Aca Latasya Anesia dikenal sebagai badgirl yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Mulutnya tajam, sikapnya liar, dan hidupnya selalu penuh masalah. Tidak ada yang berani mengusiknya sampai sebuah kecelakaan mengubah segalanya. Motor kesayangannya menabrak mobil mewah milik Aron Darios Fernandes. Bukan sekadar CEO muda yang dingin dan berkuasa, Aron adalah sosok di balik organisasi mafia paling berbahaya di kota pria yang namanya saja sudah cukup membuat orang gemetar. Mobilnya rusak. Situasi penuh ketegangan. Namun alih-alih takut, Aca justru menatapnya tajam dan melawan tanpa ragu. Di detik itulah sesuatu yang gelap dan berbahaya tumbuh dalam diri Aron sebuah obsesi. Bukan amarah bukan dendam melainkan keinginan untuk memiliki. Sejak saat itu, hidup Aca tak lagi sama. Ia menjadi target perhatian seorang pria yang tak pernah gagal mendapatkan apa pun yang diinginkannya. Dan yang lebih mengerikan Aron tidak mengenal kata menyerah “Aku tidak tertarik jadi milik siapa pun,” Aca mendesis dingin. Aron hanya tersenyum tipis, matanya penuh dominasi. “Sayangnya kamu tak lagi punya pilihan. Baby girl.” Dalam dunia yang penuh kekuasaan, bahaya, dan permainan gelap, satu hal menjadi pasti. Sekali Aron terobsesi, tidak ada jalan keluar lagi bagi Aca untuk bebas pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandaimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur Bersama
Malam turun perlahan, membawa suasana yang lebih sunyi di dalam mansion. Hujan yang sejak sore mengguyur kini berubah menjadi rintik halus, menetes pelan di kaca jendela kamar Aron.
Lampu kamar redup, hanya menyisakan cahaya hangat yang membungkus ruangan itu dengan ketenangan yang aneh.
Namun ketenangan itu tidak sepenuhnya damai.
Aca masih duduk di atas ranjang, tepat di samping Aron. Wajahnya sedikit cemberut setelah kejadian barusan. Tangannya sibuk mengganti perban di dada Aron yang kembali rembes karena ulah pria itu sendiri.
“Lo tuh ya bukannya istirahat malah macem-macem,” gerutu Aca pelan, tapi nadanya jelas kesal.
Aron hanya tersenyum tipis. Matanya menatap Aca tanpa berkedip, seolah rasa sakit yang ia rasakan tidak ada apa-apanya dibandingkan kehadiran gadis itu di dekatnya.
“Kalau sama kamu aku nggak bisa diem sayang,” jawabnya lirih.
Aca mendengus pelan. “Alasan terus.”
Tapi tangannya tetap lembut saat membersihkan luka Aron. Jari-jarinya berhati-hati, sesekali berhenti ketika Aron meringis pelan.
“Pelan dikit, sakit tau,” keluh Aron, suaranya manja.
Aca langsung melotot. “Tadi yang ngomong aneh-aneh siapa? Rasain tuh!”
Aron terkekeh pelan, meski wajahnya sedikit menegang menahan nyeri. “Tetep aja kamu yang paling lembut kalau ngerawat aku.”
Aca diam sejenak. Tangannya berhenti. Tatapannya perlahan naik, bertemu dengan mata Aron yang sejak tadi tak pernah lepas darinya.
DEG!
Ada sesuatu di sana. Bukan cuma manja. Bukan cuma bercanda. Tapi perasaan yang jauh lebih dalam.
Aca langsung mengalihkan pandangan, kembali fokus pada perban. “Jangan banyak ngomong. Gue lagi serius.”
Namun, Aron justru mengangkat tangannya, menyentuh pipi Aca dengan lembut. “Iya aku juga serius.”
Aca menahan napas. Sentuhan itu selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali.
“Serius apaan sih lo…” gumamnya pelan, tapi suaranya melemah.
Aron tersenyum tipis. “Serius kalau aku nggak mau kehilangan kamu lagi.”
Kalimat itu langsung menusuk. Aca membeku.
Tangannya yang tadi sibuk kini terdiam di atas dada Aron. Sunyi dan hanya ada suara hujan yang terdengar dari luar sana.
“Ar…” bisik Aca pelan.
Aron menarik tangan Aca, menggenggamnya erat. “Kemarin waktu aku hampir kehilangan kesadaran yang aku pikirin cuma kamu.”
Aca menggigit bibirnya. Matanya mulai berkaca-kaca lagi. “Gue juga… gue takut banget waktu itu.” suaranya pecah.
Aron menariknya perlahan. Tubuh Aca terdorong mendekat, hingga kini jarak mereka hanya sejengkal.
“Aca…”
“Hmm…”
“Aku nggak kuat kalau kamu jauh.” Lagi perasaan itu kembali menghantam.
Aca menutup matanya sejenak, mencoba mengendalikan diri. Tapi semakin ia menahan semakin kuat perasaan itu menguasai.
“Yaudah gue di sini,” bisiknya pelan.
Aron tersenyum lalu tanpa peringatan ia menarik Aca ke dalam pelukannya.
“A-ARON!” Aca langsung kaget, tangannya refleks menahan dada Aron. “LUKA LO!”
“Gapapa…” bisik Aron di telinganya. “Lebih sakit kalau kamu jauh.”
Aca terdiam. Pelukan itu hangat terlalu hangat. Perlahan, tangannya yang tadi menahan berubah memeluk balik.
“Gila lo…” gumamnya pelan.
Aron terkekeh kecil, wajahnya menyandar di bahu Aca. “Iya tapi cuma buat kamu.”
Malam semakin larut. Namun di dalam kamar itu, suasana justru semakin intens.
Aca yang awalnya duduk di sisi ranjang, kini benar-benar berada di atas ranjang bersama Aron. Tubuhnya setengah rebah, sementara Aron memeluknya dari samping.
“Aca…” panggil Aron pelan.
“Apaan lagi sih…” jawab Aca malas, tapi tidak melepaskan pelukannya.
“Aku pengen sesuatu.”
Aca langsung curiga. “Jangan aneh-aneh ya.”
Aron tersenyum nakal. “Cuma pengen kamu di sini jangan pergi.”
Aca memutar mata. “Ya gue juga nggak ke mana-mana kali.”
“Janji?”
Aca menghela napas. “Iya janji.”
Aron menutup mata, wajahnya terlihat jauh lebih tenang. Beberapa menit berlalu. Aca mengira Aron sudah tertidur. Namun tiba-tiba.
“Aca…”
“Hmm?”
“Aku beneran cinta sama kamu.”
DEG!
Jantung Aca langsung berdegup kencang ia membeku. Kalimat itu baru pertama kali Aron mengatakannya sejelas ini.
“A-apa sih lo tiba-tiba…” Aca mencoba menutupi gugupnya.
Tapi Aron membuka mata, menatapnya serius. “Aku nggak bercanda.”
Aca menelan ludah. Matanya perlahan bertemu dengan mata Aron. Ada ketulusan di sana. Tidak main-main tidak bercanda. Benar-benar serius.
“Dari awal kamu udah beda,” lanjut Aron pelan. “Dan sekarang aku nggak bisa lepasin kamu buat oranglain.”
Aca merasa dadanya sesak bukan karena sakit tapi karena terlalu penuh. “Gue…” ia berhenti, bingung harus menjawab apa.
Aron tersenyum tipis. “Nggak usah jawab sekarang.”
Aca mengernyit. “Kenapa?”
“Karena aku udah tau jawabannya.”
Aca langsung manyun. “Sok tau lo.”
Aron terkekeh. “Kalau nggak cinta kamu nggak bakal segitunya jagain aku.”
Aca terdiam. Tidak bisa membantah. “Yaudah tidur sana banyak ngomong,” gumamnya pelan.
Namun pipinya merah Aron hanya tersenyum puas. Beberapa saat kemudian, suasana benar-benar tenang.
Aca akhirnya tertidur di pelukan Aron. Sementara Aron masih terjaga. Matanya menatap langit-langit kamar.
Namun tangannya tetap memeluk Aca erat.
Seolah takut kalau ia melepas sedikit saja Aca akan hilang.
Di sisi lain mansion Bara baru saja sampai.
Langkahnya cepat, wajahnya masih menunjukkan ekspresi kesal.
“Di mana mereka?” tanyanya pada salah satu anak buah.
“Di kamar Tuan Aron, Tuan.”
Bara langsung berjalan ke arah kamar.
BRAK!
Pintu dibuka tanpa permisi namun langkahnya langsung terhenti. Pemandangan di depannya membuatnya membeku.
Aca adeknya tertidur di pelukan Aron dengan posisi yang terlalu dekat bahkan terlalu intim.
“ANJIR…” Bara menutup wajahnya dengan tangan. “Gue salah timing.”
Ia mundur perlahan, menutup pintu kembali. “Gila tuh anak beneran nggak bisa nahan diri ya,” gumamnya kesal.
Namun di balik kekesalannya ada sedikit rasa lega karena untuk pertama kalinya ia melihat Aca benar-benar tenang.
Keesokan paginya cahaya matahari masuk melalui celah tirai. Aca perlahan membuka mata. Ia mengerjap pelan. Butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa ia masih berada di pelukan Aron.
“Ya ampun…” bisiknya pelan.
Namun sebelum ia sempat bergerak tangan Aron mengencang.
“Jangan pergi…” gumamnya setengah sadar.
Aca terdiam ia menatap wajah Aron lalu tersenyum kecil. “Manja banget sih lo…”
Tapi ia tidak bergerak ia tetap di sana dan membiarkan Aron memeluknya. Beberapa saat kemudian, Aron membuka mata.
Tatapannya langsung bertemu dengan Aca. Ia tersenyum. “Pagi, baby girl.”
Aca memutar mata. “Pagi apaan ini udah siang Ar. gue pegel tau nggak mau mandi dulu ya.”
Aron terkekeh. “Sini aku pijetin.”
Aca langsung menjitak pelan kepala Aron. “ISTIRAHAT LO BIAR CEPET SEMBUH!” teriak Aca dengan suara kerasnya saking kesalnya dia.
“Damn it…” Aron meringis.
Namun tetap tersenyum karena di matanya Aca lebih penting dari rasa sakit apapun.
Hari itu sesuatu berubah bukan karena hubungan mereka tapi karena kedalaman perasaan di antara mereka. Dan tanpa mereka sadari di luar sana bahaya belum benar-benar pergi.
Seseorang Sedang mengawasi mansion itu.
Menunggu waktu yang tepat. Untuk menyerang kembali. Dan kali ini targetnya bukan Aron tapi Aca.
Aca langsung mandi, Aron langsung bangun ia menatap dirinya di cermin lalu melepas kaosnya.
Sialnya ia tak bisa menahan diri ia langsung masuk kamar mandi menyusul Aca yang sedang mandi.
“Oh good tubuhmu sexy, I like it baby girl.” ujar Aron dengan suara seraknya.
“HUAA….TUTUP MATA LO GILA!” teriak Aca keras.