Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.
Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.
Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17: Tempat Ingatan dan Persiapan Besar
Hari berikutnya di desa Oakhaven dimulai dengan cahaya lembut dari dua bulan yang mulai terbenam dan matahari baru Eldoria yang mulai muncul—sebuah bola api berwarna ungu muda yang memberikan cahaya hangat tanpa terlalu panas. Leonard dan Alexandria bangun dengan semangat baru, siap untuk memulai langkah penting dalam perjuangan mereka.
Setelah sarapan pagi yang penuh keceriaan bersama penduduk desa, Leonard mengajak Alexandria keluar dari desa menuju sebuah tempat yang ia sebut sebagai "Hutan Kenangan". Pak Mentari telah memberitahunya bahwa tempat itu masih aman dan tidak ditemukan oleh pasukan Valerius.
"Apa itu Hutan Kenangan, Leo?" tanya Alexandria saat mereka berjalan melewati jalur hutan yang semakin rindang. Udara di sini terasa lebih segar, dan pohon-pohonnya memiliki daun yang berkilauan seperti permata.
"Itu adalah tempat di mana keluarga kerajaan biasanya pergi untuk beristirahat dan belajar tentang sejarah serta sihir Eldoria," jawab Leonard dengan suara yang penuh rasa hormat.
"Di sana ada sebuah gua tersembunyi yang menyimpan buku-buku kuno kerajaan dan juga artefak penting yang bisa membantu kita melawan Valerius. Selain itu..." ia terdiam sejenak, lalu menoleh dengan tatapan lembut, "itu juga tempat di mana ayahku mengajarkan aku banyak hal sebelum dia meninggal. Tempat itu sangat berarti bagiku."
Alexandria menggenggam tangan Leonard lebih erat. "Aku senang kamu mau membawaku ke sana, Leo. Aku ingin tahu lebih banyak tentang masa lalumu, tentang keluarga mu."
Leonard tersenyum, lalu memanggilnya dengan nada yang lebih pribadi. "Kamu punya hak untuk tahu semuanya, Alex. Kamu sudah menjadi bagian dari keluargaku sekarang."
Mendengar panggilan itu, wajah Alexandria sedikit memerah namun ia tersenyum lebar. "Terima kasih, Leo. Itu berarti banyak bagiku."
Setelah berjalan sekitar satu jam, mereka tiba di sebuah gerbang sempit yang tersembunyi di antara dua pohon besar yang batangnya saling menyilang. Leonard menarik sebuah ranting kecil yang terletak di sisi kanan gerbang, dan dengan suara klik yang lembut, gerbang kayu yang tersembunyi itu terbuka perlahan.
Di balik gerbang itu, terdapat sebuah pemandangan yang luar biasa indah. Sebuah padang rumput berwarna ungu muda yang dikelilingi oleh pohon-pohon dengan batang berwarna emas, dan di ujung padang itu terdapat sebuah gua kecil yang mulutnya dihiasi dengan ukiran-ukiran rumit tentang sejarah Eldoria.
"Ini dia," bisik Leonard, matanya sedikit berkaca-kaca karena kenangan yang muncul. "Hutan Kenangan."
Mereka berjalan menuju gua itu. Saat memasuki dalam gua, cahaya keemasan mulai muncul dari permukaan dinding batu—cahaya yang berasal dari kristal-kristal magis yang tertanam di dalamnya. Di tengah gua, terdapat sebuah meja batu besar yang di atasnya diletakkan tumpukan buku tua dan beberapa benda berkilauan. Di dinding belakang gua, terdapat sebuah pahatan batu yang menggambarkan keluarga kerajaan Eldoria—termasuk Leonard sebagai anak kecil yang sedang bermain di pangkuan ayahnya.
"Itu kau kan?" tanya Alexandria dengan lembut, menunjuk ke arah pahatan batu itu.
Leonard mengangguk, lalu mengajaknya berdiri di depan pahatan itu.
"Ya. Ayahku selalu bilang bahwa Eldoria bukan hanya milik keluarga kerajaan, tapi milik semua rakyatnya. Dia mengajarkanku untuk selalu menghargai setiap orang, tidak peduli dari mana mereka berasal."
Ia menatap wajah Alexandria, lalu menyentuh pipinya dengan lembut.
"Itu sebabnya aku bisa mencintaimu dengan sepenuh hati, Alex. Ayahku mengajarkanku bahwa cinta tidak mengenal batasan apapun."
"Leo..." bisik Alexandria, terharu mendengar kata-kata itu.
Ia memeluk Leonard erat-erat, merasa bersyukur bisa mengenal sisi terdalam dari pria yang dicintainya.
Setelah beberapa saat menikmati momen itu, mereka mulai mengeksplorasi barang-barang di meja batu. Leonard menemukan sebuah buku besar dengan kulit sampul berwarna hitam pekat, dengan tulisan emas yang tertulis di sampulnya: Kitab Sihir Kerajaan Eldoria.
"Ini adalah buku yang aku cari!" seru Leonard dengan kegembiraan.
"Di sini ada catatan tentang sihir pelindung yang bisa menguatkan pasukan kita, serta cara untuk memblokir kekuatan sihir gelap Valerius."
Alexandria pun membantu Leonard mencari informasi penting. Ia menemukan sebuah peta kuno yang menunjukkan lokasi-lokasi strategis di Eldoria, termasuk posisi istana kerajaan yang kini dikuasai Valerius dan juga tempat-tempat di mana pasukan setia masih bersembunyi.
"Sini, Leo!" panggil Alexandria dengan senyum gembira.
"Lihat ini—ada sekitar tiga desa lain dan satu markas bawah tanah yang masih setia pada kerajaan. Kita bisa menghubungi mereka dan mengumpulkan pasukan untuk melawan Valerius."
Leonard mendekat dan melihat peta itu, matanya bersinar dengan harapan. "Ini luar biasa, Alex. Kau benar-benar adalah karunia bagi ku."
Mereka menghabiskan beberapa jam di dalam gua itu, membaca buku-buku kuno dan merencanakan langkah selanjutnya. Leonard menjelaskan tentang setiap jenis sihir yang ada di buku, sementara Alexandria memberikan ide-ide cerdas tentang bagaimana menggabungkan pengetahuannya tentang ramuan dengan sihir Eldoria untuk membuat senjata dan perlengkapan yang lebih kuat.
"Satu hal lagi yang perlu kita persiapkan," ucap Leonard setelah mereka selesai merencanakan.
"Untuk mengalahkan Valerius, aku perlu mendapatkan kembali Pedang Kejayaan—senjata pusaka kerajaan yang hanya bisa dipegang oleh orang yang memiliki darah kerajaan dan memiliki hati yang murni. Senjata itu tersembunyi di dalam Gunung Api Bidadari, yang terletak di ujung timur Eldoria."
"Jadi setelah kita mengumpulkan pasukan dari desa-desa lain, kita akan pergi ke sana?" tanya Alexandria.
"Ya," jawab Leonard, lalu mengambil tangan wanita itu. "Tapi perjalanan ke sana akan sangat berbahaya. Gunung itu dikelilingi oleh makhluk-makhluk buas yang dikuasai oleh sihir gelap. Aku tidak ingin kamu terkena bahaya, Alex."
Alexandria menatapnya dengan tegas. "Kita sudah melalui begitu banyak hal bersama, Leo. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu di saat kamu membutuhkanku. Apalagi sekarang kita sudah punya rencana yang jelas. Kita akan pergi ke sana bersama-sama, dan kita akan mendapatkan Pedang Kejayaan itu untuk menyelamatkan Eldoria."
Leonard tersenyum bangga. Ia tahu bahwa tidak ada yang bisa mengubah pikiran wanita ini, dan itu adalah salah satu alasan mengapa ia mencintainya begitu dalam.
"Sekarang kita harus kembali ke desa Oakhaven," kata Leonard.
"Kita perlu memberitahu Pak Mentari tentang rencana kita dan mulai mempersiapkan segala sesuatu. Kita tidak punya banyak waktu—Valerius pasti sudah menyadari bahwa aku sudah kembali dan akan segera mengirim pasukannya untuk mencari kita."
Mereka pun membersihkan barang-barang yang telah mereka teliti dan menutup kembali buku-buku kuno dengan hati-hati. Sebelum keluar dari gua, Leonard berhenti sejenak di depan pahatan batu keluarga kerajaannya. Ia mencium ibu jari kirinya, lalu menyentuh pahatan itu sebagai penghormatan.
"Ayah, aku akan membuatmu bangga," bisik Leonard dengan penuh tekad. "Aku akan mengembalikan kedamaian ke Eldoria dan membangun masa depan yang lebih baik bersama Alex."
Alexandria berdiri di belakangnya, menyentuh bahunya dengan lembut. Ia tahu bahwa Leonard sedang berbicara dengan ayahnya yang telah tiada, dan ia merasa bangga bisa menjadi bagian dari perjuangan untuk memenuhi impian lelaki itu.
Mereka keluar dari gua dan menutup kembali gerbang tersembunyi itu. Saat mereka berjalan kembali menuju desa Oakhaven, matahari Eldoria sudah mulai terbenam, dan langit kembali berubah menjadi warna ungu tua dengan dua bulan yang mulai bersinar terang.
"Leo," panggil Alexandria pelan saat mereka berjalan beriringan.
"Hmm?" jawab Leonard, menoleh ke arahnya.
"Apakah kamu pernah membayangkan bahwa kita akan sampai sejauh ini?" tanya Alexandria dengan senyum manis.
"Dari bertemu di hutan kecil di dunia ku hingga sekarang, sedang merencanakan untuk menyelamatkan dunia mu?"
Leonard tersenyum, lalu menggenggam tangannya lebih erat.
"Tidak, Alex. Aku tidak pernah membayangkannya. Tapi aku bersyukur setiap hari karena itu terjadi. Kamu adalah alasan aku bisa bertahan hidup, alasan aku bisa kembali ke sini dan berjuang."
Mereka melanjutkan perjalanan dengan senyum di wajah mereka. Meskipun mereka tahu bahwa tantangan besar sedang menunggu mereka di depan, mereka merasa kuat dan siap karena mereka memiliki satu sama lain.
Nama-nama kesayangan itu—Leo dan Alex—terdengar sesekali di antara bisikan angin, menjadi janji bahwa mereka akan selalu bersama, tidak peduli apa yang terjadi.