NovelToon NovelToon
AKHIR DARI PENYESALAN

AKHIR DARI PENYESALAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Rumah Tangga / Selingkuh
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Tega kamu, Mas." Kanaya menatap suaminya dengan sorot mata yang tenang namun penuh luka. Kecewa luar biasa wanita itu rasakan setelah tau kalau suaminya ternyata sudah menikah dan memiliki istri lain tanpa sepengetahuannya.

"Aku minta maaf, aku tau kamu kecewa. Tapi ini semua udah terlanjur terjadi, aku harap kamu bisa berlapang dada menerima istri baruku." Jawab Andra dengan nada bersalah.

Tapi Kanaya tau, suaminya itu tidak benar-benar menyesal. Sedikit pun.

Siang dan malam ia berdo'a kepada Tuhan, meminta kelimpahan dan kelancaran untuk bisnis juga rezeki suaminya.

Tapi ketika pria itu benar-benar diberi kekayaan, ia malah menduakannya diam-diam.

Kanaya tidak akan diam aja, ia akan membalasnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIGA

Dadanya sesak bukan main.

"Kenapa? Apa kurangnya aku sebagai istri Mas Andra dan menantu kalian selama ini?"

"Nggak ada, Naya. Kamu nggak kurang apapun. Tapi untuk melaksanakan poligami kan nggak harus karena pasangan punya kekurangan, yang penting Andra mampu maka itu udah cukup sebagai alasan. Apalagi Andra sekarang juga udah sukses dan stabil kan bisnisnya, nggak ada salahnya berbagi kekayaan sama orang lain." Jawab Daris.

"Sebenarnya,...." Samira kembali menimpali, ia menjeda ucapannya sesaat dan menarik nafas panjang sambil menatap wajah Kanaya dalam.

"Ibu jujurnya aja sama kamu ya, Naya. Sebenarnya, alasan utama kenapa Ibu sama Ayah mengizinkan Andra untuk menikah lagi adalah karena anak. Ibu sama Ayah udah nggak sabar untuk punya cucu, apalagi usia kami juga udah nggak lagi muda. Setiap harinya Ibu sama Ayah semakin tua dan kami takut nanti nggak punya kesempatan untuk menimang cucu." Samira berterus terang.

"Tapi aku sama Mas Andra juga baru menikah dua tahun, Bu. Kita juga sekarang lagi menjalani program kehamilan. Aku dan Mas Andra udah periksa dan kemi berdua sehat. Aku belum hamil karena memang belum Tuhan kehendaki, kenapa nggak bisa sabar sedikit lebih lama lagi?" Suara Kanaya semakin serak parau.

"Ya karena alasan itu, karena Ibu sama Ayah udah muda lagi. Kalau sampai nanti kamu juga hamil, ya nggak apa-apa. Bagus. Keluarga kita bisa makin besar dan ramai.

Kalau kamu nggak hamil-hamil juga ya nggak masalah, nanti kamu bisa bantuin Nisrin untuk urus anak. Kan anak dia sama Andra juga nantinya jadi anak kamu."

Samira berucap dengan begitu enteng, seakan dia sedang membicarakan permainan di taman kanak-kanak.

Seolah-olah perasaan dan hati Kanaya sebagai perempuan juga istri tidak lah penting.

"Terus kenapa kalian nggak kasih tau aku? Kenapa nggak ada satu pun di antara kalian yang memikirkan perasaan aku?" Ucap Kanaya.

Suaranya yang serak dan parau perlahan terdengar lebih lugas, sorot mata terluka wanita itu berubah tegas dan tajam.

"Ya karena begini lah kalau kamu tau. Kamu pasti marah dan bahkan mungkin bakalan berusaha menggagalkan pernikahan kedua Andra. Tapi sekarang kamu udah terlanjur tau, Ibu sama Ayah harap kamu bisa menerima adik madu kamu. Semuanya udah terlanjur terjadi, lagi pula Nisrin itu perempuan yang baik. Kalau kamu bisa menerima dia, kalian pasti bisa jadi sahabat baik."

Kanaya menatap Samirah tak habis pikir, bertahun-tahun ia mengenal wanita itu dan Kanaya baru tau bahwa ibu mertuanya adalah wanita tidak berperasaan.

Kanaya menarik nafas panjang, dadanya terasa sesak nyeri seperti diiris setiap kali ia menghirup oksigen.

"Okey kalau gitu, nggak ada gunanya lagi aku tinggal di sini. Nggak ada gunanya aku tinggal di rumah dan keluarga yang orang-orangnya nggak pernah menghargai atau memikirkan perasaanku." Ucap Kanaya sambil mengusap air matanya.

"Sayang, jangan begitu. Kamu nggak bisa memutuskan pernikahan kita sepihak begitu aja." Andra yang sejak tadi diam menutup mulutnya bak pengecut akhirnya berbicara.

Ia menggenggam lengan Kanaya yang kali ini untungnya tak menghempaskan tangannya kasar.

"Lho, kenapa? Kamu aja menikah lagi karena keputusan sepihak, kan? Tanpa sepengetahuan aku sama sekali. Terus kenapa sekarang nggak terima aku melakukan hal yang sama?"

Pertanyaan Kanaya membuat Andra bungkam

seketika.

"Coba pikir baik-baik, Naya. Jangan memutuskan hal besar dalam keadaan emosi, jangan sampai kamu menyesal nantinya. Ayah tau kamu kecewa dan pasti sulit menerima hal ini, Ayah paham. Tapi bercerai tetap bukan solusi, seenggaknya tenangkan diri dulu dan jangan terburu-buru." Daris berusaha untuk membujuk Kanaya.

"Iya, Naya. Kita kasih kamu waktu untuk berpikir lebih tenang sebelum memutuskan."

"Oh, nggak perlu. Mau kalian kasih waktu aku berapa lama pun, keputusan aku akan tetap sama dengan yang sekarang." Raut sedih dan sorot nanar telah sepenuhnya hilang dari wajah Kanaya.

"Apa salahnya menurunkan ego, Naya? Toh posisi kamu sebagai istri pertama Ibu yakin nggak akan pernah berubah di hati Andra."

Kanaya menatap Samira lekat-lekat, masih tak percaya dengan ibu mertuanya yang seolah-olah tak mampu menghargai perasaan orang lain.

"Naya? Kanaya?!" Kanaya tersentak, ia tanpa sadar melamun dan tenggelam di dalam pikirannya sendiri.

"Okay,..." Mata Andra seketika membola terkejut mendengar jawaban Kanaya.

"Kamu,.... Kamu mau terima? Kamu nggak keberatan, Sayang?" Andra bertanya antusias, penuh dengan harapan. Kedua mata pria itu tampak berbinar menatap wajah Kanaya.

"Hmm,..." Kanaya hanya bergumam pelan, tapi jawaban singkatnya mampu membuat ketiga orang yang mengelilinginya bahagia.

"Dengan satu syarat." Ucap Kanaya membuat mertua dan suaminya kembali menatap ia dengan penuh kehati-hatian.

"Apa, Sayang? Bilang aja, kamu mau minta apapun pasti aku bakalan penuhi." Andra menjawab tanpa ragu.

"Semua asset dan harta Mas Andra harus atas nama aku. Tanpa terkecuali." Ucap Kanaya tegas, suaranya mengisyaratkan bahwa ia tak mau menerima bantahan.

"Kamu nggak bisa minta hal seperti itu, Kanaya. Harta dan asset Andra-" Samira tak sempat menyelesaikan ucapannya saat Andra memotong dengan cepat.

"Iya, Sayang. Aku nggak keberatan. Semua harta dan asset milik aku bakalan jadi milik kamu sepenuhnya, atas nama kamu." Andra menjawab tanpa memperdulikan delikan tajam kedua orangtua terutama ibunya.

Ia tak akan ragu untuk melakukan apapun dan menyerahkan semua yang dia miliki jika hal itu bisa membuat Kanaya tetap berada di sampingnya.

"Andra, kamu-" Lagi, ucapan Samira terpotong saat sang putra menjawab tanpa ragu.

"Nggak apa-apa, Bu. Aku nggak keberatan. Toh Naya istriku, hartaku memang milik dia juga." Jawab Andra.

Samira mendengus, ia menatap tak setuju pada Kanaya dan Andra bergantian tapi tetap memilih untuk tutup mulut karena wanita itu tau keputusan putranya tidak akan berubah.

Tanpa mereka sadari, Kanaya yang terdiam duduk tampak tersenyum menyeringai. Hanya ada satu alasan kenapa ia memilih untuk mengiyakan, yaitu untuk membalas dendam atas sakit hatinya.

Kanaya akan memastikan sendiri kehancuran keluarga ini dan ia akan menontonnya dengan suka cita.

Kanaya akan pastikan mertua juga suaminya akan merasakan sakit dan kecewa yang lebih dalam dari yang ia rasakan.

1
Nuna_Pena
😁😁
Anonim
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!