil Nala dengan nada khawatir sembari menepuk pelan pipi Nala, berusaha menyadarkan Nala yang tenggelam dalam pikirannya sendiri
Tersadar, Nala segera melepas pegangan tangan mereka. Degup jantung Nala berdetak kencang, tak bisa ia kendalikan. Memilih pergi, Nala berjalan menjauh meninggalkan Arya. Lila yang melihat itu segera menyusuli Nala.
Arya yang tak tau menahu apa yang baru saja terjadi ikut mengejar Nala. Dengan berjalan cepat, Arya berusaha mengejar Nala yang telah berjalan cukup jauh di depannya.
“Vika!” Teriakan Arya membuat Nala terhenti, begitu juga dengan Lila. Tubuh Nala seketika menegang, kepalanya terasa berat. Degup jantungnya seakan terhenti sejenak, mendengar nama itu kembali terdengar oleh telinganya. Nama yang terkesan akrab, namun sangat asing baginya. Rasanya, sangat tak bisa ia jabarkan.
Berbalik, Nala menghadap ke arah Arya yang berdiri di belakang. “Tidak mengurangi rasa hormat, bisakah Tuan Wijaya tidak memanggil saya dengan nama itu.” Arya sedikit terkejut mendengar intonasi Nala yang terdengar dingin. Ini adalah pertama kalinya setelah sekian lama ia tak mendengar Nala menggunakan nada yang begitu dingin padanya. Nada yang sama saat pertama kali mereka bertemu. Nada itu, nada yang sama saat Nala tak mengenalnya saat pertama kali bertemu.
“Kenapa? Kenapa aku tak boleh memanggilmu dengan nama itu setelah tadi kau menyetujuinya?” Dengan perlahan Arya berjalan mendekat ke arah Nala yang masih terpaku.
“Kenapa kau baru menyuarakan Ketidak setujuanmu, setelah menerima panggilan itu tersemat pagi tadi?”
“Apakah kau menyukai panggilanku untukmu?”
Langkah demi langkah Arya ambil. Setiap pertanyaan yang ia ajukan, setiap itu pula Arya melangkah mendekat ke arah Nala. Respon diam Nala adalah kesempatan Arya mendekat tanpa adanya sebuah bentrokan. Saat tepat berdiri di depan Nala, Arya mendongakkan kepala Nala agar melihat ke arahnya.
“Kenapa kau diam saja, Nona Nala?”
Saat mendongak, Nala dapat melihat wajah dingin Arya. Nala kembali menyelam ke arah mata Arya yang seolah membuatnya ingin menyelam di dalamnya. Kembali merasakan sakit, Nala mengernyitkan dahinya, mencoba menahan rasa sakit yang kembali datang.
“Vika?!” Tak bisa dipungkiri, Arya begitu khawatir saat melihat pujaan hatinya merasakan sakit. Dengan cepat, Arya menopang wajah Nala dan memeriksa keadaannya.
Di belakang, Lila juga ikut khawatir. Dia ingin mendekati Nala, namun terhenti saat Kevin menghalanginya.
“Jangan mendekat, biarkan mereka berbicara.” Kevin tak akan membiarkan siapapun mendekat ke arah taunnya. Bagi Kevin ini adalah kesempatan mereka untuk berbicara empat mata, tanpa ada gangguan dari pihak manapun.
“Tapi–“
“Bukankah kau juga ingin tau apa yang terjadi bukan? Apa kau tidak penasaran dengan mereka? Apa kau tak merasa bahwa foto-foto yang terlihat sama itu terlalu kebetulan?” Lila terdiam, mencerna setiap kata yang diucapkan Kevin. Jika dianggap kebetulan, memang itu terlalu kebetulan baginya. Itu terasa bukan ketidaksengajaan, namun memang beberapa foto terlihat sama.
“Anda tau sesuatu?” Lila melihat ke arah Kevin yang hanya memilih diam, mengamati kedua pasangan itu.
“Jawab? Pasti Anda tau sesuatu bukan?”
“Kau berapa lama bekerja untuk Nona Nala?” Pertanyaan itu diajukan setelah Kevin memilih diam beberapa saat.
“Kurang lebih 13 tahun, atau bisa saja kurang dari itu.”
Kevin tersenyum sinis. Lila telah bekerja cukup lama untuk Nala, namun tak mampu mengenali Arya. Dalam pikiran Kevin saat ini banyak sekali lubang dalam kisah keduanya. Rahasia milik Nala, membuat semuanya tampak nyata namun sebenarnya tak lengkap.
“Biarkan saya sendiri, tuan. Saya permisi!” Melihat Nala pergi, dengan cepat Lila mengejar Nala. Kemudian melirik sebentar ke arah Arya, kemudian kembali menyusul Nala.
“Tuan!”
“Kevin sepertinya ingatan Nala kembali!” Arya sangat senang saat melihat reaksi Nala kini. Mungkin dia tak suka melihat pujaan hatinya merasakan sakit. Namun, jika ini adalah jalan yang harus ditempuh agar pujaannya mengingatnya maka akan ia lakukan. Sembari menebar rasa cinta kembali, Arya juga ingin Nala mengingat masa lalu mereka yang penuh dengan cinta.
“Tuan, ada yang ingin saya laporkan!”
“Apa?”
“Lila sepertinya tak tau menahu soal hubungan asmara milik Nona Nala. Saya sedikit mengungkit mengenai hubungan anda. Namun, Lila tampaknya tak mengenali anda. Padahal dia bekerja cukup lama dengan nona.”
“Dia tak tau aku, tapi aku dia, Kevin. Vika selalu membahas Lila yang selalu mengawasinya. Saat kami berkencan, Vika pasti menyuruh Lila melakukan sesuatu, karena itu dia tak tau soal diriku. Vika begitu menyembunyikan hubungan kami dulu.”
Kevin terdiam. Sangat tak masuk akal di pikiran Kevin soal hubungan asmara keduanya. Jika mereka saling mencintai, lalu mengapa keduanya harus menyembunyikan hubungan mereka? Itulah yang tersemat dalam pikirannya kini.
“Saya mengerti. Namun, saya tidak mengerti kalian harus menyembunyikan hubungan kalian. Apakah ada alasan khusus?”
Arya kini yang terdiam. Awalnya Arya berpikir bahwa keluarga Nala adalah keluarga yang tak memperbolehkan anak mereka berpacaran secara dini. Namun, melihat tingkah Dipta yang terlalu kolot, itu membuat asumsi itu terdengar hanya sebuah alasan semata. Mungkin keluarga Nala protektif seperti Dipta yang menjaga Nala dengan sangat ketat, namun tampak tak seketat itu hingga membuat mereka harus menyembunyikan hubungan mereka.
“Entahlah, saya juga tidak tau soal itu Kevin. Saya dulu terlalu mencintainya hingga tak memikirkan hal itu. Namun sepertinya, cinta hingga kini masih sama.”
“Yang jelas, Vika harus kembali padaku. Apapun yang terjadi di masa lalu, biarlah menjadi masa lalu. Masa kini, Vika harus kembali dalam pelukanku.” batin Arya dengan penuh tekad