“Pasti ada alasan kenapa mereka menyuruhku kembali. ”
“Lalu bagaimana nona?. ”
“Tentu saja kita kembali, aku mau lihat apa maunya keluarga Starborn. ”
jawab Lunaria sambil tersenyum.
Dimana kota Avalon kota sihir, hanya Lunaria yang tidak bisa menggunakan sihir.
keluarga Starborn mengasingkan Lunaria dari kediaman utama ke villa terpencil milik mereka, keluarga Starborn menganggapnya aib, anak cacat berbeda dengan Learia saudara kembar Lunaria.
Dan saat keluarga Starborn diperintahkan kerajaan Avalon untuk menikahkan putrinya kepada Kael dragomir putra mahkota Avalon, yang dikenal pria sadis, berbahaya dan seorang duda dimana ketiga istrinya terdahulu meninggal secara misterius.
Kael yang dikenal pangeran bintang kesepian, membuat keluarga Starborn tidak rela menikahkan Laeria putri kebangangan mereka menikah dengan Kael.
Tapi mereka tidak tahu rahasia tentang Lunaria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30.Kemarahan pangeran dan perlindungan mutlak.
Suasana yang sudah mencekam kini berubah menjadi neraka yang sesungguhnya.
Belum sempat Luna ria memproses rasa perih di pipinya akibat tamparan ayahnya sendiri, sebuah ledakan kekuatan hitam pekat meledak begitu saja di hadapannya.
DH..OO..ARR!!
Sebuah tendangan keras dan cepat mendarat tepat di dada Lord Valde mar. Pria itu bahkan tidak sempat melihat apa yang menimpanya. Tubuhnya yang cukup besar terlempar jauh ke belakang seperti boneka kain yang ditendang anak kecil.
BY..UR!
Ia menghantam dinding marmer yang tebal dengan suara keras hingga retakan kecil muncul di sekitar titik benturan. Tubuhnya lalu melorot ke lantai, terkulai lemas dengan napas yang tersengal-sengal dan darah yang mulai mengalir dari sudut bibirnya.
Semua orang di ruangan itu menjerit kecil dan mundur teratur, ketakutan setengah mati.
"AAAAHHH!!"
"Pangeran marah! Sungguh-sungguh marah!"
Ka el berdiri tegak di tempatnya, matanya menyala merah membara seperti dua bola api. Aura membunuh yang dipancarkannya begitu pekat dan berat hingga membuat lantai marmer di bawah kakinya retak perlahan.
Ia tidak menatap Valde mar yang tergeletak kesakitan. Tatapan matanya yang tajam dan mengerikan justru menyapu seluruh ruangan, seolah memberi peringatan keras kepada siapa saja yang berani berniat jahat pada wanita di sampingnya.
"JANGAN... PERNAH... BERANI MENYENTUHNYA!"
Suara Ka el tidak terlalu keras, namun setiap kata terasa seperti guntur yang bergema di dalam kepala setiap orang yang mendengarnya. Suaranya rendah, penuh amarah, dan memancarkan dominasi mutlak.
"DIA ADALAH WANITAKU! CALON ISTRIKU! SIAPAPUN YANG BERANI MEMUKULNYA, MENYAKITINYA, ATAU BAHKAN BERANI MEMANDANGNYA DENGAN TAJAM... BERARTI BERANI BERPERANG DENGANKU!"
Lady Seraphina yang semula ingin maju memarahi putrinya, kini terpaku ketakutan melihat suaminya terlempar begitu saja. Ia gemetar hebat, kakinya lemas hingga hampir jatuh.
Ia tidak menyangka... benar-benar tidak menyangka bahwa Pangeran Ka el yang dingin dan kejam itu akan membela Luna ria. Pria yang terkenal tidak punya hati ini justru meledak amarahnya hanya karena melihat Luna ria ditampar.
Dengan tangan gemetar, Lady Seraphina berlari kecil mendekati suaminya yang tergeletak di dinding.
"Suamiku! Tuan! Kau tidak apa-apa?!" serunya panik, membantu Valde mar untuk duduk bersandar.
Lord Valde mar memegang dadanya yang terasa remuk, wajahnya pucat pasi dan penuh keringat dingin. Ia menatap Ka el dengan mata penuh ketakutan. Ia sadar, ia baru saja melakukan kesalahan fatal. Ia mengira Ka el akan senang melihatnya menghukum putrinya, ternyata Ka el justru menganggap itu penghinaan.
Ka el perlahan berjalan mendekati pasangan suami istri itu. Setiap langkah kakinya terdengar berat, klek... klek... klek..., seolah memukul jantung orang yang melihatnya.
Ia berhenti tepat di hadapan mereka yang kini berlutut memohon ampun di lantai yang dingin.
"P-Pangeran... ampun... ampun Yang Mulia..." rintih Lady Seraphina dengan air mata berlinang. "Kami tahu kesalahan kami... kami tidak bermaksud membuat Yang Mulia marah..."
Ka el menatap mereka dengan tatapan dingin tanpa belas kasihan. Ia menundukkan wajahnya, mendekatkan wajahnya yang tampan namun menyeramkan itu ke wajah mereka.
"Kalian menganggapnya aib? Kalian mengasingkannya bertahun-tahun? Dan sekarang kalian berani menamparnya di depanku?" suara Ka el berbisik pelan, tapi sangat menakutkan. "Ingat baik-baik peraturanku. Mulai hari ini, Luna ria Star born lebih berharga daripada seluruh harta dan gelar kalian. Jika satu rambutnya pun rontok karena ulah kalian, aku akan menghancurkan keluarga Star born dari peta Avalon."
"J-Jangan Yang Mulia! Ampun! Kami akan berhati-hati! Kami janji!" isak Valde mar yang kini benar-benar takut kehilangan segalanya.
"Keluar dari hadapanku sebelum aku berubah pikiran," desis Ka el.
Mereka berdua segera bangun dengan susah payah, membungkuk berkali-kali, lalu mundur perlahan menjauh dari hadapan monster itu, membawa rasa malu dan sakit yang luar biasa.
Setelah orang tua Luna ria pergi, suasana di sekitar Ka el sedikit mereda, namun tatapannya saat berbalik menghadap Luna ria kembali berubah menjadi tatapan yang sulit diartikan.
Luna ria masih berdiri mematung di tempatnya. Ia memegang pipinya yang masih terasa panas dan perih. Matanya menatap punggung lebar Ka el dengan perasaan campur aduk.
Baru saja... pria ini memukul ayahnya sendiri demi membela dirinya?
Pria yang terkenal sadis ini justru melindunginya?
Ka el berjalan mendekati Luna ria, lalu berhenti tepat di hadapannya. Ia mengangkat tangannya yang besar, perlahan mendekatinya ke pipi Luna ria yang memerah bekas tamparan.
Luna ria refleks ingin mundur, tapi Ka el sudah lebih cepat menahan dagunya, memaksanya menatap dirinya.
Jari tangan Ka el mengusap lembut pipi Luna ria, menghapus rasa sakit itu dengan energi penyembuh yang mengalir hangat.
"Sakit?" tanya Ka el pelan, suaranya jauh lebih lembut dibandingkan saat berbicara pada orang tuanya tadi.
Luna ria tertegun, lalu segera menepis tangan itu kasar. "Jangan sentuh aku! Itu semua salahmu! Kalau kau tidak menciumku seenaknya, Ayahku tidak akan menamparku!" serunya kesal, meski dalam hati ada rasa hangat aneh karena dilindungi.
Ka el tersenyum miring, melihat wajah kesal gadis itu yang terlihat sangat imut di matanya.
"Oh? Jadi kau tidak suka kalau aku mencium dan memperlihatkan rasa sayangku di depan orang banyak?" tanya Ka el dengan nada menggoda, lalu ia mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Baiklah... kalau begitu aku mengerti."
Luna ria mengerutkan kening. "Mengerti apa?"
"Kalau begitu mulai sekarang..." bisik Ka el tepat di telinga Luna ria, suaranya rendah dan serak. "Aku tidak akan melakukannya di sini lagi. Aku akan menahan diriku... sampai kita sampai di kamarku. Di kamar pribadiku, tidak ada orang yang melihat. Dan di sana... aku bisa menciummu sesukaku, kapan pun aku mau, tanpa perlu peduli pendapat orang lain."
DEG!
Wajah Luna ria seketika memerah padam. Jantungnya berdegup kencang.
"K-KAU...!!" Luna ria ternganga, tidak percaya dengan kelancangan pria ini. "Dasar mesum! Pria tidak tahu malu! Aku—"
Belum sempat Luna ria menyelesaikan omelannya, suara terompet dan pengumuman keras terdengar menggema di seluruh aula.
"RAJA ALVA DAN RATU DELIA!TELAH HADIR!!"
Suara itu begitu lantang hingga memotong pembicaraan mereka.
Seolah ada mantra yang menyihir seluruh tamu, serentak mereka membungkukkan badan dengan sempurna, kepala tertunduk hormat. Tidak ada yang berani menatap lurus kecuali diberikan izin.
Luna ria yang tadinya ingin memarahi Ka el, segera menyadari situasi. Ia buru-buru menata posisi berdiri dan ikut membungkuk dalam-dalam sesuai tata krama yang diajarkan.
Dari tangga utama yang megah, Raja Alva dan Ratu Delia turun dengan anggun namun langkah mereka tegas. Aura kerajaan yang kuat terpancar dari tubuh mereka berdua.
Mereka berjalan lurus menuju ke tengah, tepat di hadapan Ka el dan Luna ria.
"Berdirilah semua," suara Raja Alva terdengar berat dan wibawa.
Semua orang perlahan mengangkat wajah mereka.
Raja Alva menatap putranya, Ka el, dengan tatapan tajam. Tanpa aba-aba, Raja mengangkat tangannya dan...
DOR!
Sebuah pukulan energi sihir yang kuat namun terkontrol mendarat tepat di bahu Ka el.
Kaget namun tidak bisa menahan, tubuh Ka el terdorong mundur beberapa langkah dan akhirnya berlutut satu kaki di lantai karena kekuatan sihir ayahnya.
"AYAH?!" seru Ka el kaget.
"Dasar anak tidak tahu aturan!" bentak Raja Alva dengan suara keras. "Kau ini Pangeran Mahkota atau preman pasar?! Beraninya kau bertindak seenaknya mencium wanita di depan umum! Kau pikir ini apa?! Kau mempermalukan dirimu sendiri dan mempermalukan kami!"
Ratu Delia yang berdiri di samping suaminya juga tampak kesal, ia melipat tangan di dada.
"Benar apa yang dikatakan Ayahmu, Ka el. Nona Luna ria ini calon istri yang baik dan sopan, lihat dia begitu anggun. Sedangkan kau? Bertindak kasar dan memaksa! Kau memalukan!"
Luna ria yang berdiri di sampingnya menahan senyum tipis. Hahaha! Rasakan! Akhirnya ada yang memarahi si sombong ini! Rasanya puas sekali melihat dia dipukul dan dimarahi! rasanya dendam kesumat Luna ria sedikit terlunasi.
Setelah memarahi putranya, Ratu Delia segera beralih menghadap Luna ria. Wajah tegasnya berubah menjadi sangat lembut dan ramah.
Ratu tersenyum manis, lalu memegang kedua tangan Luna ria dengan hangat.
"Maafkan kelakuan anakku yang kurang ajar itu ya, Nak. Dia memang kasar dan tidak tahu cara memperlakukan wanita cantik sepertimu. Jangan takut ya, Ibu akan menegurnya," ucap Ratu Delia dengan penuh kasih sayang.
Luna ria terkejut dan jadi salah tingkah. "Eh... I-Iya... Tidak apa-apa, Yang Mulia Ratu..." bicaranya jadi terbata-bata. Ia tidak menyangka Ratu akan sebaik dan sehangat ini padanya.
Raja Alva pun tersenyum ramah pada Luna ria, lalu menatap putranya yang masih berlutut. "Berdiri kau. Ajak calon istrimu bersenang-senang. Tapi ingat, jaga sikap! Jangan buat gadis ini menangis atau kecewa, mengerti?!"
"Baik, Ayah..." jawab Ka el pasrah, berdiri sambil mengusap bahunya yang terasa sakit.
"Baiklah!" Raja Alva mengangkat tangannya ke arah seluruh tamu. "Pesta berlanjut! Musik dimainkan! Nikmati malam ini!"
Suasana yang tegang seketika berubah menjadi meriah lagi. Musik mulai mengalun, para tamu bernapas lega dan kembali bersenda gurau, meski mata mereka tetap sesekali melirik ke arah keluarga kerajaan.
Beberapa saat kemudian.
Di sebuah ruangan pribadi yang mewah dan tenang di sayap istana, Raja Alva, Ratu Delia, Ka el, dan Luna ria duduk berkumpul. Juga ada Lord Valde mar dan Lady Seraphina yang dipanggil masuk dengan wajah pucat.
Suasana di sini sangat hening dan formal.
Raja Alva duduk di singgasana kecil, menatap tajam ke arah Lord Valde mar.
"Valde mar," panggil Raja dengan nada dingin.
Lord Valde mar langsung berlutut. "Ada, Yang Mulia..."
"Aku sudah melihat semuanya. Kau menampar menantuku sendiri di depan umum. Kau menganiaya putrimu sendiri selama bertahun-tahun hanya karena dia berbeda?" suara Raja Alva mulai meninggi. "Itu tindakan yang sangat memalukan bagi seorang bangsawan."
"Saya... saya hanya mendidiknya, Yang Mulia..." Jawaban mencoba Valde mar membela diri.
"DIIDIK APA MEMUKUL?!" potong Raja keras. "Lihat Ka el! Dia saja tahu cara melindungi wanitanya, sedangkan kau sebagai ayah justru menyakiti anak sendiri!"
Raja Alva mengambil tongkat kehakiman kecil di atas meja.
"Dengan ini aku hukum kamu, Lord Valde mar Star born, karena perbuatan kasarmu terhadap calon Menantu Raja..."
Valde mar menutup matanya takut.
"...Kau akan menerima hukuman cambuk sebanyak 20 kali di alun-alun besok pagi sebagai contoh! Dan gaji serta tunjangan jabatanmu dipotong selama dua bulan! Anggap saja itu pelajaran agar kau lebih menghargai keluarga!"
BUK!
Valde mar langsung bersujud. "Terima kasih... terima kasih atas keadilan Yang Mulia..." Hatinya hancur lebur. 20 pukulan itu akan membuatnya tidak bisa duduk berminggu-minggu!
Luna ria yang melihat itu hanya diam dengan wajah datar. Pantas! Itu baru sedikit, padahal kau sudah menyiksa putrimu sendiri bertahun-tahun!
"Baiklah, kalian boleh keluar," perintah Raja.
Valde mar dan istrinya segera pamit undur diri dengan kepala tertunduk dalam, membawa malapetaka bagi diri mereka sendiri.
Saat pintu tertutup, Ratu Delia langsung tertawa renyah.
"Hahaha... akhirnya adil kan, Luna ria sayang?" Ratu mengelus punggung tangan Luna ria. "Mulai sekarang kau tinggal di istana, jangan pulang ke rumah menyedihkan itu lagi. Di sini kau akan jadi Ratu masa depan."
Ka el yang duduk di samping Luna ria menyenggol bahunya pelan, berbisik.
"Lihat? Semuanya sudah berpihak padaku. Kau tidak bisa lari lagi sekarang."
Luna ria mendengus kesal, memalingkan wajahnya, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat.
Malam ini memang gila, tapi untuk pertama kalinya... ia merasa diperlakukan seperti manusia, bukan sebagai aib.