Lima tahun menikah, Stella merasa hidupnya sempurna bersama Abbas, suami yang penyayang. Kehadiran Annisa—yang diperkenalkan Abbas sebagai adik sepupu yatim piatu—bahkan disambut Stella dengan tangan terbuka layaknya adik kandung sendiri.
Namun, fatamorgana itu hancur saat Stella menemukan slip reservasi hotel di saku jas Abbas. Bukan sekadar perjalanan bisnis, slip itu mencantumkan paket Honeymoon Suite untuk Mr. Abbas & Mrs. Annisa.
Kebenaran pahit terungkap: adik sepupu yang datang ternyata adalah istri siri suaminya selama setahun terakhir. Terjebak dalam pengkhianatan di bawah atap yang sama, Stella harus memilih: bertahan demi janji suci yang telah ternoda, atau pergi demi harga diri saat Annisa mulai menuntut pengakuan sah sebagai istri kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
...Sore itu, suasana rumah sakit cukup padat, namun Stella melangkah dengan riang melewati lorong-lorong putih yang beraroma antiseptik. ...
...Ia ingin memberikan kejutan sekaligus berbagi kebahagiaan atas kontrak besar yang baru saja ia tandatangani....
...Stella menuju ke rumah sakit dan menceritakan semuanya saat ia tiba di ruangan Khan. ...
...Dengan penuh semangat, ia menceritakan betapa lancarnya pertemuan tadi, termasuk pujian dari Rangga dan bagaimana pria itu sangat menghargai kinerjanya. Namun, semakin Stella bercerita, ia menyadari perubahan pada ekspresi pria di depannya....
...Kecemburuan Khan mulai terlihat jelas. Ia yang tadi sedang memeriksa beberapa rekam medis, kini meletakkan pena dengan sedikit kasar. ...
...Rahangnya mengeras saat mendengar bagaimana Rangga sempat mencium tangan Stella dan mengajaknya makan siang secara pribadi....
..."Makan siang yang sangat lama untuk sebuah tanda tangan kontrak, bukan?" sindir Khan tanpa menatap Stella. ...
..."Dan sejak kapan klien mencium tangan di depan asistennya?"...
...Melihat ekspresi kaku dan nada bicara Khan yang ketus, Stella tertawa terbahak-bahak dan memeluk tubuh calon suaminya dari belakang. ...
...Ia merasa sangat gemas melihat sisi protektif dokter yang biasanya sangat tenang ini....
..."Khan, kamu cemburu? Itu hanya etika bisnis, Pak Dokter sayang," ucap Stella di sela tawanya, sambil menyandarkan dagunya di bahu Khan....
...Khan tidak menjawab, ia hanya menghela napas panjang untuk meredam kekesalannya. ...
...Khan duduk dan melanjutkan pekerjaannya, kembali berfokus pada layar komputer dan tumpukan berkas seolah-olah Stella tidak ada di sana....
...Stella menyadari bahwa kali ini ia mungkin sedikit berlebihan dalam bercerita. Ia mencoba mencairkan suasana. ...
..."Khan, ayo kita cari makan malam," ajak Stella lembut, sambil mengelus lengan Khan....
..."Hmm..." sahut Khan pendek tanpa menoleh....
...Stella merasa bersalah karena telah membuat suasana hati Khan rusak. ...
...Ia bergeser ke samping Khan, menatap wajahnya yang masih terlihat gusar....
..."Sayang, maaf," ucap Stella dengan suara tulus. ...
..."Aku tidak bermaksud membandingkan atau apa pun. Bagiku, tidak ada pria yang lebih berwibawa dan tampan selain kamu. Aku hanya terlalu bersemangat soal kontraknya, bukan soal orangnya."...
...Mendengar kata "sayang" dan permintaan maaf yang tulus, pertahanan Khan perlahan runtuh. ...
...Ia menoleh ke arah Stella, menatap mata wanita itu cukup lama sebelum akhirnya tersenyum tipis dan menarik Stella ke dalam pelukannya....
...Khan menarik napas panjang, lalu memutar kursi kerjanya agar bisa menghadap Stella sepenuhnya. ...
...Ia menggenggam kedua tangan Stella, menatapnya dengan tatapan yang dalam dan intens, seolah ingin memastikan bahwa pesannya benar-benar sampai ke hati wanita itu....
..."Aku tidak suka ada lelaki lain yang memperlakukan kamu seperti itu," ucap Khan dengan suara rendah namun penuh penekanan. ...
..."Mungkin baginya itu hanya etika bisnis, tapi bagiku, melihat lelaki lain menyentuh tanganmu apalagi menciumnya... itu membuatku tidak tenang."...
...Stella terdiam, bisa merasakan betapa besarnya rasa memiliki Khan terhadapnya. ...
...Ia sadar bahwa bagi Khan, Stella adalah permata yang baru saja ia selamatkan dari badai besar, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun mendekati permatanya dengan cara yang tidak ia sukai....
..."Aku tahu kamu profesional, Stella. Tapi aku ini laki-laki, dan aku tahu bagaimana cara laki-laki lain menatap wanita yang luar biasa seperti kamu," lanjut Khan, mulai melunakkan suaranya. Ia mengusap punggung tangan Stella dengan ibu jarinya....
...Stella tersenyum kecil, kali ini bukan untuk menertawakan kecemburuan Khan, melainkan karena merasa sangat dicintai. ...
...Ia sedikit menjinjit dan mengecup pipi Khan dengan lembut....
..."Aku mengerti, sayang. Aku janji akan lebih menjaga jarak lain kali. Sekarang, bisakah Pak Dokter yang tampan ini memaafkanku dan kita pergi makan? Aku benar-benar lapar," pinta Stella dengan nada manja yang langsung meluluhkan sisa-sisa kekesalan di hati Khan....
...Khan akhirnya tertutup rapat berkasnya dan tersenyum pasrah. ...
..."Baiklah, ayo. Tapi kali ini, tidak ada lagi pembahasan soal Tuan Rangga itu selama makan malam, setuju?"...
..."Setuju!" jawab Stella cepat sambil merangkul lengan Khan, siap meninggalkan aroma rumah sakit menuju malam yang hanya milik mereka berdua....
...Malam itu, Khan akhirnya luluh dan membawa Stella keluar dari rutinitas rumah sakit. ...
...Mereka memutuskan untuk menikmati suasana santai di pinggir jalan. ...
...Tak butuh waktu lama, mereka berhenti di sebuah area kuliner populer, mencari makan lesehan dan bertemu dengan Rangga yang secara tidak sengaja juga berada di sana, sedang berdiri di dekat mobil mewahnya yang tampak kontras dengan suasana sekitar....
..."Stella? Wah, dunia memang sempit ya," sapa Rangga dengan senyum lebarnya yang penuh percaya diri....
...Tanpa menunggu undangan resmi, Rangga yang ikut bergabung dengan mereka duduk di atas tikar lesehan, bergabung di meja kayu rendah yang sama. ...
...Kehadirannya yang tiba-tiba membuat suasana yang tadinya tenang mendadak terasa tegang....
...Stella melihat raut wajah Khan yang berubah drastis. ...
...Gurat rahang Khan mengeras, dan tatapannya menjadi sedingin es saat melihat pria yang tadi siang mencium tangan calon istrinya kini duduk tepat di hadapan mereka....
...Berusaha mencairkan suasana yang membeku, Stella segera memulai perkenalan. ...
..."Rangga, perkenalkan ini calon suamiku, Khan."...
...Rangga menatap Khan dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu tersenyum tipis yang terkesan menantang. ...
..."Masih calon suami kan, belum suami?"...
...Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Rangga, memancing api di mata Khan. Namun, sebelum ada yang sempat membalas, Rangga tertawa terbahak-bahak, seolah baru saja melontarkan lelucon paling lucu sedunia....
..."Santai saja, Dokter Khan. Saya hanya bercanda," ucapnya sambil mengulurkan tangan dengan gaya yang sangat maskulin. ...
..."Perkenalkan, aku Rangga. Rekan bisnis sekaligus pengagum etos kerja Stella."...
...Khan tidak langsung menyambut uluran tangan itu. ...
...Ia menatap tangan Rangga sejenak, lalu beralih ke mata pria itu. ...
...Dengan gerakan pelan namun mantap, Khan menjabat tangan Rangga, memberikan tekanan yang cukup untuk menunjukkan siapa yang sebenarnya memegang kendali di sini....
..."Khan," jawabnya singkat dan padat. "Dan bagi saya, status 'calon' adalah janji suci yang lebih kuat dari kontrak bisnis mana pun."...
...Suasana di warung lesehan yang biasanya ramai riuh itu mendadak terasa mencekam di meja mereka. ...
...Makan malam yang tegang itu berlanjut dengan denting sendok yang beradu dengan piring, menjadi satu-satunya suara di antara mereka bertiga....
...Stella menatap dua lelaki yang saling pandang secara bergantian. ...
...Khan duduk dengan punggung tegak dan aura protektif yang sangat kental, sementara Rangga tampak santai namun matanya terus memancarkan binar persaingan....
..."Sop ayam di sini memang enak, tapi sepertinya hidangan di hotel tadi siang jauh lebih cocok dengan keanggunanmu, Stella," ucap Rangga sedikit genit menggoda Stella sambil mengedipkan sebelah matanya. ...
...Ia kemudian sengaja menggeser piring sambal lebih dekat ke arah Stella. "Hati-hati pedasnya, aku tidak mau melihat bibir cantikmu kepedasan."...
...Khan meletakkan sendoknya dengan suara dentuman kecil di atas meja kayu. ...
...Tangannya terkepal di bawah meja, dan tatapannya tampak siap meledak kapan saja....
...Melihat situasi yang hampir tidak terkendali, Stella menenangkan Khan dengan cara meraih tangan pria itu di bawah meja. ...
...Ia menggenggam jemari Khan dengan erat, menyalurkan kehangatan untuk meredam emosi calon suaminya....
..."Rangga, terima kasih perhatiannya, tapi Khan sudah tahu persis apa yang aku suka dan apa yang bisa aku makan," ucap Stella dengan nada tegas namun tetap sopan, mencoba menarik garis batas yang jelas....
...Ia menoleh ke arah Khan dan memberikan senyuman paling manis yang ia miliki. ...
..."Sayang, sopnya enak sekali, kan? Habiskan ya, supaya kamu punya tenaga untuk mengantarku pulang nanti."...
...Genggaman tangan Stella dan panggilannya yang lembut perlahan membuat bahu Khan yang tegang mulai rileks. ...
...Meski tatapannya masih tajam ke arah Rangga, Khan akhirnya kembali mengambil sendoknya, menunjukkan bahwa ia memegang kendali atas hati Stella yang tidak akan tergoyahkan oleh godaan pria mana pun....
...Malam yang panjang di warung lesehan itu akhirnya mencapai puncaknya. ...
...Aroma kaldu yang hangat tak mampu mencairkan suasana beku di antara dua pria yang memiliki aura sangat bertolak belakang tersebut....
...Rangga yang selesai makan dan membayar semuanya tanpa permisi, berdiri lebih dulu sebelum Khan sempat mengeluarkan dompetnya. ...
...Ia memberikan isyarat kepada penjual bahwa seluruh tagihan meja mereka sudah ia lunasi secara sepihak....
..."Jangan sungkan-sungkan, Dokter Khan," ucap Rangga sambil mengancingkan satu kancing jasnya yang mewah, memberikan senyum penuh kemenangan yang terlihat sangat provokatif. ...
..."Anggap saja ini sebagai perayaan kecil atas kerja sama luar biasa antara aku dan Stella tadi siang. Sebagai sesama lelaki, aku tahu rasanya lelah setelah seharian berada di rumah sakit."...
...Khan hanya terdiam, rahangnya mengeras dengan tatapan mata yang seolah ingin menembus pertahanan Rangga....
...Ia sangat tidak menyukai cara Rangga meremehkan perannya dengan gestur "traktiran" tersebut....
...Rangga kemudian beralih menatap Stella dengan binar mata yang tidak bisa disembunyikan. ...
..."Sampai jumpa di kantor besok, Stella. Jangan sampai terlambat lagi, karena aku benci melewatkan satu menit pun tanpamu."...
...Setelah memberikan kedipan tipis yang membuat suasana semakin panas, Rangga masuk ke dalam mobilnya. ...
...Deru mesin mobil sport mewah itu memecah kesunyian malam saat Rangga melesat meninggalkan parkiran, meninggalkan gumpalan asap dan ego Khan yang terusik hebat....
...Stella segera mempererat genggaman tangannya pada lengan Khan. ...
..."Abaikan dia, Khan. Dia hanya mencoba memancingmu."...
..."Dia bukan hanya memancingku, Stella," jawab Khan dengan suara rendah namun tajam, matanya masih menatap ke arah mobil Rangga menghilang. ...
..."Dia sedang mengumumkan perang." ucap Khan yang kemudian mengajak Stela pulang....
tapi ada nunggu masa iddah juga di sini 🤭🙏
dan suaminya menikah siri dengan Annisa ?!?? Hmmm..... 🤔🤔🤔