NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

​BAB 35: "Bahtera di Tengah Gurun: Kesetiaan yang Tak Karuan"

​Hujan turun dengan derasnya di Kediri malam ini. Suara rintik yang menghantam atap seng asrama santri menciptakan suasana riuh yang menenangkan, seolah alam sedang melakukan zikir akbarnya sendiri. Di dalam rumah mungil mereka, Shania sedang menyeduh jahe hangat. Aroma pedas manis itu memenuhi ruangan, beradu dengan wangi minyak kayu cendana yang biasa Zain gunakan.

​Zain sedang duduk di kursi panjang, memandangi air hujan yang mengalir di kaca jendela. Shania datang membawa dua cangkir kayu, meletakkannya di meja dengan gerakan gemulai yang selalu berhasil mencuri perhatian suaminya.

​"Mas, hujannya deras sekali ya? Jadi teringat kisah Nabi Nuh," ujar Shania sambil duduk di karpet dekat kaki Zain.

​Zain menyesap jahe hangatnya, matanya berbinar mendengar pancingan istrinya.

"Pas sekali. Setelah tinta pena Nabi Idris kering dalam sejarah, dunia memasuki babak yang paling berat. Zaman di mana langit benar-benar tumpah ke bumi. Zaman Nabi Nuh Alaihissalam."

​Zain meletakkan cangkirnya, lalu mengisyaratkan Shania untuk bersandar di lengannya.

"Duduklah di sini. Mari kita bicara tentang bagaimana sebuah kesabaran bisa membangun kapal di tengah padang pasir yang kering kerontang."

"​Awal Mula Kesesatan: Berhala yang Menggantikan Nama"

​"Shania," suara Zain memberat, memberikan nuansa dramatis pada ceritanya. "Nabi Nuh diutus saat manusia sudah benar-benar kehilangan arah. Kamu tahu kenapa mereka mulai menyembah berhala? Awalnya bukan karena mereka ingin syirik. Awalnya karena mereka terlalu mencintai orang-orang saleh di zaman sebelumnya—Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr."

​"Saat orang-orang saleh itu wafat, Iblis membisikkan ide: 'Buatlah patung mereka agar kalian selalu ingat untuk beribadah seperti mereka.' Generasi pertama melakukannya untuk motivasi. Tapi generasi berikutnya lupa, dan akhirnya patung itu dianggap Tuhan. Di sinilah Nabi Nuh hadir. Beliau berdakwah selama 950 tahun, Shania. Bayangkan, hampir seribu tahun!"

​Shania mendongak, matanya membulat.

"Sembilan ratus lima puluh tahun? Berapa banyak yang ikut beliau, Mas?"

​"Hanya sedikit. Para ulama menyebutkan jumlahnya tak lebih dari 80 orang. Bayangkan rasa sakitnya. Setiap kali beliau bicara, kaumnya menutup telinga dengan jari dan menutup wajah dengan baju mereka agar tidak melihat Nuh. Mereka menghina, mencaci, bahkan menganggap Nuh gila."

"​Bahtera dan Palu Ketaatan"

​Zain mengusap jemari Shania, memberikan analogi yang mendalam.

"Lalu Allah memerintahkan Nuh membangun sebuah bahtera. Di mana? Di daratan tinggi yang jauh dari laut. Bisa kamu bayangkan betapa riuhnya hinaan orang saat itu? 'Wahai Nuh, setelah jadi nabi, sekarang kamu jadi tukang kayu di tengah padang pasir?'"

​"Tapi Nuh tidak peduli. Beliau terus memukul paku, menyusun papan demi papan dari kayu jati yang beliau tanam sendiri selama puluhan tahun. Beliau tidak sedang membangun kapal untuk sekadar berlayar, Shania. Beliau sedang membangun keselamatan."

​"Nuh adalah simbol dari keteguhan yang mutlak. Beliau mengajarkan bahwa saat seluruh dunia menertawakan ketaatanmu pada Allah, kamu harus tetap memegang palu imanmu. Karena hanya kapal itu yang akan mengapung saat badai tiba."

"​Luka Sang Ayah dan Rahasia Istri"

​Zain terdiam sejenak, wajahnya menunjukkan sedikit gurat kesedihan.

"Namun, ujian terberat Nuh bukan dari kaumnya, melainkan dari dalam rumahnya sendiri. Istrinya berkhianat secara batin, dan putranya, Kan'an, menolak naik ke kapal."

​"Saat air mulai memancar dari bumi dan tumpah dari langit, Nuh memanggil putranya dengan suara yang hancur karena kasih sayang: 'Wahai anakku, naiklah bersama kami!'. Tapi Kan'an sombong, ia merasa gunung bisa melindunginya. Dan akhirnya, ia hanyut ditelan gelombang. Nuh menangis, tapi Allah mengingatkan bahwa ikatan iman lebih kuat daripada ikatan darah."

​Shania merasakan dadanya sesak.

"Sedih sekali, Mas. Seorang Nabi pun harus kehilangan keluarganya demi kebenaran."

"​Belenggu Mahar: Bahtera di Atas Sajadah"

​Zain menarik Shania ke dalam pelukannya yang hangat, melindunginya dari hawa dingin yang merayap masuk.

​"Itulah sebabnya, Shania... aku ingin pernikahan kita ini seperti bahtera Nabi Nuh. Dunia di luar sana mungkin sedang dilanda 'banjir' maksiat, banjir fitnah, dan gelombang ego yang tinggi. Orang mungkin melihat kita aneh karena membatasi diri dengan syariat, karena cadarmu, karena kitab-kitabku."

​Zain membisikkan kalimat itu tepat di telinga Shania.

"Mahar yang kuberikan adalah 'tiket' untuk masuk ke dalam kapal yang sama. Aku tidak ingin kita menjadi seperti Nuh dan Kan'an yang terpisah oleh gelombang. Aku ingin kita seperti pasangan hewan-hewan yang masuk ke dalam bahtera dengan selamat—berpasangan, seirama, dan satu tujuan menuju daratan rida Allah."

​Shania memeluk pinggang Zain erat.

"Aku tidak akan pernah mau turun dari kapal ini, Mas. Seberapa besar pun badainya, asalkan Mas yang menjadi nakhodanya, aku akan tetap di sini."

"​Kuis 'Paku dan Papan'"

​Zain tersenyum tipis, rona jahil yang biasanya mulai muncul kembali di matanya, mencoba mencairkan suasana yang sempat melankolis.

​"Nah, karena kisah bahtera sudah sampai di bukit Judi, dan jahe hangatmu sudah hampir habis... saatnya untuk ujian ketaatan di tengah banjir."

​Shania tertawa, sudah hafal polanya.

"Kuis lagi, Mas? Ayo, apa tantangannya kali ini?"

​Zain membenarkan letak kopiahnya, berdehem formal.

"Nabi Nuh membangun kapal dengan paku dan papan. Jika dalam rumah tangga kita, aku adalah pakunya yang harus kuat dan menancap dalam, sementara kamu adalah papan-papan kayu yang menyusun lambung kapal agar air tidak masuk... bagian mana dari dirimu yang paling kuat untuk menahan 'rembesan' godaan diskon belanja atau gosip di grup WhatsApp agar kapal kita tidak tenggelam?"

​Shania langsung tertawa renyah, ia mencubit pipi Zain dengan gemas.

"Ya Allah, Mas Zain! Hubungannya ke sana ya? Baiklah... kalau aku adalah papannya, maka aku akan melapisi diriku dengan 'cat anti-air' berupa zikir. Biar godaan belanja atau gosip itu luntur begitu saja sebelum menyentuh hatiku. Tapi ingat ya, Nakhoda... paku itu kalau tidak kuat, papannya bisa lepas. Jadi Mas juga harus tetap kuat menancap di jalur iman!"

​Zain tertawa lepas, ia mengecup kening Shania dengan penuh perasaan.

"Deal! Kita akan menjadi kapal paling kokoh di Kediri ini."

​Malam itu, di tengah hujan yang masih menderu, Shania belajar bahwa cinta bukan hanya soal pelukan di saat cerah, tapi soal kesepakatan untuk tetap berada di atas kapal yang sama saat badai paling gelap datang menghantam. Dan baginya, kapal itu bernama cinta karena Allah, yang nakhodanya adalah seorang pria bernama Zain.

​"Mas," bisik Shania sebelum mereka beranjak.

​"Ya?"

​"Terima kasih sudah tidak membiarkan aku hanyut sendirian di tengah banjir dunia."

​Zain hanya tersenyum, mengeratkan pelukannya, membiarkan kehangatan itu menjadi doa yang mengangkasa, lebih tinggi dari puncak gunung manapun.

​Bersambung ....

1
Dian Fitriana
up lg thor
Tri Rusmawati
sabarr zain...sabaarrr🤣🤣🤣
kartini aritonang
sukaaa ceritanya, bikin adem, banyak ilmunya . semangat thor..💪..lanjuutt
Saniaa96: makasih udah suka. semoga ada manfaatnya. 🙏🙏🙏☺️☺️☺️
total 1 replies
Indah Agustini 383
terimakasih udah nulis cerita yg sangat baguss dan banyak ilmu yg bisa didapat 😍
sehat-sehat kakak penulis cerita inii❤️❤️
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!