Demi cinta, Hanum menanggalkan kemewahan sebagai pewaris tunggal Sanjaya Group. Ia memilih hidup sederhana dan menyembunyikan identitas aslinya untuk mendampingi Johan, pria yang sangat membenci wanita kaya. Lima belas tahun lamanya Hanum berjuang dari nol, membangun bisnis otomotif hingga Johan mencapai puncak kesuksesan.
Namun, di tengah gelimang harta, Johan lupa daratan. Ia terjebak dalam perselingkuhan dengan sekretarisnya sendiri. Luka Hanum kian mendalam saat pengabdiannya merawat ibu mertua yang lumpuh justru dibalas pengkhianatan, sang ibu mertua malah mendukung perselingkuhan putranya.
Kini, demi masa depan si kembar Aliya dan Adiba, Hanum harus memilih,tetap bertahan dalam rumah tangga yang beracun, atau bangkit mengambil kembali tahta dan identitasnya sebagai "Sanjaya" yang sesungguhnya untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk perangkap
Langkah Hanum untuk mencari keadilan membawanya ke sebuah gedung perkantoran mewah di jantung ibu kota Jakarta. Nama Tuan Jason bukan sekadar nama pengacara, tetapi ia adalah "hiu" di meja hijau yang tak pernah kalah. Hanum berharap, dengan bantuan Jason, ia bisa mengamankan hak-haknya dan anak-anaknya.
Di lobi yang elegan, seorang asisten pria dengan senyum sopan menyambutnya.
"Selamat siang, Ibu Hanum. Tuan Jason sudah menunggu kehadiran Anda, namun saat ini beliau sedang menyelesaikan urusan mendadak dengan klien penting lainnya di ruang sebelah," ujar asisten itu dengan nada meyakinkan. "Beliau meminta maaf dan memohon agar Ibu bersedia menunggu sebentar di kediaman pribadinya yang terletak di lantai atas gedung ini agar lebih privasi. Mari, saya antar."
Hanum, yang pikirannya sudah penuh dengan strategi perceraian, tidak menaruh curiga sedikit pun. Ia merasa wajar jika pengacara kondang sekelas Jason sangat menjaga kerahasiaan kliennya.
Ruang tunggu di kediaman itu sangat nyaman, beraroma kayu cendana yang menenangkan. Sang asisten meletakkan sebuah cangkir porselen di atas meja marmer.
"Silakan dinikmati, Bu. Ini Jasmin tea kualitas terbaik. Tuan Jason akan segera datang sepuluh menit lagi."
"Terima kasih," jawab Hanum singkat. Ia menyesap teh itu. Aroma melatinya begitu kuat, namun ada sedikit rasa pahit yang tertinggal di lidah. Baru setengah cangkir ia teguk, pandangannya mulai bergoyang. Langit-langit ruangan seolah berputar.
'Kenapa kepalaku.... mendadak berat?'batin Hanum.
Cangkir di tangannya terlepas, jatuh ke atas karpet tanpa suara. Kesadarannya luruh sepenuhnya.
Dari balik pilar besar, seorang pria melangkah keluar. Senyumnya menyeringai penuh kemenangan, menatap tubuh Hanum yang terkulai lemas di sofa.
"Matilah kau Hanum," desis pria itu dengan suara rendah yang mengerikan. "Kau kira kau itu pintar, hah? Berani-beraninya kau menyewa detektif dan menginterogasi langkah-langkahku. Kau pikir aku bodoh? Selamat menikmati kehancuranmu sendiri."
Pria itu menatap bengis ke arah Hanum, lalu memberi isyarat kepada sang asisten untuk segera memindahkan tubuh Hanum ke dalam kamar.
Sekitar satu jam kemudian, Hanum mengerang. Kepalanya terasa seperti dihantam ribuan jarum. Saat matanya terbuka, ia tidak lagi berada di sofa. Ia berada di sebuah tempat tidur besar dengan pencahayaan remang-remang.
"Di mana... aku?" gumamnya serak.
Hanum mencoba duduk, namun ia tersentak hebat. Ia merasakan udara dingin menyentuh kulitnya. Di bawah balik selimut tebal itu, ia menyadari bahwa dirinya tidak mengenakan pakaian sehelai pun. Jantungnya berpacu liar. Apa yang terjadi? Siapa yang melakukannya?
Brak!
Pintu kamar didobrak dengan kasar hingga menghantam dinding. Hanum berteriak pelan, menarik selimutnya hingga ke dagu. Di ambang pintu, berdiri Johan dengan wajah yang memerah padam, urat-urat di lehernya menonjol penuh kemarahan.
"Hanum! Jadi ini kelakuanmu di belakangku?!" raung Johan. Suaranya menggelegar, penuh dengan nada murka yang disengaja. "Aku bekerja keras untuk keluarga, dan kau malah bermain gila dengan pria lain di sini?"
"Mas... Mas Johan? Tidak, ini tidak seperti yang kau lihat! Aku dijebak, Mas!" tangis Hanum pecah. Tubuhnya gemetar hebat.
Namun Johan tidak mendengarkan. Ia melangkah masuk dengan beringas, matanya berkeliling mencari sesuatu. "Di mana dia? Di mana laki-laki brengsek yang sudah tidur dengan istriku?"
Pandangan Johan tertuju pada pintu kamar mandi yang tertutup rapat, di mana terdengar suara gemericik air yang sengaja dinyalakan.
"Keluar kau bangs4t! Keluar!" teriak Johan sambil menghantam pintu kamar mandi.
Hanum hanya bisa terpaku, syok dan hancur. Ia yang awalnya datang untuk menjerat Johan dengan bukti perselingkuhannya, kini justru terjebak dalam skenario licik yang membalikkan keadaan. Di tengah rasa pusing yang hebat, ia menyadari satu hal, yakni Johan telah merencanakan ini semua untuk menghancurkan nama baiknya di depan hukum.
Johan melangkah dengan amarah yang dibuat-buat menuju pintu kamar mandi. Dengan satu sentakan kasar, ia menyeret keluar seorang pria yang hanya mengenakan handuk kimono. Hanum terbelalak, pria itu adalah asisten yang menyambutnya tadi.
Pria itu tertunduk, berpura-pura takut, padahal ia hanyalah pesuruh bayaran yang disewa Johan untuk menjalankan skenario ini. Johan memang licik, ia tahu Hanum pasti akan mencari perlindungan hukum kepada Tuan Jason, teman lamanya yang kini sedang berada di luar kota dan Hanum tidak tahu hal itu. Celah itulah yang ia gunakan untuk memasang perangkap.
"Pantas ibuku selalu mengatakan kau akhir-akhir ini sering keluar rumah, ternyata ini yang kau lakukan selama ini?!" raung Johan, suaranya memenuhi kamar. "Apa karena aku jarang pulang dan menyentuhmu, kau tega melakukan semua ini, hah? Kau tahu Num, selama ini aku bekerja keras untuk kamu dan juga anak-anak kita, tapi...!"
Johan menutup wajahnya dengan telapak tangan, bahunya berguncang seolah ia sedang menangis tersedu-sedu karena dikhianati.
"Tidak, ini semua adalah fitnah!" teriak Hanum dengan suara parau. Ia mencoba membungkus tubuhnya lebih rapat dengan selimut, matanya menyala penuh kebencian. "Kau.... Kau pasti ada di balik semua ini, iya kan? Kau memang sengaja ingin menjebakku, Johan!"
Johan menurunkan tangannya, menatap Hanum dengan pandangan yang seolah-olah terluka sangat dalam. "Kau tega memfitnahku, Num? Kau yang telah berbuat hina seperti ini.... bisa-bisanya kau menyalahkan aku?"
"Aku punya bukti perselingkuhanmu, Johan! Aku tahu segalanya tentang Monica dan rencana busuk mu dengan notaris itu!" Hanum mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih.
"Bukti? Mana buktinya? Yang ada di sini hanyalah bukti bahwa istriku sedang berduaan dengan pria lain di kamar hotel!" Johan memotong dengan nada dingin. "Aku benar-benar kecewa, Num. Lima belas tahun kita menikah, tapi apa balasannya? Kau tega mengkhianati ku, dan aku tidak akan pernah memberikan ampun ataupun maaf terhadap wanita tukang selingkuh sepertimu."
Johan mengambil napas panjang, wajahnya mengeras. "Hanum.... mulai detik ini aku ceraikan engkau dengan talak tiga!"
Jeger!
Kata-kata itu menghantam Hanum lebih keras daripada petir. Dunianya seolah runtuh dalam sekejap. Skema yang ia susun dengan rapi untuk menggugat Johan, kini hancur lebur oleh satu jebakan kotor.
"Kenapa malah jadi seperti ini?!" Hanum meraung, air mata kemarahannya mengalir deras. "Tidak bisa! Aku yang seharusnya menggugat cerai dirimu! Kau yang sudah mengkhianati ku selama ini, Johan! Dasar pria menjijikkan!"
Mendengar kata "menjijikkan", topeng kesedihan Johan tanggal sepenuhnya. Ia menerjang maju dan mencengkeram kuat leher Hanum, menekannya hingga Hanum kesulitan bernapas. Mata Johan berkilat penuh kegilaan.
"Kau wanita jal4ng yang tidak pantas menjadi istriku!" desis Johan tepat di depan wajah Hanum. "Aku tidak akan pernah memberikan uang sepeser pun padamu, dan jangan harap kau bisa mendapatkan hak asuh atas Aliya dan Adiba. Camkan itu baik-baik!"
Johan melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membiarkan Hanum terjerembap di atas tempat tidur sambil terbatuk-batuk dan meraung histeris. Ia tidak peduli lagi pada wanita yang telah menemaninya dari nol itu.
Dengan langkah tegap, Johan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia sempat melirik ke arah pria yang menyamar sebagai asisten tadi. Sebuah senyum tipis, yakni senyuman kemenangan yang sangat mengerikan telah tersungging di bibirnya. Rencananya berhasil sempurna. Hanum kini bukan hanya kehilangan suami, tapi juga harga diri, harta, dan anak-anaknya di mata hukum.
Bersambung...
2 dalam perahu,diluar malu padahal didalam hatinya mau, saking nyaman sama Alvaro,Hanum nggak sadar nyender ke Alvaro 🤔🤔🤔