NovelToon NovelToon
SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.

Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.

Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.

Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**

Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERAYAAN

Setelah menutup laptop yang menampilkan pengumuman nilai sidang, senyumnya tidak kunjung luntur. Huruf "A" yang tercetak di sana bukan sekadar nilai; itu adalah bukti bahwa air mata, begadang yang tak terhitung jumlahnya, dan tekanan mental yang ia hadapi selama ini berujung manis.

Di tengah euforia itu, ponsel di saku roknya bergetar. Sebuah notifikasi pesan singkat muncul di layar.

Adi: Ana… selamat. Setelah ini ke perpustakaan ya, Saya ingin merayakan keberhasilan kita.

Jantung Ana melompat sesaat. Kata "kita" dalam pesan itu terasa begitu intim. Ana merasa mendapat validasi keberhasilan ini bukan hanya milik Ana, melainkan milik mereka berdua sebagai satu kesatuan. Ada keinginan impulsif untuk langsung memesan taksi dan berlari ke tempat Adi menginginkannya, namun ia teringat satu hal: janji yang sudah dibuat jauh-jauh hari dengan teman-teman seperjuangannya.

Dengan jari sedikit gemetar, ia mengetik balasan.

Ana: Mas… terima kasih banyak. Tapi aku udah ada janji mau ngerayain ini sama temen-temen sebentar. Mungkin sore baru bisa ke sana. Nggak apa-apa, kan?.

Satu menit terasa seperti satu jam. Akhirnya, balasan itu masuk.

Adi membalas,  Oke. Saya tunggu sore ini.

Singkat, padat, dan sangat khas Adi. Namun bagi Ana, kata "Saya tunggu" memiliki bobot yang jauh lebih berat dari sekadar kalimat janji temu.

*

Perasayaan Kecil di Tengah Kebahagiaan

Teman-teman Ana sudah berkumpul di sebuah kafe mungil di sudut kampus yang menjadi langganan mahasiswa tingkat akhir untuk sekadar melepas penat. Begitu Ana melangkah masuk, suara riuh rendah langsung menyambutnya.

"Selamat, Ana!" seru Andini disusul suara Tya, dua orang sahabat dekat Ana semasa kuliah, sambil berdiri dan memberikan pelukan erat. "Gila, nilai A dan dosbingnya Pak Adi? Kamu beneran ajaib! Semua orang tahu Pak Adi perfeksionis dan pelit nilai kalau mahasiswanya nggak bisa memenuhi standar dia yang setinggi langit."

"Ah, kalian lebay deh. Tapi makasih ya," jawab Ana dengan pipi yang mulai merona. Ia duduk di antara mereka, mencoba larut dalam atmosfer kegembiraan.

Meja kayu di depan mereka segera dipenuhi dengan kopi susu, kentang goreng, dan berbagai macam camilan. Mereka tertawa, mengenang kembali masa-masa awal kuliah saat mereka masih tersesat mencari ruang kelas, hingga drama dosen penguji yang membuat bulu kuduk berdiri. Ana tertawa lepas, namun pikirannya tak bisa benar-benar menetap di sana.

Setiap kali ponselnya menyala karena notifikasi media sosial, matanya otomatis mencari nama Adi. Ia membayangkan apa yang sedang dilakukan pria itu sekarang di perpustakaan pribadinya. Apakah dia sedang menyeduh teh? Apakah dia sedang membaca buku sambil menunggunya?

"An, kamu kok bengong?" tanya seorang teman laki-lakinya, memecah lamunan. "Lagi mikirin rencana setelah lulus ya? Mau langsung lamar kerja atau lanjut S2?"

Ana tersenyum simpul, mencoba menutupi kegelisahannya. "Mungkin istirahat bentar dulu, sambil cari-cari peluang. Pelan-pelan aja lah ya...."

Melihat wajah-wajah yang tulus merayakan keberhasilannya membuat Ana merasa hangat. Mereka adalah orang-orang yang melihatnya menangis saat revisinya dicoret habis-habisan oleh Adi. Mereka adalah saksi bisu perjuangannya. Namun, di dalam hatinya, ada satu bagian yang hanya bisa diisi oleh kehadiran Adi. Rasa penasaran tentang apa yang disiapkan pria itu membuatnya tidak tenang.

Waktu menunjukkan pukul empat sore. Sinar matahari mulai berubah menjadi warna madu yang keemasan. Ana tahu, ia tidak bisa menunda lebih lama lagi.

"Waduh, temen-temen, aku pamit duluan ya?" Ana mulai merapikan tasnya dengan gerakan sedikit terburu-buru.

"Yah, kok cepet banget? Kan belum makan malam bareng," keluh Maya.

"Maaf banget, ada urusan keluarga yang mendadak. Ada Sodara yang mau datang ke kosan buat kasih selamat juga," Ana berbohong kecil, sebuah alasan klasik yang biasanya ampuh.

Andini menatapnya penuh arti, seolah bisa mencium ada sesuatu yang disembunyikan sahabatnya, namun ia hanya tersenyum. "Ya udah, selamat menikmati momen ini juga, An. Kamu layak dapet semua ini An, setelah semua drama skripsi yang 'wow' itu."

"Makasih ya, guys! sekali lagi makasih banya, dan maaf banget Aku duluan!" Ana melambaikan tangan, lalu segera melangkah keluar dari kafe. Begitu sampai di trotoar, ia menarik napas panjang dan segera memesan layanan taksi daring. Tujuannya bukan rumah orang tuanya, melainkan sebuah alamat yang sudah sangat akrab di kepalanya: rumah dengan perpustakaan pribadi milik Adi.

*

Menuju Babak Baru

Saking tak sabar bertemu Adi, Ana memesan taksi tanpa pikir panjang soal argo dan lainnya. Di dalam taksi, Ana menatap ke luar jendela. Pemandangan kota yang sibuk terasa seperti film bisu. Pikirannya melayang pada perjalanan cintanya yang unik dengan Adi. Dimulai dari kekaguman antara mahasiswi dan dosen, berubah menjadi bimbingan skripsi yang penuh tekanan, hingga tumbuh menjadi perasaan yang lebih dalam dan personal.

Adi adalah sosok yang sulit ditebak. Dia bisa menjadi sangat dingin di ruang sidang, namun bisa menjadi sangat perhatian lewat tindakan-tindakan kecil. Nilai A yang ia terima tadi pagi bukan sekadar angka akademis, melainkan bentuk kepercayaan Adi bahwa Ana sanggup melampaui batas kemampuannya sendiri.

Taksi itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah yang luas namun bergaya minimalis dengan halaman dan joglo yang asri. Jantung Ana berdetak dua kali lebih cepat saat ia melangkah menuju pintu masuk perpustakaan. Ia tahu, di balik pintu itu, bukan hanya Adi sang dosen pembimbing yang menunggunya, melainkan Adi yang telah mencuri hatinya.

Ia merapikan rambutnya sebentar, memastikan penampilannya tetap segar meski sudah melewati hari yang panjang. Dengan keberanian yang dikumpulkan, ia mengetuk pintu.

Tok, tok, tok.

Pintu terbuka tak lama kemudian. Adi berdiri di sana, melepaskan kacamata bacanya dan menatap Ana dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara bangga dan kelegaan.

"Akhirnya... kamu datang juga," ucap Adi pelan. Suaranya rendah dan menenangkan, sangat berbeda dengan nada bicaranya di ruang sidang beberapa jam yang lalu.

"Maaf telat, Mas. Tadi nggak enak kalau langsung pergi gak nemuin temen-temen dulu, mereka udah setia nungguin Aku selama persiapand an proses sidang hari ini," Ana menjawab sambil masuk ke dalam melalui pintu perpustakaan yang sudah biasa ia kunjungi.

Adi hanya mengangguk kecil, lalu memberi isyarat agar Ana mengikutinya menuju bagian belakang perpustakaan yang ternyata lorong menuju rumah utama.  begitu masuk mereka langsung berada di ruang tengah yang nampaknya adalah tempat berkumpul keluarga, lebih dalam amsuk ke rumah itu, aroma kayu yang mewah dan aroma buku-buku lama menguar memberi kesan menenangkan dengan cara yang elegan.

Di atas meja kayu besar di tengah ruangan, tidak ada tumpukan draf skripsi yang berantakan seperti biasanya. Sebagai gantinya, terdapat sebuah kotak kecil dan dua cangkir teh yang masih mengepulkan uap.

"Silahkan uduk, Ana," ujar Adi.

Ana duduk dengan perasaan campur aduk. Ia menatap kotak kecil itu, lalu beralih menatap Adi. "Mas, tadi di ruang sidang… aku bener-bener takut. Mas keliatan lebih galak dari biasanya."

Adi terkekeh pendek, sebuah suara yang jarang sekali terdengar. "Itu tuntutan profesional, Ana. Saya nggak mau orang-orang berpikir kamu mendapatkan nilai A karena hubungan kita nampak deket. Kamu mendapatkannya karena argumenmu kuat. Kamu benar-benar memahami penelitianmu sendiri. Kamu memang lebih dari layak dapet nilai itu"

Sejurus kemudian, Adi menaruh sebuah kotak di meja, kemudian menggeser kotak kecil itu ke arah Ana. "Silahkan di buka."

Dengan tangan sedikit gemetar, Ana membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan cantik dengan desain yang klasik namun elegan. Di balik casing jam tersebut, terdapat ukiran halus: Per aspera ad astra. Menuju bintang melalui jerih payah.

"Selamat atas kelulusannya, dan selamat karena sudah berhasil menghadapi saya sebagai pembimbing sekaligus penguji yang paling menyebalkan," ucap Adi sambil menatap mata Ana dalam-dalam.

Ana tertawa menanggapi pengakuan Adi soal dirinya menyebalkan, namun tak kuasa menahan haru, matanya memanas menahan air mata bahagia yang seakan tak bisa diajak kompromi. Kebahagiaan ini terasa begitu penuh hingga menyesakkan dadanya. Nilai A, perayaan bersama teman-temannya, dan sekarang momen intim ini bersama Adi—ia merasa menjadi wanita paling beruntung hari itu.

"Terima kasih, Mas… untuk semuanya. Untuk ilmu, kesabaran, dan… untuk ini," suara Ana bergetar.

Sore itu, di perpustakaan yang tenang, mereka duduk bersisian, membicarakan masa depan yang kini terasa jauh lebih cerah dan mungkin untuk dijalani bersama. Perjuangan skripsi mungkin sudah berakhir, namun babak baru dalam hidup Ana baru saja dimulai. Dan kali ini, ia tahu ia tidak akan menjalaninya sendirian.

-

-

-

1
Fitriani
😄😄
Murni Asih
dr pertama sy lngsng suka
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
Nina Sani: makasih ya kak, stay tune ikutin kelanjutannya😇
total 1 replies
Sartini 02
kayaknya menarik ya kak Krn masih bab 1
lanjut kak....🤭🙏👍
Nina Sani: siaap 😇😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!