NovelToon NovelToon
AKU IBU TIRI MUDA

AKU IBU TIRI MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Danica

Bailla adalah gadis muda berusia 20 tahun seorang putri tunggal yang memiliki karakter yang manja dan terbiasa hidup dengan kemewahan ia terpaksa menjadi ibu tiri muda dan menikah dengan duda beranak 3 yang terpaut usia 20 tahun. Pernikahan itu terpaksa terjadi idikarenakan perusahan orang tuanya diambang kebangkrutan akibat tertipu investasi bodong. Bagaimana Bailla menghadapi kehidupan sebagai istri dan ibu muda untuk anak-anak yang usia hampir sama dengannya ?? banyak hal lucu dan sedih yang terjadi degan Bailla si ibu tiri muda ini. ,🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KETAKUTAN ARYA SEBELUM MENIKAH

*PUKUL 2 DINI HARI.*

Rumah itu gelap. Lampu luar dimatiin. AC dimatiin.

Cuma lampu meja kerja Pak Arya yang nyala. Kuning. Redup.

Suara AC tetangga bocor lewat jendela. Suara jangkrik di halaman. Anak-anak udah tidur. Arbil di kamar atas, Ara dan Aya sekamar, masih peluk boneka Marsha yang botak.

Tapi di kepala Pak Arya, rame. Rame kayak demo harga BBM di depan istana. Spanduk-spanduk teriak: “Khianat!”. “Gagal!” “Kamu gak pantes bahagia!”

Di depan dia, ada buku nikah. Buku nikah sama Sarah.

Sampulnya udah lusuh. Ujungnya melengkung. Tinta namanya udah pudar. Di sebelahnya, ada desain undangan yang belum disebar. Tulisannya: “Arya & Bailla.”

Pak Arya ngelus foto Sarah di buku nikah. Foto itu diambil waktu mereka nikah. Sarah 23 tahun. Pak Arya 29 tahun. Senyumnya lebar. Ga ada beban. Waktu itu mereka masih ngontrak di Bekasi. Arya masih jadi karyawan kantor biasa. Kamar mandi luar. Masak pakai kompor minyak. Tapi Sarah bilang, “Gapapa Pa. Asal kita bareng, gue kuat.”

10 tahun nemenin dia dari nol. Dari ngontrak petak, sampai punya usaha sendiri. Dari makan mie rebus tiap malam, sampai bisa traktir anak-anak makan di mal. Sarah ga pernah minta lebih. Dia cuma minta satu: “Pa, pulang jam 9 ya. Anak-anak nunggu.”

“Bu,” bisiknya ke foto itu. Suaranya serak. “Aku gak lupa kamu. Demi Allah gak lupa. Wangi sabun kamu masih ada di baju kerja aku. Suara kamu masih ada di rekaman voice note lama.

Aku dengerin tiap malem sebelum tidur.”

Dia berhenti. Nelen ludah.

“Tapi anak-anak butuh ibu, Bu. Bapak udah gak kuat jadi bapak sekaligus ibu. Aya demam kemarin, Bapak salah kasih obat.

Bapak kasih parasetamol 500 mg. Padahal dia baru 4 tahun.

Untung ga kenapa-napa".

Ara nangis kangen kamu minggu lalu. Bapak cuma bisa diemin, terus nunjukin foto kamu. ‘Ini Mama,’ kata Bapak. Ara malah nangis lebih kencang. ‘Mama ga bales chat Ara!’”

Pak Arya ketawa. Ketawa yang ga lucu. “Aku takut, Bu. Takut jadi bapak gagal. Takut kalau nanti Arbil benci aku karena aku nikah lagi. Sementara Arbil masih belum siap nerima wanita pilihan Bapak. Kemarin dia bilang, ‘Kalau Bapak nikah, Bapak lupakan Mama kan?’

Bapak takut itu jadi masalah kedepannya. Bapak takut Bailla yang udah baik itu... nanti disalahin. Disalahin karena dia datang.”

Dia nutup buku nikah pelan. Napasnya berat. Nikahin Bailla rasanya kayak selingkuh. Padahal Sarah yang nyuruh. Padahal pesan Sarah udah jelas “Nikah kalau nemu yang nerima anak-anak kita tanpa nyuruh Bapak lupain aku. Kalau gak ada, gak usah.”

Tapi hati itu bodoh. Hati ga ngerti logika. Hati cuma ngerti satu hal rasa bersalah.

Pak Arya buka HP. Lihat foto Bailla yang dikirim Mami minggu lalu. Bailla pakai kaos kampus, rambut dikuncir, lagi ketawa sambil pegang buku.

Umur 20 tahun. Umur yang seharusnya masih mikirin KKN, mikirin skripsi, mikirin nonton konser Sal Priadi di GBK. Dimana temen-temennya masih nongkrong di kafe. Masih sibuk urusan UKM kampus. Masih mimpi ke Korea. Masih mimpi kerja di penerbit besar. Lha dia?

Disuruh jadi istri seorang duda. Jadi ibu tiri tiga anak. Ngadepin Arbil yang masih nolak. Ara yang masih suka merajuk kalau ada keinginannya gak terpenuhi. Aya yang masih bangun tengah malam minta digendong.

“Pantes gak sih aku narik dia ke hidup aku yang ruwet?” Pak Arya ngacak rambut. Rambutnya yang udah mulai uban jadi berantakan.

“Dia bisa dapet yang seumuran. Yang belum punya beban.

Yang belum punya anak. Kenapa dia malah mau sama aku? Karena kasihan? Karena kepepet? Ya Allah, kalau dia nyesel gimana? Kalau 2 tahun lagi dia kabur, anak-anak hancur dua kali. Hancur karena ditinggal Mama. Hancur lagi karena ditinggal Mama baru.”

Dia buka laci meja. Di dalamnya ada kotak beludru merah. Di dalamnya ada cincin berlian. Cincin Sarah. Cincin yang mau dia kasih ke Bailla pas ijab.Cincin yang udah 3 tahun dia simpan.

Tiba-tiba cincin itu terasa panas. Kayak bukan restu. Kayak beban.

“Maafin Bapak, Sar,” bisiknya. Bapak takut salah titip.”

Arya masih ingat. Ketika Sarah meninggal. karena dia telat bawa ke dokter. Dia keasyikan kerja. Mikir, “Paling capek biasa. Anak-anak juga lagi rewel.” Nyatanya kanker. Stadium 4.

Salah dia karena lebih percaya Google daripada dokter. Salah dia karena mikir, “Nanti aja. Nanti kalau proyek kelar.” Sekarang ada Bailla. Muda. Sehat. Punya mimpi. Punya masa depan yang belum ditulis.

“Kalau aku gagal lagi gimana?” Pak Arya berdiri. Jalan ke teras.

Angin malam nyebur ke wajah.

“Kalau aku bikin dia sakit? Kalau aku gak bisa bahagiain dia karena aku terlalu tua? Terlalu kaku? Terlalu bapak-bapak? Terlalu sibuk kerja sampai lupa nanya, ‘Kamu capek ga, Bailla?’”

Dia inget hari Sarah meninggal. Di kamar ICU. Sarah genggam tangannya. “Pa, jagain anak-anak ya.” Pak Arya janji. Janji di depan jenazah. Janji di depan Allah.

Sekarang apa pantes dia ketawa bareng perempuan lain di meja makan yang dulu mejanya dia sama Sarah? Meja yang masih ada goresan sendok Sarah. Meja yang masih ada noda kecap Sarah.

*JAM 3 PAGI. TERAS BELAKANG.*

Pak Arya duduk di kursi plastik. Dia ambil foto Sarah dari ruang tamu. Dipeluk. Lama. Kayak peluk orang hidup.

“Bu, aku takut,” katanya. Laki-laki 39 tahun itu, akhirnya ga tahan. Air mata yang udah terbendung 3 tahun, jebol. Dia menangis. Gak ada suara. Cuma bahu yang guncang. Cuma napas yang patah-patah.

“Aku takut Bailla benci aku. anak-anak benci Bailla. takut aku gak bisa adil. Aku takut kamu bilang, ‘Pa, kamu gagal lagi.’”

Dia nunggu jawaban.

Ga ada. Cuma suara jangkrik. Cuma angin yang lewat.

Terus dia inget kata-kata terakhir Sarah:

“Nikah kalau nemu yang mau nerima anak-anak kita tanpa nyuruh Bapak lupain aku.”

Bailla ga pernah minta foto Sarah diturunin. Dia yang lap-lap pigura itu pas lamaran. yang bilang ke Ara, “Mama kamu cantik ya. Kakak boleh pinjem fotonya buat pajang di kamar Kakak ga?”

Pak Arya ngusap air mata pakai lengan kaos.

“Ya udah, Bu,” bisiknya. Naruh lagi foto Sarah di tempatnya. Rapi. Di tengah. “Aku gak lupain kamu. Tapi aku juga gak mau ingkar janji jagain anak-anak.

Dan Bailla... dia satu-satunya yang berani datang ke rumah kita yang berantakan ini. Kalau ini salah, biar aku yang tanggung dosanya. Jangan anak-anak. Jangan Bailla.”

Dia balik ke meja kerjanya. Buka undangan yang belum disebar.

Nulis satu nama lagi pakai pulpen hitam.

Pak Bima – Bapaknya yang sudah Almarhum._

“Pak,” bisiknya. “Doain anakmu ya. Utang Bapak udah saya bayar. Sekarang giliran saya yang utang ke anak-anak. Mudah-mudahan saya kuat nyicilnya.”

Ketika waktu subuh tiba. Pak Arya wudhu. Air wudhu dingin. Bikin dia sadar. Dia sholat. Doanya pendek. Doa orang yang udah ga tau harus minta apa lagi.

“Ya Allah, kalau ini baik buat anak-anakku, lancarkan. Kalau ini cuma nafsuku, hentikan. Aku pasrah. Aku capek jadi kuat sendiri.”

Selesai sholat, dia ga langsung tidur. Dia duduk di sajadah. Diem. Di kepalanya ga ada apa-apa. Kosong. Kosong yang tenang.

Jam 6 pagi, dia ketiduran di sajadah. Dan untuk pertama kali setelah 3 tahun, Pak Arya tidur ga mimpiin pemakaman.

Dia mimpiin meja makan. Meja makan rumahnya. Ada lima orang. Dia. Arbil. Ara. Aya. Dan Bailla. Bailla lagi ngambil sayur.

Ngambilnya hati-hati. Kayak takut salah.

Tidak ada Sarah di mimpi itu. Tapi anehnya, Pak Arya ga ngerasa dosa. Cuma ngerasa... ditemenin. Kayak ada yang bilang, “Udah Pa. Gak apa-apa. Lanjutkan.”

1
Yuliyana
ada bima n dito, siapa ya ?
Miss Danica: Maaf kak di Bab ini ada perubahan nama tokoh dan ada yang lupa edit ... Makasih atas koreksiannya. Selamat membaca kak 😍🙏
total 1 replies
Miss Danica
Hay gaeess sahabat NT mohon suportnya karya pertama ku ini ya. mohon bimbingannya juga semoga sehat sehat semuanya sukses untuk kita semua.😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!