NovelToon NovelToon
Penyesalan Seorang Suami

Penyesalan Seorang Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Cintapertama
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Penyesalan selalu akan datang di akhir. Seperti yang sekarang aku rasakan. Awal nya setelah istri ku meninggal aku belum benar benar kehilangan nya. Bahkan saat dia meninggal dunia aku masih bisa tertawa dan merasa bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15.

Setelah berpikir panjang, akhirnya Sriyani pun memilih untuk menuruti apa yang anaknya itu ucapkan. Terlebih Sriyani juga tidak enak, jika tidak mempercayai anak kandungnya sendiri.

"Nih uangnya, tapi awas ya Van. Apartemennya harus menjadi hak Renata, jangan lupa kepemilikan atas nama apartemen itu harus atas nama Renata juga!" Ancam Sriyani kepada anaknya.

Lalu Sriyani terlihat menyerahkan tas yang tadi dia bawa kepada anaknya.

"Iya ... iya Bu, kalau begitu Ivan pamit dulu!" Dengan kasar dan juga terlihat tergesa gesa, Ivan segera mengambil tas yang ada di tangan ibunya lalu mencium punggung tangan ibunya itu. Guna berpamitan.

"Eh, eh ..kok buru buru banget! Renata dan kamu belum makan loh! Makan bersama dulu, ini bapak udah pesen bakso sama gerobaknya." Sriyani menarik tangan anaknya lagi.

"Buk, ini masalahnya Ivan itu sudah di tunggu pihak developer sama notaris, Ibuk gak dengar kalau dari tadi hape Ivan itu bunyi terus. Tolong lah Buk, kan sayang banget sama uang DP yang udah Ivan berikan, kalau tiba tiba di hanguskan karena sudah jatuh tempo." kilah Ivan dengan sejuta alasan.

"Ya sudah, tapi nanti jangan lupa sertifikatnya kasih lihat ke ibuk dan juga bapak. Bukanya ibuk gak percaya sama omongan kamu ya Van, tapi sejatinya manusia itu sangat mudah untuk berubah ubah sifatnya. Ntah kenapa ibu menaruh curiga loh Van sama kamu? Feeling seorang ibu itu tidak akan pernah salah."

Ivan sebenarnya ingin menyela ucapan ibunya dengan melakukan sebuah aksi playing victim, tapi mendengar ucapan ibunya yang menaruh curiga kepadanya, akhirnya Ivan memilih menurut saja apa yang ibunya itu katakan. Karena semakin dia membuat banyak alibi, itu malah akan membuat ibunya itu semakin menaruh kecurigaan yang besar kepadanya.

"Iya .. iya Buk, pokoknya kalau surat surat dah jadi. Aku akan segera memperlihatkan surat itu pada ibu dan juga bapak. Udah lah Buk pertanyaanya, Ivan udah buru buru nih!"

"Ya udah ambilin selimut untuk Renata, dan pesenin bakso juga buat dia, suruh abangnya buat bungkus bakso itu. Ibu tahu kalau Renata pasti belum sarapan, soalnya ini mau pesenin juga gak bisa, soalnya Ibu mau nyuapin Reyhan dulu," pinta Sriyani kepada anaknya.

"Tapi itu antrian baksonya banyak banget Buk!" keluh Ivan pada ibunya dengan wajah kesal sembari melihat ke arah antrian gerobak bakso yang sudah di penuhi oleh sanak saudaranya.

Memang sekarang ini hanya ada 10 kepala keluarga yang datang ke rumahnya, tapi dari 10 kepala keluarga itu, setiap kepala keluarga mempunyai anggota keluarga minimal 4 orang.

Jadi total ada 55 orang yang sekarang ini bertamu di rumahnya.

Dan antrian lebih dari 20 orang itu terlihat penuh dan sesak di area gerobak milik penjual bakso, di tambah lagi ada beberapa saudara yang meminta tambah pesenan.

"Terserah kalau mau pergi, jangan lupa pesenin bakso dulu buat Rena, ibu mau nyuapin Reyhan dulu. Dah lah Van, gak usah banyak alasan lagi. Kamu buang buang waktu ibuk saja!" Sriyani meninggalkan anaknya begitu saja.

Ivan hanya memutar bola matanya dengan jengah, dia memilih berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil selimut yang lumayan tebal yang ada didalam kamarnya, karena dia tidak tega, kala melihat tubuh istrinya itu menggigil.

Ceklek

Ivan membuka pintu kamarnya.

Dia mengambil sebuah selimut yang biasa dia gunakan untuk tidur.

Tapi ntah kenapa dia merasa tidak rela, kalau selimut yang masih bagus itu dibuat menutup tubuh istrinya.

Ivan pun lalu mengambil sebuah kain jarik, dia memilih untuk menggunakan kain jarik yang tipis itu, guna menutup tubuh kurus istrinya.

Kadang Ivan sendiri bingung, ada apa dengan dirinya. Kenapa bisa berubah seperti ini, padahal walaupun di jodohkan, dulu dia merasa sangat mencintai istrinya itu. Tapi kenapa sekarang dia merasa rasa cinta untuk istrinya itu benar benar sudah hilang.

Ivan berjalan ke arah pintu kamarnya, sembari mengambil hape yang terus berdering, yang ada di saku celananya.

Dia melihat ada puluhan panggilan telepon dari nomor Esther, tapi Ivan yang takut jika ketahuan akhirnya memilih untuk segera keluar dari dalam kamar dan menelpon selingkuhannya itu nanti. Saat dia sudah berada di dalam mobil.

Ivan lalu menyemprotkan sebuah parfum beraroma Cherry blossom ke seluruh tubuhnya, karena Esther yang memintanya. Suka sekali Esther dengan aroma parfum itu. Lalu dia pun buru buru keluar dari dalam kamar dan berjalan ke arah istrinya yang sedang tertidur.

Ivan pun terus memperhatikan wajah istrinya, tanpa sadar tangannya mengelus elus pipi istrinya itu. Lalu Ivan mencium pipi istrinya yang sudah 10 tahun menemani dirinya. Alis Ivan tampak bertaut, kala merasa tubuh istrinya itu panas dan juga mengigil.

Drrt

Drrt

Tiba tiba hapenya kembali berdering, Esther lah yang terus menerus melakukan panggilan telepon padanya.

Ivan memilih untuk segera menyelimuti tubuh istrinya, tapi mata Ivan memicing tajam, kala melihat bibir istrinya itu berwarna merah darah.

Ivan yakin, itu bukan warna pemerah miliknya tadi. Saat Ivan ingin menyentuh bibir istrinya, lagi dan lagi Esther melakukan panggilan telepon padanya.

"Sialan!" Gerutu Ivan, kala Esther mengirimkan sebuah pesan ancaman kepadanya.

Ivan pun lalu pergi begitu saja, tanpa memesankan bakso untuk istrinya.

Dia memilih untuk segera keluar rumah, lalu masuk ke dalam mobil miliknya. Tanpa berpamitan dengan sanak saudaranya terlebih dahulu, karena dia sudah sangat terburu buru.

Di dalam mobil, Ivan pun mulai melajukan mobilnya itu dengan kecepatan sedang. Sembari sesekali melakukan panggilan untuk selingkuhannya.

Tapi sepertinya selingkuhannya itu marah, dia sama sekali tidak menjawab panggilan telepon darinya.

Ivan bingung, karena nomor Esther sekarang ini malah berubah menjadi tidak aktif. Padahal dia dan Esther sudah janjian bertemu di cafe dengan penjual apartemen.

Dia sudah mencari Esther di dalam cafe itu, tapi hasilnya nihil. Lalu dia pun memilih untuk memutar setirnya untuk menuju ke kos-kosan yang di sewa oleh Esther.

Tapi sayang, disana dia juga tidak menemukan Esther.

Ivan terus mengirimkan pesan permintaan maafnya pada Esther. Tapi hanya centang satu.

Ivan memilih untuk mencari Esther sekali lagi. Jika memang tetap tidak menemukannya, Ivan memilih untuk pulang.

1
Uthie
Gak sabar terus mantau kelanjutan cerita yg penuh nguras emosi ini 👍👍😆
Uthie
dasar laki Lucknut 😡
gimana kalau nanti karma nya dia juga merasakan sakit yg sama kaya istrinya, kanker prostat 😏😆
Uthie
Nahhh lohhhhh.... 🤨
Uthie
Ada udang di balik batu kah itu 😏😏
Uthie
Ini masih POV ke belakang kan ya???
bukan nya menjalani hidup kali ke 2 Renata seperti harapannya dokter Leon?! 😁😁
Uthie
Yaaa ampun.... miris banget dan ikut sakit bacanya Thor 👍😭
Uthie
dasarnya wanita jahat 😡😤
Uthie
hmmmm... lucknut banget emangnya si Ivan😡😤
Uthie
makaya jangan jadi wanita bodoh dan malah menyakiti diri sendiri 😤
Uthie
istrinya terlalu pasrah dan lemah!
Uthie
suami lucknut 😡
Uthie
Duhhhh... terlalu lemah sihhhh tokoh utamanya 😤😤
Uthie
suami lucknut 😡😡😡😡
Uthie
Sukkkkaaa 👍👍
Uthie
Ada baiknya hati melihat kebaikan orang lain....
Uthie
Jangan terlalu percaya orang yg tidak pantas di percayai 👍😡
Uthie
Baru baca aja udah nyesek😭
dasar suami lucknut 😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!