Arhan si tukang panggul harus menelan pahitnya hidup, rumahnya terbakar, ia mengalami luka bakar, anaknya pincang karena tertimpa kayu dan istrinya menceraikannya.
Naasnya ia mati di lindas 3 mobil sekaligus. Tapi siapa sangka jika hidupnya berubah saat ia mendapat sistem.
Sistem mengubah hidupnya dan membuat mantan istrinya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
Motor hitam itu melaju pelan dan memasuki area parkir Rumah Sakit Umum Pusat.
Arhan turun dengan sigap, langsung menggendong tubuh sang putri konglomerat dan berlari menuju pintu Instalasi Gawat Darurat (IGD).
"Tolong! Pasien butuh pertolongan segera! Kondisi kritis!" teriak Arhan.
Para perawat dan dokter jaga langsung sigap membawa tandu dan menerima pasien itu.
Dalam sekejap, wanita itu sudah dibawa masuk ke ruang tindakan, meninggalkan Arhan yang berdiri mematung di lorong, napasnya sedikit memburu bukan karena lelah, tapi karena beban pikiran.
Namun, ketenangan itu hanya berlangsung beberapa detik.
Brak! Brak! Brak!
Suara deru motor dan hentakan kaki memenuhi halaman rumah sakit. Tiga motor warga yang mengejarnya tadi sudah tiba.
"ITU DIA! ORANG ITU DI SANA!" teriak salah satu warga sambil menunjuk wajah Arhan.
Dalam sekejap, Arhan dikepung oleh kerumunan orang yang wajahnya penuh amarah. Mereka menganggap Arhan adalah penjahat, penculik, atau bahkan pemerkosa yang baru saja kabur dari kejaran.
"HEH KAU JAHAT! BERANI BERNYALI KAU MENCULIK ORANG!" hardik seorang pria kekar sambil mendorong bahu Arhan.
"Hajar saja orang ini! Biar kapok! Niat jahatnya ketahuan malah mau kabur!" teriak yang lain.
Suasana langsung ricuh. Beberapa orang sudah mengepalkan tangan, siap memukuli Arhan.
"JANGAN LEPAS DIA! SERAHKAN KE POLISI!" teriak Mereka.
Belum sempat pukulan pertama mendarat, terdengar suara sirine polisi yang menderu mendekat, yang di mana Gina yang melaporkannya tadi. Beberapa petugas kepolisian turun dari mobil patroli dan langsung memisahkan massa dari Arhan.
"BERHENTI! SEMUA TENANG!" teriak petugas itu. "Tuan, ikut kami untuk diperiksa. Ada laporan Anda menculik dan ingin menyakiti wanita ini!"
Arhan berdiri tenang meski dihujani tatapan benci dan tuduhan. Ia tidak melawan, tapi juga tidak takut. Ia tahu, satu-satunya yang bisa membela dirinya saat ini adalah fakta medis yang sedang terjadi di balik pintu tertutup itu.
Situasi semakin tegang. Massa menuntut polisi segera menangkap Arhan, sementara petugas mulai memasang borgol di tangannya.
Tapi...
Krieeet...
Pintu ruang tindakan terbuka perlahan. Seorang dokter dengan baju putih dan masker yang digantung di leher keluar sambil melepas sarung tangannya. Seluruh ruangan langsung hening seketika. Semua mata tertuju pada sang dokter.
Kepala polisi yang hendak memasang borgol pun berhenti.
"Dokter, bagaimana kondisi pasiennya? Apakah orang ini yang menyakiti dia?" tanya petugas polisi tegas.
Dokter itu menghela napas panjang, lalu menatap seluruh hadirin dengan wajah serius namun lega.
"Pasien sudah stabil. Dia selamat," kata dokter itu.
Massa mulai berbisik-bisik, tapi dokter itu segera melanjutkan kalimatnya dengan suara lantang.
"Dan saya harus mengatakan ini dengan jelas... Nyawa nona ini tertolong 100% berkat tindakan cepat pria ini," tunjuk dokter itu tepat ke arah Arhan.
"Apa?!" seru semua orang serentak, kaget.
"Pasien mengalami henti jantung sementara dan keracunan. Jika dia dibawa terlambat hanya 5 menit saja... saya pastikan nyawanya tidak akan bisa kami selamatkan. Pria ini melakukan pertolongan pertama yang sangat tepat dan membawanya dengan kecepatan tinggi yang justru menyelamatkan nyawa pasien," jelas dokter itu panjang lebar.
Jleb!
Para semua orang yang ada di sana terkejut. Wajah para warga yang tadi merah padam karena marah, kini berubah pucat karena malu. Mulut mereka terkunci rapat, tidak ada lagi yang berani berteriak.