NovelToon NovelToon
Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.

Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23

Suasana kafe depan kampus sore itu ramai, dipenuhi mahasiswa yang baru selesai kelas. Nadine, Aurora, dan gengnya duduk di meja pojok, sibuk menggosip sambil memesan minuman manis. Wajah Nadine masih menyimpan kesal yang belum hilang sejak malam pengumuman Duta Kampus, ditambah kini ada kabar baru yang membuatnya semakin panas.

"Aku masih nggak habis pikir," gumam Aurora sambil memainkan sedotannya. "Si cupu itu, Thalia... kok bisa-bisanya tiba-tiba muncul di acara sebesar Who's The Best Singer? Padahal dia itu... siapa, sih? Anak buangan keluarga Anderson."

Nadine menegakkan punggungnya, wajah cantiknya penuh kepalsuan, tapi sorot matanya menyimpan bara. "Pasti ada yang backing. Nggak mungkin cewek culun, miskin, tanpa bakat itu bisa masuk Gotta Labels kalau nggak ada orang dalam."

"Backing apa?" Alara menimpali dengan tawa sinis. "Kamu pikir Thalia punya koneksi? Dia bahkan di rumahnya sendiri aja nggak dipedulikan. Paling juga-" ia menurunkan suara, tersenyum licik, "-ada pria kaya yang tertarik sama wajahnya sekarang. Sponsornya, gitu."

Aurora menepuk tangan, ikut menambahi. "Ah! Itu masuk akal! Lagipula, aku dengar beberapa artis pemula memang sering begitu. Mereka nggak masuk karena murni bakat, tapi karena ada pria tua atau pengusaha yang kasih jalan."

Henry yang duduk di kursi belakang sempat melirik, tapi memilih pura-pura tidak dengar. Ia tahu cara geng Nadine menggosip memang keterlaluan. Namun, rasa penasaran tetap menggantung di benaknya: siapa sebenarnya Thalia?

Nadine tersenyum puas mendengar ocehan gengnya. "Kalau dia benar cuma jual diri demi kontrak, ya kita tunggu saja. Cepat atau lambat, semua topeng akan terbuka. Dia nggak akan bertahan lama di industri ini."

Tawa kecil mengiringi kalimat Nadine. Di meja itu, gosip murahan tentang Thalia makin menjadi-jadi, siap mereka sebarkan ke telinga siapa pun yang mau mendengar.

Sementara itu, di mansion Maverick, Thalia sudah sibuk bersama Liam di ruang musik kecil yang ada di mansion. Nada-nada piano terdengar, berpadu dengan suara lembutnya yang berlatih teknik vokal untuk persiapan episode kedua Who's The Best Singer. Liam duduk di sebelahnya dengan tangan mungilnya yang sesekali menekan tuts asal-asalan.

"Mama... ini... calah ya?" Liam menoleh polos, jemarinya menekan nada fals.

Thalia tersenyum, menunduk ke arah putranya.

"Tidak apa-apa, Sayang. Pelan-pelan saja. Kalau salah, kita ulang lagi."

Liam tertawa riang, lalu mencoba kembali menekan beberapa tuts. "Aku mau jadi kaya Mama... nyanyi cambil main piano. Papa juga pacti cuka."

Thalia terdiam sejenak. Kata-kata polos Liam menohok perasaannya. Benarkah Aiden akan suka? Lelaki itu bahkan tidak pernah benar-benar memujinya, selalu menatap dengan curiga seolah dirinya menyimpan seribu rahasia.

Ponselnya bergetar di meja. Thalia mengambilnya. Sekilas ia kaget melihat nama pengirim pesan: Yoshi Anderson.

"Thalia, malam ini ikut makan malam keluarga, ya. Ayah ingin kita kumpul lagi. Jangan menolak."

Alis Thalia terangkat. Senyum miring terbit di wajahnya. Keluarga? Ayah? Lalu di mana mereka ketika dirinya dulu diinjak-injak? Saat pemilik tubuh asli ini diperlakukan hanya sebagai pengganggu di rumah Anderson?

Thalia meletakkan ponselnya tanpa membalas. Ia memilih kembali fokus ke Liam dan pianonya.

Namun lima menit kemudian, telepon berdering. Lagi-lagi nama itu terpampang jelas: Ayah.

Dengan helaan napas panjang, Thalia mengangkat. "Halo."

"Thalia." Suara Yoshi terdengar agak canggung, berbeda dari biasanya. "Ayah ingin kamu datang makan malam. Hanya kita keluarga. Ayah, Marrie, dan Nadine. Ayah... ingin sekali melihatmu lagi."

Thalia memejamkan mata. Kata-kata itu tidak menggugahnya sama sekali. Justru getir. Sudah berapa tahun Yoshi tidak pernah mengucapkan kalimat serupa? Tidak pernah menanyakan kabarnya, bahkan tak mengakui keberadaan Thalia Anderson.

"Maaf," ujar Thalia datar. "Aku sedang sibuk. Minggu depan ada penampilan episode kedua WTBS. Persiapan tidak bisa ditunda."

Yoshi terdiam beberapa detik. "Tidak bisakah kamu menyempatkan diri, meski sebentar?"

"Aku benar-benar tidak bisa." Suara Thalia halus, tapi dingin. "Aku mohon pengertianmu."

Sebelum Yoshi bisa menambah kata, Thalia sudah mengakhiri panggilan.

Di ruang kerjanya, Yoshi menatap ponsel yang kini mati. Jantungnya terasa diremas. Anak kandung yang selama ini ia abaikan... kini bahkan menolak ajakannya.

Ia mencoba menghibur diri: mungkin Thalia benar-benar sibuk. Tapi ada sesuatu dalam suaranya -dingin, tanpa kerinduan sedikit pun. Bukan seperti anak yang sudah lama tidak bertemu ayahnya.

Yoshi menyandarkan tubuh di kursi. Hatinya resah. Untuk pertama kalinya, ia merasa takut kehilangan putrinya untuk selamanya.

Sementara itu, Thalia duduk kembali di depan piano, menatap Liam yang tertawa kecil karena berhasil memainkan nada benar.

"Mama... aku pintal ya?"

Thalia tersenyum, menepuk kepala anak tampannya. "Iya, Liam pintar sekali."

Dalam hati, ia menghela napas. Keluarga Anderson... apa gunanya kembali ke sana? Rumah itu sudah bukan rumah sejak lama.

Jika ia tidak salah ingat-dalam deskripsi novel, dulu keluarga Anderson masuk daftar 30 besar keluarga terkaya di negeri ini. Semua karena sosok Renatta, ibunya. Renatta yang menjadi bunga kampus, yang cerdas, yang membangun reputasi perusahaan. Tapi sejak Renatta meninggal dan Yoshi menikah lagi dengan Marrie, segalanya runtuh.

Perusahaan jatuh, perlahan keluar dari daftar 200 besar keluarga terkaya. Kini bahkan terlempar jauh, tak lagi diperhitungkan. Dari posisi 30, kini melorot di atas seribu.

Apa yang harus ia banggakan di sana? Jika dibandingkan dengan Maverick-keluarga suaminya -Anderson hanyalah butiran debu.

Thalia menghela napas lega. Ia sudah punya tempat baru. Ia adalah Nyonya Maverick. Sudah enak hidup di puncak, mengapa harus kembali ke jurang yang pernah menyakiti si pemilik asli tubuh ini?

Ia menoleh pada Liam yang sedang mencoba menyusun nada sederhana. "Liam,” bisiknya lembut, "kamu akan tumbuh jadi anak hebat. Mama akan pastikan dunia ini tahu siapa dirimu. Kita tidak butuh pengakuan dari siapa pun."

Liam hanya tertawa kecil, lalu menyanyi cadel mengikuti nada pianonya sendiri. "La... la... Mama cantik... Mama cantik..."

Thalia menatap putranya, senyum hangat mengembang. Di detik itu, ia sadar: inilah rumahnya. Bukan rumah Anderson. Bukan keluarga yang menyingkirkan anak kandungnya sendiri dan mengasihi si anak tiri. Tapi rumah tempat Liam berada.

Sore itu, udara kampus terasa tenang. Matahari mulai condong ke barat, menyinari pepohonan rindang di taman dengan cahaya keemasan. Di salah satu bangku taman, Leon duduk sendirian. Ia mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung, dengan buku tebal tergeletak di samping.

Tangannya sibuk menggulir layar ponsel.

Dari kejauhan, Nadine melihatnya. Jantungnya berdegup kencang. Leon-pujaan hatinya-akhirnya sendirian, tanpa teman-temannya yang selalu mengerumuni. Kesempatan emas untuk mendekat. Dengan langkah hati-hati, ia berjalan sambil memperbaiki rambut dan merapikan senyum manisnya.

Namun, langkah Nadine terhenti sejenak ketika melihat layar ponsel Leon. Kedua matanya membelalak. Jari-jari Leon baru saja mengetuk tombol like di salah satu postingan akun Instagram pribadi Thalia.

"Apa...?" gumam Nadine, dadanya langsung panas seperti tersiram api.

Postingan Thalia? Leon menyukai postingan Thalia?

Ia merasakan amarah mendidih di dalam dirinya. Bagaimana mungkin gadis yang selama ini ia remehkan, ia hina sebagai culun kampus, kini malah menarik perhatian Leon?

Nadine menggertakkan gigi, namun buru-buru mengubah ekspresinya jadi lembut. Ia melangkah lebih dekat. "Hai, Leon," sapa Nadine manis sambil duduk di ujung bangku. "Kamu sendirian? Jarang sekali aku lihat kamu tanpa Henry dan yang lain."

Leon menoleh sekilas. "Hmm." Hanya anggukan singkat, lalu matanya kembali menatap ponsel.

Nadine menggigit bibir. Ia tidak menyerah.

"Aku tadi lihat kamu lagi buka Instagram. Lagi lihat postingan siapa?" tanyanya pura-pura polos.

"Tidak penting." Leon menjawab singkat.

Nadine menahan emosi. Ia tahu betul postingan siapa yang baru saja Leon sukai. Namun ia berpura-pura tidak tahu. Ia mencoba mengalihkan perhatian. "Besok ada acara fakultas. Kamu datang, kan? Mungkin kita bisa duduk bareng..."

"Tidak tertarik," potong Leon dingin. Ia bahkan tak menoleh, seakan kehadiran Nadine hanyalah gangguan kecil.

Dada Nadine sesak. Ia sudah berusaha semanis mungkin, tapi tetap saja diabaikan. Semua usahanya sia-sia. Sementara Thalia-gadis yang seharusnya ia injak-injak-justru berhasil membuat Leon memberikan perhatian, meski hanya dengan satu like di media sosial.

Kedua tangan Nadine mengepal erat di atas pangkuannya. Dalam hati ia berteriak:

Thalia! Kau pikir kau bisa merebut perhatian Leon dariku? Tidak akan kubiarkan! Aku bersumpah, aku akan menghancurkanmu, bahkan jika aku harus melakukannya sampai titik darah penghabisan!

Malam itu, di kediaman keluarga Anderson, suasana rumah begitu hening. Yoshi baru saja pulang dari kantor. Jas hitamnya tampak berantakan, dasinya dilonggarkan. Ia masuk dengan langkah berat, wajahnya letih, matanya kosong.

Seharian penuh ia tidak bisa fokus bekerja. Bayangan suara Thalia yang dingin di telepon terus terngiang. Tidak ada sedikit pun kerinduan dalam suara putrinya. Padahal, ia masih bisa mengingat jelas Thalia kecil yang dulu selalu berlari menyambutnya pulang, memeluk kakinya sambil tertawa riang.

Kini semua itu hilang.

"Selamat malam, Tuan." Seorang pembantu menyambut dengan sopan, mengambil jas Yoshi.

Yoshi hanya mengangguk lemah. Kepalanya berat. Dalam hati ia bergumam lirih, Thalia... apa aku sudah kehilanganmu selamanya?

Di lantai dua, Marrie sedang berada di kamar Nadine. Namun kali ini bukan sedang menenangkan putrinya melainkan sedang menumpahkan amarah pada salah satu pembantu rumah tangga.

"Dasar bodoh!" teriak Marrie sambil menampar sang ART. "Aku sudah bilang jangan sentuh barang-barang Nadine, tapi kau malah menjatuhkan botol parfum mahal ini! Apa kau tahu harganya? Lebih mahal dari gaji setahunmu!"

Pembantu itu gemetar, menunduk dalam-dalam. "M-maaf, Nyonya. Saya tidak sengaja-"

"Diam!" bentak Marrie. "Sekali lagi kau membuat kesalahan seperti ini, aku pastikan kau angkat kaki dari rumah ini! Dasar tidak berguna!"

Pembantu itu menahan air mata, mengangguk cepat-cepat.

Namun seketika suara langkah kaki berat terdengar dari arah tangga. Yoshi muncul dengan wajah letih.

"Yoshi," ujar Marrie cepat, berubah drastis. Suaranya tiba-tiba lembut. Wajah yang tadi garang mendadak manis, seolah ia adalah istri penyayang nan penuh kelembutan. "Sayang, kau sudah pulang? Capek, ya? Aku tadi baru saja menyuruh pembantu berhati-hati menjaga kamar Nadine. Kasihan, mereka bekerja keras seharian."

Pembantu yang baru saja dimarahi hanya bisa menunduk dalam-dalam, tak berani mengangkat wajahnya.

Yoshi menghela napas berat. "Aku ingin istirahat."

"Baik, Sayang. Aku siapkan teh hangat untukmu, ya." Marrie tersenyum manis, padahal dalam hatinya masih penuh bara amarah.

Yoshi berjalan melewatinya tanpa banyak bicara. Ia terlalu tenggelam dalam pikirannya sendiri, sementara Marrie kembali menatap tajam ke arah pembantu yang masih berdiri gemetar. Begitu Yoshi hilang dari pandangan, wajah Marrie berubah lagi menjadi garang.

"Cepat bersihkan semua ini! Jangan buat aku malu di depan suamiku!"

Pembantu itu buru-buru mengangguk dan pergi, meninggalkan kamar dengan langkah terburu-buru.

Marrie menarik napas panjang, lalu memandang bayangan dirinya di cermin. Senyum tipis penuh kepalsuan muncul di bibirnya. "Selama Yoshi masih percaya aku adalah istri baik hati, aku menang. Dan tidak ada yang boleh merebut posisiku... termasuk Thalia."

1
CaH KangKung,
MC... josss
CaH KangKung,
👣👣
Fajar Fathur rizky
cepat hancurkan Abraham thor
Iry
siap
Mifta Nurjanah
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
secangkir kopi buat kamu thor😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: sama🤗
total 2 replies
Lili Inggrid
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor, bab ini tadi ceritanya ada yang di ulang²🤭
Iry: baiklah beb
total 3 replies
Sugiarti Arti
bagus
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor kasih visualnya dong😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: iya dong thor biar gak penasaran 🤭
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
jos jis thalia👍🏻
Anonim
bagus iii ceritanya
lanjuttttt/Kiss/
Ma Em
Semangat Thalia pasti kamu pemenang nya dan sukses jadi bintang kalahkan semua saingan mu dan bersinar lah dgn prestasimu apalagi Nadine yg tdk ada apapa nya buat mereka yg dulu selalu menghinamu malu .
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru menamatkan cerita berjudul "Beautifully Hurt" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Apa jadinya kalau Dinda (21) dipaksa menikah dengan Rendra (35) ? Putra tunggal presiden yang reputasinya sedang hancur karena skandal panas dengan seorang aktris.
Di balik pernikahan yang penuh tekanan, rahasia, dan sorotan publik, Dinda harus bertahan di dunia yang sama sekali bukan miliknya 💔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!