"Di Perusahaan ini, saya adalah hukum. Hukum tidak mengenal kata MAAF" Adrian Bramantyo.
Adrian adalah CEO dingin yang hidup seperti robot. Kesalahan sekecil apapun adalah tiket menuju pemecatan dan berakhir menjadi pengangguran di black list semua perusahaan. Namun saat sistem logistik bernilai miliaran rupiah lumpuh, seorang admin gudang yang berantakan justru muncul sebagai penyelamat dengan buku catatan kumal yang dimilikinya.
Gisel Amara, gadis pemberani yang hobi mendumel, mendadak ditarik paksa menuju lantai 40 menjadi sekertaris pribadi Adrian yang merupakan "Beruang Kutub".
Akankah Gisel bertahan di ruangan bersuhu minus tanpa beku?
Atau Gisel yang akan mencairkan hati sang CEO yang sudah lama membeku di titik Minus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Dingin Fine Dining
Restoran itu memiliki lampu gantung kristal yang berpendar redup, memberikan nuansa emas pada setiap sudutnya. Namun, kemewahan itu terasa kontras dengan keributan kecil yang terjadi di ujung meja panjang tersebut.
**Budi**: (Menunjuk menu dengan heboh) "Hadidit! Liat deh, ini Escargot harganya bisa buat beli skincare gue sebulan! Lo harus pesen ini, mumpung limit kartu Pak Bos nggak berseri!"
Hadi: (Wajahnya pucat, memegang buku menu seolah sedang memegang bom) "Bud, ini siput? Gue biasa liat ini di selokan depan rumah, masa di sini jadi elit begini? Gue pesen nasi goreng aja deh, ada nggak ya?"
Budi: "Aduh, kampungan banget sih lo! Mana ada nasi goreng di sini! Pesen Wagyu A5 gih, biar lidah lo tau rasanya daging yang nggak perlu dikunyah udah meleleh!"
Hadi dan Budi terus berdebat panas soal istilah-istilah Prancis di menu yang mereka sendiri tidak tahu cara bacanya, menciptakan tameng suara yang sempurna bagi apa yang terjadi di sisi meja sebelah sana.
Adrian sama sekali tidak melirik ke arah Budi atau Hadi. Matanya tetap fokus pada buku menu di tangannya, wajahnya sedingin es dan seprofesional biasanya. Namun, di bawah taplak meja linen putih yang tebal, tangan kanannya perlahan merayap dan menggenggam jemari Gisel dengan sangat lembut.
Gisel tersentak. Genggaman tangan Adrian besar, hangat, dan sangat protektif. Ibu jari Adrian perlahan mengusap punggung tangan Gisel, memberikan sensasi setruman halus yang membuat bulu kuduk Gisel berdiri.
**Adrian**: (Suaranya tenang, tetap menatap menu tanpa menoleh ke Gisel) "Kamu mau pesan apa, Gisel? Lobster Thermidor atau kamu lebih suka 'pencairan' yang lebih cepat malam ini?"
Gisel: (Membeku di tempat, badannya kaku seperti manekin gudang) "A-anu... saya... saya terserah Bapak aja."
Adrian: (Makin erat menggenggam, kini menyelipkan jari-jarinya di antara jari Gisel) "Jangan terserah saya. Kamu yang menulis skenario hari ini, ingat? Kamu pikir membawa dua orang itu bisa menyelamatkan kamu dari perhatian saya?"
Gisel merasa jantungnya sudah pindah ke tenggorokan. Genggaman tangan Adrian terasa begitu dominan hingga ia lupa caranya bernapas dengan benar. Ia melirik Budi dan Hadi, berharap mereka menoleh, tapi Budi malah sedang sibuk memotret sendok perak restoran untuk story Instagram-nya.
Gisel: (Mendadak berdiri dengan gerakan patah-patah, membuat kursi sedikit berderit) "S-saya... saya izin ke toilet sebentar! Maaf, perut saya... mendadak logistiknya macet!"
Tanpa menunggu jawaban, Gisel melepaskan tangannya paksa dari genggaman Adrian dan melesat pergi menuju toilet secepat kilat, meninggalkan Adrian yang kini hanya menatap telapak tangannya sendiri dengan senyum miring yang penuh kemenangan.
Budi: (Menoleh sebentar dari ponselnya) "Lho? Gisel kenapa, Pak? Mukanya merah banget, apa dia alergi AC restoran mahal?"
Adrian: (Menutup buku menunya dengan elegan) "Dia hanya butuh waktu untuk mencerna... kenyataan."
Gisel menatap pantulan wajahnya di cermin toilet restoran yang berlapis emas itu. Pipinya masih terasa panas, semerah kepiting rebus yang mungkin sedang dipesan Budi di meja depan. Ia memercikkan air dingin berkali-kali ke wajahnya, mencoba memadamkan "kebakaran" emosi yang disulut oleh sentuhan tangan Adrian tadi.
Gisel: (Mengerutu sambil mengusap wajah dengan tisu) "Dasar Kulkas konslet! Bisa-bisanya dia pegang tangan gue di depan Budi sama Hadi?! Mana lembut banget lagi... Nggak, Gisel! Jangan baper! Itu cuma taktik korporat buat bikin lo jinak! Dia itu tiran, dia itu robot, dia itu... dia itu..."
Gisel berhenti bicara saat menyadari jantungnya masih berdegup kencang. Bayangan jemari Adrian yang menyelip di antara jemarinya sendiri seolah masih terasa bekas hangatnya.
Gisel: "Tadi itu ilegal! Harusnya ada undang-undang yang melarang CEO punya tangan sehangat itu! Aduh, gimana gue balik ke meja?! Gue nggak bisa liat mukanya tanpa bayangin draf blog 'Hati Selembut Sutra' itu!"
Tiba-tiba, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Drtt... drtt...
Gisel membukanya dengan malas, mengira itu pesan dari Budi yang minta tambahan pesanan dessert. Tapi matanya hampir keluar saat membaca nama pengirimnya: ADRIAN BRAMANTYO.
**Adrian:** Jangan lama-lama di dalam, Gisella. Kamu sudah menghabiskan 7 menit 42 detik untuk menghindari saya.
**Adrian:** Balik ke meja sekarang, atau saya sendiri yang akan menyusul kamu ke toilet wanita untuk melanjutkan genggaman tangan tadi. Saya tidak bercanda.
Gisel: (Hampir menjatuhkan ponselnya ke wastafel) "GILA! INI ORANG BENERAN PSIKO-ROMANTIS!"
Gisel langsung merapikan rambutnya dengan brutal, memoles sedikit lipstik agar tidak terlihat terlalu pucat karena panik, dan menarik napas sedalam mungkin. Ia tahu Adrian bukan tipe orang yang menggertak sambal. Kalau dia bilang mau menyusul, dia benar-benar akan berdiri di depan pintu toilet wanita tanpa peduli pandangan orang lain.
Gisel berjalan keluar dari toilet dengan langkah cepat, mencoba memasang wajah sedatar mungkin meski lututnya masih sedikit lemas. Begitu sampai di area meja, ia melihat Adrian sedang menyesap wine merahnya dengan sangat elegan, matanya langsung terkunci pada Gisel begitu wanita itu muncul.
Budi: "Lho, Gisel Sayang! Lama amat? Tadi gue udah mau pesen tim SAR buat nyari lo di dalem lubang wastafel! Nih, liat, pesanan kita udah dateng semua!"
Hadi: (Sambil memotong daging dengan kaku) "Iya Sel, lo lama banget. Pak Bos tadi udah liatin jam tangan terus, gue pikir gue mau dipecat lagi karena lo kelamaan di toilet."
Gisel duduk kembali di kursinya yang sialnya, Adrian sudah menggeser kursinya sendiri jadi sedikit lebih dekat ke arah Gisel.
Adrian: (Berbisik sangat pelan, hanya untuk telinga Gisel) "Pilihan yang bijak, Gisel. Kamu menyelamatkan reputasi saya... dan mungkin detak jantung kamu sendiri."
Gisel menatap nyalang ke arah Adrian, ingin rasanya menjambak rambut pria itu dengan ganas, sebisa mungkin ia menahan kesal untuk Adrian yang terlihat biasa saja, masih sama seperti kulkas 1000 pintu.
**
Suasana di meja makan itu benar-benar menceritakan tiga kasta kehidupan yang berbeda dalam satu waktu. Gisel yang biasanya segalak Singa logistik, kini benar-benar bertransformasi menjadi "Mode Kucing" ia duduk tegak, bahunya menciut, dan ia hanya berani menusuk-nusuk potongan brokoli di piringnya dengan tatapan kosong.
Gisel: (Suaranya mencicit, nyaris tak terdengar) "P-Pak... ini dagingnya kenapa lembut banget ya? Kayak... kayak sutra..."
Gisel langsung menggigit bibirnya sendiri. Sial! Kenapa kata 'sutra' malah keluar lagi?! Ia benar-benar tidak berani menoleh ke arah Adrian karena ia tahu pria itu sedang memperhatikannya dengan intensitas yang bisa melelehkan kutub utara.
Adrian: (Menatap Gisel dengan tatapan gemas yang tertahan, sudut bibirnya berkedut menahan tawa) "Memang lembut, Gisel. Sama seperti deskripsi di blog kamu tadi sore. Kenapa kamu hanya makan sayurnya? Apa kamu butuh saya yang menyuapi supaya kamu tidak gemetar?"
Gisel makin menunduk, wajahnya hampir tenggelam di piring. Ia benar-benar kehilangan taringnya.
Di sisi lain meja, perbedaan nasib antara Budi dan Hadi terlihat sangat kontras.
Budi: (Sedang mengunyah Wagyu A5 dengan mata terpejam, tangannya sibuk memotret setiap sendok yang masuk ke mulutnya) "YA AMPUN Gisel! Ini daging apa kapas?! Lembut banget mak! Gue ngerasa kayak lagi dipeluk malaikat di atas awan! Pak Bos Bramantyo, makasih ya! Kalau tiap hari begini, saya rela deh disuruh jaga gudang lagi, asal pulangnya makan ginian!"
Hadi: (Duduk di sebelah Budi dengan kaku, memegang garpu seolah-olah itu adalah keris pusaka) "Budi... diem deh. Lo nggak liat Pak Adrian lagi mode serius? Gue boro-boro ngerasain rasa daging, nelen air putih aja rasanya kayak nelen paku payung. Gue takut salah kunyah dikit, bonus gue yang baru dicairin tadi ditarik lagi sama sistem."
Hadi makan dengan kecepatan 0,5x, memastikan tidak ada suara dentingan sendok yang mengganggu "pendekatan" bosnya kepada Gisel. Baginya, kenyang adalah nomor dua, selamatnya bonus adalah prioritas nasional.
Adrian mengabaikan kehebohan Budi dan ketakutan Hadi. Ia justru mengambil sepotong daging dari piringnya sendiri dan meletakkannya di piring Gisel dengan gerakan yang sangat natural.
Adrian: (Berbisik lembut, hanya untuk Gisel) "Makan yang banyak, Kucing Kecil. Kamu butuh energi untuk menulis bab selanjutnya malam ini. Saya tidak suka melihat aset saya... terlihat lemas karena baper."
Gisel: (Tersedak kecil) "S-siapa yang baper?! Saya cuma... saya cuma lagi mikir taktik logistik buat besok, Pak!"
Adrian: "Bohong. Kamu sedang memikirkan genggaman tangan saya tadi, kan?"
Gisel langsung meminum air putihnya sampai tandas, sementara Budi yang sempat melirik, diam-diam menyenggol lengan Hadi.
Budi: (Berbisik ke Hadi) "Dit, liat tuh. Pak Bos beneran udah nggak ada obatnya. Gisel dipanggil 'Kucing Kecil'. Kalau besok Gisel dapet mobil dinas baru, gue nggak heran!"
Budi: (Sambil mengelap mulutnya dengan serbet mahal, matanya mengerling genit ke arah Gisel) "Aduh, sayangkuh Gisel... diem-diem bae? Biasanya mulutnya kayak petasan banting kalo bahas stok ban, kok sekarang jadi kayak putri keraton yang abis minum obat tidur? Apa gara-gara tangan Pak Bos tadi udah 'mampir' ke tangan lo ya? Uhuy!"
Gisel: (Matanya mendadak melotot, ia menggebrak meja sedikit membuat sendok perak Hadi meloncat) "MAMI! Mulut lo mau gue lakban pake isolasi hitam gudang?! Lo pikir gue apaan, hah?! Gue diem tuh karena lagi mikirin gimana caranya bikin laporan audit besok, bukan karena... karena..."
Budi: "Halah! Bohongnya nggak estetik, Say! Muka lo udah merah mateng gitu, tinggal kasih sambel udah jadi ayam geprek! Jujur aja napa, lo baper kan dipanggil 'Kucing Kecil' sama Pak Bos Bramantyo?"
Gisel: "SIAPA YANG KUCING?! Gue ini SINGA, Mami Budi! Lo mau gue cakar pake kuku logistik gue?! Dan lo, Pak Adrian! Jangan senyum-senyum gitu! Bapak itu biang keroknya! Bapak itu tiran yang suka memanipulasi perasaan bawahan demi konten blog!"
Gisel berdiri, menunjuk-nunjuk Budi dengan garpunya, lalu beralih menunjuk Adrian yang masih duduk tenang dengan pose paling elegan sejagat raya.
Di tengah badai makian Gisel dan tawa cekikikan Budi, Hadi benar-benar terlihat seperti sedang berada di ruang tunggu akhirat.
Hadi: (Menyatukan kedua tangannya di bawah meja, matanya terpejam rapat, bibirnya komat-kamit) "Ya Tuhan... jauhkanlah hamba dari amukan Gisel. Lindungilah bonus hamba yang baru saja menetas. Jangan biarkan Pak Adrian merasa terganggu lalu memutuskan untuk memotong gaji kami berdua sebagai biaya 'sewa kebisingan' restoran ini. Amin... Amin ya Rabb..."
Hadi bahkan tidak berani mengunyah dagingnya. Dia takut suara kunyahannya dianggap sebagai bentuk provokasi di tengah debat panas itu.
Adrian tidak marah. Ia justru meletakkan garpu dan pisaunya, lalu bersandar ke kursi sambil melipat tangan di dada. Matanya tidak lepas dari sosok Gisel yang sedang mengamuk rambutnya sedikit berantakan, napasnya memburu, dan wajahnya penuh energi.
Adrian: (Bergumam pelan, suaranya terdengar sangat puas) "Sangat cantik. Versi singa ini... jauh lebih jujur daripada versi kucing tadi."
Gisel: "Bapak bilang apa?! Cantik?! Bapak beneran konslet ya?! Saya lagi marah, Pak! Saya lagi maki-maki kalian berdua!"
Adrian: "Saya tahu, Gisel. Dan saya sangat menikmatinya. Lanjutkan saja, maki Budi sampai dia kapok, lalu maki saya sampai kamu merasa... cukup lapar untuk makan dessert pesanan saya."
**
Suasana di meja makan fine dining itu benar-benar pecah. Restoran yang biasanya hanya diisi suara denting porselen mahal, kini berubah jadi panggung drama yang bikin pengunjung meja sebelah melirik heran.
Budi: (Menutup mulutnya dengan kedua tangan, badannya berguncang histeris sampai hampir jatuh dari kursi) "YA AMPUN! GAK KUAT! MAK! Pak Bos Bramantyo minta dimaki?! Ini mah bukan CEO lagi, ini mah sudah level bucin stadium akhir! Gisel, cepetan maki lagi! Bilang dia Kulkas Rusak! Bilang dia Robot Konslet! Gue mau liat dia makin senyum!"
Gisel: (Napasnya memburu, matanya menatap Adrian dengan nyalang kilatan amarah dan kebingungan bercampur jadi satu) "Bapak... Bapak beneran sakit ya? Bapak sadar nggak sih apa yang Bapak omongin?! Saya ini bawahan Bapak! Saya lagi marah, saya lagi nggak sopan, dan Bapak malah... malah..."
Gisel kehilangan kata-kata. Ia ingin meledak, tapi melihat Adrian yang hanya diam menatapnya dengan intensitas tinggi, ia merasa seperti singa yang terkurung dalam sangkar emas.
Adrian tidak memedulikan histeria Budi. Ia justru mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Gisel tepat di manik matanya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang sangat tajam jenis senyum yang biasanya ia gunakan saat memenangkan tender triliunan rupiah.
Namun, bagi siapa pun yang mengenal Adrian, senyum itu berbeda. Itu bukan senyum kemenangan bisnis, melainkan senyum ketulusan seorang pria yang akhirnya menemukan "lawan" yang seimbang untuk hatinya yang beku.
Adrian: (Suaranya rendah, serak, dan penuh penekanan) "Maki saya sepuasmu, Gisel. Keluarkan semua isi draf blogmu itu di sini. Saya lebih suka kamu yang jujur dan galak seperti ini daripada kamu yang berpura-pura patuh di depan meja kerja saya."
Hadi, yang duduk tepat di depan Adrian, melihat senyum tajam itu dari jarak dekat. Di matanya, senyum Adrian adalah "Senyum Eksekusi".
Hadi: (Wajahnya berubah jadi abu-abu, garpunya jatuh ke lantai dengan bunyi ting yang menyedihkan) "Habis sudah... Dunia runtuh. Pak Adrian senyum setajam itu... Pasti besok pagi pengumuman PHK massal keluar. Atau jangan-jangan... restoran ini mau dibeli cuma buat dijadiin tempat pembuangan ban bekas karena Gisel marah-marah di sini. Tolong... hamba belum siap jadi pengangguran..."
Hadi benar-benar tidak bisa melihat ketulusan itu. Baginya, setiap ekspresi Adrian adalah kode rahasia tentang nasib saldo rekeningnya.
Adrian: (Mengabaikan gumaman depresi Hadi, ia meraih gelas kristalnya) "Budi, berhenti berteriak atau saya benar-benar akan membuatmu merindukan suasana sunyi di Gudang Timur. Hadi, ambil garpumu, bonusmu aman... bahkan mungkin akan saya tambah sebagai biaya 'asuransi pendengaran' karena harus mendengar omelan Gisel tiap hari."
Adrian beralih kembali ke Gisel, menatapnya dengan tatapan yang seolah berkata 'kamu tidak bisa lari lagi'.
Adrian: "Gisel... Macan atau Kucing, kamu tetap satu-satunya orang yang saya izinkan untuk berteriak di depan wajah saya. Jadi, mau lanjut maki saya atau kita pesan dessert termanis di sini untuk meredakan emosimu?"
**
Suasana di meja makan mewah itu mendadak menjadi medan pertempuran ego yang sangat panas. Gisel, dengan wajah semerah stroberi yang baru saja diperas, berdiri dengan sentakan kursi yang begitu keras hingga menarik perhatian seluruh pengunjung restoran.
Gisel: (Napasnya memburu, dadanya naik turun karena emosi yang sudah di ubun-ubun) "Cukup, Pak! Saya nggak butuh dessert termanis Bapak! Mau Bapak kasih cokelat dari Swiss atau emas batangan yang bisa dimakan, saya nggak peduli! Saya mau pulang! Sekarang!"
Gisel menyambar tas tangannya dengan kasar. Ia merasa martabatnya sebagai "Singa Gudang" sedang dipermainkan oleh senyum "Kulkas" yang mendadak jadi genit itu.
Gisel: "Saya bukan tontonan, Pak! Dan saya bukan inspirasi blog Bapak! Saya mau pulang sendiri, naik ojek, naik angkot, atau jalan kaki sekalian biar jempol saya copot! Permisi!"
Namun, baru saja Gisel melangkah satu senti, sebuah tangan yang besar, kokoh, dan hangat melingkar di pergelangan tangannya. Adrian menahan Gisel.
Adrian tidak berdiri. Ia tetap duduk dengan tenang, namun cengkeramannya di tangan Gisel begitu mantap tidak menyakitkan, tapi sangat mustahil untuk dilepaskan. Ia menatap Gisel dari bawah, tatapan tajamnya kini bercampur dengan sesuatu yang sangat posesif.
Adrian: (Suaranya rendah, bergetar karena otoritas yang tak terbantahkan) "Duduk, Gisel. Kamu tidak akan pulang dengan ojek, dan kamu tidak akan pergi ke mana pun tanpa saya. Saya belum selesai bicara soal 'Hati Selembut Sutra' itu."
Melihat pemandangan live itu, Budi benar-benar kehilangan kontrol diri.
Budi: (Berdiri tegak di atas kursinya, memegang serbet seperti bendera perang, suaranya melengking sampai ke dapur restoran) "YA AMPUUUN! HOLDING HANDS! PAK BOS NARIK TANGAN GISEL! INI MAH BUKAN CEO LAGI, INI MAH DRAMA TURKI VERSI LIVE! GISEL, JANGAN LEPAS! PAK BOS, TARIK TERUS SAMPAI KE PELAMINAN!"
Hadi: (Hanya bisa menutup wajahnya dengan buku menu, suaranya parau karena putus asa) "Tuhan... cabut nyawa gue sekarang atau pindahin gue ke planet lain. Malunya sampai ke sumsum tulang belakang. Bud, turun dari kursi! Malu-maluin kasta karyawan!"
Hadi benar-benar merasa dunianya runtuh. Dia melihat Gisel yang meronta-ronta kecil dan Adrian yang tetap diam dengan wajah "datar tapi mau" itu sebagai tanda bahwa karier mereka akan berakhir dengan skandal romantis paling heboh tahun ini.
Adrian: (Mengabaikan jeritan Budi dan ratapan Hadi, ia menarik tangan Gisel sedikit lebih dekat ke arahnya) "Kamu marah karena saya benar, atau kamu marah karena kamu mulai sadar kalau tulisan fiksi kamu dua tahun lalu... sebenarnya adalah doa yang sedang saya jawab malam ini?"
Gisel membeku. Kata-kata Adrian menghantamnya lebih keras daripada semua makian yang pernah ia lontarkan.
to be continue