Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Malam itu Valeria kembali berada di ruang perawatan rumah sakit.
Dimas sempat pulang sebentar untuk mengambil beberapa perlengkapan dan pakaian ganti.
Sementara itu, Zoya masih menemani Valeria di kamar.
Setelah makan malam rumah sakitnya habis, suasana kamar sempat hening cukup lama.
Sampai akhirnya Zoya memegang kepalanya sendiri frustrasi.
Sedari tadi ia memang diam.
Tapi sekarang ia benar-benar tidak tahan lagi.
“Val… lu serius?” katanya sambil menatap Valeria tidak percaya.
Valeria hanya diam menatap jendela.
“Apa-apaan tadi?” lanjut Zoya pelan tapi penuh tekanan.
Valeria hanya tersenyum kecil tanpa menjawab apa pun.
Ekspresinya tenang, tapi terlihat lelah.
Zoya langsung mendekat lalu duduk di tepi ranjang rumah sakit sambil menatap sahabatnya itu serius.
“Gila ya lu, Val…”
Valeria tetap diam.
“Lo selingkuh?” tanya Zoya pelan, lalu langsung menggeleng sendiri. “Eh bukan… maksud gue…”
Ia menatap pintu kamar sebentar memastikan tidak ada orang lain.
“Lo sampai nyewa cowok buat bisa punya keturunan?”
Zoya mengusap wajahnya frustrasi.
“Gue tahu lo banyak duit, Val,” katanya pelan. “Tapi nggak harus ngelakuin hal segila ini juga dong.”
Valeria tetap diam menatap jendela rumah sakit.
“Terus tuh cowok,” lanjut Zoya lagi, “makin keenakan malah lo kasih hadiah segede itu.”
Beberapa detik kamar kembali hening.
Lalu Valeria akhirnya membuka suara pelan.
“Kemungkinan kecil Dimas bisa bikin gue hamil, Zoy.”
Zoya langsung menatapnya.
“Jadi gue pilih jalan pintas.”
Nada suara Valeria terdengar tenang, tapi matanya perlahan memerah.
“Gue tahu gue salah besar,” lanjutnya lirih. “Makanya gue kasih dia kerjaan… biar dia nggak punya alasan lagi buat balik ke dunia itu.”
Zoya menghembuskan napas panjang lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Lo juga nggak tahu kan itu anak siapa,” katanya pelan. “Bisa aja emang anak kandung Dimas.”
Valeria tersenyum kecil tipis.
“Iya,” jawabnya lirih. “Bisa jadi.”
Tangannya perlahan menyentuh perutnya sendiri.
“Dan gue berharap memang begitu.”
Beberapa saat kemudian terdengar ketukan pelan di pintu.
Dimas masuk sambil membawa beberapa tas belanja dan paper bag.
“Aku bawain baju ganti sama skincare kamu,” katanya sambil meletakkan barang-barang itu di sofa kecil dekat jendela.
Zoya langsung berdiri. “Nah tuh suami teladan datang.”
Dimas hanya tersenyum kecil lalu mendekat ke arah ranjang.
Tatapannya langsung turun ke wajah Valeria yang masih terlihat pucat.
“Udah makan?” tanyanya pelan.
Valeria mengangguk kecil.
Dimas lalu duduk di tepi ranjang dan tanpa sadar mengelus pelan perut Valeria.
Gerakan sederhana itu justru membuat dada Valeria terasa semakin sesak.
Bukan karena benci.
Tapi karena rasa bersalah yang perlahan semakin menumpuk di dalam dirinya.
Dimas masih mengelus pelan perut Valeria sambil menatapnya lembut.
“Udah mendingan?” tanyanya pelan.
Valeria menatap wajah suaminya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil.
“Lumayan.”
Dimas tersenyum tipis lega. “Syukurlah.”
Sementara itu, Zoya yang melihat mereka hanya diam sambil memalingkan wajah pelan, entah kenapa suasana itu terasa semakin rumit di matanya.
Dimas tersenyum kecil lalu membetulkan selimut Valeria pelan.
“Kalau udah pulang nanti, kamu istirahat dulu aja,” katanya lembut. “Kerjaan bisa dipikir belakangan.”
Valeria hanya mengangguk kecil.
“Nanti aku yang lebih banyak nemenin kamu,” lanjut Dimas sambil mengusap tangan istrinya pelan. “Jangan stres lagi.”
Kalimat sederhana itu justru membuat dada Valeria terasa makin sesak.
Karena semakin baik Dimas memperlakukannya,
semakin besar rasa bersalah yang ia sembunyikan.
Sementara Zoya yang duduk di sofa hanya diam memperhatikan mereka berdua.
Tidak lama kemudian ponsel Dimas berdering.
Pria itu langsung melihat layar lalu wajahnya berubah lebih serius.
“Halo?”
Valeria dan Zoya sama-sama diam memperhatikan.
Beberapa detik kemudian Dimas berdiri cepat.
“Baik, saya ke sana sekarang.”
Setelah telepon ditutup, Dimas menatap Valeria pelan. “Pelaku tabrak larinya udah ketangkap.”
Valeria sedikit mengangkat alis.
“Aku keluar bentar ya,” lanjut Dimas sambil mengambil jaketnya. “Nanti aku balik lagi.”
Valeria mengangguk kecil.
Setelah Dimas pergi dan pintu kembali tertutup, Zoya langsung mendekat lagi ke ranjang.
“Oh iya…” katanya sambil menyilangkan tangan. “Sebenernya gimana sih lo bisa ketabrak?”
Valeria tertawa kecil lalu menggeleng pelan.
“Gue lagi nyebrang waktu itu,” jawabnya. “Mau ke proyek baru.”
Zoya mendengarkan serius.
“Eh tiba-tiba ada mobil nabrak aja,” lanjut Valeria lirih. “Padahal gue udah nengok kanan kiri.”
Valeria tersenyum kecil sambil menyandarkan kepalanya ke bantal.
“Ya… ada hikmahnya juga sih gue ketabrak,” katanya pelan.
Zoya langsung melirik tajam. “Apaan coba hikmahnya.”
Valeria mengusap pelan perutnya sendiri.
“Jadi tahu kalau gue hamil.”