Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Dilangit sana masih menyisakan warna pucat ketika Syahira sudah duduk kembali diatas sajadahnya. Mushaf yang terbuka dengan jemarinya yang menahan halaman agar tidak tertiup angin tipis dari jendela.
Bibirnya terus bergerak teratur..namun kali ini bukan hanya sekedar hafalan. Tapi ada sesuatu yang ia cari disetiap ayat yang ia baca.
Ada sesuatu yang ia cari disetiap ayat yang ia baca.
yaitu makna atau mungkin..suatu jawaban. Sesekali suaranya terhenti, bukan karena dirinya lupa akan salah satu ayat yang sejak tadi ia hafalkan tapi karena hatinya sendiri yang tidak sepenuhnya hadir.
Deg. kilasan bayangan itu lagi, bagaimana cara dia menatapnya. Suaranya yang terdengar tegas tapi seperti menyimpan sesuatu.
Syahira langsung memejamkan mata lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Astaghfirullah..."
tak lama ia menurunkan tangannya m mencengkram mushaf lebih berat. Napasnya yang naik turun tidak stabil.
..."Ya Alloh,..kenapa jadi gini,..niat hamba untuk belajar,..jangan,..jangan sampai hal ini mengganggu niat hamba untuk belajar ya Alloh,..hamba tidak ingin mengikuti kata hati hamba jika arah rasa ini condong ke arah yang salah" Syahira....
Ia membuka matanya lagi, dan memaksa dirinya kembali membaca, kali ini lebih cepat..seolah ingin mengalahkan pikirannya sendiri.
Dan ditempat lain, mesin motor berhenti tepat di parkiran kampus. Kaizan Altaz melepas helmnya, mengusap wajahnya kasar. Tak lama menghembuskan napasnya panjang.
Kedua netranya menyapu area sekitar yang mulai ramai oleh mahasiswa. Namun fokusnya,..tidak benar benar disitu.
"Aneh" gumamnya lagi. Tangannya masuk ke saku celana, berdiri santai tapi rahangnya mengeras samar.
Satu nama muncul lagi dan lagi,..satunya Feryal, dan ..Syahira. Ia menggeleng pelan seolah menolak instingnya yang berjalan.
"Astaghfirullah kenapa lagi sama otak gue sih.." namun belum sempat ia melangkah lebih jauh, matanya menangkap sosok yang berjalan dari arah gerbang.
Sedang melangkah pelan dengan kepala yang sedikit menunduk dan tangannya yang memeluk kitab erat di dadanya.
Syahira. Deg. Tidak ada yang memanggilnya, Kaizan hanya diam dan mengamatinya dari kejauhan. Seperti sedang menahan sesuatu pada dirinya sendiri.
"Ternyata dia lagi perang sama dirinya sendiri.." gumam Kaizan tanpa sadar. Dan entah kenapa hal itulah yang membuatnya merasa tidak nyaman.
Lantai dua,..Koridor. Langkah Syahira terhenti sesaat ketika melihat sosok yang berdiri diujung sana. Bilal sedang berbicara serius dengan salah satu dosen lain,..tapi entah kenapa pandangannya seperti sempat terarah tepat ke arahnya.
Deg. Syahira langsung menunduk, napasnya terdekat, dengan langkah kakinya yang mulai goyah.
akan tetapi Syahira tetap berjalan perlahan melewati tanpa berani melihatnya.
Sementara Bilal sempat terdiam saat Syahira melewatinya begitu saja. Obrolan yang sedang dibahas pun seketika tidak masuk. Matanya hanya mengikuti satu sosok yang baru saja lewat.
"Syahir" batinnya berucap,..rahangnya tiba tiba mengeras, "cukup..." batinnya berkelakar. Tangannya mengepal disisi tubuhnya sendiri. Tapi anehnya justru semakin ia menahan rasa itu malah semakin kuat dan terasa.
"Ini harus berhenti, enggak bisa kayak gini"
Didalam kelas, belum sepenuhnya ramai tapi beberapa mahasiswa masih sibuk dengan urusannya masing masing.
Syahira duduk di tempatnya, membuka kitab..tapi belum membacanya. menatap kosong beberapa detik saja setelahnya suara kursi disebelahnya pun bergeser.
"Shobakhul Khair ukhti, pagi"
"Shobakhunnuur ya akhi" Syahira menoleh senyum, Haikal yang menyapanya dengan senyum cerianya seperti biasanya.
"Udah siap hafalannya Ra?, tanya Haikal.
"Hmm ya harus siap" sahutnya. Haikal tersenyum tipis. "Santai aja Ra,..kemarin tuh kamu cuma lagi enggak fokus aja kan?"
Deg.
Seolah menampar tepat, Syahira langsung terdiam tidak langsung menjawabnya.
"Ya..gitu deh mungkin" sahutnya singkat. Akan tetapi tiba tiba saja ada yang main ikut nimbrung "Fokus itu bukan 'mungkin'." seketika suasana seperti berhenti. Syahira menegang.
Ia tidak ingin tau siapa itu, dari suaranya saja sudah sangat familiar, Kaizan berdiri tidak jauh dari bangku mereka. Tapi tatapannya lurus ke arah Syahira mentalnya dalam tapi tidak tajam seperti biasanya ia lakukan.
"Kalau Lintau itu penting...ya jangan kasih ruang buat hal lain masuk," lanjutnya santai. Kata katanya membuat Haikal mengernyit heran. Sedikit terpancing emosi. "Maksud Lo?" namun Kaizan tidak menjawabnya, tapi ia masih menatap Syahira sebentar.
Kemudian tersenyum tipis dan pergi begitu saja. Meninggalkan ketidak nyamanan pada akhirnya, bukan hanya pada Syahira,..Haikal pun jadi merasa tanda tanya akan kalimat yang terlontar itu.
Deg. Syahira langsung menunduk. Napasnya langsung tertahan. "Kok dia kayak tau isi hati gue ya?" batinnya. Atau.. Itu hanya perasaannya saja?. namun satu hal yang pasti hari ini bukan hari yang biasa saja menurutnya..
Kelas mulai terasa lebih padat, suara para mahasiswa maupun mahasiswi saling bersahutan dengan hebohnya. Kursi digeser dan bisik bisik kecil memenuhi ruangan yang perlahan hidup seperti biasa, namun bagi Syahira semuanya terasa seperti jauh tidak seperti biasanya yang ia rasakan saat ini.
Syahira menunduk menunduk, tangannya menahan halaman kitab yang sejak tadi belum ia baca kembali sama sekali. Bibir ranumnya terkatup rapat, seolah ia tahan akan ikut keluar.
Haikal meliriknya sekilas kearahnya, "Ra,..elo enggak kenapa napa?" Haikal yang bertanya tapi Calysta yang langsung menoleh ke arahnya lalu menoleh lagi ke Syahira seraya menyenggol lengan Syahira.
"Dipanggil Haikal tuh"
"Eh..iya kenapa kal?" Syahira mengangkat wajahnya pelan, memaksakan senyumnya tipis.
"Elo kenapa kayak orang lagi kepikiran apa gitu, jangan dibikin stres" ujar Haikal.
Syahira mengangguk, "enggak kenapa napa kok kal, cuma kecapean aja, thanks for asking ya."
"Hmm sama sama, tapi elo keliatan tau banget malah, iya kan lys?" beralih tanya ke Calysta.
"Iya, bener Kata Haikal, Ra,..elo tuh akhir akhir ini kenapa sih, cerita kalo elo kenapa napa jadi enggak bikin kita khawatir Sya" ucap Calysta.
"Seriusan enggak kenapa napa, cuma kurang tidur aja aku tuh makanya masih ngantuk berat ini," Syahira menggeleng kecil lalu menguap demi menyembunyikan sesuatu yang ia rasakan saat ini.
Meskipun ia sendiri kurang percaya atas jawaban yang terucap, tapi ia juga tidak mau memaksa, "yaudah,..nanti kalo butuh bantuan hafalan bilang aja ya Ra" sahut Haikal.
Syahira mengangguk, namun belum sempat percakapan mereka berlanjut pintu kelas sudah terbuka, dan semua langsung mendadak tenang.
Bilal masuk seraya mengucap salam dengan pembawaannya yang begitu wibawa dan karismatik. Langkahnya seperti biasa tenang, meski tidak setenang yang mereka kira. Namun hanya dirinya lah yang tahu. Bagaimana dirinya saat ini.
Hari ini ada yang berbeda yang jelas sesuatu yang biasanya ia menatap menyapu ke seluruh mahasiswa yang ada diruangan kelas itu.
Tapi hari ini, ia hanya berjalan menatap lurus ke depan, meletakkan kitabnya dimeja lalu terdiam sejenak.
Deg.