NovelToon NovelToon
PAK USTADZ JANGAN GODAIN SAYA

PAK USTADZ JANGAN GODAIN SAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: wanudya dahayu

Zahra dijodohin sama Rayan karena wasiat almarhum Ayah Zahra yang sahabatan sama Abah Rayan. Zahra _ngamuk_ karena ngerasa nggak pantes jadi istri ustadz. Rayan juga _shock_ karena harus nikah sama cewek bertato yang nggak bisa baca Al-Fatihah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: TIGA HARI MENUJU SIDANG

Hari ke-37 di Ndalem. Status Zahra Almira: Bu Nyai Dadakan Yang Mendadak Jadi Panglima Perang.

Tiga hari lagi sidang Dewan pengurus pesantren. Tiga hari lagi nyawa nama Kyai Abdullah dipertaruhkan. Tiga hari lagi aku harus buktiin: Cewek barista juga bisa ngelawan politik kyai kolot.

Pagi-pagi, Ndalem udah kayak kuburan. Sepi. Santri nggak ada yang sowan. Katanya dilarang sama pondok-pondok lain.

"Ustadz Rayan kena blacklist," kata Kang Jono sambil nyapu. Suaranya pelan. Takut kedengeran tembok. "Wali santri pada diteleponin Kyai Zaid. Disuruh pindahin anaknya. Katanya Ndalem kita udah nggak barokah."

Aku remes lap dapur. Kenceng. "Fitnah dimulai, Kang."

Siang, Bunda Aisyah dan Mbak Yuni pulang dari pasar. Wajah pucat. Keranjang belanja kosong.

"Nduk," katanya ke aku. "Bunda tadi diledekin Ibu-ibu di pasar. Katanya, 'Ngapain belanja banyak-banyak, Bu? Ndalem kan mau tutup.' Terus pada ketawa."

Aku ambil keranjang dari tangan Bunda. "Biarin, Bun. Nggak beli di pasar mereka juga kita nggak mati. Kang Jono, panen kangkung di belakang!"

Kang Jono angkat jempol. "Siap, Bu Nyai!"

Malam pertama, Rayan nggak tidur. Duduk di ruang kitab. Buka-buka buku fiqih munakahat, siasat, sama sejarah Ndalem.

"Aku cari dalil," katanya. Matanya merah. "Kyai Zaid pasti pake dalil dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih. Menolak kerusakan lebih utama dari mengambil manfaat. Dia bakal bilang, poligami itu menolak fitnah yang lebih besar."

"Terus kita lawan pake apa?" tanyaku. Duduk di sebelahnya. Bawa dua gelas kopi.

Rayan seruput kopinya. Pahit. "Kita lawan pake dalil yang sama. Kerusakan apa yang lebih besar dari ngancurin rumah tangga orang? Dari maksa nikah? Dari jual nama Abah buat nutup aib anak sendiri?"

Aku diem. Terus nyengir. "Tadz. Aku punya ide gila."

"Apa?"

"Kita nggak cuma bawa dalil. Kita bawa bukti."

 

Hari ke-38. Operasi pertama: Cari sekutu.

Aku, Bunda, sama Mbak Yuni sowan ke rumah Bu Nyai Fatimah. Bu Nyai paling senior di kota ini. Umur 70 tahun. Netral. Nggak memihak Kyai Zaid.

"Bu Nyai," kataku. Nunduk. "Saya Zahra. Istri Ustadz Rayan. Saya minta tolong."

Bu Nyai Fatimah natap aku. Lama. Terus ketawa. "Kamu yang viral bakar foto mantan di Ndalem itu, ya? keren kamu, Nduk. Tapi aku suka."

Aku melongo. "Bu Nyai tau?"

"Satu kota tau, Nduk," jawabnya. "Makanya aku penasaran. Cewek kayak apa yang berani ngelawan Kyai Zaid."

Bunda jelasin semua. Dari fitnah, sampe ancaman coret dari Dewan.

Bu Nyai Fatimah ngelus tasbih. "Zaid itu dari dulu keras kepala. Dikiranya agama itu dia yang punya. Tapi dia lupa, Ndalem Al Hikmah itu wakafnya Kyai Abdullah. Bukan punya Dewan."

"Tolong kami, Bu," kataku. "Tiga hari lagi sidang. Kami butuh saksi yang netral."

Bu Nyai Fatimah ngangguk. "Aku datang. Tapi ingat, Nduk. Lawan Zaid itu nggak cukup pake dalil. Dia punya massa. Kamu harus punya mental."

Aku genggam tangan Bu Nyai. "Mental saya mental barista, Bu. Udah biasa dimaki customer. Kyai Zaid InsyaAllah bisa Saya hadapi."

 

Malam kedua, giliran Rayan yang main.

Dia telepon satu-satu kyai muda yang dulu ngaji ke Abahnya. Ada yang angkat. Ada yang nggak. Ada yang bisik-bisik, "Afwan, Tadz. Ana ditekan."

Satu yang angkat namanya Ustadz Fadhil. Umurnya 30. Pinter. Vokal.

"Gue dateng, Yan," katanya di telepon. "Gue bawa data. Tiga tahun lalu, anaknya Kyai Zaid, si Aliya, pernah ketauan khalwat sama santri senior. Ditutup-tutupi. Kalau mau perang, ayo kita buka semua."

Rayan natap aku. "Yakin mau pake cara ini, Zahra? Ini kartu terakhir. Sekali dibuka, nggak bisa balik."

Aku diem. Bayangin wajah Ning Aliya yang sok korban. Bayangin nama Abahnya Rayan mau dicoret.

"Buka, Tadz," kataku pelan. "Kalau mereka main kotor, kita nggak bisa main bersih terus."

 

Hari ke-39. Satu hari sebelum sidang. Ndalem didatengin tamu nggak diundang.

Lima belas ibu-ibu. Pake seragam pengajian. Bawa spanduk kecil. Tulisannya: "Tolak Bu Nyai Perusak Ndalem".

Mereka demo di depan gerbang. Teriak-teriak. "Usir Zahra! Usir Zahra!"

Santri yang masih sisa pada ngintip dari jendela. Humairah udah siap lempar sandal. Kutahan.

Aku keluar. Sendirian. Nggak pake kerudung panjang. Cuma pake gamis biasa sama ciput.

Ibu-ibu itu kaget. Nggak nyangka aku berani keluar.

"Assalamualaikum, Bu," kataku. Senyum. "Ada yang bisa saya bantu?"

Yang paling depan, Bu Romlah, ludah ke tanah. "Ngapain kamu di sini Bu nyai KW? Gara-gara kamu Ndalem jadi kotor! Ustadz Rayan jadi rusak!"

Aku angkat spanduk dari tangannya. Pelan. "Bu Romlah, Ibu tau nggak, yang bikin Ndalem kotor itu bukan saya. Tapi fitnah. Dan fitnah itu Ibu bawa ke sini sekarang."

"Kurang ajar! Kamu bilang saya tukang fitnah?!"

"Enggak, Bu," jawabku. Masih senyum. "Saya bilang Ibu korban fitnah. Ibu disuruh ke sini sama siapa? Dapat berapa?"

Bu Romlah pucat. Ibu-ibu lain langsung saling liat.

"Saya catet ya, Bu," kataku. Ngeluarin HP. Pura-pura ngerekam. "Tadi Ibu bilang saya perusak Ndalem. Ada saksi. Ada video. Kalau besok nama Ibu jelek di polisi gara-gara pencemaran nama baik, jangan salahin saya."

Bu Romlah mundur. "Ka... kamu ngancem?!"

"Enggak, Bu. Saya ngasih tau konsekuensi," jawabku. "Sekarang Ibu pulang. Atau Ibu mau saya panggil wartawan? Kebetulan temen saya wartawan Radar Jatim. Biar diwawancarai, kenapa Ibu demo ke rumah orang tanpa bukti."

Lima menit kemudian, bubar. Spanduk ditinggal.

Kang Jono tepuk tangan dari dalem gerbang. "Bu Nyai galaknya alami!"

Aku masuk. Kaki gemeter. Tapi puas.

 

Malam terakhir. H-1 sidang.

Aku sama Rayan di kamar. Nggak bisa tidur. Di meja ada map. Isinya:

Salinan wakaf Ndalem atas nama Kyai Abdullah.

Rekaman pengakuan Ustadz Fadhil soal kasus Aliya 3 tahun lalu.

Chat WA dari wali santri yang ditekan Kyai Zaid buat cabut anaknya.

Fatwa dari Bu Nyai Fatimah soal poligami karena paksaan itu haram.

"Kurang satu," kataku.

"Apa?" tanya Rayan.

"Nyali," jawabku. "Nyali kita buat ngomong di depan 50 kyai."

Rayan genggam tanganku. Erat. "Zahra. Apapun hasil besok, aku nggak nyesel nikahin kamu. Kalaupun nama Abah dicoret, aku bakal tulis lagi pake darahku sendiri. Tapi aku nggak akan korbankan kamu."

Aku peluk Rayan. Kenceng. "Dan aku nggak akan biarin nama Abahnya Tadz dicoret. Besok kita perang, Tadz. Kalah atau menang, kita hadapi bareng."

Di luar, hujan turun. Kayak ngasih kode: Besok badai beneran.

Jam 00.00, HP Ustadz Rayan kebangun dari tidur dengan keringat dingin bercucuran, Dia mimpi ditemui Abahnya. Dan ngasih pesan.

Isinya: "Rayan. Ini Abah. Jaga Ndalem. Jaga Zahra. Jangan nunduk sama orang yang jual agama demi nafsu. Abah ridho. Lawan."

Esok hari Ustadz rayan cerita soal mimpinya. Nangis

Aku nyimak, nangisnya nular ke aku.

"Abah dukung kita, Tadz," bisikku. "Besok kita nggak sendiri."

1
hasatsk
setelah di baca terus menerus ternyata ceritanya seru.....💪💪
wanudya dahayu: makasi kak 🙏. lagi nyari ide lagi, biar bisa menuhi syarat kontrak. doain ya kak. 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Di Dia
tokoh aryanya cpt"di singkirin ...
Titik Sofiah
awal yang menarik ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍😍😍
wanudya dahayu: iya kak, semoga suka, mohon dukungannya 😍🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!