NovelToon NovelToon
Ramalan Cinta Yang Terkunci

Ramalan Cinta Yang Terkunci

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi Wanita / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:437
Nilai: 5
Nama Author: Jasmine Oke

Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI

Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.

~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~

Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.

▪︎Objek Utama:

- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.

- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).

- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.

.
.
.
.
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Panggilan dari Dunia yang Sakit

Tiga tahun berlalu dengan bahagia. Kehidupan Elara dan Kael di Lunaria berjalan sangat sempurna. Mereka memimpin dengan bijaksana, melindungi rakyatnya, dan cinta mereka semakin hari semakin tumbuh subur seperti taman yang tak pernah layu.

Namun, hati seorang pahlawan tidak pernah bisa benar-benar tenang saat ada penderitaan di tempat lain.

Suatu malam, saat mereka sedang duduk di teras menikmati angin malam, tiba-tiba dada Elara terasa nyeri hebat. Ia memegang dadanya dan meringis.

"Elara! Ada apa?!" Kael langsung sigap memeluk istrinya.

"Aku... aku merasakan sesuatu," jawab Elara terengah-engah. Matanya memejam, seolah sedang menerima pesan dari jauh. "Banyak sekali rasa sakit... keputusasaan... dan air mata. Suara-suara itu memanggil-manggil kita."

Tiba-tiba, cincin di jari mereka bergetar bersamaan. Cahaya dari cincin itu memancar keluar, membentuk sebuah layar hologram di udara.

Di layar itu, terlihat pemandangan sebuah dunia yang sangat menyedihkan.

Langitnya berwarna abu-abu gelap, tidak ada matahari. Tanahnya retak dan kering, tidak ada tumbuh-tumbuhan hijau. Penduduknya terlihat kurus kering, wajah mereka pucat dan lesu, seolah kehidupan dan warna telah disedot keluar dari tubuh mereka.

"Tolong... kami butuh bantuan..."

"Kekuatan Cahaya dan Kegelapan... hanya kalian yang bisa menyembuhkan kami..."

Suara itu bergema samar di kepala mereka.

Kael mengerutkan kening. "Itu... Dunia Aethelgard. Aku pernah mendengar cerita tentangnya. Dunia yang dikutuk karena dosa nenek moyang mereka."

"Mereka tidak bisa terus seperti itu," kata Elara dengan mata berkaca-kaca. "Hatiku sakit melihat mereka menderita. Kita harus membantu mereka, Kael."

Kael menatap istrinya. Ia tahu sekali tekad Elara. Jika hatinya sudah tergerak, tidak ada yang bisa menghentikannya.

"Baiklah," jawab Kael akhirnya sambil tersenyum tegas. "Seperti yang kita katakan dulu. Ke mana pun kau pergi, aku akan ikut. Tapi kali ini, kita tidak akan pergi sendirian."

Keesokan harinya, sebuah rapat darurat diadakan di Balai Kota.

Darian, Nenek Mara, dan para pemimpin pasukan berkumpul. Setelah mendengar penjelasan Elara dan melihat gambaran dunia yang memilukan itu, suasana menjadi hening.

"Jadi kalian benar-benar ingin pergi?" tanya Darian pelan.

"Ya, Ayah," jawab Elara tegas. "Kekuatan yang kita miliki bukan untuk disimpan dan dipakai sendiri saja. Kita harus membaginya ke tempat yang membutuhkan. Itu tujuan kita diciptakan, kan?"

Nenek Mara menghela napas panjang, lalu tersenyum lembut. "Nenek tahu sejak awal kalian bukan orang biasa. Kalian adalah matahari dan bulan yang harus bersinar untuk semua orang, bukan hanya untuk satu kota kecil ini."

"Tapi perjalanan itu berbahaya," kata Kael. "Dunia Aethelgard dikatakan memiliki hukum fisika yang berbeda. Sihir di sana lemah, dan energi gelap sangat dominan. Oleh karena itu, aku membutuhkan pasukan terbaik untuk ikut serta."

Kael menatap ke arah pintu. "Masuklah."

Pintu terbuka, dan masuklah sepuluh orang yang merupakan murid-murid terbaik dan prajurit elit yang telah dilatih oleh Elara dan Kael sendiri selama tiga tahun ini. Mereka adalah generasi baru yang memiliki kemampuan luar biasa.

"Kami siap mengikuti Tuan Kael dan Nona Elara ke mana saja!" seru mereka serempak.

Darian mengangguk bangga. "Bagus. Maka Lunaria akan baik-baik saja selama kami yang tua-tua ini masih bisa menjaga rumah. Pergilah kalian, dan bawa kembali harapan untuk dunia itu."

Beberapa hari kemudian, di dataran tinggi yang sama tempat mereka dulu berangkat ke Elysium, sebuah portal raksasa kembali dibuka.

Kali ini, tidak ada perpisahan yang sedih. Hanya doa restu dan semangat yang membara.

Elara dan Kael berdiri di barisan paling depan. Di belakang mereka, pasukan elit siap sedia dengan perlengkapan terbaik.

"Siap?" tanya Kael sambil menggenggam tangan Elara.

"Siap," jawab Elara bersemangat.

Mereka melangkah maju, menembus dinding cahaya ungu keemasan.

Sensasi perjalanan kali ini terasa berbeda. Tidak hangat dan nyaman seperti ke Elysium, melainkan terasa dingin dan kering. Saat kaki mereka menyentuh tanah, debu halus beterbangan.

Mereka tiba.

Mata mereka menyapu sekeliling. Benar seperti yang terlihat di layar tadi. Dunia ini mati. Udara terasa berat dan berbau tanah gersang. Tidak ada suara burung, tidak ada angin sepoi-sepoi. Hanya keheningan yang mencekam.

"Di mana orang-orangnya?" bisik salah satu prajurit.

"Mereka bersembunyi," jawab Kael dingin. "Mereka takut. Tapi lihat..."

Kael menunjuk ke arah cakrawala. Di sana, terlihat sebuah kota besar yang dikelilingi tembok tinggi yang rusak parah. Namun di pusat kota, terdapat sebuah menara hitam yang menjulang tinggi hingga menembus awan, memancarkan aura jahat yang sangat pekat.

"Itu sumbernya," kata Elara menunjuk menara itu. "Energi negatif itu berasal dari sana. Sesuatu atau seseorang sedang menyedot seluruh kehidupan dari dunia ini."

"Kalau begitu, tujuan kita jelas," Kael mengangkat pedangnya sedikit. "Kita bergerak menuju kota. Kita temukan apa yang salah di sini, dan kita perbaiki."

Mereka mulai berjalan. Langkah kaki mereka memecah keheningan mematikan itu.

Namun, belum jauh mereka berjalan, tiba-tiba dari dalam celah-celah tanah dan reruntuhan bangunan, muncul bayangan-bayangan hitam. Bukan monster, melainkan manusia.

Ratusan orang keluar dari persembunyian mereka. Wajah mereka tidak ramah. Mata mereka merah dan penuh kecurigaan serta keputusasaan. Mereka memegang senjata-senjata sederhana seperti garpu rumput, pisau, dan tongkat.

"Siapa kalian?!" teriak seorang pria kekar dengan suara parau. "Penagih utusan dari Sang Penguasa Kegelapan?! Kalian datang untuk mengambil apa lagi yang tersisa dari kami?!"

Suasana langsung tegang. Pasukan Kael siap bertarung, namun Kael mengangkat tangan memberi isyarat berhenti.

Elara melangkah maju selangkah. Ia tidak takut. Ia memancarkan aura kehangatan dan cahaya yang lembut namun menenangkan.

"Kami bukan musuh," kata Elara dengan suara lembut namun jelas terdengar sampai ke telinga semua orang. "Kami datang bukan untuk mengambil, tapi untuk memberi. Kami datang untuk mengembalikan warna dan kehidupan ke dunia kalian."

Orang-orang itu terdiam. Mereka memandang cahaya yang memancar dari tubuh Elara, lalu memandang Kael yang berdiri gagah dan penuh wibawa di sampingnya.

Rasa takut bercampur dengan harapan yang sudah lama mati mulai muncul kembali di mata mereka.

"Kalian... benar-benar bisa menolong kami?" tanya seorang wanita tua dengan ragu.

"Kami tidak menjanjikan keajaiban dalam sekejap," jawab Kael kali ini. "Tapi kami berjanji akan berjuang sampai tetes darah terakhir untuk membebaskan kalian dari cengkeraman kegelapan itu."

Ia menunjuk ke arah Menara Hitam yang mengerikan itu.

"Karena mulai hari ini... kami ada di sini."

(Bersambung ke Bab 27...)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!