NovelToon NovelToon
MATA SAKTI

MATA SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

"Dulu aku hanyalah sampah yang diinjak-injak, kurir miskin yang tak punya masa depan. Namun, satu tetes darah dewa mengubah segalanya. Dengan Mata Sakti ini, tidak ada rahasia yang tersembunyi, tidak ada musuh yang tak punya celah, dan tidak ada harta yang tak bisa kuraih. Dunia modern ini akan bertekuk lutut di bawah tatapanku!"

#urban_fantasi
#harem #romance#cultivasion

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: SURAT UNDANGAN DARI NERAKA

Jakarta pagi ini terasa seperti mesin raksasa yang haus akan darah dan keringat. Dari balkon penthouse lantai 20, Arka menatap ke bawah. Jalanan Sudirman tampak seperti barisan semut besi yang merayap. Angin kencang menerpa wajahnya, membawa sisa-sisa aroma hujan semalam dan bau polusi yang khas.

Di tangannya, ada selembar uang lima ribu rupiah yang sudah kumal. Uang yang pernah dilempar Kevin ke wajahnya sebagai simbol penghinaan. Arka memutar uang itu di sela jemarinya, matanya berkilat emas sesaat sebelum kembali ke hitam pekat.

"Harga diri seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak uang yang dia punya, tapi seberapa jauh dia bisa bertahan saat tidak punya apa-apa," gumam Arka. "Dan hari ini, Kevin... aku ingin lihat seberapa jauh kau bisa bertahan."

Arka berjalan menuju walk-in closet. Dia melewati barisan setelan jas yang harganya bisa membeli satu unit rumah di pinggiran kota. Namun, kali ini dia memilih sesuatu yang berbeda. Sebuah kemeja hitam polos dengan bahan sutra Italia yang jatuh pas di badannya, celana kain yang dijahit khusus, dan sepasang sepatu kulit handmade yang mengkilap sempurna. Tanpa dasi, tanpa aksesori berlebih. Hanya jam tangan mewah pemberian Hendra Wijaya yang melingkar di pergelangan kirinya.

Saat dia bercermin, sosok kurir yang sering nunduk-nunduk itu sudah hilang. Yang ada hanyalah seorang predator muda dengan tatapan sedalam sumur tua.

Gerbang Universitas Bina Bangsa terbuka lebar. Arka tidak membawa Lamborghini-nya hari ini. Dia memilih menggunakan Maybach hitam yang dikemudikan oleh sopir pribadi. Dia ingin datang dengan tenang, seperti heningnya udara sebelum badai tornado menghantam.

Begitu mobil berhenti di depan gedung Fakultas Teknik, suasana mendadak senyap. Mahasiswa yang tadinya asyik mengobrol langsung menoleh. Pintu mobil terbuka, dan Arka melangkah keluar.

Postur tubuhnya tegak, auranya mendominasi. Setiap langkah yang dia ambil seolah memberi tekanan pada udara di sekitarnya. Dia tidak melihat ke kiri atau kanan; tujuannya jelas: Kantin fakultas, tempat di mana "geng" Kevin biasanya memamerkan kekuasaan mereka.

Di dalam kantin, suara tawa Kevin terdengar paling keras. "Gue kasih tahu kalian, si Arka itu pasti lagi sembunyi di lubang tikus. Setelah berlagak kaya di mal kemarin, gue yakin dia sekarang lagi dikejar-kejar penagih utang!"

Selly, yang duduk di sampingnya, tertawa manja sambil memainkan kunci mobil BMW di atas meja. "Iya, Sayang. Gaya-gayaan pake kartu item, palingan itu kartu mainan yang dapet dari hadiah sereal."

BRAK!

Pintu kantin yang berat terdorong terbuka. Bukan dengan kasar, tapi dengan otoritas yang membuat semua suara di ruangan itu terhenti seketika.

Arka berjalan masuk. Tatapannya langsung terkunci pada Kevin.

"Masih asyik bermimpi, Kevin?" suara Arka tenang, tapi bergema di seluruh penjuru kantin.

Kevin tersedak minumannya. Dia berdiri dengan kasar, wajahnya memerah antara malu dan marah. "Arka! Berani-beraninya lo muncul di sini setelah nipu semua orang! Mana mobil sewaan lo? Mana pengawal bayaran lo?"

Arka tidak menjawab. Dia terus berjalan sampai hanya berjarak satu meter dari meja Kevin. Beberapa antek Kevin mencoba berdiri untuk menghalangi, tapi saat mata Arka menatap mereka, lutut mereka mendadak lemas. Ada sesuatu dalam mata Arka yang membuat mereka merasa seperti sedang ditatap oleh seekor harimau lapar.

"Tugas kelompok," ucap Arka pelan, sambil meletakkan selembar kertas di atas meja. "Gue udah selesein bagian gue. Dan karena ini hari terakhir gue di kampus ini, gue mau mastiin semuanya beres."

Kevin tertawa sinis, meski tangannya sedikit gemetar saat mengambil kertas itu. "Hari terakhir? Bagus! Akhirnya lo sadar kalau sampah kayak lo nggak pantes satu udara sama gue!"

"Bukan itu alasannya, Kevin," Arka tersenyum miring. "Gue keluar karena gue nggak mau satu almamater sama orang yang sebentar lagi bakal jadi tunawisma."

"APA LO BILANG?!" Kevin hendak melayangkan pukulan, tapi Arka menangkap pergelangan tangannya dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat mata manusia biasa.

Cengkeraman Arka sangat kuat. Kevin merintih, wajahnya memucat.

"Mata Dewa: Aktivasi," batin Arka.

Dunia di mata Arka berubah warna. Dia melihat ke arah ponsel Kevin yang tergeletak di meja. Sebuah notifikasi masuk. Arka membacanya menembus casing dan sandi ponsel itu.

"Tiga... dua... satu," Arka menghitung mundur dengan suara rendah.

Tepat di hitungan nol, ponsel Kevin berdering. Nama "Papa" muncul di layar.

Arka melepaskan cengkeramannya. "Angkatlah. Kabar buruk nggak suka disuruh menunggu."

Kevin gemetar, dia menggeser layar ponselnya. "Halo, Pa? Iya, ini Kevin... APA?! Nggak mungkin! Pa, jangan bercanda! Kantor kita disita? Aset dibekukan? Pa!"

Suara teriakan di seberang telepon cukup keras hingga terdengar oleh orang-orang di sekitar. Selly yang tadinya tersenyum sinis langsung pucat pasi. Kunci BMW di mejanya tiba-tiba terasa seperti besi panas yang mematikan.

"Gimana rasanya, Kevin?" Arka mengambil uang lima ribu rupiah yang kumal tadi, lalu menjatuhkannya tepat di atas nasi goreng Kevin yang setengah dimakan. "Itu tips terakhir buat lo. Jual aja, mungkin laku buat beli mie instan nanti malam."

"Lo... ini pasti perbuatan lo, kan?!" Kevin berteriak histeris, air mata mulai mengalir di wajahnya yang pongah. "Lo pake sihir apa?! Lo nipu siapa?!"

Arka hanya menatapnya dengan pandangan dingin. "Gue nggak pake sihir. Gue cuma narik benang yang emang udah rapuh. Bapak lo terlalu banyak makan uang haram, dan gue cuma ngebuka jalannya biar hukum dateng lebih cepet."

Arka berbalik, tapi langkahnya terhenti saat Siska berlari masuk ke kantin. Wajahnya sembab, rambutnya berantakan. Dia melihat Arka dan langsung mencoba memegang lengan bajunya.

"Arka! Tolong... tolong ayahku! Perusahaan ayahku juga kena imbasnya karena kerjasama sama keluarga Kevin. Aku tahu kamu punya kuasa sekarang, tolong..." Siska menangis sesenggukan, mencoba terlihat semenyedihkan mungkin agar Arka luluh seperti dulu.

Arka menepis tangan Siska dengan pelan tapi tegas. Dia menatap wanita yang dulu adalah segalanya baginya itu dengan tatapan kosong.

"Siska, dulu aku rela kehujanan cuma buat anterin kamu pulang. Aku rela nggak makan biar bisa beliin kamu kado ulang tahun," suara Arka terdengar sangat datar. "Tapi kamu lebih milih 'kenyamanan' yang ditawarin Rendy dan Kevin. Sekarang, saat kenyamanan itu hilang, kamu dateng ke aku?"

Arka menggelengkan kepala. "Aku bukan pahlawan, Siska. Dan aku pasti bukan orang bodoh yang mau masuk ke lubang yang sama dua kali."

Arka berjalan keluar dari kantin, meninggalkan Siska yang jatuh terduduk di lantai dan Kevin yang masih berteriak-teriak gila seperti orang kehilangan akal.

Di parkiran, Maybach hitam itu sudah menunggu. Arka masuk ke kabin belakang yang kedap suara. Kesunyian langsung menyambutnya, kontras dengan keributan yang baru saja dia ciptakan di dalam sana.

Dia memejamkan mata, merasakan aliran energi di matanya yang semakin kuat. Tiba-tiba, suhu di dalam mobil turun drastis.

Arka membuka matanya. Di kursi sampingnya, ada sebuah kotak kayu kecil berwarna hitam yang tidak ada di sana sebelumnya. Dia tidak merasakan ada orang yang masuk. Supirnya pun terlihat tetap tenang di depan, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Arka membuka kotak itu.

Di dalamnya, terdapat sebuah undangan yang terbuat dari plat emas tipis. Di tengahnya, terukir lambang seekor macan yang sedang menerkam bulan. Di bawahnya tertulis satu nama yang membuat pupil mata Arka mengecil: TUAN BESAR YAN.

“Gedung Aurora, Malam Ini. Jam 9. Seekor naga tidak seharusnya bermain dengan semut. Mari bicara tentang takhta yang sebenarnya.”

Arka meremas plat emas itu sampai melengkung. "Tuan Besar Yan... akhirnya kamu keluar dari lubangmu."

"Pak, ke Gedung Aurora," perintah Arka pada supirnya.

"Tapi Tuan, jadwal Anda malam ini adalah bertemu dengan pimpinan bank untuk—"

"Batalkan semuanya," potong Arka tajam. "Malam ini, aku punya janji dengan sejarah."

Mobil meluncur membelah kemacetan Jakarta yang mulai dihiasi lampu-lampu kota. Arka menatap bayangannya di kaca mobil. Dia tahu, mulai malam ini, musuhnya bukan lagi anak manja seperti Kevin atau mantan pacar yang matre seperti Siska.

Malam ini, dia akan melangkah masuk ke dunia yang sebenarnya. Dunia di mana satu kata bisa menghancurkan satu negara, dan satu kedipan mata bisa menentukan hidup atau mati ribuan orang.

Arka menyentuh dadanya. Di balik kemeja sutranya, detak jantungnya stabil dan dingin.

"Mata Dewa," bisik Arka. "Tunjukkan padaku... seberapa kotor dunia yang mereka sembunyikan."

Di langit Jakarta, guntur kembali menggelegar. Hujan besar akan kembali turun, tapi kali ini, Arka tidak akan kehujanan. Dia adalah badai itu sendiri.

Pertemuan pertama Arka dengan Tuan Besar Yan, penguasa tertinggi Klan Macan Putih. Bukan sekadar negoisasi bisnis, tapi ujian hidup dan mati di mana Arka harus memilih: Menjadi budak klan terkuat, atau menjadi musuh nomor satu yang akan diburu seumur hidup.

1
SANG
Berlanjut terus💪👍
SANG
Semangat👍
SANG
Lanjut terus
SANG
like👍
Tang xu
terlalu terbuka soal kekuatannya
the misterius author 🐐: buka dikit aja bg belum semua
total 1 replies
the misterius author 🐐
arc 1 tamat lanjut ke Arc 2
SANG
Like, suka
SANG
menarik
SANG
Mampir Thor
the misterius author 🐐: ok bg
total 7 replies
Sules Tiyanto
👍👍,, lanjut Thor,,
the misterius author 🐐: nanti lanjut kan bg
total 1 replies
Gege
dahlah otor menyembah AI buat generate kata..
the misterius author 🐐: bg bukan nyembah itu di gantung cerita nya soal nanti Abraham bakal mati sabr aja
total 1 replies
Gege
yaaah ga dapat duit jadinya si MC.. gass teroos bang 10k kata sekali update...jangan nanggung keluarkan semua...🤭
the misterius author 🐐: fokus perbaiki plot nya sistem si mulut pedas dulu bg
total 1 replies
Manusia Biasa
jadi MC🤣
Manusia Biasa
yakin?? kwk
Manusia Biasa
lanjutt 😂 ditunggu next Thor semangat
the misterius author 🐐: sudah tu thor
total 1 replies
Manusia Biasa
ngakak gw sekilas mikir santet😂
the misterius author 🐐: jangan bg itu paru paru ada gumpalan darah hitam bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
Menarik, novelnya berpotensi masuk jajaran Rekomendasi NT dan halaman beranda

semangat kak👍
the misterius author 🐐: ARKA cocok jadi Sigma 🤣 kak
total 6 replies
Manusia Biasa
potensi menjadi sigma ini mc🗿
the misterius author 🐐: tenang bg nanti bab tertentu ada saingan Clarissa bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
seperti biasa🗿
Manusia Biasa
iyalah boss, untuk rakyat jelata kaya kita kita bisa buat generasi beberapa keluarga itu😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!