Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.2
Sementara itu, di tempat lain… di dalam ballroom hotel yang megah. Seorang pria tampan dalam balutan jas pengantin putih tampak duduk tenang di meja akad.
Postur tubuhnya tegak, wajahnya terlihat tenang, namun sorot matanya begitu dingin. Matanya menatap lurus ke depan dengan ekspresi datar, seolah tidak memedulikan hiruk-pikuk orang-orang di sekitarnya.
Namun di balik ketenangan itu, pikirannya justru melayang kembali pada kejadian satu jam yang lalu. Dimana, saat kabar mengejutkan itu disampaikan kepadanya.
Kabar, jika calon mempelai wanitanya… menghilang, entah kemana.
Flashback. 1 jam yang lalu.
“Apa kalian bilang? Pengantin wanitanya menghilang?”
Suara lantang itu menggema memenuhi ruangan. Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan berwibawa langsung berdiri dari duduknya.
Tatapannya tajam menatap ke arah keluarga calon besannya.
Padahal, acara ijab kabul hanya tinggal satu jam lagi. Namun, mempelai wanitanya malah menghilang, entah kemana.
Wanita itu mengepalkan tangannya, menahan amarah yang hampir meledak. Ia benar-benar merasa dipermalukan tepat di hari pernikahan putra sulungnya.
“Kalian tahu, kan? Pernikahan ini bukan pernikahan biasa! Yang menikah adalah putra sulung dari keluarga Argantara. Bagaimana jadinya kalau sampai pernikahan ini gagal hanya karena calon mempelai wanitanya menghilang?” serunya dengan suara yang mulai meninggi.
Ruangan itu mendadak sunyi. Tak ada yang berani menyela kemarahan wanita tersebut. Di hadapannya, Bu Yuni terlihat pucat. Wanita itu menggenggam ujung bajunya dengan tangan gemetar. Jelas sekali ia juga panik dengan situasi yang terjadi.
“Tenanglah, Jeng… kami pasti akan mencari solusinya,” ucap Bu Yuni lirih dengan nada yang bergetar.
“Tenang? Mana mungkin aku bisa tenang saat putraku akan dipermalukan seperti ini di depan umum!” Wanita itu tertawa sinis, lalu, ia menatap tajam kearah Bu Yuni, menuntut jawaban dari calon besannya itu.
“Solusi katamu? Baiklah… katakan padaku, apa solusi itu?”
Bu Yuni menelan ludahnya gugup. Ia sempat saling berpandangan dengan suaminya sebelum akhirnya memberanikan diri membuka suara.
“E-emm… kami… kami masih memiliki seorang putri. Dan… aku pikir… dia bisa menggantikan Marisa.” ucapnya terbata-bata. Lalu, ia menarik nafas panjang setelah mengatakan itu. Seolah tengah melepas beban yang mengganjal di dalam dadanya.
Kalimat itu membuat seluruh ruangan kembali hening. Udara terasa menegang, seolah semua orang menunggu bagaimana reaksi dari pihak keluarga Argantara setelah mendengar usulan yang begitu mengejutkan itu.
Bu Hesti yang tidak lain ibu dari calon mempelai pria pun menyipitkan matanya. Tatapannya berpindah dari Bu Yuni ke Pak Ali yang sejak tadi hanya terdiam.
“Maksudmu… menggantikan Marisa dengan wanita lain?” ulang Bu Hesti dengan nada tajam. Memastikan jika ia tidak salah dengar.
Bu Yuni mengangguk pelan, meski jelas terlihat ragu. Namun, wanita baya itu tetap menganggukkan kepalanya.
“Iya, Jeng… Namanya Alisa. Dia adik Marisa.” sambung Pak Ali.
Pria yang sedari tadi menunduk itu akhirnya ikut berbicara. Pria itu berdehem pelan sebelum mengangkat wajahnya.
Bu Hesti menatap mereka berdua dengan ekspresi tidak percaya.
“Jadi kalian pikir pernikahan ini bisa digantikan begitu saja? Kalian pikir, pernikahan ini adalah permainan?” sindirnya dingin.
“Bukan begitu maksud kami, Jeng. Kami hanya… tidak ingin pernikahan ini batal. Kami juga tidak ingin keluarga Mahendra dipermalukan karena kejadian ini.” jawab Pak Ali cepat.
Suasana kembali hening.
Beberapa detik berlalu tanpa ada yang berani bicara. Sampai akhirnya sebuah suara berat terdengar dari arah sofa di sudut ruangan.
“Sudahlah, Ma.” ucapnya datar.
Semua orang pun langsung menoleh ke arah sumber suara. Di sana, seorang pria tinggi dengan jas pengantin putih, rapi sedang duduk santai. Wajahnya tampan, rahangnya tegas, dan sorot matanya tajam, namun terlihat dingin.
Dia adalah Harlan Dewa Mahendra Argantara. Calon mempelai pria dalam pernikahan itu. Sejak tadi ia memang berada di ruangan itu, tetapi memilih diam dan hanya memperhatikan semuanya.
Menyimak baik-baik perdebatan antara sang Mama dengan calon mertuanya. Harlan berdiri perlahan, lalu berjalan pelan ke arah sang Mama, Bu Hesti.
“Tidak ada gunanya memperpanjang masalah.” ucapnya datar.
Bu Hesti langsung menoleh pada putranya, lalu berkata…
“Harlan, ini bukan masalah kecil. Calon istrimu kabur di hari pernikahan,” jawab Bu Hesti
“Justru karena itu kita butuh solusi, Ma.” jawab Harlan tenang.
Ia lalu menatap Bu Yuni dan Pak Ali secara bergantian.
“Adiknya Marisa… siapa namanya, tadi? Alisa, ya?” tanya Harlan, yang kini sudah berbalik, menatap kearah kedua calon mertuanya. Pertanyaan itu dijawab cepat dengan sebuah anggukan oleh Bu Yuni dan juga Pak Ali.
“Iya… iya, Nak. Namanya Alisa,” jawab Pak Ali.
“Dia ada di sini?” tanya Harlan lagi.
“Tentu saja ada. Ini pernikahan Kakaknya, mana mungkin dia tidak ada.”
Harlan terdiam sejenak, seolah sedang menimbang sesuatu. Kemudian ia menghela nafas pelan sebelum melanjutkan ucapannya.
“Baiklah.” jawabnya mantap.
Semua orang pun langsung menoleh ke arahnya. Menatap tak percaya dengan jawaban yang ia berikan.
“Kalau itu bisa menyelamatkan acara hari ini, aku tidak keberatan.” lanjutnya.
Mata Bu Yuni langsung melebar. Masih belum percaya dengan jawaban yang Harlan berikan.
“Benarkah? Nak Harlan tidak keberatan jika calon mempelai wanitanya diganti?”
“Selama Alisa juga bersedia, tidak ada masalah buat aku.” jawabnya singkat.
Namun Bu Hesti justru terlihat tidak setuju dengan ide gila dari Bu Yuni itu.
“Harlan! Kamu serius?” tanya Bu Hesti, memastikan.
Harlan menoleh kepada ibunya dengan ekspresi yang terlihat tetap tenang.
“Ini hanya pernikahan, Ma. Bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan berjam-jam.”
Kalimatnya terdengar ringan, tetapi justru membuat semua orang terdiam. Pak Ali menatap Harlan dengan perasaan campur aduk.
“Terima kasih… terima kasih banyak, Nak Harlan.”
Namun Harlan kembali berbicara yang membuat semua orang menatapnya dengan dahi yang mengkerut.
“Tapi ada satu syarat.” ucapnya.
“Syarat? Syarat, apa?” tanya Pak Ali.
Harlan menatap lurus ke arah Bu Yuni dan Pak Ali. Lalu melanjutkan ucapannya.
“Jangan ada drama lagi setelah ini. Karena aku tidak suka dipermainkan dua kali.”
Flashback off.