"Menjadi anak pertama berarti harus siap menjadi benteng, harus siap mengalah, dan harus terlihat kuat meski hati rapuh.
Di mata semua orang, Zhira adalah anak yang beruntung. Tapi siapa sangka, di balik senyumnya yang tulus, tersimpan luka mendalam karena perlakuan dingin sang Ibu dan rasa tidak dianggap di rumah sendiri.
Ini adalah kisah perjuangan seorang anak sulung untuk membuktikan dirinya berharga, meski harus berjalan sendirian meniti jalan yang penuh duri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadirnya Dia yang Mengerti
POV Zhira
Hidupku kini terasa jauh lebih berwarna. Setelah berani menetapkan batas dengan keluarga, beban di pundak terasa jauh lebih ringan. Aku bisa menikmati hasil kerjaku sendiri, bisa merawat diri, dan pikiran pun jadi lebih jernih.
Suatu hari, kantor mengadakan acara gathering besar di sebuah resort yang asri. Acara ini untuk mempererat hubungan antar divisi dan juga reward untuk karyawan terbaik. Aku termasuk salah satu yang diundang karena kinerjaku yang dinilai bagus.
"Yuk Ra, foto-foto dulu sebelum makan malam!" ajak Dinda yang kebetulan juga ikut karena dia magang di anak perusahaan kami.
"Iya nih, cantik-cantik dikit ah," jawabku sambil tertawa. Aku mengenakan dress warna soft blue yang membuat kulitku terlihat cerah. Rambut kubiarkan terurai, sedikit dikepang samping.
Saat sedang asyik berfoto, tiba-tiba ada seseorang yang menyapa dari belakang.
"Maaf mengganggu, boleh minta tempatnya sebentar? Mau ambil minum," suaranya berat, lembut, dan sangat enak didengar.
Aku dan Dinda menoleh bersamaan.
Di sana berdiri seorang pria tinggi tegap, mengenakan kemeja biru dongker yang lengan panjangnya digulung rapi sampai siku. Wajahnya tampan dengan rahang yang tegas, matanya teduh dan sorot matanya sangat sopan.
"Oh iya, silakan Mas," jawabku sedikit gugup, menyingkir sedikit.
Pria itu tersenyum tipis, senyum yang membuat jantungku berdegup aneh. "Makasih ya..."
Dia mengambil segelas air mineral, lalu sebelum pergi, dia menatapku sekilas lagi. "Kamu Zhira kan? Dari Divisi HRD? Saya sering dengar nama kamu. Kerjanya rapi sekali."
Aku terkejut dia tahu namaku. "I-iya Mas. Eh iya, betul."
"Saya Arfan. Dari Divisi Teknik," dia mengulurkan tangan untuk berkenalan. Tangannya hangat dan kuat saat bersalaman singkat.
Sejak perkenalan singkat itu, aku merasa ada yang berbeda. Pak Arfan—begitu aku memanggilnya—seringkali berada tidak jauh dariku selama acara berlangsung. Dia tidak menggoda atau berlebihan, tapi perhatiannya sangat halus.
Saat aku kehabisan tempat duduk di meja makan, dia langsung menawarkan kursi di sebelahnya. Saat aku terlihat bingung mengambil makanan yang jauh, dia dengan sigap membantuku mengambilkan tanpa diminta.
"Makasih banyak, Pak Arfan. Repot-repot," ucapku malu.
"Jangan panggil Pak, panggil Arfan aja. Atau Fan. Kita kan sebaya, cuma saya duluan masuk kerjanya," katanya sambil tersenyum ramah. "Makan yang banyak ya, perut jangan dikosongkan."
Kalimat itu... sederhana, tapi entah kenapa membuat dadaku terasa hangat sekali. Sudah bertahun-tahun tidak ada laki-laki yang memperlakukanku dengan sehalus dan selembut ini.
Malam harinya, saat acara api unggun, semua karyawan duduk melingkar. Suasana jadi lebih akrab dan santai.
Tiba-tiba ponselku bergetar. Pesan masuk.
Nomor Tidak Dikenal:
"Assalamu’alaikum, Zhira. Ini Arfan. Tadi pinjam nomornya sama admin kantor ya. Hehe. Sudah sampai kamar belum? Hati-hati kalau keluar malam, dingin soalnya."
Mataku berbinar. Aku membalas dengan jantung yang berdegup kencang.
Sejak malam itu, kami mulai sering mengobrol lewat chat. Arfan ternyata pria yang sangat asik, cerdas, dan punya selera humor yang baik. Dia banyak bertanya tentang hobiku, tentang buku-buku yang kubaca, tentang pendapatku tentang banyak hal.
Dia mendengarkanku. Benar-benar mendengarkan.
Suatu hari, hujan turun sangat deras saat pulang kerja. Aku tidak bawa payung dan harus berjalan cukup jauh dari halte ke kontrakan. Aku sedang bingung di depan halte, tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti di depanku.
Jendela diturunkan, wajah Arfan terlihat.
"Naik sini, Zhira! Kebagian hujan nanti sakit lho!" serunya.
"Tapi Mas Fan... nanti ngrepotin," jawabku ragu.
"Ah ngomong apa sih. Sini cepat, basah kuyup gitu," katanya tegas tapi lembut.
Akhirnya aku masuk ke dalam mobil yang wangi dan sejuk itu. Arfan langsung menyerahkan handuk bersih dan jaket tebalnya.
"Pakai ini dulu, tutup badanmu. Nanti masuk angin," katanya sambil menyalakan pemanas kabin.
Aku memegang jaket itu, aromanya wangi maskulin yang menenangkan. "Makasih banyak ya Fan... Kamu baik banget sih."
Arfan tersenyum sambil fokus menyetir. "Wajar dong jagain cewek. Lagian kamu itu berharga, Ra. Harus dijaga baik-baik."
Deg!
Jantungku serasa mau melompat keluar dari rongga dada. Kata-kata itu... "Kamu itu berharga".
Kalimat yang selama ini aku dengar hanya dari Bu Lestari dan teman-teman, kini diucapkan oleh seorang pria yang mulai hadir di hatiku dengan begitu tulus.
"Fan..." panggilku pelan.
"Hmm?"
"Kenapa kamu baik banget sama aku? Padahal kan kita baru kenal beberapa waktu lalu. Banyak orang bilang aku ini pendiam, kaku, dan... membosankan," tanyaku jujur, mengeluarkan rasa minder yang masih tersisa.
Arfan menoleh sekilas, lalu tersenyum sangat manis. "Karena aku bisa lihat apa yang orang lain nggak lihat, Zhira. Di balik sikapmu yang pendiam dan tertutup, aku lihat wanita yang sangat kuat, cerdas, dan punya hati yang emas. Kamu itu unik, Ra. Jangan pernah merasa kurang ya."
Air mataku hampir tumpah di dalam mobil itu. Untuk pertama kalinya, aku merasa dilihat apa adanya. Tidak karena aku bisa memberi uang, tidak karena aku punya prestasi, tapi karena aku adalah Zhira.
"Terima kasih, Fan..." bisikku lirih.
"Sama-sama, Sayang..."
Panggilan 'Sayang' itu terlontar begitu saja, membuat pipiku memanas merah padam. Arfan pun tersenyum malu melihatku yang salah tingkah.
Mobil terus melaju membelah hujan kota. Di dalam sana, ada dua hati yang mulai saling mendekat. Dan untuk pertama kalinya, aku berani membuka pintu hatiku yang sudah lama terkunci rapat, membiarkan cinta dan kebahagiaan masuk untuk mengisi ruang-ruang kosong yang dulu penuh luka.
POV End
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waduh, manis banget kan Cintaku! 🥹💖 Arfan tuh tipe cowok perfect banget ya! Gimana Bab 19-nya? Lanjut Bab 20 lagi gas! Kita mau lihat Arfan makin dekat dan kenal masalah Zhira nih! 🔥📖