Keluarganya di rampok oleh pemdekar Aliran hitam, ayah dan ibunya terbunuh sedangkan ia terjatuh di lembah Bangkai, Seekor Elang hitam raksasa menyelamatkan nya, di bawah asuhan Elang Hitam Dia tumbuh menjadi pendekar sakti dan menumpas kejahatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kadipaten Galungan
Setelah berhasil membalaskan dendam kedua orangtuanya, Jaka meneruskan pengembaraannya, dengan kuda pemberian dari Senopati Wira Bumi ia menjelajah ke berbagai pelosok membasmi kejahatan yang ia temui, pagi ini jaka sampai di sebuah kadipaten, ia turun dari kudanya saat akan memasuki gerbang kadipaten di jaga ketat oleh beberapa Prajurit
"Berhenti!" dua prajurit yang melihat Jaka akan masuk ke kadipaten segera menghadang
Jaka berhenti tepat di hadapan mereka berdua
" yang masuk harap isi buku tamu!" seorang Prajurit menunjuk buku tamu di meja dekat pintu gerbang
Jaka mengangguk dan mengisi buku tamu itu
" apa kau ingin ikut lomba di kadipaten galungan anak muda?" tanya prajurit itu
" Lomba ?, aku tidak tahu ada lomba diKadipaten ini paman" sahut Jaka
" ada lomba pacu kuda , ketangkasan dan kepandaian yang di adakan Adipati galungan, yang menang akan di angkat menjadi Senopati, atau panglima perang" tutur prajurit itu" kau punya kuda bagus, dan sepertinya juga punya kepandaian kau coba ikut saja" lanjut Prajurit itu sambil melihat pedang yang tersampir di punggung Jaka
" Senopati dan panglima perang? " gumam jaka dalam hati, ia tak menyangka sebuah Kadipaten memiliki angkatan perang
" Nanti aku lihat dulu paman, kalau menarik aku akan ikut, sekarang boleh aku masuk" pinta Jaka sopan
" Silahkan" prajurit itu mempersilahkan Jaka masuk
Jaka menuntun kudanya memasuki Kadipaten Galungan, kadipaten galungan ternyata sangat maju, dan ramai, ia mencari penginapan yang juga ada perawatan kuda
"Penginapan Melati" gumam Jaka membaca plang nama sebuah rumah makan dan penginapan yang besar dan megah, Jaka melangkah mendekat, saat akan sampai pintu seorang remaja tanggung mendekat
" Tuan biar kami yang menambatkan kudanya" ucap remaja itu yang ternyata bekerja di penginapan itu sebagai pengurus kuda para tamu. Jaka tersenyum dan memberikan tali kekang yang ia pegang
" Beri makan yang cukup " Ucap Jaka saat memberikan tali kekang kudanya
" Baik tuan" sahut remaja itu, dan menuntun kuda Jaka ke istal kuda yang berada di belakang penginapan
Setelah memberikan kudanya untuk di urus penjaga kuda, Jaka melangkah ke dalam
" Silahkan duduk tuan, masih banyak tempat kosong " seorang pelayan wanita mempersilahkan Jaka memilih tempat duduk, Jaka mengangguk dan duduk di salah satu meja yang berada di pojok, pelayan wanita itu mengikuti dari belakang
" Mau pesan apa tuan?" tanya pelayan wanita itu setelah Jaka Duduk
" Nasi dan ikan bakar, sayurnya sup sapi saja" sahut Jaka memesan makanan yang di inginkannya
"minumnya tuan ?" tanya pelayan wanita lagi
" teh hangat saja" jawab Jaka, ia sesekali melihat ke meja lain, delapan meja itu hanya terisi 4 meja saja termasuk meja miliknya, Rumah Makan Melati juga menyediakan penginapan jadi Jaka tak perlu bersusah payah mencari penginapan
Setelah makan ia langsung memesan kamar , ia ingin meluruskan punggungnya setelah beberapa hari berkuda
Keesokan paginya, setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Jaka keluar ingin melihat keramaian, sengaja ia tak membawa kuda, ia berjalan kaki menikmati pemandangan Kadipaten Galungan
Saat melewati alun alun nampak di sudut kiri penuh dengan orang
" mengapa mereka berkumpul disana" gumam Jaka, di dorong rasa penasaran, Jaka mendekat
" Maaf paman, ada apa yah?" tanya Jaka pada seorang pria paruh baya yang berdiri di dekat kerumunan itu
" Oh itu sedang mendaftar pertandingan, kamu mau ikut daftar?" tanya pria itu
" Pertandingan apa paman?" tanya Jaka lagi
" Kepandaian, tetapi yang di utamakan yang bisa berkuda dan mempunyai ilmu kanuragan" sahut lelaki itu
" terima kasih paman," setelah mengetahui kerumunan itu hanya mendaftar pertandingan ia kembali ke penginapan. Namun saat di penginapan, remaja lelaki yang kemarin mengurus kudanya datang dengan muka pucat
" Tuan maafkan aku, kuda tuan mengamuk dan melarikan diri" remaja itu berlutut di depan Jaka
" Bangunlah, katakan apa yang terjadi mengapa kudaku bisa mengamuk ?" tanya Jaka
" ada seseorang yang ingin mengambilnya, dan saat kami berusaha melarang orang itu malah menyerang kami, ia berkepandaian tinggi dua pelayan terluka " jawab remaja itu
" Kau tahu siapa orang itu?" cecar Jaka,
"Ia memakai penutup muka, ia langsung mengejar kuda itu saat kuda itu melarikan diri "
" kemana larinya "
"Kesana Tuan" remaja itu menunjuk satu arah, tanpa berkata Jaka melesat ke arah yang di tunjuk remaja tadi
Tanpa Jaka sadari, seseorang mengikuti Jaka yang sedang mengejar kuda dan pencurinya
Arah yang di tunjuk ternyata mengarah ke hutan, Jaka terus masuk karena hanya ada jalan itu satu satunya
Heeeeeihk
"Disana," saat masuk ke hutan ringkik kuda terdengar, jaka segera melesat mengejar ke arah suara kuda itu
di tengah hutan dua pria yang berbeda fisik sedang berusaha menarik Kuda hitam milik Jaka, satu kurus tinggi sedangkan satunya lagi pendek dan cebol
" Jangkung cepat kau tarik sekuat tenaga, jika kita bisa membawanya ke Adipati Singo Barong, pasti kita dapat banyak keping emas" teriak cebol sambil menarik tali kekang kuda hitam itu
" Kuntet, ini juga aku sudah sekuat tenaga tapi kuda ini tenaga nya besar" jawab si jangkung
Jaka tersenyum dan bersiul memanggil kudanya
Suiiiiiiit
Heiiiiiik
aduuuh
" Ah kudanya lepas!" kedua orang itu berteriak saat kuda hitam itu memberontak, membuat tangan mereka yang memegang tali kekang sakit, dengan terpaksa mereka melepas tali kuda itu, dan kembali mengejar kuda
" heiiiiik" kuda itu meringkik pelan saat samai di depan Jaka, kepalanya di elus eluskan ke badan Jaka
" Hei, lepaskan kuda itu, itu milik kami!" Si cebol yang melihat kuda yang mereka kejar di dekat Jaka segera berseru
" Milik kalian? lucu kuda ini milikku yang kalian lepas di istal rumah makan melati" sindir Jaka
Keduanya terdiam, lalu mengeluarkan senjata mereka berupa golok dan tongkat pendek
" Kalau kau sudah tahu siapa kami. Mati saja kau anak muda"
hiaaaat
Wuuut
wuuut
keduanya menyerang Jaka dengan ganas, Jaka tersenyum, gerakan mereka terlihat lambat d matanya
Wush
plaak
dugh
"Aduuh kepalaku"
" Pantatku"
Dengan gerakan kilat , Jaka menampar kepala si jangkung dan menendang pantat si cebol
tuk
tuk
belum mereka hilang kagetnya, Jaka menotok keduanya membuat mereka tak bisa menggerakan anggota tubuh mereka, Jaka memungut golok si jangkung yang terlepas, dan mendekati mereka berdua
" Katakan mengapa kalian mencuri kudaku!" ancam Jaka sambil menempelkan golok ituke leher si cebol
Si cebol gemetaran merasa dinginnya golok itu menempel di lehernya
" Maaf pendekar, tuan adipati menginginkan kuda tuan" jawab Si cebol ketakutan
" Kenapa bisa Adipati mengnginkan kudaku?!" tanya Jaka lagi
" tuan Adipati melihat kuda tuan sangat gagah dan sehat, dia ingin menggunakan kuda itu untuk mengikuti pertandingan " si Jangkung yang kini menjawab
" hmmm, rupanya begitu, baiklah kalau begitu aku akan ikut pertandingan , sekalian ingin tahu apa rencana Adipati Galungan ini mengadakan pertandingan untuk memilih Senopati dan Panglima perang
" Kalian pergi dari kadipaten ini, dan awas jika kalian masih berbuat jahat, aku tak segan memenggal kepalamu!" ancam Jaka sambil melepaskan totokannya
" Terima kasih pendekar, kami akan tobat " setelah berkata keduanya bergegas pergi takut Jaka berubah pikiran dan membunuh mereka
Jaka mengusap kepala kuda hitam itu
" Jaliteng, ayo kita ikut lomba" Seru Jaka sambil melompat ke punggung kuda
" Heeeeik"
kuda hitam yang di panggil Jaliteng meringkik dan melesat , Jaka mengarahkan kudanya ke alun alun untuk mendaftar pertandingan