NovelToon NovelToon
The Curious Queen GL Indo

The Curious Queen GL Indo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / GXG
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

"Serius hidup gue gini amat yak?"

Kimi berhenti tepat di depan gerbang besar, nafasnya ngos-ngosan sambil menyeret koper yang ukurannya hampir sama dengan tubuhnya. Seminggu pelatihan sudah ber jalan, dan ia baru datang hari ini. Bukan karena sibuk, apalagi sakit, melainkan murni karena tidak niat. Lagipula alasan ia bisa terdaftar di sini pun gara-gara ulah iseng abangnya. Ironis sekali. Saat orang lain rela mandi kembang tujuh rupa agar bisa terpilih, justru orang se-malas dirinya yang lolos. Yang bikin tambah menyebalkan, mobil yang mengantarnya berhenti dua ratus meter sebelum gerbang.

Alasannya? Kucing sopirnya mau lahiran. kucing. Lahiran. Oke, demi kucing, Kimi tidak jadi marah meski harus menyeret koper jumbo dengan tas bertumpuk di atasnya sampai nyaris kehabisan nafas. Baiklah, sedikit intermezzo~

Tempat ini adalah Charley's Training, pelatihan khusus yang digelar oleh perusahaan bergengsi Charley Group sebelum para calon karyawan benar-benar terjun ke kantor. Lokasinya ada jauh di pegunungan, tersembunyi di balik hutan lebat dengan area luas yang dipagari tinggi. Di dalamnya terdiri dari kampus kecil, dua asrama laki-laki dan perempuan, rumah pembimbing, serta hunian khusus staf keamanan dan kebersihan. Pelatihan ini selalu jadi incaran. Banyak mahasiswa dari universitas ternama mendaftar, karena peluang kerja dan gaji di Charley Group memang menggiurkan.

Walau begitu, jumlah yang diterima tidak banyak, dan katanya.. keputusan final sepenuhnya tergantung mood si bos. Aneh, tapi begitulah.

Tahun ini yang diterima hanya lima belas orang dan semuanya perempuan, Alasan resminya? Konon si bos besar sudah bosan melihat karyawan yang kebanyakan laki-laki. Absurd, tapi nyata.

Gerbang di hadapan kimi tiba-tiba. terbuka. Ia sempat mengira itu otomatis, sampai ia melihat seorang satpam di pos kecil.

"Pak, gimana caranya gerbang bisa kebuka sendiri?" tanya kimi polos santai.

"Saya bisa sihir dikit-dikit, neng.'

Kimi menyipit curiga. Jiwa kepo-nya langsung bergejolak. Ia sampai meninggalkan koper hanya untuk nyelonong masuk ke pos.

"Eh, eh, mau apa neng?" panik Pak Budiman.

"Kasih tau yang bener, pak."

Pak Budiman mengangkat tangan menyerah, "Ya ampun... ini nih, tinggal pencet tombol merah. Sekali pencet buka, sekali pencet tutup."

Dengan penuh khidmat, kimi mengulurkan tangan dan menekan tombol itu, Matanya berbinar melihat gerbang kembali bergerak.

"Oke, saya udah gak penasaran. Makasih, Pak Budiman."

Kimi pun kembali menyeret kopernya dengan puas, sementara Pak Budiman mengusap dada sambil geleng-geleng kepala.

" Cantik-cantik kok bikin takut," gumamnya pelan.

Kimi sampai di gedung sebelah kiri yang ia tahu sebagai asrama. Sebelum masuk, seseorang memanggil dari belakang.

"Hei, halo. Kamu calon karyawan baru ya?"

Kimi menoleh dan melihat seorang gadis rambut merah panjang dengan smoky eyes dramatis hingga matanya tampak hitam pekat. Kimi sempat berpikir, gadis ini mungkin bukan manusia biasa, melainkan įelmaan Mbak Kunkun versi dunia nyata.

"Iya, aku baru, Ini asramanya kan?" jawab Kimi malas tersenyum, terlalu lelah dan sedang badmood.

"Oh, yang ini asrama cowok. kosong. Asrama cewek di sebelahnya," jawab gadis itu sambil menunjuk ke rumah sebelah.

Kimi mengangguk, lalu berjalan santai ke asrama perempuan.

"Makasih ya, bye."

Gadis rambut merah itu melongo melihat Kimi masuk begitu saja.

"Emang dia tau kamarnya?" gumamnya sambil garuk kepala.

Begitu sampai di dalam, kimi langsung menimbang segalanya. Ia ingin sekalian olahraga, jadi memilih kamar di lantai dua. Agar bisa menyendiri, ia mengambil kamar paling ujung. Tapi saat dibuka, pintu itu terkunci.

"Apa nih? Macet apa gimana?" gumamnya sambil mengintip ke celah kunci.

Ketika tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat, kimi otomatis menoleh. Seorang gadis lain berjalan santai ke arahnya. Tingginya menjulang, kulit putih, rambut panjang kecoklatan, auranya tegas, dan wajahnya mantap-cool, kece, dan jelas bukan orang yang main-main, kimi bukan terpesona, setidaknya bukan dengan cara yang romantis. Ia malah penasaran, kepo level dewa.

"kira -kira tingginya berapa? Olahraga apa sampai badannya tegap gitu? Dan cup-nya.. kok rata gitu? Oh, itu urusan pribadi," gumam Kimi di dalam hati.

Ia memang sering penasaran pada hal-hal remeh, kecuali masalah orang. Kalau orang itu murung, ia memilih menjauh, takut kena siksaan berupa curhat.

Begitu dekat, gadis itu menatap kimi dengan mata tajam. "Mau apa?"

Kimi sedikit mendongak, lalu berkata pelan. "Tingginya berapa, mbak? Aku seratus enam dua."

Gadis itu mengernyit, tapi malah menggerakkan dagu ke arah pintu. "Mau ngapain depan kamar gw? Mau maling?"

"Dih, sorry nih ye. Biar blangsak tapi aku tuh anak baik budi. kirain kamarnya belum ada yang punya," kata Kimi tersinggung.

"Kalau mau di sebelah aja. Masih kosong," suara gadis itu berubah tenang.

"Yaudah, makasih," kata Kimi masih sewot, lalu menyeret kopernya menuju kamar sebelah. Kali ini pintu terbuka, dan kimi yang lelah tak menunggu waktu untuk masuk ke dalam. Kamar itu lumayan luas, dengan double bed, meja rias mungil, meja kerja, dan lemari tinggi dua pintu. Ada kamar mandi kecil di dalam, dan keset dengan tulisan 'cinta kamu' di bawah.

"Lah, ini maksudnya cinta buat diinjek-injek?" Gumam Kimi bingung.

Tapi ia malas berpikir, lebih memilih merebahkan tubuh lelahnya di ranjang empuk yang nyaman. Dua detik kemudian ia tertidur pulas.

.

Sore harinya, Kimi terbangun dalam keadaan linglung. Ia sempat panik karena. tidak mengenal kamar yang ia tempati, tapi begitu matanya menangkap keset'cinta kamu', ia tersadar di mana dirinya berada. Setelah menghela napas panjang, ia membongkar koper seadanya. dan mengambil pakaian ganti.

Selesai mandi, kimi mengingat jadwal yang sempat ia lihat dalam perjalanan. Hari Minggu pelatihan libur, dan sorenya para calon biasanya berkumpul di ruang santai untuk saling mengenal.

"kegiatan jenis apa ini? Bukannya mereka ketemu di kelas ya?" gumamnya sambil memeriksa jadwal sekali lagi.

Ia melirik jam dinding, jam lima lewat sepuluh menit. Matanya membelalak. Sekali lagi ia terlambat. Sudah seminggu pelatihan berlangsung tanpa ia hadir, dan sekarang di hari pertamanya ia. masih sa.ja telat. Kimi sudah memantapkan hati untuk lulus dari sini setelah disogok parfum seharga lima ratus ribu oleh sang abang pelit. Tapi kata kimi, "Lumayan lah,"

Ia menuruni tangga dengan tergesa, nyaris menggelinding jīka tidak berpegangan. Sekilas ia celingukan mencari ruang santai, sampai matanya tertumbuk pada pintu besar dengan dua handle. Pasti ini tempatnya. Ia mengetuk tiga kali, membuka handle pelan dan mengintip perlahan.

Empat belas pasang mata langsung menatap ke arahnya.

"Kamu kimi kan? Masuk aja," kata seseorang yang terlihat paling tua di sana dengan nada santai.

Kimi melangkah masuk dan menutup pintu. Ia sempat kebingungan memilih sofa , tapi begitu melihat gadis yang tadi dikamarnya hampir dibobolnya duduk sendirian di ujung, ia memilih duduk di sana. Ia merasa kasihan dengan bagian sofa yang tidak diduduki-bukan dengan gadis itu. Tadinya ia sempat curiga sofa itu basah atau kotor, tapi begitu pantatnya menyentuh kain empuk, ternyata nyaman.

"Kimi, karena kamu baru, kenalan dulu sama yang udah duluan ya. kalian seumuran kok. Nah, saya Clarissa, pembimbing psikologis, spiritual, dan keharmonisan antar calon," kata wanita tadi dengan senyum tenang.

P'sikologis, spiri... apa?! kimi sempat ternganga sebentar. Pembimbing jenis apa itu? Sepanjang hidupnya, ia belum pernah mendengar jabatan semacam ini. Apa mereka nanti disuruh meditasi sambil membicarakan trauma masa lalu? Atau saling curhat tentang kebiasaan absurd satu sama lain? Atau.. adakah ritual rahasia semacam 'tahan nafas tiga kali sambil menyebut nama calon pasangan masa depan'?

Setelah berkenalan, Kimi baru tahu gadis rambut merah itu bernama Juliasfary. Lalu ada Januita, Febi, Marey, Aprilia, Meisy, Junistira, Agustina, Septia, Oktavia, Noverin., Desi, si gadis di sebelahnya Ruby, dan satu gadis yang sedang sakit bernama Anela. Deretan nama itu membuat kimi sedikit berpikir. Apakah penerima. calon kali ini sengaja mengumpulkan orang-orang berdasarkan bulan lahir? Lalu kenapa ada dia, Ruby, dan Anela yang terkesan 'merusak' ekosistem nama yang sudah begitu indah terbentuk? Seharusnya mereka mencari nama Lunar, Bintang, Sun Gokong, atau apapun biar tetap konsisten.

"Baiklah, kenalannya sudah. Sekarang ceritakan tentang diri kamu, Kimi. Santai saja ya, gak usah kaku," kata Clarissa.

Kimi maju ke depan dengan penuh percaya diri, berdehem sekali, dan menarik napas panjang.

"Nama lengkapku Kimi Ariana. Aku anak kedua dari dua bersaudara. Usia dua dua, pacaran baru dua kali, dan dua kali juga hampir diadopsi keluarga dari pihak papa,"

Clarissa. mengernyit. "Kenapa kamu bisa hampir diadopsi?"

"Kata papa aku terlalu jauh sifatnya dari mereka, kata mama aku gak ada mirip- miripnya. Hampir aja test DNA, untungnya mama ingat memang pernah ngelahirin aku," jawab Kimi dengan ekspresi serius tapi absurd.

Hening sejenak, lalu semua bertepuk tangan riuh.

"Cerita lo hebat, kim," kata Janu.

"Kamu keren," timpal Okta.

"Gak ada yang mirip kamu ceritanya," sahut Agus pula.

Kimi tersenyum lebar, memperlihatkan lesung pipinya yang hanya ada di kiri. Yang kanan hanya sedikit, seperti malu-malu muncul ke dunia.

Setelah duduk, Clarissa berkata tegas seolah sedang membacakan pengumuman resmi ;

"Sekarang kalian saling mengenal sendiri. Jam tujuh makan malam, jangan ada yang terlambat." Lalu ia pergi begitu saja. Begitu hanya tinggal mereka, suasana tiba-tiba jadi riuh.

Agus berdiri dan mendekat ke kimi dengan senyum ramah. "Kim, duduk sama kita aja yuk. Jangan di sini."

kimi menoleh dengan mata bingung. "Eh, kenapa?"

"Ya gak apa-apa, lebih asyik rame-rame kan?"

kimi yang masih baru akhirnya pasrah ditarik Agus ke kumpulan gadis berisik. Mereka mulai cerita tentang pelatihan di tempat ini. Ternyata tidak semua peserta berada di bidang yang sama. Ada yang bagian keuangan, marketing, IT, dan pengembangan. Saat lulus pun belum tentu pula. mereka ditempatkan di perusahaan yang sama, karena Charley punya banyak anak perusahaan. kimi langsung berpikir, inilah fungsi dan manfaat dari acara berkumpul sore ini. Meskipun jauh di dalam hati ia masih merasa kegiatan ini tidak perlu. Toh, mereka tinggal di satu rumah yang sama.

Saat obrolan mereka makin seru, Ruby tiba-tiba memilih meninggalkan ruang santai tanpa bicara. Anehnya semua. orang nampak tidak peduli, atau pura- pura acuh?

"Kamu di kamar mana?" tanya Febi.

"Nomor... tiga. dua kayaknya," jawab Kimi yakin.

Apri menepuk lengannya pelan, "Di sini kamar cuma Sampai nomor 30, Kim,"

"Yang deket ujung berapa sih? Dua belas ya?" Kimi malah balik bertanya.

Semua langsung terdiam dan saling pandang.

"Kim, mending ambil kamar lain deh. Di rumah ini ada tiga puluh kamar. Biasanya kalau pelatihan lagi rame, satu kamar ditempatin dua orang. Tapi karena kita cuma lima belas, masih ada setengahnya yang kosong. Mending di sebelah kamar aku aja," kata Desi panjang lebar.

Kimi memiringkan kepala. "Emang kenapa? Aku suka yang ujung, tapi udah ditempatin Ruby duluan."

Okta mendekat dan berbisik, "Hati-hati sama dia. Nanti lo diapa-apain loh."

"Diapa-apain gimana?"

Kali ini Juli si smoky eyes maju, "qw sebenernya bodo amat, cuma anak-anak aja yang gak nyaman, Soalnya dia... lesbian,"

"Oooo" Kimi mengangguk pelan, lalu rasa penasaran yang sering bikin hidupnya repot muncul lagi.

"Kok pada tau?" tanya Kimi setelah tersadar.

"Waktu kita mandi bareng di kali, kan pada topless tuh. Dia mukanya sampe merah, terus menjauh. Pas kita tanya, dia ngaku sendiri," kata Marey santai.

"Kali?" Kimi mendelik antusias. "Emang di sini ada?"

"Ada air ter junnya malah, Ini di gunung. yang kayak gini biasa lah," jelas Septi sambil menyandar.

"Pokoknya hati-hati aja. Kalau dia aneh-aneh, kasih tau kita," Okta kembali memperingati.

Kimi melongo, tapi otaknya langsung memproses hal lain. Jenis perempuan seperti Ruby ini belum pernah ia jumpai seumur hidup. Entah karena ia kurang bergaul, atau memang kebanyakan rebahan. Tapi bagaimana rasanya bersama seseorang yang sejenis dengannya? Sama dengan laki-laki, atau justru lebih menantang?

Ini... ini sesuatu yang harus ia coba sebelum kepalanya meledak karena penasaran.

.

.

1
filusi
ceritanya bagus bet semoga cepat update
Benrycia_: Makasih
total 1 replies
Anonim
Up terus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!