Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.
Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.
Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Kabut di depan mereka tidak lagi diam seperti sebelumnya, perlahan ia bergerak, berputar halus seperti sesuatu yang hidup dan sedang mengamati, membuat langkah Alexandria tanpa sadar melambat sementara jemarinya menguat menggenggam tangan Leonard.
Dan di saat yang sama tanah di bawah kaki mereka terasa berbeda—bukan sekadar lembap atau dingin, tapi seperti berdenyut pelan, seolah ada sesuatu di dalamnya yang mulai bangkit dari tidur panjangnya.
Leonard tidak langsung bicara, tapi bahunya menegang sedikit, rahangnya mengeras, dan matanya menyipit menatap ke depan dengan fokus yang berubah—lebih tajam, lebih dalam, seperti seseorang yang akhirnya mengenali sesuatu yang selama ini hanya terasa samar.
“Kita tidak sendirian di sini,” gumamnya pelan, suaranya rendah tapi jelas, sementara ibu jarinya tanpa sadar mengusap punggung tangan Alexandria, mencoba menenangkan, atau mungkin memastikan bahwa dia masih benar-benar ada di sisinya.
Alexandria menelan napas, dadanya terasa sedikit sesak bukan karena takut sepenuhnya, tapi karena ada sesuatu yang aneh merambat pelan di tubuhnya, hangat namun asing, seperti bisikan yang tidak terdengar tapi tetap bisa dirasakan, membuatnya tanpa sadar mendekat sedikit ke Leonard.
“Aku juga merasakannya…” bisiknya, matanya bergerak mengikuti kabut yang perlahan membuka dan menutup seperti napas.
Langkah mereka berlanjut, pelan tapi pasti, dan semakin jauh mereka masuk, kabut itu justru semakin menipis di sekitar tubuh mereka, bukan menghilang sepenuhnya, tapi seperti memberi ruang, seolah… menerima.
Leonard berhenti sejenak, kepalanya sedikit menoleh seperti mendengar sesuatu yang tidak bisa didengar oleh telinga biasa, lalu napasnya tertarik lebih dalam, dadanya naik turun lebih berat dari sebelumnya.
“Itu memanggilku…” ucapnya lirih, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.
Alexandria langsung menatapnya, “Apa?”
Leonard tidak langsung menjawab, tapi matanya tetap tertuju ke depan, sorotnya berubah menjadi campuran antara kerinduan dan kewaspadaan yang tajam.
“Eldoria,” lanjutnya akhirnya, suaranya terdengar lebih dalam, “aku bisa merasakannya sekarang, bukan sekadar ingatan atau bayangan, tapi benar-benar… nyata.”
Angin tiba-tiba berhembus, lebih dingin dari sebelumnya, membuat ujung rambut Alexandria terangkat sedikit, tapi anehnya rasa hangat di dalam tubuhnya justru semakin jelas, menyebar pelan dari dada ke seluruh tubuh seperti sesuatu yang baru saja menyala.
Ia mengerutkan kening, tangannya refleks menekan dada sendiri.
“Leonard… ini aneh,” gumamnya pelan, napasnya sedikit tidak teratur, “aku seperti… ditarik juga.”
Kali ini Leonard langsung menoleh cepat, tangannya berpindah memegang bahu Alexandria dengan lembut tapi tegas, matanya menelusuri wajah wanita itu dengan khawatir yang tidak disembunyikan.
“Ditarik bagaimana?” tanyanya.
Alexandria berusaha mencari kata yang tepat, tapi sensasi itu sulit dijelaskan, bukan sakit, bukan juga sepenuhnya nyaman, tapi seperti ada sesuatu yang mencoba mengenalnya dari dalam.
“Bukan sakit… tapi seperti ada yang mengenali aku,” jawabnya pelan.
Leonard terdiam sesaat, lalu tatapannya berubah, bukan lagi khawatir, tapi… mengerti.
“Gerbang ini bukan sekadar jalan,” ucapnya perlahan, “ini tempat yang memilih siapa yang boleh lewat.”
Kalimat itu menggantung di udara, membuat Alexandria tanpa sadar menahan napas.
“Kalau begitu…” ia menatap lurus ke depan, “…apa kita akan diterima?”
Leonard tidak langsung menjawab, tapi tangannya kembali menggenggam tangan Alexandria lebih erat, seolah jawaban itu tidak perlu diucapkan sepenuhnya.
“Kita tidak datang sebagai dua orang asing,” katanya pelan, “kita datang sebagai satu.”
Kabut di depan mereka tiba-tiba bergerak lebih cepat, berputar membentuk lingkaran besar, dan tanah di bawah kaki mereka bergetar lebih jelas, bukan keras, tapi cukup untuk membuat jantung berdegup lebih cepat, sementara garis-garis cahaya tipis mulai muncul dari dalam tanah, merambat seperti akar yang bersinar.
Alexandria menahan napas, matanya melebar melihat cahaya itu menyebar membentuk pola yang rumit, seperti simbol kuno yang perlahan bangkit dari bawah tanah.
“Leonard…” suaranya nyaris tak terdengar.
“Aku tahu,” jawab Leonard cepat, matanya tidak lepas dari pola itu, tubuhnya sedikit bergeser ke depan tanpa sadar, seperti tertarik.
Tiba-tiba, tekanan di udara berubah.
Bukan sekadar dingin atau berat, tapi seperti sesuatu yang menekan dari segala arah, membuat langkah Alexandria goyah sejenak, dan sebelum ia benar-benar kehilangan keseimbangan, Leonard sudah menariknya mendekat, tangannya melingkar di pinggangnya dengan refleks yang cepat.
“Fokus padaku,” bisiknya rendah di dekat telinganya.
Alexandria mengangguk kecil, mencoba mengatur napasnya, tapi tekanan itu tidak hilang, justru semakin kuat, seolah sedang… menguji.
Kabut di depan mereka terbuka perlahan, membentuk celah besar, tapi di balik celah itu bukan sekadar jalan, melainkan cahaya yang berdenyut, terang tapi tidak menyilaukan, dan dari dalamnya terasa sesuatu yang besar, tua, dan penuh kekuatan.
Langkah Leonard maju setengah langkah, tapi berhenti.
Bukan karena takut. Tapi karena ragu.
Untuk pertama kalinya sejak mereka sampai di sini, ekspresi itu muncul jelas di wajahnya, dan Alexandria langsung menyadarinya.
“Kamu ragu,” katanya pelan.
Leonard menghela napas panjang, matanya masih tertuju ke depan.
“Bukan untukku,” jawabnya jujur, “tapi untukmu.”
Alexandria menatapnya, tidak langsung bicara.
“Aku tahu apa yang menunggu di sana,” lanjut Leonard, suaranya lebih rendah, “itu bukan dunia yang lembut, bukan dunia yang akan menyambutmu dengan aman, dan aku…” ia berhenti sejenak, rahangnya mengeras, “…aku tidak ingin membawamu ke sesuatu yang bisa melukaimu.”
Keheningan jatuh di antara mereka, tapi bukan keheningan kosong, melainkan penuh dengan sesuatu yang berat dan nyata.
Alexandria perlahan mengangkat tangannya, menyentuh pipi Leonard dengan lembut, memaksanya menoleh.
“Aku sudah memilih sejak aku memutuskan ikut bersamamu,” ucapnya pelan tapi tegas, matanya menatap lurus tanpa ragu, “bukan karena aku tidak tahu risikonya, tapi karena aku tahu aku tidak ingin hidup tanpa kamu.”
Napas Leonard tertahan sesaat.
“Apa pun yang ada di sana, kita hadapi bersama,” lanjut Alexandria, jemarinya masih menempel di wajahnya, hangat, nyata, “bukan kamu melindungiku sendirian, bukan aku hanya mengikutimu, tapi kita… berjalan berdampingan.”
Tatapan Leonard berubah perlahan, keraguan yang tadi ada mulai memudar, digantikan sesuatu yang lebih kuat.
Keputusan.
Tangannya bergerak, menutup tangan Alexandria di pipinya, lalu menurunkannya perlahan, menggenggamnya dengan pasti.
“Kalau begitu…” bisiknya pelan.
Tanpa menunggu lebih lama, ia melangkah maju. Dan saat kaki mereka melewati batas cahaya itu semuanya berubah.
Tekanan di udara pecah seketika, digantikan oleh dorongan energi yang kuat, seperti gelombang yang menyapu dari bawah ke atas, membuat tubuh mereka terasa ringan sekaligus berat dalam waktu yang sama, sementara cahaya di sekitar mereka membesar, berputar, dan menelan pandangan.
Alexandria refleks meremas tangan Leonard lebih kuat.
Leonard membalas. Tidak ada kata-kata lagi. Hanya genggaman itu. Dan satu langkah lagi.
Saat mereka benar-benar melewati celah itu, kabut di belakang mereka menutup dengan cepat, seperti pintu yang tidak berniat dibuka kembali, sementara dunia di depan mereka… terbuka.
Udara yang mereka hirup berbeda. Lebih ringan, tapi juga lebih padat.
Langit di atas tidak lagi biru sepenuhnya, tapi bercampur ungu dan perak, dengan cahaya yang tidak berasal dari matahari yang mereka kenal, dan tanah di bawah kaki mereka bukan lagi tanah hutan biasa, tapi dipenuhi cahaya samar yang bergerak seperti aliran energi hidup.
Alexandria tidak langsung bicara, matanya bergerak perlahan menyapu semuanya, napasnya tertahan tanpa sadar.
“Ini…” suaranya pelan, hampir seperti takut memecah sesuatu.
Leonard berdiri di sampingnya, sama terdiamnya, tapi bukan karena bingung. Melainkan karena pulang.
Ia menarik napas dalam, lebih dalam dari sebelumnya, dan untuk pertama kalinya sejak kutukan itu dimulai, ekspresinya benar-benar… tenang.
“Kita sudah sampai,” katanya pelan.
Alexandria menoleh, menatapnya, dan di saat itu ia tahu— ini bukan lagi perjalanan biasa. Ini bukan lagi sekadar melarikan diri.
Ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dari mereka.
Dan tanpa sadar, langkahnya bergerak sedikit lebih dekat ke Leonard, sementara tangannya tetap menggenggam erat, seolah tidak ada satu pun dunia yang bisa memisahkan mereka sekarang.
Di kejauhan, angin bergerak pelan, membawa suara yang samar—bukan ancaman. Tapi bukan juga sambutan yang ramah. Sesuatu di dunia itu sudah tahu mereka datang.
Dan cerita mereka… baru saja benar-benar dimulai.