Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.
Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.
Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Sore itu, langit mulai berubah warna menjadi jingga ketika Erlan memarkir mobilnya di depan rumah baru yang kini ditempati Linda dan Kirana. Rumah itu tampak hangat, berbeda dengan apartemen dingin yang selama ini ia tinggali sendiri. Begitu mesin mobil dimatikan, Erlan menarik napas sejenak, seolah menyiapkan diri untuk sesuatu yang lebih dari sekadar pulang.
Pintu rumah terbuka bahkan sebelum ia sempat mengetuk.
“Papa!”
Suara kecil itu langsung menyambutnya.
Kirana berlari kecil dengan langkah yang masih belum sepenuhnya stabil, tapi penuh semangat. Erlan tersenyum lebar, wajah dinginnya yang biasa terlihat di kantor seakan luruh begitu saja. Ia segera berjongkok dan membuka tangan.
Kirana langsung memeluknya.
“Pelan-pelan,” ucap Erlan lembut sambil mengangkat putrinya. “Nanti jatuh.”
Linda berdiri di belakang, tersenyum melihat pemandangan itu. “Seharian dia nunggu kamu pulang.”
Erlan mengalihkan pandangannya ke Linda. “Aku juga.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat Linda terdiam sesaat.
Mereka kemudian masuk ke dalam rumah bersama. Kirana masih dalam gendongan Erlan, tangannya memeluk leher ayahnya erat seolah tidak ingin dilepaskan.
“Sudah makan?” tanya Linda saat mereka berjalan menuju ruang makan.
“Belum,” jawab Erlan singkat. “Aku sengaja pulang cepat. Mau makan sama kalian.”
Linda mengangguk pelan. Ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan hanya dari mendengar itu.
Di meja makan, suasana terasa hidup. Tidak seperti biasanya yang sunyi dan formal, kini dipenuhi suara kecil Kirana yang sesekali berceloteh.
Erlan duduk dengan Kirana di pangkuannya. Ia mengambil sendok kecil dan mulai menyuapi putrinya.
“Mulutnya dibuka,” katanya lembut.
Kirana membuka mulutnya, tapi begitu melihat brokoli di sendok, ia langsung menggeleng.
“Tidak mau.”
Erlan mengangkat alisnya. “Kenapa tidak mau?”
“Tidak enak,” jawab Kirana polos.
Linda tersenyum kecil. “Dia memang tidak suka brokoli. Lebih suka wortel sama kentang.”
Erlan menatap Kirana sejenak, lalu mendekatkan sendok itu lagi. “Kalau mau cepat besar, harus makan semuanya. Termasuk ini.”
Kirana mengerucutkan bibirnya. “Tidak mau…”
“Sedikit saja,” bujuk Erlan. “Nanti Papa kasih ayam lagi.”
Kirana berpikir sejenak, tapi kemudian menggeleng lebih keras. “Tidak mau brokoli.”
Erlan menghela napas pelan, tapi tidak marah. Ia hanya tersenyum tipis, lalu mengganti sendoknya dengan potongan ayam.
“Baiklah. Kita tunda dulu perang dengan brokoli.”
Linda terkekeh pelan. “Kamu menyerah?”
“Aku memilih strategi lain,” jawab Erlan santai.
Makan malam itu berlangsung dengan hangat. Erlan dengan sabar menyuapi Kirana, sesekali menyeka mulutnya yang belepotan. Tatapannya penuh perhatian, jauh dari sosok tegas yang biasa dikenal orang lain.
Setelah beberapa saat, Linda berbicara lagi.
“Kamu tahu tidak… kamu terlalu banyak memberi.”
Erlan menoleh. “Maksudnya?”
“Kartu kredit, uang bulanan… sekarang rumah ini,” lanjut Linda. “Itu terlalu berlebihan.”
Erlan terdiam sebentar, lalu bersandar di kursinya.
“Berlebihan menurut siapa?”
“Menurutku,” jawab Linda jujur.
Erlan menatap Kirana yang sedang sibuk mengunyah. “Bagiku, tidak ada yang berlebihan kalau itu untuk dia.”
Linda memperhatikan wajah Erlan. Ada kesungguhan di sana, bukan sekadar kata-kata.
“Aku hanya ingin kalian tidak kekurangan apa pun,” lanjut Erlan. “Dan… sebentar lagi mobil juga akan datang.”
Linda langsung menoleh cepat. “Mobil?”
“Iya,” jawab Erlan tenang. “Biar kamu tidak bingung soal transportasi.”
Linda menggeleng pelan sambil tersenyum. “Kamu benar-benar…”
“Masih ada lagi,” potong Erlan.
Linda mengangkat alisnya. “Apa lagi?”
“Aku sudah siapkan tabungan pendidikan untuk Kirana,” katanya santai. “Sampai dia kuliah.”
Sendok di tangan Linda berhenti di udara.
“Kamu serius?”
Erlan mengangguk. “Sangat serius.”
Linda terdiam beberapa detik, lalu tersenyum kecil. “Kamu ini berlebihan sekali.”
Erlan menggeleng pelan. “Tidak. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya.”
“Seharusnya?” ulang Linda.
“Iya,” jawab Erlan. “Aku mungkin tidak punya keluarga yang hangat… tapi sekarang aku punya kesempatan untuk melakukan sesuatu dengan caraku sendiri.”
Linda menatapnya lebih dalam. Kata-kata itu terasa jujur, bahkan sedikit menyentuh bagian yang tidak ingin ia akui.
Setelah beberapa saat, Linda kembali berbicara, kali ini dengan nada yang lebih hati-hati.
“Erlan…”
“Ya?”
“Keluargamu… mereka akan menerima Kirana?”
Pertanyaan itu membuat suasana sedikit berubah.
Erlan tidak langsung menjawab. Ia menatap meja sebentar, lalu kembali menatap Linda.
“Aku tidak tahu,” katanya jujur.
Linda menunduk pelan.
“Tapi,” lanjut Erlan, “yang pasti… dia akan selalu punya aku.”
Ia mengusap kepala Kirana dengan lembut.
“Dan itu cukup,” tambahnya.
Linda tersenyum tipis, meski masih ada keraguan di matanya.
Tiba-tiba, Kirana mengangkat wajahnya.
“Papa…”
“Iya?”
“Aku mau berenang.”
Erlan tersenyum. “Sekarang?”
Kirana mengangguk semangat.
Linda langsung menyela. “Tidak, itu berbahaya. Dia masih kecil.”
Kirana langsung memasang wajah cemberut.
Erlan menatap putrinya, lalu berpikir sejenak.
“Bagaimana kalau akhir pekan?” katanya akhirnya. “Papa temani berenang.”
Kirana langsung berbinar. “Benar?”
“Iya,” jawab Erlan. “Papa janji.”
“Janji?” tanya Kirana lagi.
“Janji,” ulang Erlan sambil mengacungkan jari kelingking.
Kirana langsung menyambutnya dengan jari kecilnya.
Linda hanya bisa menghela napas, tapi tersenyum melihat interaksi itu.
Waktu berlalu tanpa terasa. Suasana yang awalnya ramai perlahan menjadi lebih tenang.
Kirana mulai bersandar di dada Erlan.
“Ngantuk?” tanya Erlan pelan.
Kirana mengangguk kecil.
Erlan langsung berdiri, menggendongnya dengan hati-hati. “Aku bawa dia ke kamar.”
Linda mengangguk.
Di dalam kamar, Erlan meletakkan Kirana di tempat tidur dengan sangat pelan, seolah takut sedikit gerakan saja bisa membangunkannya. Ia menarik selimut, lalu mengusap kepala putrinya.
“Tidur yang nyenyak,” bisiknya.
Ia memperhatikan wajah Kirana beberapa detik, seakan tidak ingin melewatkan momen itu.
Kemudian, Erlan keluar dari kamar dan kembali ke ruang tamu.
“Aku harus pulang,” katanya.
Linda yang berdiri di sana tampak sedikit terkejut, meski ia sudah tahu ini akan terjadi.
“Sekarang?”
Erlan mengangguk. “Masih ada beberapa hal yang harus aku urus.”
Linda terdiam.
Ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi tertahan.
Erlan berjalan mendekat. “Ada yang ingin kamu bilang?”
Linda menunduk sebentar, lalu menarik napas dalam.
“Aku…” Ia ragu sejenak. “Aku tidak ingin kamu pergi.”
Erlan terdiam.
“Aku ingin kamu tinggal di sini,” lanjut Linda pelan.
Kalimat itu menggantung di udara.
Erlan menatapnya serius. “Itu tidak mudah.”
“Kenapa?”
“Kita belum terikat apa pun,” jawab Erlan jujur.
Linda menggigit bibirnya.
“Kalau begitu…” Ia mengangkat wajahnya, mencoba menahan rasa gugup. “Kita ikat saja.”
Erlan mengernyit. “Maksudmu?”
Linda menatapnya langsung, meski wajahnya mulai memerah.
“Aku mau menikah denganmu.”
Sunyi.
Untuk pertama kalinya, Erlan terlihat benar-benar terkejut.
“Apa?” katanya pelan, seolah memastikan ia tidak salah dengar.
Linda menunduk lagi. “Aku bilang… aku mau menikah denganmu.”
Erlan melangkah mendekat dengan cepat.
“Katakan lagi,” pintanya.
Linda menutup matanya sejenak, lalu mengulanginya dengan suara yang sedikit lebih jelas.
“Aku mau menikah denganmu.”
Erlan terdiam beberapa detik.
Lalu, perlahan, senyum muncul di wajahnya.
Bukan senyum tipis seperti biasanya, tapi sesuatu yang lebih tulus.
“Aku kira aku harus menunggu lebih lama untuk mendengar itu,” katanya.
Linda menatapnya, masih gugup.
Erlan mengangkat dagunya perlahan. “Aku akan menikahimu.”
“Kapan?” tanya Linda pelan.
“Secepatnya,” jawab Erlan tanpa ragu.
Linda terdiam, lalu tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya, ia merasa keputusan itu bukan sesuatu yang menakutkan.
Dan untuk pertama kalinya juga, Erlan merasa bahwa pulang bukan lagi sekadar tempat… tapi seseorang.