NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:543
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

‎Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.

Tapi dunia berkata lain.

‎Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.

‎Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.

‎Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.

‎Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Momen tak terduga di studio

“Junho-ssi, aku boleh masuk?” tanya Nala begitu tiba di depan pintu studio tersebut. Ia sengaja mengetuk pintu kaca itu terlebih dahulu sebagai bentuk sopan santun kepada artis senior.

“Masuklah.”

Jawaban itu akhirnya membuat Nala mendorong pintu perlahan.

Ia memang datang terlambat lima menit. Saat beristirahat tadi ia hampir tertidur, dan kini ia hanya berharap tidak akan ada yang marah.

Namun ketika ia masuk, studio malam itu tidak seramai biasanya.

Lampu-lampu gantung berwarna kuning hangat menyinari peralatan musik yang berjajar rapi. Di pojok ruangan, layar monitor besar menampilkan perangkat lunak rekaman yang masih terbuka—grafik suara bergerak pelan dari demo instrumental yang baru saja diputar.

Nala berdiri di dekat meja kontrol, menatap sekeliling dengan rasa kagum yang tidak bisa ia sembunyikan.

Ia belum pernah masuk ke ruang kerja para rapper line secara langsung. Segalanya terlihat berbeda—lebih pribadi, lebih intens, seperti dunia lain yang dipenuhi rahasia dan energi kreatif.

Dulu ia hanya melihat beberapa sudut ruangan ini dari siaran langsung para member, terutama Junho. Sekarang ia bisa berdiri di dalamnya tanpa kesulitan apa pun.

“Malam, Junho-ssi. Maaf sedikit terlambat,” ujar Nala sambil sedikit menunduk.

Baru saat itu ia menyadari bahwa di ruangan tersebut hanya ada Junho seorang diri. Junho yang melihat itu hanya mengangguk pelan sebelum kembali berbicara.

“Yoohan-ssi belum datang. Hoseung-ssi juga belum. Mereka akan sedikit terlambat karena urusan masing-masing. Tapi kita bisa mulai sedikit. Aku ingin kau mendengar bagian awalnya dulu.”

Suara Junho memecah keheningan. Ia duduk di kursi utama studio, menatap layar laptop yang menampilkan draft lirik.

“Oh—baik.”

Nala buru-buru menarik kursi kecil di sebelahnya lalu duduk. Ia menaruh laptop di pangkuannya. Tangannya refleks menulis sesuatu di buku catatan kecil, seperti kebiasaannya setiap kali mendengar musik.

Junho menekan tombol play.

Suara beat mengalun pelan—ritme berat dengan nuansa melankolis. Ada denting lembut piano di latar, berpadu dengan bass yang dalam.

Nala terdiam.

Bibirnya sedikit terbuka.

Nada itu terasa seperti sesuatu yang tenggelam... dan berusaha naik kembali ke permukaan. Sesuai dengan tema Rebirth yang mereka bahas sebelumnya.

“Ini... terdengar seperti perjalanan seseorang yang kehilangan arah. Tapi juga seperti... keinginan untuk hidup lagi,” gumam Nala lirih tanpa sadar.

Namun kalimat itu cukup membuat Junho menoleh perlahan.

Matanya menatapnya.

“Persis itu yang kupikirkan,” katanya pelan. “Lucu, ya. Kau selalu bisa menangkap esensinya bahkan sebelum aku menjelaskannya.”

Nala tersenyum malu. Jari-jarinya membolak-balik halaman catatan, sekadar untuk menyembunyikan rasa gugup yang tiba-tiba muncul.

“Mungkin karena aku terlalu suka mendengar... bukan menilai,” ujarnya pelan.

Suasana hening sebentar, hanya suara beat yang masih mengisi udara. Junho menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya kembali fokus ke layar.

“Kau bisa membantu aku menulis visualisasi adegannya nanti. Aku ingin transisinya terasa hidup, seperti seseorang yang menembus masa lalunya.”

Nala mengangguk mantap.

“Baik.” Ia mencondongkan tubuhnya sedikit untuk melihat layar di depan mereka namun gerakannya agak terlalu cepat. Ujung buku catatannya menyenggol gelas air di meja. Gelas itu terdorong... lalu jatuh.

Pecah.

Sebelum sempat dicegah.

Melihat itu Nala langsung panik. Ia refleks meraih pecahan kaca kecil untuk membersihkannya dengan tangan, tetapi serpihan tajam itu malah menggores ujung jarinya.

“A—ah! Sakit...” serunya pelan, meringis.

Melihat itu, refleks Junho langsung mencondongkan tubuh dan meraih tangan Nala tanpa sempat berpikir.

“Berhenti—jangan digosok, sini!” Nada suaranya terdengar lebih panik daripada yang ia sadari sendiri.

Ia menarik tisu dari meja lalu menggenggam lembut tangan Nala, membersihkan tetesan darah kecil di ujung jarinya. Gerakannya hati-hati.

Bahkan terlalu hati-hati.

Nala tertegun.

Ia bisa merasakan hangatnya tangan Junho yang besar, hampir menutupi seluruh tangannya yang kecil. Jari-jari pria itu terasa kuat, tetapi sentuhannya sangat lembut.

Nala bahkan bisa mendengar napas Junho yang sedikit tidak stabil, seperti orang yang sedang panik.

Waktu seolah berhenti sejenak di antara mereka, hanya suara detik jam di dinding yang masih berjalan.

“Sudah... tidak apa-apa. Ini hanya sedikit tergores saja,” ucap Nala pelan, hampir seperti bisikan.

Namun Junho tidak langsung melepaskannya, matanya menatap luka kecil itu seolah sedang menilai sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar goresan.

Lalu akhirnya ia menghela napas pelan dan menatap wajah Nala.

“Ini bisa infeksi kalau tidak dibersihkan. Ya ampun... bagaimana ini? Di sini tidak ada kotak obat,” ucap nya bingung, Nala menggeleng pelan.

“Tidak apa-apa. Tidak perlu... ini sudah tidak sakit.” Ia menunduk sedikit. “Maaf juga karena memecahkan gelas itu.”

Junho menatapnya dalam beberapa detik.

“Tidak masalah,” katanya akhirnya. “Lain kali berhati-hatilah.” Ia berhenti sejenak, suaranya menjadi lebih rendah. “Dunia kami... tidak selalu seaman kelihatannya,” katanya lirih.

Suasana sempat canggung di antara keduanya. Nala yang masih merasa tidak enak karena telah merusak barang Junho, sedangkan Junho masih bingung kenapa dirinya merasa sekhawatir itu saat melihat Nala berdarah. Namun belum sempat ada yang bicara lagi, tiba-tiba pintu studio dibuka dengan santai. Hoseung—pria itu datang dengan pakaian santai dan rambut yang sedikit basah.

“Yah, rupanya ada yang datang duluan,” suara riang Hoseung terdengar. Ia masuk dengan rambut masih basah oleh keringat latihan. “Aigoo~ suasananya kenapa sehening ini? Aku mengganggu sesuatu, ya?” tanyanya, langsung menatap ke arah Junho yang masih memegang tangan Nala tanpa sadar.

Junho langsung melepaskan tangan Nala dan berdehem pelan.

“Tidak. Kita baru saja mulai mendengarkan demo,” ujarnya sedikit gelagapan. Begitu pun Nala yang tiba-tiba menunduk canggung tanpa alasan yang jelas.

“Uh-huh…” Hoseung tersenyum nakal, menatap keduanya bergantian. “Baiklah, lanjutkan. Aku pura-pura tidak lihat,” ujarnya yang makin membuat Nala menunduk lebih dalam, menyembunyikan pipinya yang bersemu merah.

Junho menatap layar komputer, mencoba memulihkan fokusnya yang entah kenapa malah makin buyar. Tapi di balik ketegangan itu, keduanya tahu—malam itu meninggalkan sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum bisa mereka definisikan, tetapi sudah mulai terasa.

Mereka mulai mendengarkan ulang dan sesekali berdiskusi ringan hingga sekitar dua puluh menitan. Pintu studio kembali terbuka. Kali ini suara langkahnya terdengar lebih berat dan ritmis. Yoohan masuk sambil menepuk-nepuk jaket hitamnya, wajahnya masih menyimpan sisa lelah dari jadwal sore tadi. Hoseung langsung berdiri, menyalaminya singkat.

“Kau terlihat seperti baru kabur dari set variety show,” canda Hoseung, setengah menggoda.

Yoohan hanya mendengus kecil, menaruh tablet di meja.

“Kalau bisa kabur, aku sudah lari sejak awal,” balasnya datar—jawaban khas Yoohan yang membuat Hoseung nyengir.

Junho menatap Yoohan sekilas sebelum akhirnya kembali fokus pada komputer di hadapannya, sedangkan Nala ikut berdiri dan membungkuk sopan.

“Selamat malam, Yoohan-ssi,” ujar Nala pelan.

Yoohan mengangguk tipis, menatap mereka sebentar sebelum duduk di kursinya dan menatap layar utama.

“Baik. Mari kita dengarkan demo-nya sekali lagi dari awal. Aku ingin melihat sejauh mana arah emosi dan konsep lirik yang sudah disiapkan,” ujarnya sembari berdiri di belakang Junho.

Tak lama, Junho menekan tombol play.

Suara beat memenuhi ruangan lagi—kali ini lebih keras, lebih tegas. Nada piano yang sama terdengar, tapi kini rasanya lebih dalam, lebih berisi.

Yoohan menunduk sedikit, mendengarkan dengan mata terpejam. Hoseung duduk santai di sofa belakang, memainkan topi di tangannya sambil ikut mengangguk mengikuti ritme. Sesekali Yoohan memberikan masukan, begitu juga dengan Hoseung yang terlihat aktif berdiskusi.

Di sisi lain meja, Nala masih berusaha menulis ide visualisasinya. Namun tangan kanannya mulai berdenyut perih; bekas goresan kecil tadi mulai terasa. Ia menggenggam pena kuat-kuat agar tidak terlihat canggung. Huruf-huruf yang ia tulis di buku catatan kecil mulai bergetar sedikit.

Junho menoleh sekilas.

Ia memperhatikan cara Nala berusaha menulis meski wajahnya sedikit menahan nyeri. Ia tahu. Ia tahu persis itu ekspresi yang sama seperti saat seseorang mencoba menutupi luka agar tidak merepotkan orang lain.

Pelan-pelan, Junho berdiri lalu mendekati Nala. Tanpa ragu, ia meraih buku catatan kecil itu tanpa bicara.

“Biar aku yang tulis, kau bicara saja,” katanya datar, tetapi lembut.

Hal itu membuat Yoohan dan Hoseung menoleh sejenak sebelum kembali fokus pada musik demo.

Nala refleks menatapnya, matanya sedikit melebar.

“A—aku bisa, Junho-ssi, sungguh—”

Tangannya hendak meraih buku catatan dan pensilnya lagi, namun Junho mengangkatnya sedikit seolah tak mengizinkan itu.

“Tugasmu bukan menyakiti diri sendiri. Jika kau ingin membuang waktu, keluar dari sini,” potong Junho pelan, tanpa menatapnya.

Nala sedikit tertegun mendengar nada datar dan tajam itu. Ia melihat tangan Junho sudah memegang pena dan mulai menulis di halaman berikutnya.

“Tulisannya seperti: visualisasi cahaya dan bayangan, kan? Kau sempat bilang tadi,” tanyanya.

Nala terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil.

“Iya… tepat di bagian hook, setelah nada piano masuk,” ujarnya.

Junho menulis pelan dalam bahasa Inggris, melanjutkan tulisan tangan Nala sebelumnya. Tulisan tangannya rapi dan tegas.

Setiap kali Nala menyebut satu ide, ia segera menuangkannya ke dalam kata-kata, menambahkan sedikit detail teknis seolah mereka sudah terbiasa bekerja seperti itu sejak lama. Selain itu, sesekali mereka bertiga juga memperagakan ide dari Nala yang membuat tawa di ruangan seketika pecah.

Waktu terasa berjalan lambat sampai tak sadar lembar buku catatan tersebut sudah hampir penuh oleh tulisan Junho. Pria itu tampak antusias menulis apa yang diucapkan oleh Nala hingga Hoseung dari sofa hanya mengangkat alis.

“Wah, kerja tim yang efisien sekali,” gumamnya setengah berbisik sambil meneguk air mineral. “Biasanya Junho saja susah disuruh menulis catatan, sekarang malah jadi sekretaris,” lanjutnya yang membuat Junho menoleh tajam.

“Maaf, ya,” ujar Nala, merasa tidak enak mendengar ucapan Hoseung.

Junho tak merespons apa pun. Begitu juga dengan Yoohan yang tidak langsung menanggapi. Namun sudut bibirnya sempat terangkat tipis—hampir seperti senyum yang ditahan. Ia kembali menatap layar, tetapi matanya beberapa kali bergerak ke arah keduanya.

“Lanjutkan,” ucap Yoohan singkat. “Aku ingin tahu bagian transisi dari bait pertama ke reff.”

Nala segera melanjutkan penjelasannya, kali ini dengan nada suara sedikit lebih percaya diri.

Dia mulai menjelaskan ide naratifnya tentang “kelahiran kembali” yang berawal dari kehilangan identitas, bagaimana lirik bisa membawa perjalanan batin seorang musisi yang sempat hilang arah dan akhirnya menemukan versi dirinya yang baru.

Junho menulis setiap kalimatnya dengan teliti, bahkan menambahkan kata kunci dalam bahasa Inggris untuk memudahkan konsep penerjemahan nanti.

Suasana di studio jadi hening, tetapi bukan karena tegang—melainkan karena sinkron. Mereka bekerja dalam diam, saling melengkapi tanpa banyak bicara.

Yoohan yang biasanya cerewet dengan koreksi malam itu hanya menatap tanpa memotong. Hoseung malah diam lebih lama dari biasanya, menatap pemandangan kecil di depan matanya sambil menahan tawa kecil di tenggorokan.

“Kalau mereka terus seperti ini, aku rasa album ini bisa selesai lebih cepat dari jadwal,” bisiknya lirih.

Yoohan menjawab tanpa menatap. Suaranya terdengar bangga namun juga misterius. Sejak awal dia memang sengaja mengajak Nala ke sini malam ini semata hanya untuk membuat dia dan Junho semakin dekat. Karena alasan demo itu sebenarnya bisa didengar Nala kapan saja.

Namun entah kenapa dia dan semua member SOLIX merasa Junho sedikit berbeda pada Nala. Tidak seperti pada staf lain—benar-benar jauh berbeda caranya memperlakukan Nala. Bahkan sejak awal dia ngotot mengajukan Nala pada perusahaan sampai rela menyusun proposal setebal itu hanya agar idenya disetujui.

“Atau malah makin lama, kalau yang satu terus sibuk memperhatikan yang lain,” ujarnya sembari menatap Junho sekilas.

Hal itu membuat Hoseung terkekeh pelan.

“Touché.”

Setelah hampir satu jam bekerja, Nala bersandar di kursinya, menghela napas. Jujur saja dia merasa sedikit lelah—bukan hanya karena fisiknya, tetapi juga karena pikirannya yang terus bekerja sejak tadi pagi.

Matanya melirik sekilas pada Junho yang masih sibuk mengoreksi beberapa tulisannya di buku catatan miliknya. Sedangkan Hoseung dan Yoohan terlihat serius berdiskusi, bahkan sesekali mengucapkan lirik tersebut.

Namun lamunannya tak bertahan lama karena tiba-tiba Junho bicara.

“Sepertinya bagian core-nya sudah terbentuk,” ujar Junho sembari menutup buku catatannya dan menaruh pena di atas meja.

“Aku akan rapikan lagi versi digitalnya nanti malam. Kau bisa tambahkan catatan visual besok,” lanjutnya.

Nala mengangguk pelan menerima buku dan balpoinnya.

“Baik,” jawab Nala sambil tersenyum lelah, tetapi lega. Tangannya masih sedikit berdenyut, tetapi hatinya terasa aneh… ringan, entah kenapa.

Yoohan menatap keduanya sekilas sebelum berdiri.

“Kerja bagus. Kalian berdua punya sinkronisasi yang menarik. Aku tidak tahu apakah itu keberuntungan atau sesuatu yang lain.”

Nada suaranya datar, tetapi kalimat terakhirnya terdengar menggantung.

Nala buru-buru menunduk sopan.

“Terima kasih, Yoohan-ssi,” ujarnya.

Yoohan mengangguk pelan.

“Sudah malam. Kalian boleh pulang setelah menyimpan data proyeknya,” lanjutnya, lalu berjalan keluar diikuti Hoseung yang masih sempat menatap Junho sambil tersenyum geli.

Begitu pintu tertutup, ruangan kembali sunyi. Hanya suara beat demo yang masih berputar pelan.

Junho menatap layar sebentar, lalu menoleh pada Nala yang sudah sibuk membereskan beberapa barangnya dengan gerakan hati-hati, berusaha untuk tidak menimbulkan kesalahan seperti tadi lagi.

“Jangan lupa pakai plester di jari itu. Kalau sampai infeksi, proyeknya bisa sedikit terhambat. Kita semua tentu tidak ingin itu terjadi, bukan?” ujarnya.

Nala terdiam sejenak lalu mengangguk paham.

“Tentu, Junho-ssi. Terima kasih sudah menulis untukku,” ujarnya sambil menunduk sekilas.

Junho mengangguk pelan.

“Pulanglah. Semuanya sudah selesai… hati-hati di jalan,” ujarnya.

Nala mengangguk cepat lalu menunduk sopan sebelum keluar dari studio itu.

Junho masih duduk di depan komputer, menatap layar kosong dengan pandangan tak fokus. Musik yang sedari tadi berputar kini hanya menjadi latar samar di antara pikirannya yang berjejal.

Dia menatap jari-jarinya sendiri—tangan yang tadi menulis lirik, tangan yang juga sempat memegang pena Nala saat gadis itu kesulitan. Genggaman kecil, tak disengaja, tapi entah kenapa masih menempel di benaknya.

“Aneh,” gumamnya nyaris tak terdengar.

Tatapannya jatuh ke lantai, ke arah pecahan gelas yang belum sempat dibersihkan sepenuhnya. Di sana, setitik darah sudah mulai mengering di ujung kaca. Junho mendesah pelan, suara napasnya berbaur dengan bunyi click mouse yang kembali ia tekan, membuka lembar kerja baru di layar komputer.

“Semoga tidak parah,” ucapnya pelan—seolah mengirim doa yang hanya berani disampaikan pada malam.

Dan malam pun menelan segalanya dalam diam. Lampu studio tetap menyala lembut, menyoroti sosok lelaki yang kembali sibuk di tengah keheningan.

Dia mulai kembali pokus pada layar komputer di depannya meskipun diskusi itu sudah selesai Junho tidak bisa langsung pulang karena tanggung jawabnya sebagai leader lebih berat di bandingkan dengan member lain.

1
Araya
drama banget sih orang' tuanya Junho 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ramapratama
Bau bau romansa nya udah kecium 🤣🤣🤣 tapi salut deh sama arc nya mind-blowing banget, biasanya kalau cerita idol idol gini arc nya paling mentok, ketemu tiba-tiba lalu jatuh cinta atau kalau gak. gak sengaja nabrak terus salah satunya suka, tapi Yan ini ada alasan logis nya. keren banget, semangat ya💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!